
Hendry berjalan memasuki rumah dengan kondisi lelah dan murung. Ia baru saja kembali dari 'perjalanan dinas'-nya untuk melakukan negosiasi dengan kepala KUA, tapi sepertinya pertemuan itu tidak berjalan dengan lancar.
Saat ini, semua anggota keluarga Adikusuma sudah berkumpul di ruang tamu rumah mewah itu untuk menanti kepulangannya. Mereka semua langsung berdiri saat melihat sang kepala keluarga memasuki rumah. Anjani berlari kecil untuk menghampiri suaminya, lalu membantunya untuk melepas jas yang pria itu pakai.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Anjani.
Hendry menghela napas lelah, lalu menggeleng pelan, "pihak KUA tidak mau memalsukan data pernikahan Natasya."
"Loh? Kenapa begitu? Kamu sudah memberi kepala KUA itu penawaran yang bagus, kan?" tanya Anjani yang tidak senang dengan kabar itu.
"Sudah, aku sudah memberikan berbagai penawaran yang bagus untuknya. Mulai dari uang, jabatan, aset, tapi dia tetap saja menolak," jelas Hendry.
"Duh, kenapa orang itu teguh pendirian sekali sih?" gumam Anjani kesal.
"Pria itu berkata kalau penyuapan itu haram. Dia orang yang terlalu religius," kata Hendry.
"Cih, bukan dia yang terlalu religius, tapi kalian aja yang gak takut dosa," cibir Alan yang tiba-tiba bersuara.
"Alan!" tegur Johnathan kepada adiknya, "jangan ngomong kayak gitu sama orang tua."
"Loh, kenapa? Yang aku omongin gak salah kan, Kak? Kalian semua gak takut dosa sampai ngelakuin penyuapan, bahkan berniat nyakitin Natasya yang sama sekali gak tahu apa-apa," ujar Alan dengan nada marah, ia masih tidak setuju dengan rencana keluarganya itu.
"Alan, kita semua sudah sepakat untuk melakukan hal ini," ucap Hendry dengan nada dingin.
Alan berdecih, "cih, aku gak pernah setuju sama rencana busuk kalian."
"Alan!" bentak Anjani, "jaga ucapan kamu!"
Alan hanya diam dan menatap nyalang ibunya. Ia tidak berani membantah perkataan wanita yang telah melahirkannya itu, walaupun hatinya sudah sangat geram saat ini.
"Kamu juga gak ada bedanya dengan kami, Al," ucap Johnathan membuat Alan menoleh.
"Walaupun kamu tahu semua rencana keluarga kita, tapi kamu gak pernah ngelakuin apa pun buat melindungi Natasya, bahkan kamu gak kasih tahu gadis itu sama sekali," imbuh Johnathan.
Alan mengeraskan rahangnya mendengar perkataan Johnathan. Kakaknya itu benar bahwa dia juga sama bersalahnya di sini karena tidak melakukan apa pun untuk Natasya. Sementara itu, Johnathan hanya menatap adiknya dengan tatapan datar.
"Sudah cukup!" tegas Hendry melihat anak-anaknya mulai memancarkan aura permusuhan.
"Lebih baik kita semua kembali ke kamar masing-masing," ucap Hendry.
Mau tidak mau, mereka pun menuruti ucapan sang kepala keluarga. Namun, saat hendak meninggalkan ruang tamu, mereka mendengar suara sepatu seseorang yang berjalan mendekati mereka.
Tap... Tap... Tap...
Mereka menoleh ke arah lorong di depan ruang tamu yang mengarah ke pintu utama. Mereka semua membelalakkan mata terkejut saat melihat seseorang berjalan memasuki rumah mereka. Orang itu adalah Natasya, gadis itu mendekati mereka dengan wajah yang sangat datar.
(poker face-nya Mbak Jennie Kim tetep cute, gak bisa terlalu marah xixi)
"Natasya?" gumam Hendry.
Di belakang Natasya, ada satpam yang terengah-engah berusaha untuk mengejar gadis itu.
"Maaf, Pak Hendry. Saya sudah berusaha menghentikan Nona Natasya masuk, tapi nona Natasya tidak mau berhenti," adu satpam tersebut kepada Hendry.
Kemudian, Hendry mengangguk dan memberi isyarat kepada si satpam untuk meninggalkan mereka.
"Natasya--"
Ucapan Hendry terhenti saat Natasya membuka map yang ada di tangannya. Hendry sangat terkejut karena map itu adalah map berisi berkas-berkas milik Johnathan. Pria itu merutuki kebodohannya yang meninggalkan map itu di atas meja.
Natasya melempar semua isi map tersebut ke hadapan keluarga Adikusuma hingga sobekan-sobekan kertas itu berhamburan di lantai. Sedangkan, Hendry dan yang lain terkejut karena tindakan gadis itu.
"Natasya! Apa yang kamu lakukan?" teriak Anjani, lalu wanita itu bersimpuh untuk mengambil potongan-potongan kertas itu.
"Kenapa kamu merobek kertas-kertas ini?!" protes Anjani.
Natasya menatap Anjani yang posisinya sekarang lebih rendah daripada dirinya dengan tatapan datar.
"Harusnya aku yang bertanya apa maksud dari kertas-kertas tidak berguna ini?" tanya Natasya dengan nada dingin.
Mereka semua terdiam, tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Natasya yang mereka kenal adalah gadis pekerja keras yang baik hati, yang selalu tersenyum ramah kepada semua orang. Malam ini, mereka melihat sisi lain Natasya yang bangkit karena mereka telah menyakiti hati gadis itu.
"Tuan Adikusuma," panggil Natasya kepada Hendry, "Anda berniat untuk mengkhianati saya?"
Hendry tersentak, ia bingung harus menjawab pertanyaan Natasya.
"Natasya..., bukan begitu, Nak."
Alis Natasya terangkat sebelah, "bukan begitu? Lalu, apa? Kenapa di kertas-kertas bodoh ini tertulis bahwa putra sulungmu yang akan menjadi ayah angkat Bhara?"
"Tuan, saya tidak bodoh untuk mengetahui situasi apa yang terjadi sekarang. Anda berpura-pura membantu saya, lalu setelah semua berkas berhasil saya kumpulkan, Anda akan merebut semuanya untuk mengadopsi Bhara atas nama Tuan Johnathan. Itu namanya pengkhianatan!" ucap Natasya dengan nada meninggi di akhir.
"Yang ingin saya tanyakan adalah apa alasan Anda melakukan semua ini?" lirih Natasya.
Gadis itu mati-matian berusaha menahan tangisnya. Ia benar-benar merasa terpukul karena orang-orang yang sudah ia hormati sebagai keluarganya sendiri berbalik untuk mengkhianatinya. Tanpa ia tahu, sebenarnya semua orang juga ingin menangis saat ini. Rasa bersalah mereka memuncak melihat Natasya yang begitu sakit hati.
"Natasya," panggil seseorang.
Natasya menoleh ke arah Johnathan yang baru saja memanggilnya.
"Saya akan memberi tahu kamu yang sebenarnya," imbuh dokter muda itu.
Lalu, Johnathan meraih selembar kertas yang sedari tadi ada di meja ruang tamu tersebut. Natasya hanya diam memperhatikan saat pria yang lebih tua darinya itu berjalan ke arahnya.
"Silahkan, kamu baca sendiri," ucap Johnathan sambil menyodorkan selembar kertas kepada Natasya.
Gadis itu menatap Johnathan dengan raut wajah bingung. Meskipun begitu, ia tetap menerima kertas itu dan mulai membaca isinya. Ya, itu adalah laporan hasil tes DNA Johnathan dan Bhara. Reaksi Natasya sama seperti reaksi keluarga Adikusuma saat pertama kali mengetahui fakta itu. Terkejut.
"A-apa? Jadi, Bhara itu anak kandung dokter?" tanya Natasya kepada Johnathan dengan tatapan tidak percaya.
Johnathan mengangguk pelan, "iya. Sekarang kamu paham kan, kenapa kami bersikeras untuk mendapatkan hak asuh Bhara?"
Hening beberapa saat. Natasya tidak segera membalas ucapan Johnathan. Mereka semua berpikir bahwa Natasya sudah mengerti keadaan mereka dan mau diajak bekerja sama. Tapi, tiba-tiba saja...
PLAK!!
Semua orang terkejut ketika Natasya tiba-tiba menampar pipi Johnathan hingga menimbulkan suara nyaring. Lalu, gadis itu berucap dengan geram.
"Jadi, kamu yang menyiksa dan menelantarkan Bhara?!"
...----------------...
Untuk chapter kali ini dan beberapa chapter ke depan lebih banyak adegan konflik para orang dewasa ya...
Jadi sebenarnya, keluarga Adikusuma itu baik atau jahat sih???
Jangan lupa like, komen, dan vote yaa ♥♥