Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
28 : Makan Malam


Johnathan sedang fokus menyetir, sedangkan Bhara duduk manis di pangkuan Natasya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman Adikusuma.


"Mama," panggil Bhara sambil menunduk untuk melihat wajah mamanya.


"Iya, Sayang?" jawab Natasya.


"Cebenalnya kita mau kemana?" tanya Bhara penasaran.


"Eum... Kita mau makan malam di rumah papa," ucap Natasya.


"Waah~ kita ke lumah papa?" kata Bhara dengan mata yang berbinar-binar.


Johnathan menoleh sekilas dan tertawa gemas melihat anaknya yang antusias.


"Iya, kita mau ke rumah papa sekarang," kata Johnathan, "Bhara senang gak?"


Anak itu menganggukkan kepalanya dengan semangat, "Bhala cenang cekali bica ke lumah papa."


Johnathan dan Natasya tertawa kecil mendengar ucapan Bhara.


"Mama," panggil Bhara untuk yang kedua kalinya.


"Hmm?"


"Apa di cana nanti lamai?" tanya anak itu.


Natasya tampak berpikir sebentar, "iya, lumayan ramai. Ada Kakek Hendry, Dokter Anjani, dan Om Alan."


Wajah Bhara terlihat semakin cerah setelah mendengar nama-nama yang tidak asing itu.


"Waah~ di lumah papa, ada meleka juga," ucap Bhara kagum, "ada Om Alan juga?"


"Iya, Om Alan itu kan adiknya papa," kali ini Johnathan yang menjawab pertanyaan itu.


Bhara hanya manggut-manggut, lalu kembali duduk tenang mengarah ke depan. Sesekali, anak itu akan berceloteh mengajak bicara mama dan papanya.


...----------------...


Hendry, Anjani, dan Alan sudah menantikan kedatangan tamu undangannya di ruang tamu. Seluruh persiapan sudah selesai. Berbagai menu makanan sudah dihidangkan di meja makan.


"Duh! Aku udah gak sabar ketemu sama cucuku," gumam Anjani yang sejak tadi melihat lorong depan sambil bergerak tidak tenang.


Hendry tertawa kecil, "sabar dulu, Sayang. Sebentar lagi mereka pasti datang."


Mereka berdua menanti kedatangan calon menantu dan cucu mereka dengan hati gembira. Mereka mengabaikan anak bungsu Adikusuma yang sedari tadi hanya diam dengan wajah yang tertunduk lesu.


Tap... Tap... Tap...


Mereka semua menoleh, ternyata ketiga orang yang ditunggu sudah sampai. Natasya berjalan di sebelah Johnathan, dengan pria itu yang menggendong Bhara.


"Bhara~" panggil Anjani yang berlari kecil mendekati mereka.


"Bu doktel!" seru Bhara.


Anjani meraih Bhara dan menggantikan Johnathan untuk menggendong anak itu.


"No! Bukan bu dokter. Sekarang, Bhara harus panggil bu dokter dengan sebutan 'nenek', ya?" titah Anjani.


"Huh? Nenek?" ucap Bhara dengan wajah bingung.


Anjani mengangguk antusias, "iya, bu dokter kan ibunya papa kamu, jadi kamu harus panggil 'nenek'."


Bhara berpikir sebentar, lalu berujar dengan semangat, "okey, Nenek."


Mereka semua tertawa melihat tingkah menggemaskan anak itu. Natasya melirik ke arah Alan yang hanya diam dan tidak mau memandangnya.



Sejak ia memberitahu tentang rencana pernikahannya dengan Johnathan, sahabatnya itu tidak bahkan tidak mau menyapa dirinya.


'Kenapa Alan kelihatan murung banget? Semuanya kan udah baik-baik aja sekarang,' batin Natasya.


"Natasya," panggil Anjani.


"Eh? Iya, Bu Anjani," jawab Natasya yang tersadar dari pikirannya.


"Ayo, kita makan malam sekarang," ajak Anjani.


Setelah itu, mereka semua pergi ke ruang makan dan memulai makan malam. Posisi mereka adalah, Hendry berada di ujung, sedangkan di sisi meja kiri ada Johnathan dan Natasya yang sedang memangku Bhara, dan di hadapan mereka berdua ada Anjani dan Alan.


...----------------...


Acara makan malam berjalan dengan lancar. Hanya saja, Natasya tidak bisa makan dengan tenang. Bhara tidak mau duduk sendiri, anak itu terus saja menempel kepada Natasya dan minta disuapi oleh mamanya.


"Aaaa~"


Bhara tidak mau membuka mulutnya lagi saat Natasya ingin menyuapkan makanan untuknya. Padahal anak itu baru makan 5 suapan saja.


"Ayo, makan dulu, Bhara. Kamu masih makan sedikit lho dari tadi. Aaaa~" ucap Natasya.


Tapi anak itu tetap tidak mau membuka mulut dan menggelengkan kepalanya.


"Loh, Bhara gak mau makan, Nak? Gak suka sama makanannya, ya?" tanya Anjani.


Bhara menoleh ke arah neneknya itu, lalu menggeleng pelan. Natasya menatap anaknya heran, biasanya anak itu tidak sesulit ini untuk disuapi.


Lagi-lagi, anak itu hanya menunduk sambil menggeleng pelan. Johnathan yang melihatnya langsung meminta sendok dari tangan Natasya. Pria itu berinisiatif untuk menyuapkan nasi ke mulut Bhara.


"Aaaaa~"


Ajaib! Bhara mau membuka mulutnya dan menerima suapan dari Johnathan.


"Eh?" heran Natasya.


Hendry tertawa melihatnya, "haha... Ternyata Bhara mau disuapi sama papa, ya?"


Anjani juga tertawa pelan, "kenapa gak bilang langsung aja sih, Nak?"


"Malu~" cicit Bhara pelan.


Mereka semua tertawa melihat tingkah Bhara yang malu-malu seperti itu. Padahal biasanya anak itu langsung memeluk Johnathan setiap bertemu, tapi masih malu untuk meminta disuapi.


"Bhara mau papa pangku aja?" tanya Johnathan.


Anak itu menggelengkan kepalanya, "ndak. Bhala mau dipangku mama caja."


Akhirnya, Johnathan terus menyuapi Bhara yang tetap berada di pangkuan Natasya. Hendry dan Anjani menatap mereka dengan tersenyum kecil. Mereka bertiga sudah terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Tanpa mereka sadari, ada satu hati yang terluka.


"Bagaimana kalau kita sambil membicarakan tentang pernikahan kalian?" tanya Hendry tiba-tiba.


Johnathan dan Natasya yang masih sibuk mengurus Bhara langsung menoleh ke arah kepala keluarga Adikusuma.


"Kita bicaranya santai saja," imbuh Hendry.


Johnathan dan Natasya saling berpandangan sebentar, lalu mengangguk canggung. Mereka mendengarkan apa yang akan Hendry bicarakan dengan Johnathan yang masih terus menyuapi Bhara.


"Jadi, kalian mau pernikahannya dilaksanakan kapan?" tanya Hendry.


"Eum... Secepatnya?" cicit Natasya.


Sontak jawaban Natasya itu membuat semua orang menoleh ke arahnya, termasuk Alan yang sedari tadi enggan menatap gadis itu. Kini, Alan menatap sahabat satu-satunya itu dengan tatapan tersakiti.


"Eeyy~ kayaknya calon mempelai wanita kita udah gak sabar, ya," goda Anjani pada Natasya.


Pipi Natasya langsung memerah malu ketika semua orang menatapnya seperti itu.


"Eh, b-bukan begitu. M-maksud saya, semakin cepat pernikahannya dilaksanakan, semakin cepat juga kita bisa mendapatkan hak asuh Bhara," jelas Natasya.


Mereka mengganggukkan kepalanya paham.


"Tapi kalau untuk menggelar resepsi kan gak bisa mendadak," ucap Anjani, "minimal 3 bulan untuk mempersiapkan semuanya."


"Ibu, gak perlu ada resepsi apa-apa. Yang penting sah dulu, biar kita bisa segera mengadopsi Bhara," kata Johnathan.


Anjani pun tertunduk lesu, "yaah~ padahal ibu mau menggelar pernikahan yang megah buat kamu sama Natasya."


"Benar kata Johnathan, yang penting mereka segera mendapatkan surat nikah. Untuk urusan resepsi, kita bisa menggelarnya belakangan," ucap Hendry untuk menghibur istrinya.


Anjani hanya mengangguk pelan. Ia benar-benar ingin pernikahan anaknya berlangsung dengan megah, tidak hanya di KUA saja. Namun, jika mereka menginginkan cara yang lain, ia hanya bisa menuruti saja.


"Baiklah, kalau begitu ayah akan mengurus supaya kalian bisa segera menikah," final Hendry, "mungkin 3 hari lagi."


"Apa?!"


Mereka semua menoleh ke arah Alan yang tiba-tiba bersuara.


"Kenapa?" tanya Hendry kepada anak bungsunya.


"Apa itu gak terlalu cepat, Ayah?" protes Alan.


"Emangnya kenapa, Al? Lebih cepat lebih baik, kita bisa segera mengadopsi Bhara," bukan Hendry yang menjawab, melainkan johnathan.


Alan menatap kakaknya dengan tatapan kesal dan rahang yang mengeras.


"Cih! Terserah!"


Setelah berucap demikian, Alan langsung berdiri dan meninggalkan mereka semua begitu saja.


"Al? Alan!"


Alan tidak menggubris ibunya yang terus-menerus memanggil dirinya.


"Sebenarnya, ada apa dengan anak itu?" gumam Hendry dengan heran.


Natasya sedari tadi hanya diam. Gadis itu juga bingung dengan sikap Alan. Ia tidak paham kenapa sahabatnya itu semarah ini. Padahal Natasya sendiri sudah menerima dan memaafkan keluarga Adikusuma.


'Kamu sebenarnya kenapa sih, Al?'


...----------------...


Huhuu... Kasihan sekali Alan 😟😟


Oh iya, author izin mau promosi ya hehe...


**Kalian bisa mampir di novel baru author, judulnya 'Bad X Crazy'. **


Ceritanya tentang kisah romansa anak muda geng motor. Yaa... Sambil nunggu novel ini update lagi, bisa baca-baca dulu novel 'Bad X Crazy', siapa tahu kalian juga suka 😊