
Beberapa hari setelah semester baru dimulai, Natasya belajar seperti biasanya di kampus. Hari-harinya berjalan dengan bahagia. Kehidupannya, baik itu di kampus maupun di rumah, semua berjalan dengan lancar.
Kelas ke dua sudah berakhir, beberapa mahasiswa keluar untuk makan siang di kantin. Alan dan Natasya masih sibuk membereskan tas mereka.
“Kamu yakin tidak mau kuantar saja ke rumah sakit?” tanya Alan.
Natasya menoleh, “kalau kamu mau mengantar aku dan Bhara ke rumah sakit, sekalian saja kamu ikut makan siang dengan kami.”
Alan menggelengkan kepalanya, “aku tidak mau mengganggu makan siang keluarga kecil kalian, aku mau makan di luar saja.”
Natasya menghela napas lelah, “Al, kita semua adalah keluarga. Kenapa kamu selalu menolak jika kuajak makan bersama kakak dan keponakanmu sendiri?”
Alan hanya mengedikkan bahunya acuh. Yang ada, ia akan merasa canggung jika makan bersama keluarga kecil Natasya yang sangat berbahagia itu. Meskipun Alan sudah rela Natasya menjadi milik kakaknya, tetap saja ia tidak merasa nyaman jika harus berada di antara mereka.
Ngomong-ngomong, Natasya memiliki janji makan siang bersama sang suami dan anak. Rencananya, ia pergi ke rumah sakit untuk makan siang bersama di ruang pribadi Johnathan.
Alan menawari untuk mengantarnya ke rumah sakit. Tapi ketika Natasya meminta agar Alan ikut makan siang bersama, laki-laki itu menolak dan bilang akan makan di luar saja.
Maka dari itu, Natasya menolak tawaran Alan, dan memilih untuk diantar oleh sopir pribadinya saja. Ia merasa tidak enak jika membuat Alan bolak-balik mengantarnya, sedangkan sahabatnya itu tidak mau makan bersama.
“Kalau begitu, aku keluar dulu ya, sopirku sudah datang,” pamit Natasya.
Alan mengangguk sambil tersenyum lembut, “iya, hati-hati di jalan ya.”
“Siap, Bos,” seru Natasya.
Alan terkekeh pelan sambil memperhatikan gerak-gerik Natasya hingga perempuan itu pergi meninggalkannya. Senyum Alan perlahan menghilang, terganti dengan raut wajah bingung dan cemas.
“Kenapa perasaanku tidak enak, ya?” gumam Alan.
Laki-laki itu segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang bersarang di otaknya. Mungkin dia hanya overthinking saja. Iya, kan?
...----------------...
Natasya menghampiri mobil pribadi milik keluarga Adikusuma yang sudah datang menjemputnya. Ia berlari kecil dengan senyum lebar karena melihat Bhara dari jendela pintu belakang.
“Mama!!” seru Bhara saat melihat mamanya.
“Hai, Sayang!” balas Natasya.
Perempuan itu segera masuk ke dalam mobil. Ia duduk nyaman bersama anaknya di kursi belakang, sedangkan sopir mulai melajukan mobil menuju rumah sakit.
“Bhara, tadi nenek di rumah, ya?” tanya Natasya.
Bhara mengangguk, “iya, Ma. Katanya, nenek tidak kelja hali ini.”
Natasya hanya manggut-manggut. Tadi pagi, ibu mertuanya itu sudah bilang kalau tidak ada pekerjaan di rumah sakit. Jadi, makan siang nanti benar-benar hanya mereka bertiga, yaitu Johnathan, Natasya, dan Bhara.
Drrrt… drrrt…
Natasya meraih ponselnya yang bergetar dari dalam saku. Ia tersenyum kecil saat melihat nama suaminya tertera di sana.
“Halo, Dokter John?” sapa Natasya setelah mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, Natasya,” balas Johnathan di seberang sana, “kamu sudah berangkat?”
“Iya, saya sudah dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Bhara,” jawab Natasya.
Bhara yang mendengar Namanya disebut langsung merasa tertarik.
“Halo, Papa!” teriak anak itu di samping Natasya, Natasya pun menyalakan mode loud speaker.
Terdengar kekehan pelan dari Johnathan, “Hai, Sayang. Bhara baru saja menjemput mama, ya?”
“Oke oke, kalian hati-hati ya di jalan, papa tunggu di sini,” kata Johnathan.
“Siap, Pa!”
“Siap, Dokter!”
Johnathan tertawa kecil mendengar istri dan anaknya yang kompak menjawabnya itu. Kemudian, Johnathan memutus panggilannya karena harus bekerja lagi. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar nanti bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama keluarganya.
...----------------...
Johnathan baru saja selesai mengerjakan berkas-berkas pasiennya di ruang kerja pribadinya. Dokter muda itu meregangkan badannya yang terasa sedikit pegal karena terlalu lama duduk. Kemudian, ia melihat jam tangannya.
“Loh, sudah jam satu siang? Kok Natasya dan Bhara belum sampai di sini juga?” heran Johnathan.
Padahal, tadi saat mereka bertelepon, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Perjalanan dari kampus Natasya ke rumah sakit ini hanya memakan waktu sekitar 30 menit saja. Namun, hingga satu jam berlalu, istri dan anaknya itu tidak kunjung datang.
Johnathan mencoba menghubungi ponsel Natasya, tapi tidak segera diangkat oleh istrinya itu.
“Dimana mereka, ya?” gumam Johnathan.
Pria itu masih berprasangka baik, Johnathan mengira istri dan anaknya itu mampir dulu ke suatu tempat. Ia mencoba menelepon Natasya satu kali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban,
“Tck! Dimana kamu, Natasya?” gumam Johnathan yang kini mulai khawatir.
“Coba aku telepon sopirnya saja.”
Kemudian, Johnathan menelepon sopir pribadi Natasya. Mata pria itu bergulir kesana kemari menanti jawaban dari panggilan tersebut.
Dan… tetap tidak ada jawaban.
Oke, Johnathan tidak bisa untuk tidak panik sekarang. Pria itu langsung pergi dengan tergesa-gesa menuju tempat parkir mobil. Ia berencana untuk menyusul Natasya dan Bhara sendiri, sembari terus berusaha menelepon istrinya itu.
Johnathan melajukan mobilnya membelah jalanan menuju kampus Natasya. Matanya fokus melihat-lihat mobil yang berlalu lalang, siapa tahu mobil mereka berpapasan di jalan. Tangan kanannya tetap sibuk menelepon nomor Natasya yang tetap tidak diangkat dari tadi.
“Astaga… dimana mereka?” cemas Johnathan.
Jantung Johnathan semakin berdebar kencang saat mobilnya sudah memasuki area kampus Natasya. Sepanjang jalan, ia tidak menemukan keberadaan mobil yang ditumpangi oleh istri dan anaknya.
Dengan perasaan kalut, Johnathan langsung menelepon Alan agar segera datang menemuinya di tempat parkir. Alan yang diberi tahu bahwa Natasya dan Bhara masih belum sampai di rumah sakit pun langsung panik.
“Kakak!” teriak Alan sambil menghampiri Johnathan.
“Apa yang terjadi, Kak? Apa maksudnya Natasya dan Bhara belum sampai di rumah sakit? Ini sudah satu jam lebih!” tanya Alan bertubi-tubi dengan panik.
Johnathan memejamkan matanya frustrasi, “kakak juga tidak tahu, Al. Natasya dan sopirnya tidak bisa dihubungi dari tadi. Kakak juga sudah mencari sepanjang jalur dari rumah sakit ke kampus, tapi tidak ketemu juga.”
Alan mengacak rambutnya frustrasi. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Natasya. Begitu juga dengan Johnathan, mereka berdua terus berusaha untuk menghubungi Natasya dan sopirnya.
Meskipun perasaan mereka sudah kacau dan panik, tapi mereka tetap mencoba berpikir positif. Yaa… meskipun itu tidak mungkin, karena Natasya dan Bhara benar-benar menghilang.
‘Astaga… cobaan apa lagi ini, Ya Tuhan…,’ batin Johnathan ingin menangis.
‘Harusnya aku tadi yang mengantarmu sendiri, Natasya…,’ batin Alan penuh penyesalan.
...----------------...
Apa yang terjadi kepada Natasya dan Bhara??? T_T
Duhh... Gak siap buat chapter selanjutnya 😖😖
🚨 Cek konten POV di instagram dan tiktok @cacalavender