Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
46 : Gagal


Natasya, Hendry, dan Alan turun dari lantai atas menuju ruang tamu. Mereka bisa melihat Sabrina yang duduk di sana berhadapan dengan Anjani. Mereka berdua hanya diam, Anjani masih tidak menunjukkan aura bersahabat dengan mantan kekasih anak sulungnya itu.


"Apa yang membuatmu datang kemari, Sabrina?" tanya Hendry setelah mendudukkan dirinya di samping sang istri.


Alan dan Natasya duduk di sofa yang ada di sebelah mereka.


"Aku akan langsung ke intinya," Sabrina berucap dengan tenang, "aku mau supaya Bhara kembali bersama dengan orang tua kandungnya."


Bagaimana reaksi seluruh keluarga Adikusuma? Tentu saja, rahang mereka mengeras geram karena permintaan kurang ajar Sabrina.


"Bukannya Bhara sudah bersama orang tua kandungnya, yaitu Johnathan?" ucap Anjani dengan nada datar, "papa kandungnya saja sudah cukup."


Sabrina terkekeh pelan, "tentu saja itu belum cukup, Nyonya Anjani."


"Bhara masih butuh mama kandungnya juga," imbuh Sabrina.


Alan berdecih remeh, "cih! Bhara sama sekali gak butuh mama kandung kayak kamu. Asal kamu tau ya, di akta kelahiran Bhara aja tertulis nama Natasya, bukan nama kamu."


"Itu bukan masalah," sahut Sabrina, lalu memasang wajah polosnya, "aku sayang sama Bhara, dan Bhara juga sayang sama aku. Bukankah lebih baik kalau Bhara dirawat sama papa dan mama kandungnya sendiri?"


"Mau kamu apa sih sebenarnya?!" teriak Anjani.


Sabrina tersenyum simpul, "ibu... Aku cuma ingin memulai hidup baru bersama anak kandung dan ayah dari anak aku sendiri."


Brakk!


Anjani menggebrak meja dan berdiri dari duduknya. Kini, amarahnya sudah meluap dan tidak bisa dibendung lagi.


"Berani-beraninya kamu minta hal itu!" bentak Anjani, "dulu, kamu yang ninggalin Johnathan gara-gara mau nikah sama pria kaya. Dan sekarang, saat Johnathan udah bahagia bersama keluarga barunya, kamu mau kembali sama dia lagi?! Itu gak akan terjadi, Sabrina!"


"Itu semua hanya masa lalu!" seru Sabrina ikut berdiri menghadap Anjani, "aku dipaksa sana orang tuaku, karena mereka mau harta kekayaan dari mantan suamiku."


Sabrina mulai menangis, "aku juga korban... Hiks..."


Semua orang jengah dengan Sabrina yang selalu saja menangis tiap datang ke rumah ini.


"Cukup! Hentikan tangisan kamu itu! Aku udah muak!" hardik Anjani, "Bhara udah bahagia dengan Natasya, dia gak butuh kamu lagi."


Sabrina menggeleng lemah, "Bhara bersikap seperti itu gara-gara dia takut sama papa tirinya. Tapi sekarang, aku udah berpisah dengan papa tiri Bhara. Bhara itu anak aku, jadi dia harus kembali padaku, dan aku pasti akan merawat Bhara dengan penuh cinta..."


"... Lebih dari Natasya, yang hanya seorang ibu tiri," lirih Sabrina sekalian menyindir Natasya.


Mereka semua semakin geram dengan ucapan Sabrina. Anjani sudah bersiap untuk melontarkan sumah serapah kepada wanita di hadapannya itu. Namun, tiba-tiba saja...


"Ahahahaha!"


Mereka semua terdiam dan menoleh ke arah Natasya yang sedang tertawa terbahak-bahak. Semua orang bingung, apa yang lucu di situasi ini.


"Ahaha! Astaga...," Natasya mengusap sudut air matanya yang berair karena terlalu kencang tertawa, lalu berucap remeh kepada Sabrina, "apa? Kamu akan merawat Bhara dengan penuh cinta? Cih! Omong kosong."


"Emangnya Bhara mau tinggal sama kamu?" tanya Natasya sambil tersenyum remeh.


Alis Sabrina menukik tajam mendengar perkataan Natasya yang meremehkannya.


"P-pasti dia mau, aku ini mama kandungnya," seru Sabrina.


"Oh ya?" ucap Natasya santai, "kalau gitu... Ambil aja."


Seluruh anggota keluarga yang mendengarnya langsung melotot mendengar ucapan Natasya. Bahkan, Sabrina juga mengernyit bingung. Ia tidak mengira Natasya akan menyerahkan Bhara begitu saja.


"Natasya, apa yang kamu lakukan?" tanya Anjani.


"Sya...," panggil Alan.


Perlahan, Natasya berjalan mendekati Sabrina sambil tersenyum menantang, "kamu bisa aja bohong sama kami, tapi kamu gak akan bisa bohong sama Bhara. Anak itu tahu yang sebenarnya. Jadi, kalau kamu berpikir bahwa Bhara mau kembali sama kamu, ambil aja dia."


"Berani?" tanya Natasya dengan alis terangkat sebelah.


Sabrina hanya menatap tajam Natasya yang saat ini tengah menantangnya.


Natasya manggut-manggut, "oke, kalau gitu...," Natasya menoleh ke arah lantai atas, "ajak Bhara ke sini, Mbak."


Mereka semua ikut menoleh, dan ternyata mbak pengasuh Bhara sudah berdiri di sana sejak tadi sambil menggendong Bhara.


Terlihat sekali raut wajah ketakutan Bhara saat melihat Sabrina. Mbak pengasuh itu menggendong Bhara dan berhenti di samping-belakang Natasya.


Natasya menoleh dan tersenyum ke arah Bhara, "waah~ anak mama udah bangun ya~"


Bhara tersenyum kecil menatap wajah cantik Natasya.


"Bhara," panggil Natasya, "Bhara mau nggak, tinggal lagi sama mama Sabrina?"


Bhara melirik takut ke arah Sabrina, sedangkan wanita itu diam-diam melotot tajam agar anak itu menurut. Tapi, Bhara mengalihkan pandangannya dan menggeleng pelan.


"Kamu lihat sendiri, kan?" ucap Natasya kepada Sabrina sambil tersenyum penuh kemenangan, "Bhara gak mau pergi sama kamu, karena dia tahu yang sebenarnya, kalau kamu itu bukan mama yang baik."


Sabrina menggeleng, lalu menghela napas bersiap untuk membujuk anaknya, "Bhara, maafin mama, Nak. Kamu udah salah paham... Mama sayang sama kamu... Semua perlakuan mama selama ini adalah bentuk perlindungan mama untuk kamu, biar kamu gak disiksa sama Papa Tio. Ayo, Bhara. Pulang sam--"


"Cukup!" tegas Natasya.


Suara keras menantu keluarga Adikusuma itu mampu membuat ruangan hening.


"Jangan memaksa Bhara! Dia udah bilang sendiri ke aku, kalau kamu yang udah mukulin dia selama ini!" seru Natasya.


Sabrina masih menampilkan ekspresi tersakiti, "dan kamu percaya sama ucapan anak usia 3 tahun? Hei... Pikiran Bhara masih belum cukup matang untuk memahami situasi, dia cuma salah paham."


"Kamu masih aja mengelak, ya?" tanya Natasya tidak habis pikir dengan Sabrina, "jelas aku lebih percaya sama ucapan anak aku daripada ucapanmu itu."


Sabrina sudah ingin membalas ucapan Natasya, tapi Anjani sudah lebih dulu berbicara.


"Kamu adalah orang jahat, Sabrina," ucap Anjani dingin, "jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini lagi. Dan jangan pernah mengganggu kehidupan anak, menantu, dan juga cucuku."


Sabrina menatap Anjani dengan tatapan memohon, "tapi, Bu--"


"Pergi!" bentak Anjani.


Sabrina sangat kesal karena merasa bahwa harga dirinya telah diinjak-injak di rumah ini. Dan semua itu adalah ulah perempuan yang bernama Natasya.


"Awas kamu, Natasya," desis Sabrina.


Lalu, Sabrina pergi dari rumah Adikusuma dengan langkah kasar dan penuh amarah. Keluarga Adikusuma menghela napas lega saat wanita pengganggu itu akhirnya pergi.


"Astaga, melelahkan sekali...," keluh Anjani.


...----------------...


Sabrina memasuki mobilnya dengan perasaan geram. Ia masih belum meninggalkan pekarangan rumah Adikusuma.


Brak! Brak! Brak!


"Sial! Sial! Sial!"


Umpat wanita itu sambil memukuli setir mobilnya.


"Kamj berurusan dengan orang yang salah, Natasya," geram Sabrina.


Lalu, wanita itu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ayah," ucap Sabrina setelah panggilan terhadap ayahnya tersambung, "aku butuh bantuan ayah sekarang."


...----------------...


Kira-kira, apa lagi yang akan direncanakan oleh Sabrina, ya???


Jangan lupa like, komen, dan vote yaa ♥♥


Oh iya, Author baru aja buat grup, ayukk join, nanti bahas tentang Bhara sama-sama... Xixixi