
"Sabrina?" Alan menjeda ucapannya, sepertinya ia sedang berpikir, "astaga! Kamu benar, Sya! Itu Sabrina."
"Mereka masuk ke mobil yang sama, Al?" tanya Natasya.
"Iya, aku tadi lih-- eh! Mobilnya jalan! Mereka udah pergi!" seru Alan, "aku bakal ikutin mereka, Sya! Aku tutup dulu ya teleponnya."
Tanpa menunggu jawaban dari Natasya, Alan sudah menutup telepon tersebut. Natasya merasa gelisah dengan kabar yang diterimanya ini.
Walaupun Johnathan pernah berkomitmen untuk menjaga pernikahan mereka, tapi usia pernikahan mereka masih cukup rentan. Apalagi jika dibandingkan dengan Sabrina yang pernah bertahta di hati Johnathan selama 7 tahun.
Bisa dibilang Natasya sudah menyayangi Johnathan sebagai pasangannya, sehingga ia tidak rela jika harus melepaskan Johnathan kali ini. Dan mungkin saja, Natasya juga..... Cemburu.
...----------------...
Natasya duduk dengan cemas di sofa ruang tamu. Kakinya tidak bisa berhenti bergerak karena gelisah, serta tanpa sadar ia menggigiti kuku jari tangannya. Gerakan refleks saat gadis itu sedang gelisah.
"Kenapa Kak Johnathan pergi sama Sabrina? Mau kemana mereka?" gumam Natasya cemas.
Tap... Tap... Tap...
Natasya langsung mendongak saat mendengar suara langkah kaki seseorang. Ternyata itu adalah Anjani yang baru saja memasuki rumah.
"Loh, Natasya? Kenapa kamu duduk di sini sendirian?" tanya Anjani sambil menghampiri Natasya.
Natasya pun bangkit dari duduknya, "eh, eum... Tidak apa-apa, Ibu."
"Ooh, Ibu tahu, kamu pasti lagi nungguin Johnathan ya~" goda Anjani.
Natasya tersenyum canggung mendengar hal itu. Memang benar bahwa dirinya sedang menunggu Johnathan, tapi penantian ini bukan dalam situasi yang bagus.
"Tadi Johnathan bilang ke ibu kalau dia masih ada urusan, jadi ibu pulang dijemput sama sopir," kata Anjani.
Natasya menggigit bibir bawahnya ragu. Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya kepada ibu mertuanya itu?
"Ibu pergi ke kamar dulu, ya," pamit Anjani.
Kemudian, Anjani pun hendak pergi ke kamarnya, tapi langsung dicegah oleh Natasya.
"Tunggu, Bu!" seru Natasya.
Anjani menoleh, "ada apa, Natasya?"
Natasya menautkan kedua tangannya dan bergerak gelisah. Kemudian, ia mencoba menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya agar lebih tenang.
"Ibu," panggil Natasya.
Anjani fokus pada apa yang akan diucapkan oleh Natasya karena saat ini, menantunya itu terlihat sangat serius.
"Kak Johnathan...," Natasya menjeda kalimatnya sebentar, "tadi dia ketemu dan pergi bersama... Sabrina."
Anjani membelalakkan matanya terkejut dengan perkataan Natasya.
"Maksud kamu apa, Natasya? Johnathan dan Sabrina, mereka... Mereka pergi bersama? Kemana? Kok bisa?" tanya Anjani yang masih terkejut.
"Aku juga tidak tahu, ibu," ucap Natasya, "Alan yang lihat mereka tadi, dan sekarang Alan masih berusaha untuk mencari tahu kemana mereka pergi."
Anjani memejamkan matanya lelah dengan segala yang terjadi.
"Apa yang sebenarnya direncanakan sama Johnathan?" gumam Anjani.
"Ibu... Natasya..."
Anjani dan Natasya menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar itu. Mata Anjani langsung melebar dan hendak mendekati anak sulungnya tersebut.
"Johnat--"
Anjani sangat terkejut dan terdiam di tempatnya saat melihat Johnathan tidak datang sendiri.
"Sabrina?"
...----------------...
Suasana di ruang tamu kediaman Adikusuma menjadi tegang sekarang. Anjani dan Natasya berhadapan dengan Johnathan dan Sabrina.
"John," panggil Anjani dengan nada datar, "buat apa kamu bawa wanita itu ke rumah kita?"
"Ibu, ada yang mau dijelasin sama Sabrina," jawab Johnathan.
Alis Anjani menukik tajam, "apa lagi yang mau dia jelasin?!"
Mereka semua tersentak dengan suara Anjani yang semakin meninggi.
"Kamu juga, John," ucap Anjani sambil menatap kecewa Johnathan, "bisa-bisanya kamu percaya sama semua ucapannya, sampai kamu berani membawa dia masuk ke rumah ini."
"Ibu," lirih Johnathan, "tolong, paling nggak dengerin dulu penjelasan Sabrina. Bisa jadi ada kesalahpahaman di sini."
"Kamu ini kenapa sih, Johnathan?! Kenapa masih aja belain dia disaat kamu tahu sendiri kalau dia sudah ngelakuin kekerasan sama anak kandung kamu," kata Anjani yang kesal dengan Johnathan.
"Bukan begitu, Ibu...," lirih Johnathan.
"Nyonya Anjani, tolong dengerin dulu penjelasanku," ucap Sabrina tiba-tiba.
Anjani menatap Sabrina nyalang, "gak ada yang perlu kamu jelasin. Semua udah jelas kalau kamu yang udah bikin hidup Bhara menderita."
Sabrina menggeleng ribut, "nggak, itu semua salah paham, Nyonya."
"Kalau begitu, katakan!"
Mereka semua menoleh ke arah Natasya yang baru saja angkat bicara.
"Katakan, apa yang mau anda jelaskan, Nona Sabrina!" seru Natasya dengan nada tajam.
Dahi Sabrina mengernyit bingung karena Natasya yang meminta penjelasan darinya, pad ahal ia ingin berbicara dengan Anjani. Tapi, untuk saat ini, ia harus menuruti ucapan menantu Adikusuma itu dulu.
Sabrina melangkah maju dengan pelan, tatapannya dibuat serapuh mungkin. Entah kesedihan yang ditampilkan oleh wanita itu sungguhan atau hanya sandiwara.
"Sebenarnya, dugaan kalian semua benar...," lirih Sabrina, "kalau Bhara adalah korban dari kekerasan rumah tangga."
Anjani dan Natasya sudah menatap Sabrina penuh amarah, tapi mereka tetap diam dan memberi wanita itu kesempatan untuk berbicara.
"Tapi aku juga korban!" seru Sabrina yang kini mulai menangis, "aku dan Bhara sama-sama korban dari kekerasan mantan suamiku."
"Bohong!" teriak Anjani.
Satu kata bentakan Anjani mampu membuat semuanya terdiam.
"Ucapan kamu sama sekali gak bisa dipercaya!" bentak Anjani kepada Sabrina.
"Aku nggak bohong...," lirih Sabrina sambil terus meneteskan air matanya.
Johnathan terus menatap Sabrina dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia merasa bingung apakah harus memercayai ucapan Sabrina atau tidak. Karena selama ini, semua orang berpikir bahwa Sabrina telah melakukan kekerasan kepada Bhara. Tapi, cerita dari sisi wanita itu sangat berbanding terbalik, dan... Terdengar begitu meyakinkan.
"Tolong percaya sama saya...," mohon Sabrina kepada Anjani.
Anjani merotasikan matanya malas, "cih! Pasti kamu cuma bohong supaya kami semua simpati sama kamu."
"Ibu," panggil Natasya, "sebaiknya, kita tidak langsung menuduhnya dulu."
Anjani menatap Natasya dengan tatapan tidak percaya, "Natasya, kamu percaya sama ucapan wanita ini, Nak? Dia ini gak bisa dipercaya."
Natasya tersenyum simpul, "bukannya aku percaya sama dia, Bu. Hanya saja, kita belum benar-benar bisa membuktikan kalau dia adalah pelaku kekerasan yang sebenarnya."
"Jadi, selama itu belum bisa dibuktikan, kita tidak boleh menutup semua kemungkinan," imbuh sang menantu keluarga Adikusuma tersebut.
Anjani hanya diam menyetujui ucapan menantunya tersebut. Cara berpikir anak hukum memang berbeda. Sebenarnya, ia tidak mempercayai Sabrina sepenuhnya, tapi ia akan mencoba untuk mengikuti saran Natasya.
Nyonya besar keluarga Adikusuma itu beralih menatap tajam Sabrina kembali.
"Meskipun ucapan kamu itu benar, Sabrina. Itu gak akan mengubah apapun," kata Anjani, "hak asuh Bhara akan tetap berada di tangan Johnathan dan Natasya."
Anjani tidak akan memberi kesempatan apapun kepada Sabrina. Dulu, dia pernah menyukai wanita itu sebagai kekasih dari anak sulungnya. Namun, sejak wanita itu mengkhianati anaknya dan menikah dengan laki-laki lain karena harta, ditambah fakta bahwa cucunya memiliki kehidupan yang menyedihkan ketika bersama Sabrina, membuat Anjani menjadi membenci wanita itu.
...----------------...
Sabrina juga korban?! Hmm... Benarkah itu?
Jadi, Sabrina ini baik atau jahat guysss???
Tulis pendapat kalian di kolom komentar yaaa 😊😊