Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
56 : Awal Ajaran Baru


Satu minggu berlalu, kini saatnya Natasya dan Alan masuk kuliah kembali. Pagi-pagi sekali, Alan sudah bersiap di kamarnya untuk berangkat kuliah. Begitu juga dengan Natasya, bedanya perempuan itu akan melakukan perannya sebagai ibu rumah tangga terlebih dahulu.


Natasya menyiapkan pakaian yang dipakai oleh suami dan juga anaknya hari ini. Kalau Bhara, anak itu bisa memakai baju apa saja, dia kan hanya di rumah. Tapi kalau Johnathan, pria itu harus memakai pakaian formal yang harus disetrika rapi untuk bekerja nanti.


Cklek!


Natasya yang sedang menyetrika baju pun menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Perempuan itu tersenyum kecil saat melihat pemandangan yang menghangatkan hati itu.


Suami tampannya tampak keluar dari kamar mandi bersama sang anak tercinta. Mereka sama-sama hanya memakai handuk yang terlilit di pinggang masing-masing. Ditambah rambut mereka yang tampak basah. Hmm… Bhara sudah seperti versi mini dari Johnathan.


“Sudah mandinya? Satu jam tidak keluar keluar dari kamar mandi, kalian melakukan apa saja memangnya?” Natasya mulai mengeluarkan omelan ringannya.


“Hehe… tadi Bhala mainan ail dulu cama papa, Ma,” jawab Bhara disertai dengan cengirannya.


Natasya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “ya sudah, ayo pakai baju dulu, nanti masuk angin.”


Kemudian, Johnathan menurunkan tubuh kecil Bhara di atas Kasur supaya anak itu segera dipakaikan baju. Sedangkan pria itu sudah pergi menuju walk-in-closet untuk mengganti baju di sana.


Natasya mulai mendandani anaknya, mulai dari memberi minyak telon, memakaikan baju dan celana, serta memberi bedak supaya anaknya itu wangi dan semakin tampan.


“Nanti Bhara tidak boleh rewel ya sama mbak,” ucap Natasya di sela-sela kegiatannya.


“Okey, Ma~” jawab Bhara menurut membuat Natasya tersenyum kecil.


Oh iya, ‘mbak’ adalah sebutan untuk baby sitter Bhara.


“Mama nanti pulang jam belapa?” tanya Bhara.


Natasya tampak berpikir sebentar, “eum… mungkin sekitar jam tiga sore.”


Bhara hanya manggut-manggut. Apakah anak itu sudah bisa membaca jam? Tentu saja belum, tapi dia rajin diberi tahu oleh baby sitter-nya saat jam tertentu. Hitung-hitung sebagai proses belajar agar Bhara segera bisa membaca jam sendiri.


“Sudah selesai?” tanya Johnathan yang baru saja selesai bersiap.


“Sudah, Pa!” seru Bhara dengan nada ceria.


Johnathan dan Natasya tertawa dengan tingkah lucu anak mereka. Kemudian, mereka pun segera keluar kamar dan berkumpul dengan anggota keluarga yang lain untuk sarapan bersama.


...----------------...


Natasya berangkat ke kampus diantar oleh Johnathan, dokter muda itu sekalian berangkat ke rumah sakit. Johnathan menghentikan mobilnya di titik antar-jemput mahasiswa.


“Natasya,” panggil Johnathan, “maaf ya, saya nanti tidak bisa jemput kamu karena ada jadwal operasi sampai malam.”


Natasya tersenyum lembut, “tidak apa-apa, Dokter. Saya bisa pulang bersama Alan nanti.”


Johnathan membalas senyuman istrinya, lalu merentangkan kedua tangan meminta pelukan dari sang istri. Natasya langsung menghambur ke dalam pelukan itu.


Mereka berpelukan beberapa saat, lalu Johnathan mengecup kening dan bibir Natasya untuk berpamitan.


“Belajar yang semangat ya…,” nasihat Johnathan kepada sang istri.


Natasya terkekeh pelan, “Dokter juga semangat kerjanya, jangan lupa hati-hati di jalan.”


Johnathan mengangguk menuruti nasihat sang istri. Setelah berpamitan, Natasya pun keluar dari mobil. Ia melambaikan tangannya hingga mobil sang suami bergerak menjauhi dirinya.


Setelah itu, Natasya melangkahkan kakinya menuju ruang kelas. Tapi sebelum pergi, matanya tidak sengaja melihat sosok Haikal yang sedang menatapnya lekat dari kejauhan. Natasya bergidik ngeri melihat tatapan kakak tingkat yang terobsesi padanya itu.


“Astaga, laki-laki itu benar-benar sudah gila,” gumam Natasya.


...----------------...


Natasya memasuki kelas. Ia cukup terkejut saat kelas sudah ramai, teman-temannya tersenyum dan menyambut hangat dirinya.


“Kamu hebat sekali, Natasya.”


“Waktu itu aku datang ke persidanganmu, pembelaan dirimu hebat sekali.”


“Pasti kamu sudah lebih professional di ruang sidang.”


“Syukurlah kamu dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan.”


Natasya tersenyum menerima dukungan dari teman-temannya. Padahal sebelumnya, ia merasa khawatir jika teman-teman kampusnya akan menjauhi dirinya karena pernah ditahan di kantor polisi. Ternyata malah sebaliknya, teman-temannya bangga kepada Natasya.


“Bagaimana dengan anakmu, Sya?” tanya salah seorang mahasiswa.


“Eh, itu, emm… anakku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawab Natasya canggung.


Natasya pun segera duduk di samping Alan yang sedari tadi hanya melihat sambutan untuk Natasya. Laki-laki itu ikut merasa bangga dengan Natasya karena sahabatnya itu sudah melalui banyak hal dengan penuh keberanian.


“Kamu menjadi lebih tenar ya sekarang,” celetuk Alan diiringi dengan kekehannya.


“Huh! Aku jadi malu,” lirih Natasya sambil menutup wajahnya menggunakan buku.


Alan terkekeh pelan, sahabat sekaligus kakak iparnya itu menggemaskan sekali seperti biasa. Setelah itu, seorang dosen memasuki ruang kelas dan kuliah pun dimulai. Para mahasiswa mengikuti pembelajaran seperti biasanya.


...----------------...


Sementara itu, seorang wanita berbaju orange khas narapidana sedang terduduk diam di salah satu jeruji besi yang ada di lapas. Wanita itu adalah Sabrina, yang kini sedang menjalani hukuman penjara.


Kedua kantung mata wanita itu tampak tebal. Wajahnya juga tidak pernah tampak bersahabat. Setiap hari, ia selalu bersikap agresif dan marah-marah kepada setiap petugas yang datang menghampirinya.


Tap… Tap… Tap…


Sabrina menoleh dan menemukan dua orang petugas yang berjalan ke arahnya. Wanita itu langsung bangkit dan mengamuk sambil menggoyangkan jeruji besi itu dengan brutal seperti biasanya.


Klang!


Klang!


“Lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini! Cepat keluarkan aku!” teriak Sabrina dengan ribut.


“Tahanan 77! Diam atau saya akan memblokir akses kamu dengan orang luar?!” bentak sang petugas.


Sabrina akhirnya diam dengan dengusan nafas yang masih menggebu-gebu. Setelah pintu sel terbuka, dua orang itu langsung memborgol kedua tangan Sabrina, lalu membawa wanita itu ke ruang kunjung.


Dari kejauhan, Sabrina melihat seorang laki-laki yang sedang menunggunya. Sabrina mengernyitkan dahi bingung saat melihat laki-laki yang tidak ia kenal itu.


Sabrina didudukkan di kursi yang berhadapan dengan laki-laki itu, tentu saja dibatasi dengan kaca. Mereka mengambil telepon di meja masing-masing dan mendekatkan telepon itu ke telinga.


“Siapa kamu?” tanya Sabrina langsung, ia tidak ingin basa-basi.


Laki-laki di depannya itu tertawa pelan, “santai saja, tidak perlu marah-marah denganku. Karena kita akan segera menjadi teman.”


Ucapan laki-laki itu semakin membuatnya bingung. Teman apa maksudnya?


Laki-laki itu terkekeh pelan, lalu kembali berucap, “lebih baik aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan…


…aku Haikal.”


...----------------...


Haikal menemui Sabrina?!!!! 😱 Tarik nafas dulu yukk, sebelum baca next chapter yang kyknya bakal ada next konflik juga xixi


🚨 Cek konten POV di instagram dan tiktok @cacalavender