Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
41 : Pertemuan


Pagi harinya, Natasya pergi ke dapur dan membuatkan susu untuk Bhara, serta membuat kopi untuk Johnathan.


Di dapur, ada beberapa juru masak dan ART. Sebenarnya, Natasya bisa saja meminta mereka membuatkan susu dan kopi, tapi ia ingin melakukannya sendiri untuk keluarga kecilnya.


Natasya masih merasa tidak enak jika tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga apapun di sini. Padahal jika ia tidak bekerja dan bersantai-santai saja, tidak ada yang memarahinya. Karena ibu mertuanya a.k.a Anjani juga sangat jarang mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


"Bibi, makanan buat Bhara udah siap?" tanya Natasya.


"Sudah, Nona," jawab ART yang bertanggung jawab terhadap makanan Bhara.


Natasya mengangguk setelah mengucapkan "terima kasih". Kemudian, samar-samar ia mendengar suara celotehan Bhara yang semakin mendekat.


Natasya menoleh dan mendapati Bhara sedang digendong oleh Johnathan menuruni tangga. Di belakang mereka, juga ada Hendry dan Anjani yang sudah siap dengan pakaian kerja mereka.


"Mama~" sapa Bhara dengan nada ceria.


Pagi yang indah untuk Natasya karena setiap hari selalu mendengar panggilan hangat tersebut dari anaknya.


"Sayangnya mama~" balas Natasya, lalu berjalan menuju meja makan sambil membawa susu milik Bhara dan kopi milik Johnathan.


Kenapa anggota keluarga yang lain tidak dibuatkan sekalian? Ya karena sudah dibuatkan oleh para ART. Ingat! Pembantu di kediaman Adikusuma tidak hanya satu-dua orang saja, ada puluhan.


Mereka semua sudah menempati kursi masing-masing di meja makan. Bhara duduk di kursi khusus balita yang diletakkan di tengah-tengah Johnathan dan Natasya. Sementara itu, para ART menyiapkan makanan mereka.


"Dimana Alan? Kok belum turun," tanya Natasya.


"Pasti masih tidur, kebiasaan anak itu kalau liburan selalu bangun siang," jawab Anjani.


Natasya hanya manggut-manggut, lalu bersiap untuk menyuapi Bhara. Saat tangannya ingin mengambil sendok, tiba-tiba Bhara menahan tangannya.


"Bhala mau makan cendili, Ma," ucap Bhara.


"Eh? Bhara mau makan sendiri? Boleh boleh," seru Natasya.


Lalu, Natasya mendekatkan mangkuk makan Bhara kepada anaknya itu. Setelah itu, Bhara mencoba menyendok makanannya sendiri. Anak itu bisa makan sendiri, meskipun sedikit belepotan.


"Pintar sekali cucu kakek, bisa makan sendiri ya," ucap Hendry bangga.


"Bhala kan emang dali dulu celalu makan cendili, Kek," oceh Bhara, "tapi cetelah ketemu cama mama natacya, Bhala celalu dicuapi."


Dahi Natasya mengernyit saat mengingat sesuatu. Dulu, saat pertama kali bertemu dengan Bhara, anak itu memang meminta makan sendiri. Tapi karena waktu itu Bhara sangat lemas, Natasya pun menyuapinya.


"Bhara," panggil Natasya, "memangnya Bhara dulu kalau makan gak pernah disuapi ya?"


Bhara menggeleng, lalu berucap polos, "kata mama lina, Bhala halus mandili, ndak boleh manja."


Para orang dewasa di sana saling berpandangan. Mereka merasa geram kepada Sabrina. Seorang anak yang belum genap usia 3 tahun sudah disuruh makan sendiri, padahal tangan anak seusia itu masih belum sempurna untuk memegang sendok. Kalau untuk belajar sih tidak apa-apa, tapi ini sama sekali tidak disuapi. Keterlaluan.


Setelah itu, mereka semua melanjutkan sarapan sambil sesekali melempar obrolan. Selesai sarapan, mereka pun bersiap untuk pergi bekerja.


"Bhara, papa berangkat kerja dulu ya, Sayang," pamit Johnathan kepada Bhara yang masih minum susunya.


Anak itu melepas botol susunya sebentar dari mulutnya, "okey, Pa. Hati-hati ya~ Bhala mau cium dulu."


Johnathan terkekeh pelan, lalu memajukan wajahnya untuk mencium dahi Bhara. Natasya yang berdiri di samping kursi Bhara pun tersenyum lembut melihat interaksi mereka. Kemudian, Johnathan beralih kepada Natasya.


"Natasya, aku berangkat dulu, ya," pamit Johnathan kepada istrinya.


"Iya, hati-hati ya, Kak John," balas Natasya.


Tanpa disangka-sangka oleh Natasya, tiba-tiba Johnathan memajukan wajahnya dan mencium dahi Natasya. Ciuman itu tidak terlalu lama, tapi mampu membuat Natasya membatu di tempat.


Johnathan yang melihat wajah syok Natasya pun tertawa. Begitu pula dengan Anjani dan Hendry yang sedari tadi melihat mereka.


"Lihat Natasya, dia pasti kaget karena mendapat 'serangan' dadakan dari John," bisik Hendry kepada Anjani di sebelahnya.


Dalam hati, Hendry juga berharap seperti itu. Ia berharap agar pernikahan Johnathan dan Natasya yang awalnya hanya sebagai alat untuk mengadopsi Bhara, bisa menjadi pernikahan sesungguhnya yang bisa berlangsung selamanya.


...----------------...


Johnathan berangkat ke rumah sakit bersama dengan Anjani. Sesampainya di rumah sakit, Anjani langsung melaksanakan rapat bersama dengan para dewan direksi. Sedangkan Johnathan langsung pergi untuk menemui para pasiennya.


Hari ini, tidak ada jadwal operasi, dan semoga tidak ada operasi dadakan. Tugas Johnathan saat ini adalah berkeliling untuk mengontrol kesehatan para pasien pasca operasi.


Saat ia baru saja keluar dari ruang rawat salah satu pasien, ia melihat temannya, Elvi, berlari menghampirinya dengan terburu-buru.


"John! Gawat John!" panik Elvi.


"Ada apa, El?" tanya Johnathan.


Elvi berhenti di hadapan Johnathan. Kepala laboratorium itu masih terengah-engah mengatur napasnya.


"Ada apa sih? Kenapa kamu lari-larian kayak gitu?" tanya Johnathan yang sudah sangat penasaran.


"Gawat!" seru Elvi, "dia datang, John. Mantan kamu, Sabrina, dia sekarang lagi nungguin kamu di ruanganmu."


Johnathan tentu saja terkejut dengan informasi ini, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.


"Ya udah, biar aku ketemu sama dia dulu," kata Johnathan.


Elvi mengangguk, "iya, tapi hati-hati. Mantanmu itu kan gila."


Johnathan tertawa kecil. Entah mengapa, dari dulu, temannya ini tidak menyukai Sabrina. Mungkin karena Elvi bisa mengendus sikap busuk wanita itu.


Johnathan langsung pergi menuju ruangan pribadinya. Sepanjang perjalanan, ia bertanya-tanya, kira-kira apa yang membuat wanita itu datang menemuinya. Semoga dia tidak membuat keributan di rumah sakit.


...----------------...


Cklek


Johnathan membuka pintu ruangan pribadinya. Ia bisa melihat Sabrina yang sudah duduk di sofa menunggunya. Wanita itu langsung tersenyum saat melihat Johnathan datang.


"John!" seru Sabrina sembari bangkit dari duduknya.


Johnathan hanya menatap datar mantan kekasihnya itu, lalu menutup pintu dan berjalan menuju sofa di hadapan Sabrina. Kini, mereka sudah duduk berhadapan.


"Ada urusan apa kamu kesini?" tanya Johnathan dengan nada dingin.


"Aku kangen sama kamu, John," ucap Sabrina dengan tatapan memelas.


Raut wajah Johnathan tidak menunjukkan perubahan sama sekali, tetap menatap Sabrina dengan tatapan dingin. Namun, tangannya mengepal karena geram.


"Langsung ke inti aja, Sabrina," kata Johnathan, "apa mau kamu sebenarnya?"


"Aku beneran kangen sama kamu, John," ucap Sabrina yang kini sudah meneteskan air matanya, "aku pengen kita kayak dulu lagi, aku pengen hidup bersama kamu dan Bhara, anak kita."


"Cukup, Sabrina!" tegas Johnathan, "hentikan omong kosongmu. Bhara itu anakku dan istriku, bukan anakmu. Jadi, lebih baik kamu pergi dari kehidupan Bhara."


"Tapi aku ibu kandungnya!" balas Sabrina tidak terima.


Johnathan menatap tajam Sabrina yang terus saja mengganggu ketenangannya dan keluarganya. Sabrina juga menatapnya nyalang karena tidak terima jika dirinya diusir begitu saja.


...----------------...


Duh... Ibu kandungnya Bhara mulai berambisi mendapatkan Bhara lagi nih... Siapa ya yang akan menang nanti?


...Jangan lupa like, komen, dan vote yaa ♥😊...