
Hari telah berganti, pagi ini sidang Natasya akan dilaksanakan. Ralat, sidang Sabrina dan Natasya. Ya, wanita ular itu juga dinyatakan terlibat dalam kasus ini.
Sepertinya Natasya sudah mulai terbiasa dengan sel dan persidangan. Perempuan itu tampak santai saat bersiap-siap sebelum pergi ke pengadilan.
Natasya menyisir rambutnya dan menguncirnya ala ponytail tinggi. Ia senang dengan gaya rambut seperti ini, membuat wajahnya tampak lebih lucu.
“Hmm… cantik sekali perempuan di depanku ini,” ucap Natasya disertai dengan kekehan saat melihat pantulan dirinya di cermin.
Setelah dirasa penampilannya sudah sempurna, Natasya pun mengambil obat-obatan penenang di meja selnya. Walaupun dirinya tampak tenang, tetap saja perasaan cemas dan panik itu bisa muncul kapan saja.
Tepat setelah ia menelan pil-pil itu, seorang petugas polisi datang menjemputnya untuk pergi ke persidangan.
...----------------...
Persidangan itu cukup ramai. Banyak pihak berdatangan, termasuk keluarga Sabrina dan Haikal. Mereka duduk berseberangan dengan keluarga Natasya. Kali ini, Bhara tidak hadir di persidangan karena kondisi mental anak itu juga sedang tidak baik. Anak manis itu tinggal di rumah bersama dengan sang nenek.
Alan bersama Johnathan duduk di bangku pengunjung bersama dengan kenalan mereka yang lain. Sementara itu, Hendry duduk di depan sebagai kuasa hukum Natasya. Lalu dimana Natasya? Natasya dan Sabrina akan hadir nanti setelah hakim memasuki ruang sidang.
“Kak John,” panggil Alan dengan suara berbisik, “apa kamu khawatir?”
Johnathan memandang Alan dengan tatapan heran, “memangnya kamu tidak khawatir?”
Alan mengedikkan bahunya acuh, “kenapa harus khawatir? Natasya sudah pasti dibebaskan, dia korban di sini.”
“Tapi tetap saja aku khawatir dengan istriku,” geram Johnathan kepada adiknya yang bersikap kelewat santai.
Beberapa menit kemudian, hakim pun memasuki ruangan dan memulai persidangan. Setelah hakim membuka sedang, Sabrina dan Natasya dibawa masuk ke ruangan.
Pandangan semua orang tertuju kepada Natasya yang sedang berjalan menuju tempat duduknya. Penampilannya tampak sangat menawan untuk ukuran seorang tahanan. Selain itu, langkah kakinya yang percaya diri dan tampak tenang membuat Sebagian besar orang di sana diam-diam kagum kepadanya.
“Astaga… kenapa istriku tampak sangat cantik saat ini,” gumam Johnathan yang terpana melihat Natasya.
“Pakaian apapun kalau dipakai Natasya pasti tampak modis,” timpal Alan.
Johnathan langsung mendelik menatap adiknya, “tapi tidak baju tahanan juga dong.”
Alan langsung menyengir, “setidaknya dia tidak tampak menyedihkan di persidangan ini.”
“Lihatlah, Kak John,” imbuh Alan sambil menunjuk Natasya dengan dagunya, “istrimu itu sangat tangguh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Johnathan menghela napas panjang, “dia memang benar-benar wanita kuat.”
...----------------...
Sidang dimulai, jaksa penuntut umum mulai membacakan gugatan terhadap Sabrina atas kasus penculikan terhadap Natasya dan Bhara.
“Saudara Sabrina, anda di sini karena menjadi tersangka yang membantu pelaku penculikan terhadap Saudara Natasya dan putranya. Apakah benar?” tanya hakim.
“Ya,” jawab Sabrina dengan malas.
“Apakah saudara memiliki pembelaan atas tuduhan tersebut?” tanya hakim kembali.
“Ada, Yang Mulia,” jawab pengacara Sabrina, “mengenai bukti tentang catatan kunjungan pelaku ke penjara saudara Sabrina. Bukankah hal itu tidak cukup untuk mebuktikan bahwa saudara Sabrina terlibat dalam kasus penculikan ini? Tidak ada bukti langsung tentang keterlibatan saudara Sabrina di kasus ini, Yang Mulia.”
“Benar, Yang Mulia. Waktu itu, kami tidak membicarakan apapun terkait rencana penculikan ini,” sahut Sabrina.
“Baiklah,” balas hakim, “lalu, apakah saudara Sabrina bisa menjelaskan apa urusan kalian saat itu? Karena menurut data yang ada, kalian berdua tidak saling mengenal.”
Sabrina tampak melirik kea rah pengacaranya sebentar, dan kembali berbicara menghadap hakim, “eum… waktu itu, Haikal menemui saya dan mengungkapkan tentang kekesalannya kepada Natasya. Itu saja, dia sangat marah saat itu. Astaga… saya tidak mengira dia akan bertindak sejauh ini.”
“Kenapa pelaku memilih untuk menemui anda saat itu?” tanya hakim lagi.
“Baiklah. Karena pernyataan saudara Sabrina masih belum bisa dibuktikan dengan jelas, saya akan beralih ke pihak korban,” ucap hakim ketua, lalu beralih menghadap Natasya.
“Saudara Natasya,” panggil hakim, “selain sebagai korban penculikan, anda juga berada di sini sebagai tersangka pembunuhan dari almarhum Haikal, pelaku penculikan anda dan putra anda sendiri. Apakah benar?”
“Benar, Yang Mulia,” jawab Natasya.
“Apakah ada pembelaan untuk tuduhan ini?” tanya hakim ketua lagi.
“Ada, Yang Mulia,” jawab Hendry sambil menyerahkan sebuah map coklat berisi beberapa lembar dokumen, “ini adalah map berisi beberapa surat pernyataan dari para polisi yang menjadi saksi di TKP.”
Majelis hakim meninjau dokumen-dokumen itu sambil sesekali berdiskusi.
“Mereka semua menyatakan bahwa pembunuhan terhadap almarhum Haikal adalah peristiwa yang tidak disengaja karena saudara Natasya sedang melindungi diri sendiri dan putranya,” imbuh Haikal.
“Bukti diterima,” ucap hakim ketua.
“Keberatan, Yang Mulia,” seru pengacara Sabrina tiba-tiba.
Natasya mengernyitkan dahinya bingung, ‘apakah orang-orang di pihak Sabrina memang bodoh? Apa yang sebenarnya dilakukan pengacara itu?’
“Korban yang menghilangkan nyawa pelaku, tidak selalu merupakan pembelaan diri,” kata pengacara Sabrina.
“Apakah anda bisa membuktikan argumen anda?” tanya hakim.
“Menurut informasi yang saya kumpulkan, korban dan pelaku sering bertengkar di kampus, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa saudara Natasya memiliki dendam kepada almarhum Haikal, lalu membunuhnya saat ada kesempatan,” jelas pengacara Sabrina.
Natasya memandang tidak percaya ke arah pengacara itu dan bergumam pelan, “novel macam apa yang sedang dia karang, huh?”
Hendry yang mendengarnya pun langsung berbisik, “tenanglah, Natasya. Argumen mereka tidak bisa mengalahkan kita.”
“Saudara Natasya,” panggil hakim, “apakah anda mengakui bahwa anda memiliki dendam pribadi terhadap almarhum Haikal?”
“Yang Mulia, jujur saya sangat kesal dengan almarhum Haikal,” jawab Natasya dengan santai, “dia selalu mengganggu dan mengusik ketenangan hidup saya, tentu saja saya kesal dengannya. Tapi untuk dendam, hmm… entahlah, saya tidak pernah memikirkannya.”
“Yang Mulia,” kini giliran Hendry yang berbicara, “bisakah saya menyerahkan satu bukti lagi?”
Semua orang di sana menjadi tertarik dan penasaran dengan bukti yang dibawa oleh pengacara Natasya itu. Setelah disetujui oleh hakim, Hendry pun maju untuk menyerahkan sebuah dokumen.
“Biar saya jelaskan terkait bukti tertulis ini,” kata Hendry memulai penjelasannya, “kepolisian sudah menyita dua buah pistol yang berada di TKP, bukan?”
Semua orang mengangguk kecil menyetujui ucapan Hendry. Bukan rahasia lagi kalau ada dua pistol milik para penculik yang diamankan oleh polisi waktu itu.
“Pistol yang dipegang oleh saudara Natasya saat itu sudah diperiksa dan diketahui bahwa kepemilikannya atas nama pelaku penculikan sekaligus korban tewas dalam kejadian kali ini, yaitu almarhum Haikal. Namun, ternyata pistol yang satu lagi belum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh polisi maupun kejaksaan.”
Majelis hakim menyimak penjelasan Hendry dengan baik. Memang tidak dilakukan pemeriksaan terhadap pistol yang saat itu dipegang oleh Haikal karena pistol tersebut sama sekali tidak digunakan. Selain itu, semua orang mengira bahwa pistol itu juga milik Haikal.
“Maka dari itu, saya melakukan pemeriksaan sendiri terhadap nomor seri pistol tersebut. Tidak sulit untuk menemukan siapa pemilik pistol tersebut. Pemiliknya adalah…”
Hakim ketua membaca dokumen tersebut dengan saksama.
“…Tuan Samudra, ayah dari saudara Sabrina.”
...----------------...
Halo halo... Author balik lagi nih ♥♥♥
Kemarin mau up episode ini, eh ternyata ketiduran wkwk
Jangan lupa like dan komen yaaa 😊😊