
“Hai, Sayang…”
“Kak Haikal?!”
Haikal berjalan semakin mendekat sambil menunjukkan seringai lebarnya, “pada akhirnya kamu memang akan menjadi milikku, Natasya…”
Laki-laki itu merendahkan tubuhnya agar sejajar di hadapan Natasya, lalu berucap dengan nada sendu yang dibuat-buat, “seharusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi, jika kamu tidak membuat semuanya sulit sejak awal.”
Raut wajah Natasya sudah semakin mengeras menahan amarah. Kedua tangannya yang ia sembunyikan di balik punggungnya mengepal kencang, berusaha agar tidak memukul wajah laki-laki di hadapannya ini.
“Kamu brengsek, Kak! Benar-benar gila kamu! Sampai hati kamu culik aku kayak gini!” umpat Natasya tepat di depan wajah Haikal.
“Aku gila karena kamu, Natasya!” seru Haikal tiba-tiba, “aku cinta mati sama kamu! Kenapa kamu tidak pernah memahami perasaanku, hah?!”
Natasya cukup tersentak dengan bentakan Haikal. Suara laki-laki itu terdengar menggelegar dan sangat mengerikan untuknya.
“Kamu yang tidak memahami aku…,” lirih Natasya, “aku tidak cinta sama kamu… kenapa kamu tidak mau mengerti, dan terus memaksaku? Kenapa?!”
Rahang Haikal mengeras mendengarnya, tapi laki-laki itu berusaha untuk memasang wajah tenang, “cinta datang karena terbiasa, Natasya. Mulai sekarang, kamu akan selalu bersamaku agar kamu terbiasa denganku. Kamu pasti bisa mencintaiku, Natasya.”
Natasya menatap Haikal dengan tatapan tidak percaya. Pemikiran gila macam apa itu?! Haikal benar-benar sudah tidak waras. Kemudian, Natasya baru teringat bahwa tidak hanya dirinya yang sedang diculik saat ini.
“Dimana anakku?” tanya Natasya yang mulai panik, “katakan! Dimana anakku?!”
Haikal memutar bola matanya malas, “kenapa kamu terus saja mengatakan dia adalah anakmu, hah?! Dia bukan anakmu, Natasya!”
“Diam!!” teriak Natasya, wajah perempuan itu sudah memerah karena emosi, “Bhara adalah anakku. Dia adalah anakku! Sekarang katakan, dimana dia?”
Haikal mendengus malas, “dia ada di ruangan sebelah.”
Jawaban Haikal membuat Natasya kembali bersemangat untuk segera menyelamatkan anaknya. Kemudian, Haikal bangkit untuk berdiri. Laki-laki itu menunduk dan tersenyum miring menatap Natasya.
“Tenang saja, anak kecil itu akan kembali kepada keluarganya,” ucap Haikal.
Hal itu membuat Natasya merasa sedikit lega. Laki-laki itu tidak berniat untuk menyakiti anaknya dan akan segera mengembalikan Bhara kepada dirinya dan keluarga mereka.
“Tapi tidak denganmu,” kalimat Haikal itu membuat dahi Natasya mengernyit bingung, “kamu akan tetap bersamaku.”
Bahu Natasya merosot mendengarnya. Apakah itu berarti dirinya akan dipisahkan lagi dari sang anak? Tidak! Natasya tidak mau membiarkan hal itu terjadi.
“Kita akan hidup bersama di luar negeri,” imbuh Haikal.
“Apa?!” Natasya benar-benar terkejut dengan rencana Haikal, “kamu benar-benar sudah gila! Aku tidak mau! Aku tidak akan kemana-mana!”
Haikal menatap datar Natasya, “aku tidak sedang melakukan penawaran denganmu, Natasya. Mau tidak mau, kamu harus pergi denganku.”
Setelah berkata seperti itu, Haikal langsung berlalu pergi begitu saja.
“Tidak! Aku tidak akan pernah ikut denganmu!” teriak Natasya yang diabaikan oleh Haikal.
Blam!
Pintu ruangan itu kembali tertutup. Kini, Natasya sudah ditinggal sendirian lagi. Wajah perempuan itu kembali menjadi serius dan fokus. Natasya buru-buru melepaskan ikatan di kakinya dan berlari mendekati pintu.
Tangan Natasya berusaha membuka pintu itu dengan pelan. Dan….
“Dikunci?” gumam Natasya.
Sepertinya, pintu itu dikunci dari luar. Natasya ingin sekali mendobrak pintu itu agar segera terbuka, tapi tentu saja itu tidak mungkin ia lakukan. Bagaimanapun juga, ia tidak mengetahui situasi di luar. Kalau ia bertindak gegabah, bisa-bisa tindakannya malah membahayakan dirinya dan Bhara.
Natasya berjalan ke sekeliling ruangan untuk mencari cara agar bisa keluar dari sana. Tapi ia sama sekali tidak menemukan apapun, bahkan ruangan itu tidak memiliki jendela.
“Pasti sebentar lagi, Kak Haikal akan masuk lagi ke ruangan ini,” gumam Natasya.
Bukannya terlalu percaya diri, tapi melihat Haikal yang begitu terobsesi kepadanya, Natasya berpikir bahwa laki-laki itu pasti akan sering datang untuk melihatnya. Dan itu akan menjadi satu-satunya kesempatan untuk Natasya kabur.
Natasya pun segera mengambil balok kayu yang berukuran sedang tapi padat. Lalu, ia kembali ke tempat dimana ia diikat tadi. Natasya segera mengikatkan tali pada kaki dan tangannya, tapi tidak terlalu erat.
‘Semoga saja rencanaku berhasil, Ya Tuhan…,’ doa Natasya dalam hati.
...----------------...
Sementara itu, Johnathan dan Alan sudah tiba di kantor polisi Banten. Mereka semua bekerja sama untuk melakukan penyelamatan kepada Natasya dan Bhara.
“Apakah tidak ada telepon lagi dari pelaku?” tanya seorang komandan polisi kepada Johnathan.
Johnathan menggeleng pelan. Dari tadi ia terus memegang ponselnya dan berharap agar si pelaku segera menghubunginya lagi. Polisi sudah menyambungkan ponsel Johnathan dengan alat penyadap milik kepolisian.
Hal itu dilakukan supaya ketika nomor si pelaku menghubungi ponsel Johnathan, bisa langsung dilacak lokasinya.
“Lapor, Komandan,” ucap salah satu polisi yang baru saja datang menghampiri mereka.
“Ada apa?” tanya sang komandan polisi.
“Kami sudah melakukan penyelidikan terhadap narapidana Sabrina yang dicurigai terlibat dalam kasus ini,” lapor polisi tersebut.
Johnathan dan Alan langsung mendekat untuk mendengar lebih jelas petunjuk apa yang berhasil ditemukan oleh polisi tersebut.
“Apa kalian menginterogasi Sabrina?” tanya Alan.
Polisi itu menggelengkan kepalanya, “tentu saja tidak. Sabrina dicurigai terlibat dalam kasus penculikan ini. Jika dia tahu kalau polisi sudah bergerak, itu akan membahayakan para korban.”
Alan menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan polisi tersebut.
“Kami memeriksa siapa saja orang yang mengunjungi Sabrina selama wanita itu berada di penjara,” jelas sang polisi, “dan orang-orang yang mengunjungi Sabrina di penjara adalah ayah kandungnya, ibu kandungnya, serta seorang mahasiswa hukum yang kuliah di universitas yang sama dengan korban.”
Johnathan langsung menoleh ke arah Alan saat kata ‘mahasiswa hukum’ disebutkan. Alan yang melihat Johnathan sedang menatapnya dengan tatapan menuntut langsung menggeleng ribut.
“Bukan aku!” seru Alan.
“Tentu saja bukan kamu,” balas Johnathan yang tidak sedang menuduh adiknya.
“Namanya adalah Haikal,” ucap polisi itu.
Alan langsung menoleh dengan mata membelalak terkejut, “Haikal?! Astaga! Dia pasti pelakunya!”
“Anda mengenalnya?” tanya komandan polisi kepada Alan.
Bungsu Adikusuma itu langsung mengangguk mantap, “tentu saja! Dia adalah mahasiswa gila yang terobsesi dengan Natasya.”
“Terobsesi?!” sahut Johnathan yang mendadak panik mendengar kata yang tampak berbahaya itu.
“Tolong tetap tenang, Tuan Adikusuma,” ucap komandan polisi tersebut, “kami akan menyelidiki mahasiswa bernama Haikal ini dan memastikan apakah dia adalah pelakunya atau bukan.”
“Tolong percepat penyelidikannya, Pak… saya sangat khawatir dengan istri dan anak saya,” ucap Johnathan memohon kepada polisi.
Tiba-tiba…
Drrrt… Drrrt…
Ponsel Johnathan kembali berdering dengan layar bertuliskan ‘Nomor Tidak Dikenal”.
...----------------...
Untungnya di kasus kali ini, pihak kepolisian sangat berkompeten yaa... ❤😂
...Minta tolong, kalau ada typo, tolong kasih tau author yaaa... Thank cuuu 😊😊...