Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
31 : Tinggal Bersama


Satu jam kemudian, majelis hakim kembali memasuki ruangan untuk pembacaan putusan. Semua orang di persidangan mengikuti prosedur seperti di awal tadi.


"Berdasarkan bukti pendukung dan para saksi yang memperkuat permohonan dari calon orang tua angkat, kami majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah mempertimbangkan putusan dengan matang."


Para hadirin di sana semakin tegang saat hakim ketua mulai membacakan keputusan.


"Berdasarkan perundingan majelis hakim, permohonan adopsi oleh saudara Johnathan dan saudari Natasya telah diterima. Sehingga, saudara Johnathan dan saudari Natasya kini resmi menjadi orang tua angkat dari Bhara. Dengan ini, saya menyatakan sidang resmi ditutup."


Tok... Tok... Tok...


Setelah putusan selesai dibacakan, Johnathan dan Natasya langsung tersenyum bahagia.


"Kita berhasil, Natasya," seru Johnathan sambil memegang kedua bahu istrinya dengan perasaan bahagia yang membuncah.


Natasya hanya bisa mengangguk antusias, bahkan ia sampai meneteskan air mata karena terharu. Dirinya kini sudah resmi menjadi mama angkat Bhara.


Hendry yang berada di samping mereka juga tersenyum bahagia. Ia menatap anak sulung dan murid, sekaligus anak didiknya itu, dengan tatapan bangga.


Johnathan dan Natasya mengucapkan terima kasih kepada majelis hakim. Kemudian, para hakim itu pun keluar dari ruangan. Suasana ruang sidang menjadi ramai karena para hadirin senang atas putusan hakim.


"Papa!!! Mama!!!"


Bhara berlari menghampiri kedua orang tuanya.


Johnathan langsung bangkit dari tempat duduknya, kemudian berlutut dan merentangkan tangannya.


Bruk!


Bhara menghambur pada pelukan Johnathan. Natasya yang masih duduk di tempatnya melihat mereka dengan tatapan haru.


"Yeay! Akhilnya Bhala bica pulang cama papa cama mama. Bhala cenang cekali!" seru anak itu.


"Papa juga senang, akhirnya kita bisa tinggal bersama ya, Nak," balas Johnathan.


Setelah itu, Hendry dan Natasya pun berdiri dan menghampiri mereka.


"Ayo, kita pulang sekarang," ajak Hendry.


Johnathan segera menggendong Bhara. Mereka pun pergi keluar dari ruang sidang. Saat berada di luar ruangan, ternyata sudah ada Anjani dan Alan yang baru sampai.


"Loh, udah selesai sidangnya?" tanya Anjani.


"Baru saja selesai," jawab Hendry.


"Kok cepat banget sih," gumam Anjani kesal.


Hendry tertawa kecil, "kalian saja yang datang terlambat."


"Mau bagaimana lagi? Aku masih ada jadwal operasi tadi, Alan juga masih ada urusan di kampusnya," keluh Anjani.


Natasya melirik ke arah Alan yang masih saja memandang mereka dengan pandangan datar. Gadis itu benar-benar tidak suka dengan situasi ini. Ia rindu dengan Alan yang dulu, sahabatnya yang selalu tertawa bersamanya.


"Natasya," panggil Anjani.


Natasya tersadar dari lamunannya, "eh, iya, Ibu. Ada apa?"


"Barang-barang kamu udah diangkut ke rumah utama, jadi nanti kamu langsung ikut pulang sama kami ya, Nak," kata Anjani.


Natasya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah itu, mereka pun pergi keluar dari gedung pengadilan dan menuju ke kediaman Adikusuma.


...----------------...


Mereka sudah sampai di kediaman Adikusuma. Ngomong-ngomong, tadi mereka sempat pergi ke panti asuhan untuk berpamitan dengan para pengurus panti dan teman-teman Bhara.


Sesampainya di rumah, Alan langsung pergi ke lantai atas menuju kamarnya tanpa menghiraukan keluarganya yang masih berkumpul di ruang tamu. Hendry dan Anjani hanya menghela napas lelah melihat tingkah anak bungsu mereka yang sejak beberapa hari yang lalu seperti ini.


"Huuh~ aku benar-benar udah capek sama sifat Alan," gumam Anjani, "dia berubah jadi pendiam, gak kayak biasanya."


Natasya hanya diam mendengar penuturan ibu mertuanya. Dalam hati, ia merasa bersalah karena secara tidak langsung, ia adalah penyebab Alan bersikap seperti ini.


'Ini semua salahku...'


"Natasya," panggil Anjani.


"Iya, Ibu?"


Natasya bingung untuk menjawab pertanyaan Anjani. Gadis itu melirik ke arah Johnathan yang sedang menatapnya, pria itu terlihat menunggu jawaban darinya juga.


"Eum... Tidak, Ibu. Maaf, saya belum siap kalau harus satu kamar sama Kak Johnathan," cicit Natasya.


"Udahlah, Ibu, yang penting Natasya nyaman tinggal di sini," ucap Johnathan membela istrinya, walau sebenarnya pria itu menginginkan jawaban yang lain dari Natasya.


Anjani menghela napas panjang, "ya udah, kalau itu keputusan kalian, ibu akan menerimanya."


"Kalau gitu, aku bawa Bhara ke kamarku dulu biar anak ini bisa tidur nyaman di sana," ucap Johnathan, lalu menoleh ke arah Natasya, "kamu bisa merapikan barang-barangmu dan Bhara di kamar kalian."


Natasya hanya menganggukkan kepala menuruti ucapan Johnathan.


"Ayo, ikut aku, kamar kamu ada di sebelah kamarku."


Setelah itu, Natasya pun mengikuti Johnathan untuk naik ke lantai atas. Sementara itu, Bhara sudah terlelap di gendongan papanya sejak tadi.


"Nah, ini kamarmu," ucap Johnathan saat mereka sampai di depan pintu kamar Natasya dan Bhara.


"Yang di sebelah itu, kamarku," tunjuk Johnathan.


Natasya manggut-manggut sambil melihat pintu kamar Johnathan yang tertutup. Kamar Johnathan berada tepat di samping kamarnya.


"Kalau itu, kamar Alan."


Natasya mengikuti arah yang ditunjuk oleh Johnathan. Di samping kamar Johnathan adalah kamar milik sahabatnya. Jadi, kamar Johnathan berada di tengah-tengah kamarnya dan kamar Alan.


"Aku masuk ke kamarku dulu ya," pamit Johnathan.


Natasya hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, mereka pun berpisah dan memasuki kamar masing-masing. Johnathan menidurkan Bhara di kamarnya untuk sementara karena Natasya harus menata barang-barang di kamar gadis itu.


...----------------...


Kamar yang akan ditempati oleh Natasya dan Bhara sudah dibersihkan sebelumnya, jadi Natasya hanya perlu menata barang saja. Kamar itu sangat luas, lebih luas dari kamar di rumahnya.


Setelah satu jam melakukan penataan kamar, akhirnya pekerjaan Natasya pun selesai. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya untuk berbaring di atas kasur.


"Haah~ capek banget...," gumam Natasya sambil memejamkan matanya.


Gadis itu membuka matanya perlahan, lalu menatap langit-langit kamarnya.


"Terima kasih, Tuhan... Karena telah mengizinkanku jadi mama untuk Bhara. Semoga aku bisa membesarkan anakku dengan baik," ucap Natasya.


"Papa... Mama... Aku kangen sama kalian," gumam Natasya yang tiba-tiba teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal.


"Aku udah nikah dan punya anak. Aku udah jadi orang tua sekarang, Pa, Ma. Kalian pasti senang kalau ketemu sama Bhara, cucu kalian yang sangat lucu."


Tes...


Air mata meluncur dari sudut mata gadis itu.


"Hiks... Papa... Mama..., aku kangen banget."


Gadis cantik itu sudah terisak pelan sekarang. Andai saja kedua orang tuanya masih ada, mereka pasti merasa bangga dengan apa yang sudah dilakukan oleh Natasya.


Tok... Tok... Tok...


Natasya menoleh saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Dengan segera, ia menghapus air mata yang ada di pipinya, lalu bangun dan berjalan untuk membuka pintu kamar.


Cklek


Natasya terkejut saat melihat seseorang yang baru saja mengetuk pintu kamarnya.


"Alan?"


Iya, yang mengetuk pintunya tadi adalah Alan. Berbeda dari sebelumnya, tatapan Alan kali ini tidak datar dan dingin lagi, tatapan itu kembali melembut dan sedikit... Sendu.


"Natasya, ayo ikut aku sebentar, aku mau ngomong sama kamu."


...----------------...


Yeay! Natasya sudah resmi menjadi mama untuk Bhara 😍


Jangan lupa like, komen, dan vote agar author tetap semangat update ♥♥