
Hari demi hari berlalu. Natasya sudah menjalani ujian akhir semesternya dengan lancar. Ngomong-ngomong, sejak Bhara memintanya tidur di kamar Johnathan, gadis itu menjadi sering ikut tidur di sana. Meskipun begitu, dirinya masih bertempat di kamar yang terpisah dengan Johnathan.
Pagi ini, para anggota keluarga Adikusuma terlihat sangat sibuk. Mereka sedang bersiap untuk pergi liburan keluarga.
"Mama, topi Bhala mana?!"
Suara teriakan Bhara dari luar kamar membuat Natasya yang masih mengemasi tas itu pun menoleh. Ia mendapati anaknya itu berdiri di tengah-tengah pintu kamarnya yang terbuka.
"Topi kamu kan tadi udah dibawa sama papa," jawab Natasya.
Setelah mendapat jawaban dari mamanya, Bhara pun langsung berlari menuruni tangga untuk mencari papanya.
"Papa!! Papa dimana?! Papa!!" teriak Bhara dengan suara melengking.
Anjani yang mendengar Bhara berteriak pun langsung bergegas untuk memeriksa. Matanya membola saat melihat cucunya sedang menuruni tangga dengan terburu-buru. Karena khawatir, ia pun langsung menghampiri Bhara.
"Eh, Bhara, jangan lari-lari di tangga! Bahaya, Nak!" seru Anjani, lalu menggendong Bhara untuk menuruni tangga.
"Nenek, papa mana? Topi Bhala dibawa cama papa," tanya anak itu.
"Papa kamu lagi panasin mobil di luar," jawab Anjani, "ayo kita ke sana."
Kemudian, Anjani pun menggendong Bhara keluar rumah untuk menghampiri Johnathan yang sedang memanaskan mesin mobil.
"Papa!" panggil Bhara.
Johnathan menoleh, "kenapa, Sayang?"
"Topi Bhala mana?" tanya anak itu.
"Ada di dalam mobil," jawab Johnathan, "pakainya nanti aja, kalau udah sampai di kebun binatang."
Bhara hanya menganggukkan kepala lemas menuruti perintah papanya. Padahal, ia ingin segera memakai topi supaya terlihat semakin tampan.
Ya, hari ini, keluarga Adikusuma akan pergi berlibur ke kebun binatang. Mereka sekeluarga akan pergi bersama-sama menggunakan sebuah mobil yang berkapasitas 7 orang. Sangat cukup untuk keluarga besar mereka yang tidak terlalu besar. (hah? Gimana tuh?)
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, akhirnya mereka sampai di kebun binatang. Beruntung mereka lewat jalan tol, jadi tidak terjebak macet.
Suasana di kebun binatang sangat ramai, Bhara berlari-lari kecil, suasana hatinya sangat senang sekarang. Anak itu tampak lucu dengan topi kuning kesayangannya.
"Bhara, jangan cepat-cepat larinya, nanti kamu terpisah, Nak," panggil Natasya sedikit berteriak.
Bhara berhenti berlari dan berbalik untuk melihat keluarganya yang masih tertinggal di belakang.
"Ayo, cepat! Kalian kenapa lama cekali cih?" ucap Bhara tidak sabar sambil berkacak pinggang.
Seluruh keluarga Adikusuma tertawa melihat tingkah lucu balita Adikusuma itu. Alan yang tidak tahan dengan keimutan ponakannya itu langsung berlari menghampiri Bhara dan menggendong anak itu.
"Duh! Kamu ini lucu banget sih, Anak kecil," gemas Alan sambil menciumi kedua pipi gembil Bhara.
"Aaa!! Om Alan, geli, ahaha," Bhara tertawa saat wajahnya diciumi oleh om kesayangannya itu.
"Udah udah, lebih baik kita segera masuk," tegur Anjani, "Bhara, kamu udah gak sabar mau liat harimau, kan?"
Bhara mengangguk semangat, "yeay! Bhala mau liat halimau!"
Setelah itu, Alan menurunkan Bhara agar anak itu berjalan sendiri. Mereka mengawasi Bhara yang sudah berlari-larian untuk melihat-lihat hewan di sana.
"Kalian harus lebih sering mengajak Bhara pergi ke taman bermain. Lihat! Anak itu bahagia sekali," kata Hendry memberi nasihat kepada Johnathan dan Natasya.
Natasya memperhatikan Bhara yang memang tampak bahagia sekarang. Hatinya merasa sedih membayangkan saat sebelum mereka bertemu, anak itu pasti tidak pernah diberikan kebahagiaan seperti ini oleh ibu kandungnya.
Tak lama kemudian, keluarga Adikusuma tersebut melihat Bhara yang berlari untuk menghampiri mereka.
"Loh, kenapa balik ke sini lagi?" tanya Johnathan.
Kemudian, anak itu mengulurkan kedua tangannya ke arah Natasya meminta gendong, "mama, mau gendong~"
Natasya tertawa kecil. Ia sudah akan mengangkat tubuh Bhara, tapi tiba-tiba didahului oleh Alan.
"Kamu sama om aja," seru Alan sambil menggendong Bhara.
Setelah itu, Alan membawa Bhara untuk berlari-lari kecil mendahului yang lain. Hal itu membuat Bhara tertawa senang. Keluarga Adikusuma lain yang melihatnya pun tersenyum hangat melihat pemandangan menyenangkan itu.
...----------------...
Bhara masih bersemangat untuk melihat-lihat hewan di kebun binatang. Sekarang Bhara hanya ditemani oleh Johnathan dan Natasya. Hendry dan Anjani sudah terlalu lelah untuk mengikuti cucu mereka yang terlalu aktif. Maklum, faktor usia. Alan pun menemani kedua orang tuanya yang beristirahat di rest area kebun binatang.
"Mama! Lihat itu! Beluangnya lagi main!" seru Bhara.
Anak itu sedang mengagumi para beruang yang berada di dalam kandang. Kandang beruang itu dibatasi oleh pembatas kaca yang sangat kokoh, jadi tidak membahayakan para pengunjung.
"Waah~ iya, beruangnya lagi main. Itu pasti anak beruang sama mama beruang," balas Natasya di samping Bhara yang juga melihat-lihat beruang.
Johnathan mendatangi mereka sambil membawa minuman dingin di tangannya.
"Minum dulu, kalian pasti haus," ucap papa muda itu.
Natasya dan Bhara menerima minuman masing-masing dan segera menenggaknya sampai habis. Cuaca di sana memang cukup panas.
"Haah~ cegalnya," ucap Bhara setelah minum.
Bhara berlari kecil untuk membuang botol minuman yang sudah habis ke dalam tempat sampah yang tidak jauh dari posisi mereka. Setelah itu, Bhara kembali menghampiri papanya.
"Papa! Lihat! Mama beluang main cama anak beluang," seru Bhara yang bersemangat ingin menunjukkan beruang lucu kepada papanya.
Johnathan terkekeh pelan, "iya, mirip kayak Bhara dan mama Natasya."
Natasya yang mendengarnya hanya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepala. Masa dirinya disamakan dengan beruang sih?
Tiba-tiba, Johnathan terpikirkan sebuah ide yang mungkin akan bagus untuk perkembangan kemampuan berbicara anaknya itu.
"Bhara," panggil Johnathan, "coba ikutin papa ya, be-ru-ang."
"Be-lu-ang," Bhara dengan kecadelannya.
"Bukan beluang, tapi berr-ruang," kekeh Johnathan.
"Belluang!"
"Beruang, pakai err."
"Ell! Bellluang!"
Sementara Natasya sudah bersusah payah menahan tawanya di belakang Bhara. Anaknya itu lucu sekali saat berkali-kali tidak bisa mengucap 'R'. Ia tidak berani tertawa, takutnya nanti Bhara insecure dan tidak mau belajar lagi.
"Bhala ndak bica, Pa," lirih Bhara dengan nada bersedih.
Johnathan terkekeh pelan, lalu mengusap lembut pucuk kepala anaknya, "iya, gak apa-apa, Bhara. Nanti belajar lagi, ya."
Johnathan hanya ingin mengajari anaknya supaya tidak cadel lagi. Tapi kalau memang Bhara belum bisa mengucapkan huruf 'R' dengan benar, ia tidak akan memaksanya sekarang. Lagipula, anak itu masih berusia 3 tahun, wajar jika masih cadel.
Setelah gagal mengajari Bhara mengucap huruf 'R', mereka memutuskan untuk menghampiri anggota keluarga yang lain di rest area. Sekalian mereka ingin membeli makan siang di area food court.
...----------------...
Chapter ini masih santai-santai ya. Biarkan keluarga Adikusuma bahagia terlebih dahulu.
Setelah ini, akan muncul konflik baru... Tunggu saja yaa xixi:)
...Jangan lupa like, komen, dan vote yaa 😊😊♥...