Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
48 : Malam Pilu


Natasya benar-benar ditahan di kantor polisi. Menantu dari keluarga Adikusuma itu mendekam di balik jeruji besi sel tahanan. Ia duduk merenung sambil memeluk kedua lututnya. Walaupun wajah gadis itu terlihat santai, tapi sebenarnya hatinya sedang gundah memikirkan si kecil Bhara yang pasti sedang mencarinya sekarang.


Tidak lama kemudian, ada seorang petugas polisi yang menghampirinya. Natasya memperhatikan polisi yang sedang membuka kunci selnya.


“Nona Natasya, ada tamu yang ingin menemui anda,” ucap polisi tersebut.


Natasya pun berdiri dari duduknya. Kemudian, polisi tersebut membawa Natasya untuk pergi ke ruang besuk. Natasya bisa melihat Johnathan yang sedang menatapnya dengan tatapan sedih dan berkaca-kaca. Sebisa mungkin Natasya menunjukkan senyuman termanisnya agar sang suami tidak terlalu khawatir.


Natasya duduk di hadapan Johnathan. Mereka dibatasi dengan kaca tebal dengan beberapa lubang kecil di tengahnya. Mereka berdua menempelkan telepon ke telinga masing-masing untuk berbicara.


“Hai… Suami aku,” sapa Natasya sambil tersenyum.


Johnathan tidak kuasa melihat Natasya. Senyuman istrinya yang dibarengi dengan mata yang berkaca-kaca itu justru membuat wajah cantik itu tampak menyedihkan.


“Aku kangen sama kamu, Natasya…” lirih Johnathan.


Natasya tertawa kecil, “astaga, Kak John… padahal tadi pagi kita masih ketemu. Masa kakak udah kangen sama aku?”


Johnathan juga ikut tertawa, meskipun tawa mereka terdengar hambar dan menyedihkan. Tidak ada suami yang tidak sedih saat melihat istrinya harus dikurung di dalam penjara yang dingin.


“Gimana kabar Bhara?” tanya Natasya, “anak kita... baik-baik aja, kan?”


Johnathan mengangguk pelan, “Bhara baik-baik aja, aku bilang ke dia kalau kamu lagi ada urusan kuliah.”


Natasya tersenyum lega mendengarnya. Setidaknya sang anak tidak terlalu khawatir dengannya.


“Tapi tetap aja… dia nyariin kamu terus, Natasya,” lanjut Johnathan, “kamu harus segera keluar dari sini.”


Natasya mengangguk, lalu tersenyum untuk menenangkan Johnathan, “kakak tenang aja. Aku sama sekali gak bersalah, dan aku pasti akan segera dibebaskan. Aku juga percaya, kalau ayah pasti bisa membebaskan aku dari semua tuduhan ini.”


Mereka terus berbincang untuk melepas rindu. Sebelum akhirnya, waktu besuk berakhir dan Natasya harus dibawa kembali ke selnya. Sebelum pergi, Natasya terus berkata kepada Johnathan agar suaminya itu tidak mengkhawatirkan dirinya dan fokus untuk menjaga Bhara. Namun, tentu saja Johnathan tidak bisa tenang begitu saja.


...----------------...


Malam hari di rumah Adikusuma, tepatnya di kamar Johnathan. Bhara terus rewel membuat Johnathan kewalahan untuk mengurus anak manisnya itu.


“Papa… hiks… mama mana? Kenapa mama belum pulang? Ini cudah malam…” lirih Bhara di tengah isak tangisnya.


Johnathan terus mendekap anaknya sambil berjalan kesana-kemari agar anaknya itu tenang dan segera tidur.


“Ssstt… Bhara tenang dulu ya, Nak. Mama masih ada urusan penting. Malam ini, mama menginap dulu di rumah temannya,” jawab Johnathan.


Dalam hati, pria itu merasa sakit karena harus berbohong kepada anaknya. Tangisan anaknya terdengar begitu pilu saat memanggil-manggil sang mama.


Bhara menggeleng ribut, “ndak mau… Bhala mau mama… ayo kita jemput mama, Pa…”


Johnathan semakin mendekap erat tubuh Bhara yang sudah gemetar karena terus menangis. Anak itu pasti merasakan bahwa mamanya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Ikatan mereka begitu kuat sampai Bhara terus menangis mencari mamanya.


Cklek


Pintu kamar itu terbuka. Anjani yang baru datang membawa botol susu Bhara langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri anak dan cucunya yang saling berpelukan erat. Ia ingin menangis saja melihat pemandangan memilukan itu, tapi sebisa mungkin ia tahan agar tidak memperburuk situasi.


“Bhara…” panggil Anjani membuat Bhara dan Johnathan menoleh.


Bhara menggeleng sambil mengeratkan pelukannya di leher sang papa, “ndak mau… hiks… Bhala mau cali mama…”


Anjani berusaha untuk menahan air matanya, “Bhara… nanti mama pasti pulang kok. Tapi sekarang, Bhara harus minum susu dan segera tidur biar mama gak sedih nanti.”


Mendengar hal itu, Bhara langsung diam, anak itu tidak ingin melihat mamanya sedih. Anjani tersenyum lembut saat idenya berhasil.


“Nah, sekarang Bhara gendong sama nenek dulu, ya… kita ke kamar nenek, setelah itu Bhara minum susu, lalu tidur sama kakek dan nenek,” ajak Anjani.


Bhara menurut dan melonggarkan pelukannya di leher Johnathan. Akhirnya, Johnathan menyerahkan tubuh Bhara agar digendong oleh Anjani. Setelah menggendong Bhara dan menyerahkan botol susu kepada anak itu agar segera diminum, Anjani memberi isyarat kepada Johnathan agar pria itu segera beristirahat. Johnathan mengangguk pelan sambil tersenyum kecil. Anjani sangat paham kalau anaknya kelelahan mengurus Bhara, dan saat ini anaknya itu butuh waktu untuk sendiri.


Setelah Anjani dan Bhara pergi dari kamarnya, Johnathan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menutup wajah menggunakan kedua tangan.


Dokter muda yang pendiam, bijaksana, dan tenang itu, kini sedang menangis.


Ya! tangis Johnathan pecah sekarang.


“Natasya…”


“… kamu baik-baik aja, kan?”


Pria tangguh itu menangis memikirkan istrinya yang harus tidur sendirian di sel yang begitu dingin. Ia membayangkan begitu kesepiannya sang istri di sana.


...----------------...


Sementara itu, di dalam sel tahanan, kondisi Natasya tidak jauh berbeda. Setelah seharian menampilkan wajah tegar dan tenang di hadapan para polisi yang berlalu lalang. Kini, saat malam tiba dan semua orang sudah pergi, perempuan itu tidak bisa menahan air matanya lagi.


Natasya berbaring menyamping di dalam sel itu sambil terisak pelan. Tangisannya pecah, tapi ia terus menangis tanpa suara. Dan itu jauh lebih menyakitkan.


“Bhara…”


Dinginnya lantai sel yang menusuk kulitnya, tidak lebih menyakitkan daripada bayangannya tentang Bhara yang terus memanggilnya saat ini. Natasya tidak bisa berhenti memikirkan anaknya, apakah anaknya itu bisa tidur tanpa dirinya, apakah anak it uterus menangis karena mencarinya, dan apakah suaminya juga kewalahan untuk menenangkan anak itu.


Semua pemikiran itu membuat Natasya khawatir dan tidak bisa tidur semalaman. Ia terus menangis sampai matanya panas dan nafasnya tersenggal-senggal.


“Mama kangen sama kamu, Sayang…”


Natasya terus saja menggumamkan kata ‘kangen’ dan ‘Bhara’. Berkali-kali ia menghapus air matanya, tapi tidak bisa berhenti dan terus keluar. Kemudian, Natasya membalik tubuhnya agar telentang dan menghadap ke langit-langit ruangan. Pikirannya menerawang, dan sorot matanya seketika berubah menjadi berapi-api.


“Awas kamu, Sabrina. Aku gak akan biarin kamu ngerusak kebahagiaan keluargaku,” geram Natasya.


Jika jiwa keibuan Natasya menangis pilu membayangkan suami dan anaknya di rumah. Maka, jiwa muda dan tangguh perempuan itu kini terbakar amarah, karena seseorang telah berani mengusik ketenangannya. Natasya tidak akan tinggal diam. Setelah ia bebas dari tuduhan, ia akan membalas perbuatan Sabrina.


...----------------...


Huhuuu... T_T


Sedih banget bayangin betapa dingin dan kesepiannya Natasya di dalam sel.. 😭😭


...Guyss... Minta tolong, kalau ada typo, tolong kasih tau author yaa 😊😊 thank cuuu......