
Setelah pertemuan makan malam di rumah Adikusuma, Natasya menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal. Ia pergi ke kampus untuk belajar, menjadi pelatih menembak selama 2 jam di klub menembak, lalu ia akan mengunjungi Bhara di panti asuhan.
Tapi ada satu yang tidak normal bagi Natasya. Sahabat baiknya, Alan, selalu menghindar dari dirinya. Bahkan selama di kelas, laki-laki itu pasti akan memilih tempat duduk yang jauh dari Natasya.
Seperti saat ini, mereka sedang mengikuti pelajaran di kelas yang sama. Namun, mereka duduk berjauhan. Natasya berada di kursi belakang, sedangkan Alan memilih kursi paling depan. Sedari tadi, Natasya terus melihat Alan sambil berpikir kira-kira apa alasan Alan menjauhinya.
Akhirnya, jam kuliah pun berakhir, dan dosen pun keluar dari ruangan. Alan hendak pergi keluar kelas, tapi Natasya sudah mencekal tangannya.
"Al, aku perlu ngomong sama kamu," ucap Natasya.
Alan menghela napas panjang, lalu melepaskan cekalan tangan Natasya perlahan.
"Gak perlu," balas Alan dingin.
Natasya terdiam saat melihat Alan bersikap seperti itu. Kemudian, Alan berjalan melewatinya begitu saja. Natasya yang tersadar bahwa Alan sudah tidak berada di depannya, bergegas mengejar sahabatnya itu lagi.
Grepp!
"Kamu ini kenapa sih?!" seru Natasya.
Alan cukup terkejut saat Natasya tiba-tiba menahan tangannya lagi dan bertanya dengan suara yang keras. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya dan melihat bahwa mereka kini sudah menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Natasya, gak usah teriak-teriak kenapa sih?! malu dilihat sama yang lain," lirih Alan.
Natasya melihat ke sekitarnya. Dan benar saja, kini para mahasiswa sedang memperhatikan mereka.
"Kalau gitu, kita harus ngobrol di tempat lain," ucap Natasya.
Srett!
Natasya menarik tangan sahabatnya itu agar mengikuti langkahnya. Sedangkan Alan hanya pasrah saat sahabat sekaligus gadis yang disukainya itu terus saja menariknya.
Mereka pun sampai di taman tepi danau kampus. Natasya melepas cekalannya pada tangan Alan, lalu menatap sahabatnya itu dengan tatapan meminta penjelasan.
"Sekarang jawab aku, Al. Kenapa kamu marah sama aku?" tanya Natasya.
"Aku gak marah sama kamu," jawab Alan tanpa memandang Natasya sedikit pun.
"Bohong!" seru Natasya, "kalau kamu gak marah sama aku, kenapa kamu selalu ngehindar dari aku?"
Alan hanya diam saja, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Natasya.
"Apa gara-gara aku mau nikah sama kakak kamu?" tebak Natasya.
Alan langsung menoleh memandang Natasya. Jawaban gadis itu sangat tepat.
"Ternyata benar tebakan aku," gumam Natasya, "emangnya kenapa sih, Al? Selama itu bisa bikin proses adopsi Bhara berjalan lancar, aku gak keberatan nikah sama Kak Johnathan."
Alan mengacak rambutnya frustrasi, "kenapa kamu gampang banget mikir kayak gitu sih, Sya? Kenapa anggapan kamu tentang pernikahan tuh enteng banget? Kamu sekarang bakalan nikah sama orang yang gak kamu cintai, kamu pikir kamu bakal bahagia?"
"Ya jelas lah! Aku bakal bahagia kalau aku bisa tinggal sama Bhara dengan tenang," sahut Natasya.
"Ini bukan tentang Bhara!" ucap Alan dengan nada meninggi, "ini tentang pernikahan kamu sama Kak John. Apa kamu udah benar-benar siap jadiin dia sebagai suamimu? Apa kamu udah siap jadi pendamping hidupnya... Selamanya?"
Natasya terdiam sebentar. Selama ini, ia fokus dengan pengadopsian Bhara jika ia berhasil menikah. Tetapi gadis itu tidak terlalu memikirkan tentang kehidupan rumah tangganya ke depan.
"A-aku siap kok, beneran," cicit Natasya.
Hati Alan semakin terluka mendengarnya, "atau jangan-jangan... Kamu emang udah suka sama kakakku?"
"Hah?! Ya nggak lah! Apa-apaan sih kamu?!" sahut Natasya menyangkal ucapan Alan.
Alan menghela napas lelah, "udahlah, aku gak bakal ikut campur urusan kamu sama Kak John lagi."
Alan yang sudah terlalu sakit hati jika berhadapan dengan Natasya, memilih untuk berbalik, berniat untuk meninggalkan Natasya dan pergi dari tempat itu secepatnya.
"Aku tahu kenapa kamu ngehindar dari aku!"
Ucapan Natasya yang tiba-tiba itu mampu membuat langkah kaki Alan terhenti.
"A-aku gak terlalu yakin, ini cuma tebakanku aja," cicit gadis itu, "duh! Aku gak yakin kalau ini benar, tapi kayaknya kamu..."
Alan tahu jika Natasya menebak bahwa laki-laki itu menyukai dirinya. Tapi sepertinya, gadis itu terlalu malu untuk mengatakan hal itu.
Natasya yang berdiri di belakang Alan tersentak.
"J-jadi, kamu suka sama aku, Al?" tanya Natasya tidak yakin.
Alan tidak sanggup untuk mengakui perasaannya secara langsung.
"Mending kita gak usah bicarain hal ini lagi," ucap Alan.
Setelah berkata seperti itu, Alan langsung pergi meninggalkan Natasya. Gadis itu hanya bisa diam sambil memandangi punggung Alan yang menjauh darinya. Ia tidak menyangka bahwa tebakannya benar, selama ini sahabat baiknya itu menyukai dirinya.
...----------------...
Tiga hari pun berlalu. Dan sesuai ucapan Hendry, Johnathan dan Natasya melangsungkan janji pernikahan hari ini, tanpa adanya resepsi. Mereka baru saja selesai mengucap janji suci. Tentu saja, tanpa kehadiran Alan di sana.
"Akhirnya, sekarang kalian berdua udah resmi jadi suami-istri," ucap Anjani dengan perasaan senang.
Natasya hanya tersenyum kecil mendengar hal itu. Begitu pula dengan Johnathan, pengantin baru itu tampak malu-malu.
"Kita pulang sekarang," ajak Hendry.
Mereka masih berada di halaman KUA. Setelah itu, mereka pun menuju mobil yang terparkir di sana. Hendry dan Anjani berada di depan, sedangkan kedua pengantin baru berada di kursi belakang.
"Eum... Pak Hendry--"
"Ayah," sahut Hendry menyela ucapan Natasya, "panggil saya 'ayah', Natasya."
"Iya, a-ayah," cicit Natasya.
Panggilan itu membuat mereka semua tersenyum.
"Panggil aku 'ibu' juga ya," ucap Anjani.
Natasya mengangguk kecil, "iya, Ibu."
"Eum... Kapan kita bisa mengurus pengadopsian Bhara?" tanya Natasya.
"Besok saya akan menyempurnakan dulu berkas-berkasnya, dan lusa saya akan menyerahkannya ke pengadilan," jawab Hendry.
Natasya menganggukkan kepalanya paham.
"Kamu udah gaak sabar untuk tinggal bersama Bhara, ya?" tanya Anjani.
Natasya tersenyum lebar, "iya, saya sudah tidak sabar untuk tinggal sama Bhara, dan jadi mama yang sah untuk Bhara."
Johnathan menatap gadis yang sudah menjadi istrinya itu dari samping dengan tatapan kagum. Ia mengakui bahwa dirinya saat ini terpesona dengan sifat keibuan Natasya.
"Nah, kita sudah sampai," ucap Hendry.
Mereka sampai di depan rumah Natasya. Gadis itu memang meminta untuk tidak tinggal di rumah Adikusuma dulu sebelum berhasil mengadopsi Bhara. Alasannya, karena masih canggung dengan mereka.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan saya pulang, Ayah," ucap Natasya.
Hendry menoleh sambil tersenyum, "sama-sama, Nak."
"Padahal ibu udah pengen banget kamu tinggal sama kami, Natasya," kata Anjani dengan lesu.
Natasya merasa tidak enak dengan Anjani yang terlihat sedih.
"Natasya nanti pasti akan tinggal sama kita, Bu. Ibu sabar dulu, ya," ucap Johnathan.
Natasya menoleh dan menatap Johnathan sambil tersenyum seolah mengucap 'terima kasih' karena sudah menggantikannya menjawab ucapan Anjani.
"Eum... Kalau begitu, saya pergi dulu," pamit Natasya.
Setelah berpamitan, Natasya pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Mobil keluarga Adikusuma pun juga pergi dari pekarangan rumah gadis itu.
...----------------...
Kalian tim Johnathan atau Alan guysss??