Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
21 : Berkas


"Aaaaa~"


Bhara membuka mulutnya saat Anjani hendak menyuapkan sesendok nasi. Tadi tiba-tiba saja anak itu mengeluh lapar, padahal masih sore hari, belum waktunya makan malam.


Natasya dan Johnathan hanya melihat keduanya dengan diam. Sebenarnya, tadi Natasya yang akan menyuapi Bhara. Namun, Anjani mengajukan diri, wanita itu sangat ingin menyuapi Bhara. Karena Bhara cukup akrab dengan Anjani, maka anak itu juga mau-mau saja.


"Natasya," panggil Johnathan.


"Iya, Dokter. Ada apa?" jawab Natasya.


"Eum... Apa Alan ketemu sama kamu?" tanya Johnathan.


Natasya mengernyitkan dahinya bingung, "i-iya, Alan sering menemuiku. Dokter tidak lupa kalau kami satu jurusan, kan? Tentu saja kami sering bertemu."


Mendengar jawaban Natasya, Johnathan hanya tertawa hambar. Ia merutuki pertanyaannya yang sama sekali tidak masuk akal.


"Maksud saya... Apa Alan ada ngomong sesuatu ke kamu?" tanya Johnathan.


"Hah? Sesuatu apa? Kami ngobrol seerti biasanya, tidak ada yang spesial," heran Natasya, "Ada apa sih, Dokter?"


Melihat respon Natasya yang seperti ini, Johnathan menjadi yakin kalau Alan tidak mengatakan apapun tentang hasil tes DNA itu kepada Natasya.


"Oh, tidak apa-apa, Natasya, lupakan saja," ucap Johnathan sambil tersenyum.


Natasya bingung, sebenarnya apa maksud dari pria di hadapannya ini. Ingin bertanya kembali, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Ting!


Gadis itu segera melihat layar ponselnya setelah mendengar notifikasi pesan tersebut.


Pak Hendry


/Natasya, tolong kamu datang ke firma hukum saya.


/Ada berkas yang perlu kamu urus terkait dengan pengadopsian Bhara.


Senyum Natasya mengembang setelah membaca pesan tersebut. Natasya senang karena dosennya itu menepati ucapannya tentang membantu Natasya dalam waktu yang begitu singkat. Kemudian, gadis itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Bhara yang masih makan.


"Bhara," panggil Natasya membuat anak itu menoleh.


"Mama pergi dulu ya, Nak," ucap Natasya.


Anak itu menghentikan kegiatannya mengunyah makanan dan melengkungkan bibirnya ke bawah.


"Lho... Mama kok cudah mau pulang cih," kata Bhara dengan nada kecewa.


Natasya tersenyum, lalu menangkup pipi Bhara, "mama ada urusan, Sayang. Mama mau mengurus sesuatu supaya Bhara bisa cepat-cepat tinggal sama Bhara."


Wajah anak itu kembali cerah, "benelan, Ma? Cetelah ini Bhala bica tinggal cama mama?"


Natasya mengangguk mantap.


"Yeay! Okee, Ma. Mama boleh pelgi," seru Bhara.


Natasya tertawa kecil, lalu mengusak kepala anak itu. Kemudian, Natasya menoleh ke arah Anjani.


"Bu Anjani, saya titip Bhara dulu ya, saya harus segera pergi untuk mengurus proses adopsi," ucap Natasya dengan semangat.


Anjani mengangguk pelan, "iya, Natasya. Kamu pergi saja, saya dan Johnathan masih lama di sini."


"Kalau begitu, saya pergi dulu. Mari Bu Anjani, Dokter Johnathan," pamit Natasya kepada kedua orang itu.


Setelah berpamitan, Natasya langsung pergi dari panti asuhan dengan wajah penuh harap. Anjani dan Johnathan melihat gadis itu dengan rasa bersalah. Mereka berdua tahu apa yang sebenarnya terjadi, Hendry sudah berdiskusi terlebih dahulu dengan mereka tentang rencana ini.


'Saya benar-benar minta maaf, Natasya... Kamu gadis yang sangat baik.'


'Maafkan saya, Natasya...'


Anjani dan Johnathan hanya bisa meminta maaf kepada Natasya di dalam hati. Walaupun mereka merasa tidak tega dengan gadis itu, tetapi mereka tetap bersikeras untuk mengambil hak asuh Bhara.


...----------------...


Orang-orang di firma hukum itu sudah mengenal Natasya dengan baik. Mereka tahu kalau gadis itu adalah asisten pribadi Hendry. Sebenarnya, Hendry sudah memiliki sekretaris di sana, tapi ia tetap mempekerjakan Natasya untuk menjadi asistennya.


"Natasya, Pak Hendry sudah menunggumu di dalam," ucap sekretaris Hendry yang berada di depan ruangan kepala pengacara itu.


Natasya mengangguk sambil melempar senyum manisnya, lalu membuka pintu ruangan Hendry.


Cklek


Hendry yang duduk di kursi kerjanya menoleh dan tersenyum saat mendapati Natasya yang berjalan memasuki ruangannya.


"Silahkan duduk, Natasya," perintah Hendry.


Natasya pun mendudukkan dirinya di kursi yang ada di hadapan Hendry. Ia hanya memperhatikan Hendry yang sibuk menata kertas-kertas yang ada di mejanya. Kemudian, Hendry memasukkan kertas itu ke dalam map, lalu memberikannya kepada Natasya.


"Di dalam sini ada berkas-berkas yang kamu butuhkan untuk mengadopsi Bhara. Saya sudah mengurus semuanya. Sekarang, yang perlu kamu lakukan adalah meminta tanda tangan pemilik panti asuhan agar memberikan persetujuannya untuk menyerahkan Bhara," titah Hendry kepada Natasya.


Natasya menerima map itu, "semuanya benar-benar sudah beres, Pak? Termasuk syarat kemampuan finansial dan status pernikahan."


"Eum... Sebenarnya masih kurang satu, yaitu status pernikahan, cukup susah untuk mengurusnya. Tapi tidak apa-apa, bisa menyusul nanti, saya akan melakukan negosiasi lagi untuk mendapatkannya. Lebih baik kamu segera mengurus surat persetujuan dari panti asuhan," jelas Hendry kepada Natasya.


Natasya menganggukkan kepalanya, "terima kasih, Pak Hendry. Saya akan mengurusnya sekarang."


Hendry hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah itu, Natasya pun keluar dari ruangan itu. Ia harus segera pergi menemui ibu panti dan meminta tanda tangan dari beliau.


...----------------...


Sesampainya di panti asuhan, Natasya segera menemui ibu panti untuk mengatakan maksud kedatangannya. Ia bertekad untuk tidak menemui Bhara dulu agar proses ini bisa berjalan lancar dan segera berakhir.


"Bu Natasya? Ada apa, Bu? Apa Bu Natasya mau menemui Bhara lagi?" tanya ibu panti yang bingung karena Natasya datang kembali.


Natasya menggeleng sambil tersenyum, "tidak, Bu. Saya kesini bukan untuk menemui Bhara lagi, saya ingin bertemu dengan ibu."


"Oh, kalau begitu, mari duduk dulu," ajak ibu panti tersebut.


Kemudian, ibu panti meminta Natasya untuk duduk di sofa ruang tamu. Lalu, beliau pergi sebentar ke dapur untuk mengambil minuman. Tidak lama kemudian, ibu panti datang sambil membawa secangkir teh hangat.


"Diminum dulu, Bu," pinta ibu panti dengan ramah.


Natasya menganggukkan kepalanya, lalu meminum teh itu sedikit. Sudah dibuatkan minuman oleh tuan rumah, tidak baik kalau menolak.


"Jadi, ada apa Bu Natasya mau menemui saya?" tanya ibu panti setelah Natasya meletakkan cangkir itu ke meja.


"Jadi begini, Bu," Natasya mulai mengeluarkan lembaran kertas dari map, "ini adalah berkas-berkas pengadopsian Bhara."


Ibu panti mengambil lembaran kertas itu, lalu melihatnya dengan saksama. Natasya bisa melihat ibu panti mengernyitkan dahinya dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Yaa... Memang ada sedikit kecurangan dalam mendapatkannya. Tapi itu tidak masalah, bukan? Saya juga sudah membuktikan bahwa saya bisa menjadi mama yang baik untuk Bhara," kata Natasya mencoba untuk membujuk ibu panti.


Ibu panti menghela napas panjang, lalu tersenyum lembut memandang Natasya.


"Bu Natasya, saya sudah melihat sendiri bagaimana sayangnya Bu Natasya dengan Bhara. Begitu juga dengan Bhara, anak itu sangat menyayangi Bu Natasya. Jadi, saya pikir tidak akan ada masalah jika anak itu tinggal bersama Bu Natasya."


Natasya tersenyum lega mendengarnya, kemudian ia mengeluarkan selembar kertas lagi dari map yang ia bawa.


"Kalau begitu, saya minta tanda tangan dari ibu di surat persetujuan penyerahan Bhara ini," pinta Natasya.


Ibu panti itu pun membaca sekilas surat persetujuan itu, lalu membubuhkan tanda tangan di sana tanpa ragu. Natasya tersenyum lebar melihatnya. Ia bahagia karena sudah semakin dekat dengan tujuannya.


...----------------...


Wah... Kira-kira apa ya yang direncanakan oleh keluarga Adikusuma?


Kenapa Hendry malah membantu Natasya? Apa yang sebenarnya dia rencanakan?


Terus ikuti kisahnya di next chapter yaaa 😊


Seperti biasa... Jangan lupa like, komen, dan votenya ♥♥