
PLAK!!
Semua orang terkejut ketika Natasya tiba-tiba menampar pipi Johnathan hingga menimbulkan suara nyaring. Lalu, gadis itu berucap dengan geram.
"Jadi, kamu yang menyiksa dan menelantarkan Bhara?!"
Johnathan memegang pipinya yang terasa panas sambil menggelengkan kepalanya ribut. Gadis yang baru saja menamparnya telah salah paham terhadap situasi yang terjadi.
"Bukan Johnathan pelakunya, Natasya," ucap Anjani membuat Natasya menoleh, "Bhara selama ini tinggal dengan ibu kandungnya, artinya wanita itu yang melakukan kekerasan terhadap Bhara."
"Saya tidak pernah menyiksa dan menelantarkan Bhara, bahkan ini adalah pertama kalinya saya ketemu sama anak saya sendiri," ucap Johnathan dengan nada sendu.
"Bukankah itu justru lebih parah?!" sahut Natasya dengan nada meninggi, "kamu meninggalkan istri dan anakmu sendiri. Dasar! Berani-beraninya lari dari tanggung jawab."
Johnathan menghela napas lelah, "ibu kandung Bhara bukan istri saya, Natasya."
Natasya mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan pria di hadapannya itu. Kalau dia adalah ayah kandung Bhara, bukankah itu berarti ibu kandung anak itu adalah istrinya?
"Dia mantan pacar saya. Kami tidak pernah menikah. Kami berpisah sebelum saya tahu tentang kehamilannya," lirih Johnathan.
Natasya cukup terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar. Pria sesempurna Johnathan ternyata memiliki masa lalu yang eum... Tidak baik.
"Lalu, dimana ibu kandung Bhara sekarang? Wanita itu harus segera dituntut!" geram Natasya.
"Kami tidak bisa menemukannya, Natasya," ucap Hendry, "saya sudah berusaha mencari keberadaannya, tapi yang saya temukan hanyalah informasi kalau dia pindah ke luar negeri. Itu saja, bahkan saya tidak bisa menemukan info tentang kemana dia pindah."
Natasya tampak berpikir sebentar, lalu berucap pelan, "oh, jadi, karena itu kalian semua berencana untuk mengkhianati saya?"
Keluarga Adikusuma bungkam saat kemarahan Natasya kembali muncul. Natasya menatap nyalang dokter muda itu lagi.
"Karena Bhara adalah anak di luar pernikahan, dan dokter Johnathan juga tidak memiliki akses kepada ibu kandungnya. Kalian berencana mengambil hak asuh Bhara dengan cara adopsi? Dan kalian memanfaatkan saya untuk itu?" ucap Natasya yang tak habis pikir dengan kecurangan mereka yang tidak tanggung-tanggung.
"Natasya," panggil Hendry, "tolong mengertilah keadaan kami. Bhara adalah anak kandung Johnathan, darah daging keluarga Adikusuma, kami harus mendapatkan hak asuhnya."
Wajah Natasya sudah sangat tegang, tubuhnya bergetar karena menahan amarah. Anak yang selama ini ia perjuangkan agar bisa menjadi anak angkatnya malah hendak direbut seenaknya.
"Memangnya kenapa jika Bhara memiliki darah Adikusuma? Justru itu membuat kalian tidak layak untuk mengurusnya, karena selama ini kalian memang tidak pernah mengurus anak itu," kata Natasya dengan nada meremehkan.
"Apa maksud kamu Natasya?! Bhara adalah anak Johnathan, jadi kami yang berhak untuk merawatnya!" teriak Anjani tidak terima.
Hendry langsung menyentuh bahu Anjani agar istrinya itu tenang. Bagaimanapun juga, posisi mereka di sini bukanlah sebagai pihak yang pantas untuk marah.
Natasya tersenyum miring, "kalian lebih berhak merawat Bhara? Cih! Percaya diri sekali."
Natasya kembali memasang wajah datar dan berjalan mendekati Anjani.
"Dengarkan saya, Nyonya Adikusuma," ucap Natasya tepat di hadapan Anjani, "sampai kapan pun, saya tidak akan menyerahkan Bhara kepada kalian."
"Bhara adalah anak saya, saya adalah mamanya. Orang tua kandung Bhara sama sekali tidak pantas untuk menjadi orang tua anak itu. Baik itu ibu kandungnya," Natasya menjeda kalimatnya, lalu memandang Johnathan dengan tatapan nyalang, "ataupun ayah kandungnya."
Setelah berujar seperti itu, Natasya memundurkan langkahnya untuk memandang semua anggota keluarga Adikusuma dengan tatapan penuh kebencian.
"Kalian semua! Keluarga Adikusuma yang terhormat!" tegas Natasya, "Bhara adalah anak saya, tidak akan saya biarkan siapapun merebutnya dari saya! Saya tidak takut untuk melawan kalian!"
"Dan untuk anda, Tuan Hendry," ucap Natasya sambil menatap Hendry, "saya berhenti bekerja untuk anda."
Hendry terkejut mendengarnya. Sungguh, ia tidak ingin kehilangan asisten sekaligus mahasiswa terpercayanya.
Setelah mengatakan hal itu, Natasya pun segera berbalik untuk meninggalkan kediaman Adikusuma.
Tapi gadis itu sama sekali tidak menoleh. Alan memandangi keluarganya satu per satu dengan tatapan kecewa.
"Puas kalian semua?! Ini yang kalian mau kan?!" seru Alan, keluarganya hanya diam tidak sanggup berkata-kata, "aku sangat malu karena berada di keluarga Adikusuma ini."
Setelah itu, Alan langsung berlari keluar rumah untuk mengejar Natasya. Anjani terduduk lemas, ia sudah menangis sedari tadi.
"Sayang," lirih Hendry sambil memegang kedua bahu istrinya.
"Hiks... Kita telah melukai hati gadis itu," lirih Anjani di sela-sela isak tangisnya, "Dan Alan, dia pasti sangat membenci kita."
...----------------...
Alan berlari menyusuri jalan di area pekarangan rumahnya. Kediaman Adikusuma memang sebesar itu, jarak antara gerbang utama dan rumahnya saja sangat jauh.
"Natasya!"
Natasya yang berjalan dengan tergesa-gesa itu menoleh dan mendapati sang sahabat yang tengah berlari ke arahnya.
Ketika sudah dekat dengan gadis yang ia kejar, Alan baru menyadari kalau air mata Natasya sudah mengalir deras. Meskipun begitu, gadis itu tetap menatapnya dengan penuh kebencian.
"Mau apa lagi kamu, hah?" ketus Natasya.
Hati Alan mencelos karena Natasya juga marah kepadanya. Gadis itu pasti mengira kalau dirinya ikut terlibat dalam rencana keluarganya.
"Aku minta maaf," lirih Alan sambil menatap mata Natasya dengan tatapan memohon.
Natasya tertawa remeh, "maaf? Kamu pikir kata 'maaf' cukup buat nebus kesalahan kamu?"
Alan menelan ludahnya kasar. Natasya yang ia kenal adalah gadis yang pemaaf. Jika ia sudah seperti ini, maka gadis itu benar-benar sakit hati.
"Harusnya kalian gak pernah ngelakuin itu, kalau akhirnya gak bisa memperbaiki keadaan dan cuma bisa minta maaf," ucap Natasya dingin.
"Aku gak pernah ikut dalam rencana ini, Sya," ujar Alan membela diri.
"Tapi kamu tahu tentang ini, kan?!" sahut Natasya dengan nada meninggi, "kenapa kamu gak bilang ke aku tentang rencana keluargamu? Kamu pasti ada di pihak mereka, Al."
Alan menggeleng pelan, lalu berujar lirih, "aku gak bilang ke kamu... Karena aku gak mau nyakitin hati kamu dan Bhara, Sya."
Natasya kembali meneteskan air matanya, "tapi kamu udah nyakitin aku, Al. Aku dijadiin boneka sama keluargamu, tapi kamu cuma diam aja."
Alan menatap mata Natasya dengan penuh rasa penyesalan.
"Aku kecewa sama kamu, Al," lirih Natasya.
Kemudian, gadis itu segera berbalik dan berjalan cepat menjauhi sahabatnya itu. Alan hanya diam, untuk saat ini ia tidak akan mengejar Natasya. Gadis itu pasti membutuhkan waktu sendiri. Ia tidak menyangka semuanya akan sekacau ini.
Semua orang terluka. Natasya berlari menyusuri jalan sambil menangis. Rasanya begitu sakit karena orang yang dipercayai malah mengkhianatinya.
Begitu juga dengan keluarga Adikusuma. Alan juga meneteskan air matanya saat melihat Natasya yang sakit hati dan tidak mau memaafkannya. Sementara itu, keluarga Adikusuma yang lain juga diliputi perasaan bersalah. Mereka terlalu egois dan berujung menyakiti seorang gadis yang tidak punya siapa-siapa itu.
...----------------...
Hubungan kekeluargaan mereka hancur dalam sekejap guyss 😱
Sebenarnya, keluarga Adikusuma tuh gak jahat, mereka cuma pengen dapat hak asuh Bhara. Yang melakukan KDRT ke Bhara juga bukan Johnathan, tapi mantannya Johnathan a.k.a ibu kandungnya Bhara.
Seperti biasa... Jangan lupa like, komen, dan vote yaaa 😊♥♥