
“Dan bukti yang baru saja diserahkan oleh saudara terdakwa, kami nyatakan bahwa bukti tersebut valid dan bisa diterima.”
Natasya terkejut dengan ucapan hakim. Bukan, bukan berarti ia tidak senang. Tapi ia bingung, ia mengira bahwa hakim tersebut akan terus berpihak kepada Sabrina. Tapi ternyata tidak, hakim itu bersikap seolah-olah tidak pernah disuap oleh Sabrina dan melaksanakan sidang dengan jujur.
Natasya melihat Hendry. Pengacaranya itu tampak sangat tenang.
"Pak Hendry?" panggil Natasya.
Hendry menoleh dan tersenyum saat melihat tatapan Natasya yang penuh tanda tanya, "bukankah saya sudah bilang kalau kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun dan percaya kepada saya?"
Natasya mencerna ucapan Hendry yang sama sekali tidak menjawab kebingungannya.
'Apa ayah.... telah melakukan sesuatu kepada hakim?' batin Natasya bertanya-tanya.
"Baik, karena semua bukti sudah diserahkan, maka majelis hakim akan berdiskusi terlebih dahulu. Kami akan menyampaikan putusan sidang 30 menit lagi," ucap hakim.
Kemudian, sidang dihentikan selama 30 menit ke depan. Sabrina dan jaksa penuntut kalang kabut, mereka bergegas pergi ke luar untuk membicarakan sesuatu.
Natasya yang melihat itu langsung tertawa kecil, 'kamu sudah salah karena menantangku, Sabrina. Setelah ini, giliranmu yang akan mendekam di penjara. Aku pastikan, kamu akan tinggal di dalam sel dingin itu lebih lama dari pada diriku.'
Memaafkan Sabrina dan melupakan kejadian ini? Tentu saja tidak, Natasya bukan seseorang yang bisa memaafkan kejahatan besar dengan mudah. Ia tidak akan melepaskan Sabrina begitu saja.
"MAMA!!!"
Natasya menoleh ke arah Bhara yang sudah berlari ke arahnya.
"Sayang!!" seru Natasya.
Natasya langsung turun dari kursinya dan merentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukan dari anaknya.
Bruk!
Bhara menghempaskan tubuh kecilnya pada sang mama. Mama dan anak itu berpelukan sangat erat, membuat semua orang yang melihatnya tersenyum penuh haru.
“Bhala lindu cama mama,” ucap Bhara dengan mata terpejam menikmati pelukan hangat mamanya.
“Mama juga rindu sama Bhara,” balas Natasya.
Mereka pun melepas pelukan dan saling memandang penuh kerinduan.
“Mama kenapa pelgi lama cekali? Om Alan bilang kalau mama cedang ikut ujian,” tanya Bhara dengan nada polos.
Natasya terkekeh pelan, “iya, Sayang, mama sedang ikut ujian. Dan sebentar lagi, mama akan lulus ujian ini dan bisa segera pulang bersama Bhara.”
“Benalkah, Ma? Mama akan cegela pulang?” tanya Bhara dengan tatapan penuh harap, yang dibalas oleh anggukan Natasya.
“Yeay! Mama nanti pulang!” seru Bhara.
“Ekhmm…,” suara dehaman seseorang membuat mereka menoleh.
Ternyata itu adalah Johnathan yang sedang mencoba menarik perhatian Natasya. Sedari tadi, istrinya itu hanya focus dengan putra mereka dan mengabaikannya. Johnathan jadi merasa cemburu.
“Bhara dipanggil nenek,” ujar Johnathan.
“Huh?” bingung Bhara.
Lalu, anak itu mengedarkan pandangannya dan melihat neneknya sedang sibuk berbincang dengan pamannya. Dahi Bhara mengernyit saat melihat sang nenek yang tidak tampak seperti sedang mencarinya.
“Papa bohong, ya?” tanya Bhara dengan tatapan penuh selidik.
“Eh, t-tidak, papa tidak berbohong,” jawab Johnathan yang gagal menipu anaknya sendiri, “Bhara pergi ke sana dulu saja bersama nenek. Ya?”
“Ndak mau!” tolak Bhara seketika, “Bhala mau cama mama!”
Natasya yang melihat suaminya sedang mencoba untuk mengusir secara halus anak kesayangan mereka itu pun tidak bisa menahan tawanya.
“Ahaha… kalian ini kenapa jadi ribut sih? Sudah, kita berkumpul bertiga saja, tidak ada yang pergi kemana-mana,” final sang mama.
Johnathan dan Bhara setuju dengan keputusan bijak mama Natasya. Mereka pun berpelukan bertiga. Bhara sangat senang karena bisa dipeluk lagi oleh kedua orang tuanya secara lengkap seperti ini. Kehangatan yang sudah berhari-hari ia rindukan.
“Saya sangat rindu dengan kamu, Natasya,” ucap Johnathan.
“Saya juga merindukan anda, Dokter Johnathan,” balas Natasya.
Anjani, Alan, dan Hendry melihat keluarga kecil yang sedang berpelukan itu dengan perasaan haru dan gembira. Pemandangan yang begitu hangat.
“Aaaa! Mereka menggemaskan sekali!” pekik Anjani tertahan.
“Aku senang melihat mereka bisa Kembali bersama,” balas Hendry yang juga merasa Bahagia.
Begitu juga dengan Alan. Perlahan-lahan, ia mulai bisa melupakan rasa cintanya kepada Natasya. Ia merasa bahagia jika melihat Natasya bahagia, walaupun bukan dirinya yang menjadi alasan kebahagiaan perempuan itu.
...----------------...
Tiga puluh menit sudah berlalu, kini sidang Kembali dilanjutkan. Natasya tersenyum kecil saat melihat Sabrina yang tengah duduk dengan gelisah di kursinya.
“Baik, hadirin sekalian. Kami, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah selesai berdiskusi, serta mencapai putusan akhir yang seadil-adilnya,” ucap hakim ketua.
Semua orang yang hadir di sana benar-benar focus menanti apa keputusan hakim.
“berdasarkan bukti-bukti yang telah diberikan, serta para saksi yang telah dihadirkan, dengan ini saya menyatakan bahwa saudara terdakwa Natasya tidak bersalah atas tuduhan penculikan anak.”
Seisi ruangan langsung ramai karena merasa senang dengan keputusan hakim. Rata-rata yang hadir di persidangan adalah orang-orang yang membela Natasya. Dalam sekali lihat pun, orang awam juga tahu kalau Natasya tidak bersalah.
“Dan untuk saudara penuntut Sabrina. Anda dijatuhi hukuman berlapis, antara lain penjara tiga tahun dan denda sebesar 72 juta rupiah atas kasus kekerasan terhadap anak, penjara lima tahun atas kasus penelantaran anak di bawah umur, serta penjara empat tahun atas kasus pencemaran nama baik…”
“…maka dengan ini, saya menyatakan bahwa saudara terpidana Sabrina dijatuhi hukuman 12 tahun penjara dan denda sebesar 72 juta rupiah. Dengan ini, sidang dinyatakan selesai dan ditutup.”
Tok… Tok… Tok…
“Tidak!!!”
Sabrina berteriak histeris saat statusnya sebagai penuntut justru berubah menjadi terpidana.
“Ini tidak mungkin! Bukan saya yang bersalah! Saya tidak bersalah!” seru Sabrina tidak terima dengan putusan hakim.
Para polisi langsung memborgol kedua tangan wanita itu. Sabrina tetap memberontak untuk dilepaskan, tapi tentu saja itu tidak terjadi.
“Jangan membuat gaduh!” tegur hakim sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, “anda bisa meminta kuasa hukum anda untuk mengajukan banding nanti.”
Sabrina dibawa pergi untuk ditahan di lapas. Bukan di kantor polisi lagi, tapi di lapas, karena Sabrina benar-benar sudah mendapatkan vonis hukuman.
“Awas kamu Natasya! Aku akan membalasmu! Aku akan menghancurkanmu!” teriak Sabrina.
Wanita itu terus memberontak hingga para polisi tampak menyeretnya dengan paksa. Natasya hanya menatap datar Sabrina sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak peduli dengan segala ancaman yang keluar dari mulut wanita licik itu.
Yang terpenting sekarang adalah fakta bahwa Natasya sudah benar-benar dibebaskan. Mulai hari ini, ia bisa Kembali berkumpul dengan seluruh anggota keluarganya.
...----------------...
Akhirnya... Natasya sudah dinyatakan tidak bersalah 😍 siapa yang greget banget pas proses sidang??? Xixixi...
...🚨 nonton konten POV di tiktok & instgram @cacalavender 🚨...