Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
54 : Berkumpul Lagi


Selesai urusan di pengadilan, Natasya langsung pulang bersama keluarganya. Ia merasa senang karena tidak perlu tidur di dalam sel yang dingin, serta tidak lagi memakai baju tahanan berwarna orange.


Sesampainya di rumah, ia sudah disambut oleh para pekerja di rumah Adikusuma yang sudah berbaris di Lorong menuju ruang tamu. Mereka menunduk hormat dan mengucapkan ‘selamat datang’ kepada menantu keluarga Adikusuma tersebut. Natasya disambut dengan sangat meriah.


“Natasya, lebih baik kamu istirahat dulu di kamar, nanti turun waktu makan malam saja,” titah Anjani.


Natasya mengangguk setuju sambil tersenyum. Ia pun hendak melangkah pergi menuju kamarnya.


“Eh, tunggu!” cegah Anjani, “Bhara ikut sama nenek dulu saja, ya.”


Bhara yang berada di gendongan Natasya pun menoleh, “loh, kenapa? Bhala mau cama mama.”


“Bhara sama nenek dulu saja, mama biar istirahat, kasihan mama pasti capek,” bujuk Anjani.


Bhara yang mendengar hal itu pun menjadi murung. Tapi ia tetap menuruti ucapan neneknya agar sang mama bisa istirahat. Kemudian, Anjani mengambil alih Bhara dari gendongan Natasya.


“Nah, sekarang mama biar istirahat,” seru Anjani saat Bhara sudah berhasil ia gendong.


Bhara mengangguk pelan sambil tetap memasang wajah murung. Natasya terkekeh melihat anaknya yang seolah keberatan berpisah dengannya.


“Bhara jangan cemberut dong, nanti kan kita bertemu lagi waktu makan malam,” ujar Natasya berusaha menghibur anaknya.


“Iya, Ma,” jawab Bhara dengan nada pelan.


Walaupun Bhara terlihat keberatan berpisah dengan dirinya, tapi Natasya tetap membiarkan anak itu agar bersama dengan ibu mertuanya untuk sementara. Kemudian, Natasya pun pergi menuju kamarnya bersama Johnathan yang membawakan tas miliknya.


Ketika hendak pergi, Anjani mengedipkan sebelah matanya kepada Natasya dan Johnathan. Inilah alasan mengapa mereka mencegah Bhara untuk ikut ke kamar. Supaya Johnathan dan Natasya bisa berduaan melepas rindu.


Sesampainya di kamar, Natasya langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang begitu empuk.


“Haah~ nyaman sekali… aku rindu kasur ini,” gumam Natasya sambil merentangkan tangannya memenuhi Kasur.


Bruk!


Johnathan juga ikut menghempaskan tubuhnya di samping sang istri, lalu memeluk erat perut perempuan yang dicintainya itu.


“Saya juga rindu kamu,” kata Johnathan sambil mendongak untuk melihat Natasya.


Natasya mengubah badannya menjadi menyamping dan ikut memeluk kepala Johnathan yang sejajar dengan perutnya. Johnathan mendusalkan wajahnya pada perut sang istri hingga perempuan itu memekik geli.


“Ahahaha… dokter, hentikan! Itu geli!” seru Natasya.


Bukannya berhenti, Johnathan semakin gencar menggelitiki Natasya. Suara tawa nyaring mereka pun memenuhi seisi kamar. Beberapa menit kemudian, Johnathan berhenti menggelitiki Natasya, lalu memeluk mesra perut istrinya dan menyamankan kepalanya di sana.


“Dokter John hebat sekali, bisa mengurus Bhara dengan baik saat saya tidak ada di sini,” puji Natasya sambil mengelus-elus rambut suaminya.


“Huh! Mengurus Bhara sendirian itu susah,” keluh Johnathan, “jadi tolong… jangan pergi kemana-mana lagi, ya?”


Natasya tersenyum lembut, “iya… saya tidak akan pergi lagi.”


Johnathan bangkit dan merangkak sedikit ke atas untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Natasya. Ia menatap kedua bola mata Natasya yang begitu cantik itu dengan tatapan dalam. Mereka saling bertatapan lama sekali, seolah sedang menyalurkan cinta yang sudah lama terpendam.


Cup!


Satu kecupan mendarat di bibir Johnathan. Pria itu sedikit terkejut karena Natasya yang menciumnya terlebih dahulu. Hmm… hal itu jarang terjadi.


“Ini masih sore, Natasya…,” ucap Johnathan dengan nada rendahnya.


“Huh? Memang kenapa? Saya kan hanya memberi ciuman saja,” tanya Natasya dengan tatapan polos.


Johnathan tersenyum miring, istrinya ini benar-benar polos atau hanya pura-pura sih.


Kemudian, Johnathan semakin menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Natasya.


“Berhari-hari saya menahannya, Natasya… sepertinya, saya sudah tidak bisa menahannya lagi,” bisik Johnathan disertai geraman rendah pria itu.


Tubuh Natasya merinding mendengar ucapan sang suami yang terdengar emm… bernafsu. Pipi perempuan itu memerah malu karena Johnathan.


Bugh!


“Ini masih sore, sebaiknya kita segera mandi dan bersiap untuk makan malam,” ucap Natasya sambil bangkit dari Kasur.


Johnathan tertawa kecil melihat istrinya yang sedang malu, “kalau begitu, kita mandi bersama saja supaya lebih cepat.”


Natasya langsung menatap Johnathan dengan tatapan horror, “tidak!!!”


“Hahaha…”


Johnathan tertawa terbahak-bahak saat melihat Natasya yang lari terbirit-birit ke kamar mandi karena takut diterkam oleh suaminya. Sepertinya, Johnathan harus menunggu hingga tengah malam nanti untuk benar-benar ‘melepas’ kerinduannya pada sang istri. Hmm… itupun jika Bhara tidak merengek meminta peluk mamanya semalaman.


...----------------...


Suasana makan malam keluarga Adikusuma hari ini dipenuhi dengan kehangatan dan kebahagiaan. Akhirnya, keluarga ini lengkap setelah berhari-hari harus hidup tanpa sosok Natasya.


“Bhara mau makan sendiri?” tanya Johnathan.


Anak itu menggeleng, “Bhala mau dicuapi cama mama, Pa.”


“Loh, kan Bhara sudah bisa makan sendiri? Kok masih minta disuapi mama?” tanya Johnathan lagi.


“Memangnya kenapa? ndak boleh?” balas anak itu dengan nada acuh.


Semua orang tertawa mendengar jawaban Bhara yang sangat acuh tak acuh pada pertanyaan ayahnya. Anak itu benar-benar definisi, “kalau aku mau, pasti akan aku dapatkan.”


Kemudian, acara makan malam itu berlangsung dengan tenang.


“Oh iya, ayah, saya mau bertanya,” ucap Natasya di sela-sela kegiatan makan malamnya.


“Iya? Ada apa, Natasya?” ucap Hendry.


“Bukankah ayah pernah bilang kalau hakim ketua di kasus saya sudah disuap oleh Sabrina? Lalu, kenapa hakim itu malah membebaskan saya dan memenjarakan Sabrina?” tanya Natasya penasaran.


Semua orang ikut memandang ke arah Hendry dengan tatapan bertanya-tanya.


Hendry tersenyum, dan menjelaskan dengan tenang, “sebenarnya, waktu itu…”


Flashback


Setelah hari dimana persidangan Natasya dinyatakan ditunda, Hendry terus menyelidiki dan mengawasi gerak-gerik Sabrina serta para pihak yang terlibat dalam kasus itu. Sejak awal, Hendry sudah curiga dengan adanya ketidakjujuran atas kasus ini.


Dan benar saja, Hendry menemukan fakta bahwa sebagian besar pihak sudah disuap oleh ayah Sabrina yang merupakan anggota DPR, termasuk sang hakim ketua. Oleh karena itu, satu hari sebelum sidang kedua dilaksanakan, Hendry memutuskan untuk mendatangi rumah hakim ketua itu.


“Jadi, kenapa anda repot-repot datang ke sini, Tuan Adikusuma?” tanya hakim ketua.


Sekarang, hakim ketua dan pengacara terdakwa itu sudah duduk berhadapan di dalam ruang kerja pribadi sang hakim.


“Untuk melakukan kesepakatan?” balas Hendry dengan nada santai.


Hakim itu tertawa kecil, “apakah anda sedang bercanda, Tuan Adikusuma? Anda adalah seorang pengacara, tapi anda berniat untuk menyuap hakim? Huh! Yang benar saja.”


Hendry tersenyum miring, “hmm… sepertinya… sebuah vila di puncak dan 7% saham perusahaan multinasional sudah cukup untuk anda. Benar begitu, Yang mulia hakim yang terhormat?”


Wajah hakim itu pun menegang. Ia tidak menyangka bahwa pengacara yang sedang berhadapan dengannya ini mengetahui tentang penyuapan yang dilakukan oleh pihak penuntut, bahkan bisa menyebutkan dengan jelas bentuk penyuapan itu.


“A-apa mau anda?” tanya hakim tersebut dengan gugup.


Hendry terkekeh pelan, “mudah saja. Jika pihak penuntut menyuap anda untuk memihak kepada mereka, tidak peduli siapa yang salah sebenarnya. Maka saya akan membeli kejujuran anda dengan harga yang lebih mahal daripada mereka.”


“Saya ingin anda tidak memihak siapapun di kasus ini. Karena saya yakin, tanpa menyuap pun, sebenarnya klien saya bisa bebas karena dia memang tidak bersalah,” imbuh Hendry dengan yakin, “tapi karena kejujuran anda sudah dibeli, maka saya harus membelinya kembali dengan sesuatu yang lebih mahal, bukan?”


...----------------...


Hakimnya tidak teguh pendirian sama sekali... Ckck...


...Jangan lupa like, komen, dan vote yaa... ♥♥...


...cek instagram dan tiktok @cacalavender untuk melihat konten 'Mama Untuk Bhara'...