
Warning : mention of blood!
Tim kepolisian sudah tiba di lokasi penculikan. Mereka semua berhenti cukup jauh dari rumah usang yang diduga sebagai tempat penyekapan Natasya dan Bhara. Mobil-mobil para polisi tersebut berpencar di beberapa tempat tersembunyi agar para penculik tidak menyadari kedatangan mereka.
“Kita akan tetap di sini, sementara tim penyelamat akan melakukan pencarian ke dalam,” ucap komandan polisi kepada Johnathan dan Alan.
Dua bersaudara Adikusuma itu sudah duduk dengan gelisah di kursi mereka. Namun, mereka tetap berusaha untuk tetap tenang dan mempercayakan semuanya kepada polisi.
“Tim penyelamat… monitor,” ucap komandan polisi pada alat komunikasi HT.
“Siap, masuk, Komandan!” balas tim penyelamat yang bersiap untuk melakukan penyelinapan ke dalam rumah kosong itu.
“Terus aktifkan penyadap suara,” perintah komandan polisi.
“Siap, Komandan!” jawab tim penyelamat itu.
Semua orang yang berada di lokasi tersebut bisa mendengar semua suara yang ada di dalam rumah itu melalui alat penyadap yang dibawa oleh tim penyelamat yang saat ini sedang menyusuri seisi rumah.
Semua orang yang ada di luar bangunan tidak akan mengaktifkan mode bicara di HT selama tim penyelamat sedang melakukan penelusuran, karena suaranya akan sangat keras di HT dan bisa menggagalkan penyelinapan itu.
Begitu juga dengan tim penyelamat, mereka mengaktifkan mode bicara hanya agar polisi yang di luar bisa mendengar segala situasi yang ada di dalam. Tapi tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka.
Suasana di dalam rumah sangat hening, Johnathan dan Alan hanya bisa mendengarkan suara langkah kaki para tim penyelamat.
“Apa ini benar-benar tempat Natasya dan Bhara disekap?” tanya Alan yang mulai ragu.
“Menurut lokasi hasil pelacakan tadi, iya, ini benar lokasinya,” jawab sang komandan polisi, “bisa jadi penculiknya hanya satu atau dua orang, jadi situasi di dalam rumah menjadi sep--.”
DOR!
Mereka semua terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar dari HT.
“Bukankah itu suara tembakan?! Apa yang terjadi?!” panik Johnathan.
Alan yang mendengarnya juga sangat syok dan cemas, tapi ia hanya diam, lebih tepatnya tidak sanggup berkata-kata lagi.
“Periksa ke atas!” ucap kepala tim penyelamat kepada seluruh timnya yang bisa didengar dari HT.
Kemudian, terdengar suara derap lari mereka yang sedang menaiki tangga.
“Jangan bergerak!” teriak tim penyelamat di sana.
“Mereka sudah menemukan penculiknya!” seru komadan polisi.
Kemudian, komandan polisi itu segera keluar dari mobil bersama yang lainnya. Mereka tidak fokus lagi pada HT, tetapi menyiapkan segala keperluan, seperti tenaga medis darurat dan mobil untuk membawa pelaku.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Al? Natasya dan Bhara akan baik-baik saja, kan?” lirih Johnathan yang pikirannya sudah kalut.
Alan mengusap punggung sang kakak berusaha memberi kekuatan, “mereka akan baik-baik saja, Kak John… tenang saja.”
Padahal, Alan sendiri sudah cemas setengah mati. Bagaimana mungkin ia bisa tenang dan tidak berpikiran macam-macam jika baru saja mendengar suara tembakan. Siapa yang tertembak? Alan dan Johnathan terus berdoa bahwa itu bukanlah Natasya ataupun Bhara.
“Tolong tenaga medis!” ucap suara dari HT yang bisa didengar oleh siapapun di luar.
Tim medis dan beberapa anggota polisi langsung masuk ke dalam sambil membawa tandu dan kotak P3K. Johnathan sudah akan ikut berlari ke dalam, tapi langsung dicegah oleh Alan. Mereka tidak boleh masuk karena itu sangat berbahaya.
...----------------...
Beberapa waktu yang lalu…
Tim penyelamat yang beranggotakan empat orang itu menyusuri lantai satu rumah kosong itu. Mereka berjalan mengendap-endap dan berjalan tanpa suara.
DOR!!
Mereka cukup terkejut dengan suara tembakan yang berasal dari lantai atas.
“Periksa ke atas!” perintah ketua tim.
Mereka pun segera berlari menaiki tangga menuju sumber suara. Ketika sampai di lantai atas, mereka bisa melihat seorang pria tergeletak dan memejamkan mata di depan pintu sebuah ruangan.
Tim peyelamat mengira bahwa pria itu adalah orang yang tadi tertembak. Mereka pun segara menghampiri pria itu. Tapi setelah didekati, tidak ada luka tembakan sama sekali di tubuhnya.
Namun, saat melihat ke dalam ruangan tersebut, mereka cukup terkejut melihat korban dan pelaku penculikan yang sedang mereka cari berada di sana.
“Jangan bergerak!” teriak ketua tim penyelamat sambil menodongkan senjata memberi ancaman.
Seorang pria bertubuh besar lainnya langsung mengangkat kedua tangan di atas kepala melihat para polisi datang. Tim penyelamat segera masuk dan mengamankan lokasi. Mereka bisa melihat anak kecil yang sedang meringkuk dengan tubuh bergetar.
Yang membuat mereka sangat terkejut adalah… mayat seseorang yang sudah bersimbah darah di bagian kepala, serta seorang wanita yang sedang memegang pistol. Wanita itu tidak lain adalah Natasya… yang telah berhasil membunuh Haikal.
...----------------...
Johnathan dan Alan, serta para polisi yang berada di luar menunggu dengan perasaan cemas.
“Kenapa mereka tidak segera keluar?” gumam Johnathan cemas.
“Bhara!” seru Alan saat melihat keponakannya digendong oleh seorang polisi keluar dari rumah itu.
“Astaga… putraku…,” ucap Johnathan yang langsung beranjak mengambil alih Bhara dari polisi tersebut.
Johnathan memeluk erat Bhara dan menciumi pucuk kepala anak tunggalnya itu. Hati Johnathan terasa perih saat melihat wajah ketakutan Bhara dan bekas air mata yang masih terlihat jelas di pipi anaknya.
“Terima kasih, Tuhan…,” lirih Johnathan sambil memeluk Bhara kembali dengan erat.
Namun, perasaan lega Johnathan dan Alan tidak berlangsung lama. Nafas mereka tercekat saat melihat tubuh seseorang dibawa keluar menggunakan tandu.
Tubuh itu tertutup dengan kain putih dengan bercak darah di bagian kepala. Jantung mereka seperti berhenti berdetak karena mengira itu adalah mayat Natasya. Ketua tim penyelamat yang mengetahui apa yang ada di pikiran Johnathan dan Alan langsung menghampiri mereka.
“Tuan Johnathan, ini bukan mayat istri anda, tapi mayat si pelaku,” jelas ketua tim itu.
Johnathan dan Alan menghela napas lega mendengarnya. Mereka bersyukur karena orang yang tertembak tadi bukanlah Natasya.
“Lalu, dimana istri saya?” tanya Johnathan.
Wajah ketua tim penyelamat itu berubah menjadi murung. Perasaan Johnathan dan Alan menjadi tidak enak saat melihat perubahan ekspresi itu. Ketua tim itu menoleh ke dalam rumah. Johnathan dan Alan mengikuti arah pandangnya.
Deg!
Mereka melihat Natasya berjalan keluar diiringi dua orang polisi. Johnathan dan Alan bersyukur karena Natasya baik-baik saja, tapi tidak dengan situasi seperti ini. Situasi yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Natasya digiring oleh polisi dengan…
….. kedua tangan diborgol.
‘Kumohon… jangan lagi, Ya Tuhan…’
...----------------...
Maaf ya para pembaca baik hati... Natasya diborgol lagi nih...T_T
Tapi paling nggak, Haikal udah meninggoy kan xixi...