Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
25 : Buntu


Keesokan harinya, Natasya absen dari kelas jam pertamanya. Selain karena dosen yang mengajar adalah Hendry, orang yang paling tidak ingin ia temui, ia juga harus segera pergi ke pengadilan. Tapi sebelum ke pengadilan, ia menyempatkan diri untuk pergi ke panti asuhan dulu.


Di sana, ia dipersilahkan oleh ibu panti untuk langsung masuk. Pagi ini, Bhara bangun kesiangan, jadi anak itu sekarang masih sarapan sendiri di ruang makan, sedangkan teman-temannya yang lain sudah keluar untuk menjalankan aktivitas masing-masing.


"Bhara," panggil Natasya.


Bhara yang baru saja menyuapkan makanan terakhir ke dalam mulutnya pun menoleh. Ia langsung ceria saat melihat Natasya datang.


"Mama!" seru anak itu.


Bhara agak kesusahan untuk turun dari kursi makan yang cukup tinggi itu. Tapi akhirnya ia berhasil turun. Kemudian, anak itu langsung berlari ke arah Natasya. Gadis itu pun merendahkan tubuhnya agar bisa memeluk Bhara.


"Tumben mama datang pagi-pagi," ucap Bhara masih dalam pelukan Natasya.


"Mama rindu sama anak mama yang tampan ini," jawab Natasya sambil tersenyum lembut.


Bhara tersenyum senang, lalu mengeratkan pelukannya pada Natasya, "Bhala juga lindu cama mama hihi~"


Natasya tersenyum kecil. Sejak kemarin, ia tidak bisa untuk berhenti bersedih. Ia juga khawatir kalau proses pengadopsian Bhara menjadi gagal karena sekarang ia berusaha sendirian, tanpa bantuan dari Hendry. Kemudian, Natasya melepas pelukannya, lalu memegang kedua bahu Bhara.


"Bhara," panggil Natasya.


"Eung?"


Anak itu menunggu Natasya melanjutkan ucapannya sambil memberikan tatapan polos.



"Bhara tahu kan, kalau mama sayang banget sama Bhara?" tanya Natasya.


Bhara menganggukkan kepalanya lucu, lalu berujar dengan nada riang, "tentu caja. Mama kan olang yang paling cayang cama Bhala di dunia."


Natasya tersenyum haru mendengar jawaban dari Bhara. Ucapan anak itu memberinya cukup semangat untuk terus berjuang.


"Jadi, Bhara masih mau nungguin mama buat jemput Bhara, kan?" tanya Natasya.


"Mau, Bhala akan celalu menunggu mama," jawab anak itu, "kan mama cudah bilang kalau cebental lagi kita akan tinggal belcama."


Natasya menggigit bibir bawahnya pelan. Bhara sudah berharap banyak kepadanya, sementara Natasya kini malah diliputi keraguan.


"Eum... Bhara, mama pergi dulu ya, Nak. Mama ada urusan," pamit Natasya.


Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Bhara. Maka dari itu, ia buru-buru berpamitan dengan anaknya itu.


"Eung... Oke, Ma," ucap Bhara pelan.


Sebenarnya, anak itu masih ingin bersama mamanya lebih lama. Namun, Bhara paham kalau mamanya ini adalah orang yang sangat sibuk. Setelah berpamitan, Natasya segera pergi dari panti asuhan dan menuju pengadilan.


...----------------...


Natasya turun dari taksi. Gadis itu sudah berada di depan gedung bertuliskan 'Pengadilan Negeri'. Sebelum masuk, ia berdoa agar permohonan adopsinya dikabulkan oleh hakim. Kemudian, ia pun memberanikan diri untuk memasuki gedung tersebut sambil membawa map berisi berkas-berkas adopsi.


Kantor pengadilan hari ini cukup sepi, jadi Natasya bisa langsung menemui petugas di layanan pendaftaran tanpa harus mengantre terlebih dahulu.


"Permisi, Bu," panggil Natasya kepada petugas tersebut dengan sopan.


"Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas perempuan itu.


"Eum... Saya mau mengajukan permohonan adopsi, Bu," ucap Natasya.


"Baik, bisa saya cek kelengkapan berkasnya dulu?" tanya petugas itu lagi.


"Oh, iya, bisa," jawab Natasya, lalu menyerahkan map yang ia bawa kepada petugas itu.


Ibu petugas itu membuka map dan memeriksa satu per satu berkas-berkas itu. Natasya menggigit bibirnya cemas karena ekspresi wajah petugas itu berubah. Ia bisa melihat kalau petugas itu mengernyitkan dahinya bingung.


"Eum... Mbak Natasya, ya?" tanya petugas itu.


"Iya, Bu. Nama saya Natasya," jawab Natasya.


"Mbak Natasya ini belum menikah, ya?"


Tubuh Natasya menegang. Hal yang dari tadi ia khawatirkan sekarang terjadi juga. Masalah pernikahan.


Petugas itu menghela napas panjang, "Mbak Natasya, anda tahu kan kalau syarat mengadopsi anak itu salah satunya adalah sudah menikah?"


"Saya tahu, Bu, tapi saya sudah mendapat berkas-berkas yang lain, bahkan saya sudah dapat surat persetujuan dari panti dan kepala dinas sosial," jelas Natasya tetap kukuh pendirian.


"Tetap tidak bisa, Mbak, anda tidak memenuhi syarat," tegas petugas itu.


Natasya tahu pasti akan sulit mengurus ini sendirian, tapi ia harus tetap berusaha.


"Kalau begitu, apa saya boleh menemui kepala pengadilan? Saya akan bicara langsung dengan beliau," ucap Natasya.


Petugas itu kembali menghela napas panjang. Wanita itu terlihat menahan kesal karena sikap keras kepala gadis muda yang sedang ia hadapi.


"Tidak bisa, Mbak. Pak kepala bukan orang yang bisa ditemui sembarangan, jadwal beliau sangat padat," kata petugas itu.


Bahu Natasya merosot. Pikirannya sudah buntu, ia kehabisan cara sekarang.


"Baik. Terima kasih, Bu. Saya permisi dulu," ucap Natasya dengan putus asa.


Gadis itu mengambil kembali map yang tadi ia berikan kepada si petugas, lalu melangkah gontai menuju pintu keluar. Sesampainya di luar, ia berhenti dan menyempatkan diri untuk memandang langit biru yang cerah.


"Haah~ cara apa lagi yang harus aku lakuin sekarang?" monolog Natasya.


Mata gadis itu sudah berkaca-kaca sekarang, ia benar-benar bingung. Tiba-tiba saja...


Tin! Tin!


"Natasya!"


Natasya menoleh ke arah mobil yang berhenti di depannya. Alisnya menukik tajam saat melihat mobil yang sangat ia kenal itu. Ia bisa melihat dari kaca pintu pengemudi yang diturunkan, di situ ada Johnathan, serta Hendry yang duduk di kursi penumpang. Sekarang apa lagi yang akan dilakukan oleh keluarga Adikusuma itu?


Gadis itu menatap malas ke arah mereka berdua. Lalu, ia melengos dan pergi menjauhi mobil itu.


"Hei! Natasya!" panggil Johnathan.


Pria itu segera keluar dari mobil dan berlari kecil untuk mengejar Natasya yang hendak pergi.


Grepp!


Natasya menoleh dengan ekspresi wajah tidak santai saat Johnathan menahan lengannya. Gadis itu langsung menghempas cekalan tangan Johnathan.


"Anda ini apa-apaan sih?!" bentak Natasya.


Johnathan menatap sekitar, orang-orang sudah memandangi mereka dengan tatapan bertanya-tanya karena Natasya yang baru saja berteriak.


"Natasya," panggil Johnathan dengan suara pelan, "ada yang mau saya bicarakan sama kamu."


"Apa?! Tidak ada yang berlu kita bicarakan lagi, Dokter Johnathan! Saya tidak mau berbicara dengan anda!" sungut Natasya.


Natasya sudah hendak pergi dari sana, tapi Johnathan kembali menahan tangan gadis itu.


"Saya tahu pengajuan adopsi kamu baru aja ditolak, Natasya," ucap Johnathan.


Alis Natasya menukik tajam, "lalu, kenapa?! Anda senang kan karena saya tidak berhasil mengadopsi Bhara."


Johnathan menggeleng pelan, "bukan begitu, Natasya. Saya pikir kita tidak seharusnya bertentangan seperti ini. Kita harus bekerja sama untuk mendapatkan hak asuh Bhara."


"Bekerja sama? Lalu, kalian akan mengkhianati saya lagi?!" ucap Natasya yang masih tidak percaya dengan Johnathan.


"Tidak, bukan begitu, Natasya. Lebih baik kita bicarakan dulu masalah ini dengan kepala dingin. Ini semua demi kebaikan Bhara, agar anak itu bisa segera keluar dari panti asuhan," jelas Johnathan berusaha membujuk Natasya.


Mendengar kata 'demi Bhara', Natasya mulai luluh. Mungkin ada baiknya juga Natasya mendengarkan dulu penjelasan dari Johnathan. Lagipula, Natasya sepertinya tidak bisa melakukan ini sendirian.


...----------------...


Apakah Natasya dan keluarga Adikusuma akhirnya akan bekerja sama? Kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Johnathan dan Hendry, ya?


Jangan lupa like, komen, dan vote ya... ♥♥


Semoga hari kalian menyenangkan 😊😊