
🚨 Disclaimer 🚨 segala proses hukum yang ada dalam cerita ini adalah hasil riset author secara teori. Sehingga, ada kemungkinan berbeda dengan praktik aslinya.
Hari yang dinanti-nanti oleh Natasya dan keluarga Adikusuma pun tiba. Satu minggu yang lalu, pengadilan menerima berkas-berkas permohonan pengadopsian Bhara. Dan hari ini adalah jadwal persidangan Johnathan dan Natasya sebagai calon orang tua asuh.
Johnathan dan Natasya sudah siap di luar ruang sidang. Mereka berdua ditemani oleh Hendry yang sekarang beralih peran menjadi pengacara mereka. Tapi sekarang, pengacara sekaligus ayah mereka sedang pergi untuk menemui hakim.
"Kamu udah siap, Sya?" tanya Johnathan kepada Natasya.
"Aku deg-degan banget, Kak John," jawab Natasya dengan nada cemas.
Johnathan menyentuh bahu Natasya pelan, "tenang aja, Natasya. Gak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya akan baik-baik aja. Kita pasti berhasil di sidang ini."
Natasya mendongak dan menatap mata Johnathan. Hatinya merasa tenang saat melihat Johnathan juga sedang menatapnya seolah memberi kekuatan.
"Papa! Mama!"
Mereka berdua menoleh saat mendengar suara teriakan melengking anak kecil yang sangat familiar. Itu adalah Bhara yang berada dalam gendongan seorang pengurus panti, serta ibu panti yang berjalan di sebelahnya.
"Bhara!" seru Natasya.
Natasya segera mengambil alih tubuh Bhara dari gendongan pengurus panti itu.
"Kata bunda, nanti cetelah dali cini, Bhala pulangnya ikut papa cama mama," ucap anak itu bersemangat.
Johnathan dan Natasya tersenyum mendengar ucapan Bhara.
"Iya, Sayang, itu benar," kata Johnathan, "Bhara berdoa terus ya, supaya nanti lancar dan Bhara bisa pulang sama papa dan mama."
Bhara mengangguk antusias, "okey, Pa."
Tidak lama kemudian, salah satu petugas pengadilan pun menghampiri mereka.
"Permisi, Bapak Johnathan, Ibu Natasya, sidang akan segera dimulai. Mohon untuk masuk ke dalam ruangan sekarang," ucap petugas itu.
"Oh, baik, Pak," jawab Johnathan, lalu pria itu menoleh ke arah Natasya, "ayo, kita masuk."
Setelah dibalas anggukan oleh Natasya, mereka pun memasuki ruang sidang dan duduk di tempat yang telah ditentukan.
Beberapa menit kemudian, seseorang yang bertugas menjadi protokol sidang mengumumkan bahwa majelis hakim akan memasuki ruangan.
"Majelis hakim memasuki ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri."
Semua orang yang ada di dalam ruangan berdiri untuk menghormati sang hakim. Kemudian, para hakim duduk di tempatnya, diikuti oleh semua orang.
"Sidang pengadilan negeri Jakarta Selatan, yang memeriksa perkara perdata nomor 45/Pdt.P/2023/PN Jkt.Sel atas nama Johnathan Adikusuma dan Natasya Fernandez pada hari Kamis tanggal 13 Juli 2023 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap hakim ketua membuka sidang.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketokan palu sebanyak tiga kali menandakan bahwa sidang resmi dibuka. Natasya menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk menetralkan detak jantung yang semakin tidak beraturan. Johnathan yang duduk di samping Natasya, melihat istrinya gugup, berinisiatif untuk menggenggam telapak tangannya.
Natasya yang telapak tangannya digenggam oleh Johnathan langsung menoleh terkejut. Tapi sedetik kemudian, ia tersenyum saat melihat Johnathan sedang tersenyum lembut kepadanya.
"Tenang Natasya, semuanya akan berjalan dengan lancar," bisik Johnathan.
Mereka pun kembali konsentrasi memandang ke arah hakim.
Sidang pun dimulai. Setelah permohonan selesai dibacakan, kini saatnya hakim untuk memeriksa dan meneliti alat bukti.
Yang pertama adalah alat bukti surat. Untuk berkas-berkas persuratan sama sekali tidak ada masalah karena Hendry sudah mengurus semuanya dengan baik.
Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan calon orang tua angkat dan saksi-saksi.
"Saudara Johnathan dan saudari Natasya. Kalian berdua di sini untuk mengajukan permohonan pengangkatan anak yang tidak memiliki akta kelahiran bernama Bhara. Benar?"
"Benar, Yang Mulia."
"Kami siap, Yang Mulia."
"Kalau begitu, saya akan memeriksa saksi terlebih dahulu. Untuk pengacara pemohon, apakah sudah siap menghadirkan saksi?"
"Siap, Yang Mulia," jawab Hendry.
Setelah itu, saksi pertama dipanggil untuk dimintai keterangan. Saksi itu adalah ibu panti. Wanita itu dipersilahkan untuk duduk di kursi pemeriksaan. Setelah mengucapkan lafal sumpah, saksi pun siap dimintai keterangan.
"Baik, dengan saudara Heni Handayani, benar?"
"Benar, Yang Mulia," jawab ibu panti.
"Bisa jelaskan posisi atau pekerjaan anda terkait dengan proses sidang ini?" tanya hakim.
"Saya adalah pengurus panti asuhan tempat Bhara dirawat selama ini, Yang Mulia."
"Lalu, apakah saudara Heni mengenal salah satu atau kedua pemohon?"
Ibu panti menganggukkan kepalanya, "iya, Yang Mulia. Saya mengenal mereka. Mereka selalu mengunjungi panti asuhan dan bermain dengan Bhara. Apalagi Bu Natasya, beliau dan Bhara sudah saling menyayangi, bahkan dari sebelum Bhara dibawa ke panti asuhan."
Para hakim menerima kesaksian dari ibu panti. Kemudian, sidang pun dilanjutkan dengan menghadirkan beberapa saksi yang lain.
"Kak Natasya adalah orang yang pertama kali menemukan Bhara ketika anak itu tersesat di bandara. Beliau juga lah yang merawat Bhara kurang lebih selama satu minggu sebelum akhirnya pihak kepolisian harus menyerahkan anak itu ke panti asuhan," keterangan dari polwan yang dulu mengurus kehilangan Bhara.
"Pak Johnathan adalah dokter yang baik. Beliau pernah menolong Bhara saat anak itu kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit," keterangan dari pengurus panti yang lain.
"Natasya sangat menyayangi Bhara. Dia adalah mahasiswa yang sibuk, tapi masih mau membawa Bhara ke kampus dan menitipkannya ke tempat penitipan anak di kampus. Saya bisa melihat dia benar-benar rela berkorban untuk Bhara," keterangan dari ibu pengurus daycare kampus.
Setelah pemeriksaan alat bukti surat dan saksi selesai, para hakim pun berunding sebentar.
"Persidangan akan kita tunda dulu selama satu jam, kami akan mempertimbangkan putusan terlebih dahulu."
'Astaga! Satu jam? Lama banget sih...,' batin Natasya yang sudah tidak sabar.
Sidang pun dihentikan sementara. Setelah majelis hakim meninggalkan ruang sidang, beberapa orang pergi keluar untuk istirahat.
"Bagaimana? Kalian masih gugup?" tanya Hendry kepada anak dan menantunya.
"Tentu saja, Ayah," jawab Johnathan, "kami tidak bisa tidak gugup sebelum Bhara benar-benar resmi jadi anak kami."
"Natasya," panggil Hendry, "kamu bisa sambil belajar di persidangan ini secara langsung sebagai mahasiswa hukum."
Natasya tertawa kecil, "iya, Ayah, ini bisa menambah pengalaman saya."
Kemudian, mereka bertiga menoleh ke arah Bhara yang berlari kecil menghampiri mereka. Anak itu langsung menghambur pada Natasya dan bersandar pada paha mamanya itu.
"Mama, apa macih lama?" tanya Bhara lesu.
Natasya tersenyum simpul, "masih agak lama, Sayang. Kenapa? Bhara capek, ya?"
Bhara menganggukkan kepalanya.
"Bhara pulang aja dulu sama bunda ke panti, nanti kalau udah selesai, papa sama mama jemput Bhara lagi," ucap Natasya.
Bhara menggeleng ribut, "ndak mau, Bhala mau di cini aja nunggu papa cama mama."
Akhirnya, Bhara tetap di sana mengikuti acara persidangan sampai selesai. Meskipun sambil terkantuk-kantuk di pangkuan ibu panti. Satu jam kemudian, majelis hakim kembali memasuki ruangan untuk pembacaan putusan.
...----------------...
Hai semuanya... Terima kasih karena sudah membaca novel ini yaa 😊😊
Untuk chapter ini adalah acara persidangan. Author berusaha untuk menjelaskan proses sidang secara detail. Jika ada kesalahan dalam proses persidangan, mohon koreksinya. Thank cuuu ♥♥