Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
47 : Ditangkap


Pagi hari yang tenang di kediaman Adikusuma. Seluruh anggota keluarga sedang bersantai di rumah. Mereka sedang mengadakan piknik kecil-kecilan. Dengan menggelar tikar di atas hamparan rumput di taman depan rumah.


"Ayo om Alan, tendang bolanya!" seru Bhara.


Bhara dan Alan sedang bermain sepak bola. Sementara itu, yang lainnya sedang duduk-duduk santai di atas tikar sambil memakan camilan.


Brukk!


Mendengar suara terjatuh, mereka langsung menoleh, khawatir jika itu adalah Bhara. Ternyata bukan... Alan yang terjatuh. Laki-laki itu sedang mengejar bola, tapi tersandung kakinya sendiri.


"Astaga! Ahahaha!"


Bukannya panik atau kasihan, mereka semua malah menertawakan bungsu Adikusuma itu.


"Heh! Kamu tuh ada-ada aja sih," ucap Anjani setelah puas menertawai anaknya, "udah besar masih aja hobi kesandung."


Alan pun terkekeh malu, lalu berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor. Ia mengambil bola yang tidak jauh darinya dan membawanya mendekat ke arah Bhara.


"Om Alan ndak apa-apa?" tanya Bhara polos.


Alan mengangguk lemah, lalu menatap Bhara dengan tatapan melas, "cuma Bhara yang peduli sama om."


Semua orang tertawa melihat Alan yang berpura-pura sedih dihadapan Bhara. Acara piknik itu berlangsung hangat...


...untuk sementara.


Alan ikut duduk di atas karpet sambil memangku Bhara. Natasya menyuapi Bhara makanan ringan. Mereka pun berbincang-bincang ringan. Namun, tiba-tiba Alan melihat ada mobil polisi yang memasuki pekarangan rumah mereka.


"Loh, kok ada polisi?" ucap Alan.


Mereka semua mengikuti arah pandang Alan. Dan benar saja, ada sebuah mobil polisi yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Ayah ada pekerjaan sama polisi hari ini?" tanya Alan kepada Hendry.


Hendry menggelengkan kepalanya sambal mengernyit bingung, “tidak ada, ayah tidak punya janji apapun dengan polisi.”


Mobil polisi itu pun berhenti di dekat mereka. Lalu, turun dua orang polisi, laki-laki dan perempuan. Seluruh keluarga Adikusuma pun berdiri dari duduk mereka, dengan Alan yang menggendong Bhara.


“Selamat pagi, Tuan Adikusuma,” sapa polisi laki-laki terhadap Hendry.


“Selamat pagi,” balas Hendry, “ada apa ini?”


“Kami kemari untuk menangkap Nona Natasya atas dugaan penculikan anak,” ucap polisi sambal menunjukkan sebuah surat penangkapan.


“Apa?!” semua orang terkejut dengan ucapan polisi tersebut.


“Penculikan? Apa maksud anda?!” seru Hendry, “menantu saya tidak pernah menculik siapapun.”


“Nona Natasya dilaporkan telah menculik seorang anak Bernama Bhara,” kata polisi.


“Bhara?” Johnathan tidak memercayai apa yang baru saja ia dengar, “anda jangan sembarangan! Bhara itu anak saya dan istri saya, Natasya. Kami sudah melalui proses hukum yang sah untuk mengadopsinya.”


“Maaf, Tuan. Tapi Nona Natasya dilaporkan telah sengaja memisahkan Bhara dengan ibu kandung anak itu,” kekeh sang polisi.


Mereka semua masih syok dengan perintah penangkapan tidak jelas ini. Apa-apaan para polisi ini?! Padahal bukan seperti itu kejadiannya.


“Mama…” lirih Bhara membuat semua orang menoleh, “...ini ada apa?”


Natasya tersenyum lembut, “gak ada apa-apa, Sayang. Bhara masuk ke dalam dulu ya sama om Alan, nanti mama nyusul.”


Natasya memberi isyarat kepada Alan agar segera membawa anaknya masuk ke dalam rumah. Alan yang mengerti pun langsung bergegas pergi dari sana.


“Apakah anda tidak memeriksa fakta terlebih dahulu sebelum menangkap saya sembarangan? Pastinya ada arsip tentang laporan anak hilang di bandara waktu itu,” sinis Natasya yang sudah kesal karena merasa difitnah.


“Anda bisa menjelaskan hal itu di kantor polisi nanti,” ucap polisi tersebut.


Kedua polisi itu pun tidak ingin basa-basi lagi dan melangkah maju untuk menangkap Natasya. Tapi, mereka dihalangi oleh Johnathan.


“Jangan menyentuh istri saya sedikitpun!” bentak Johnathan.


“Tolong jangan menghalangi pekerjaan kami, Tuan,” ucap polisi itu.


“Pekerjaan kalian tidak masuk akal! Bagaimana bisa menuduh istri saya yang sudah berbaik hati untuk mengadopsi Bhara?! Padahal Natasya masih harus kuliah, tapi dia rela melakukan apapun untuk Bhara!” kesal Johnathan, “dan kalian malah menuduhnya sebagai seorang penculik? Apa kalian sudah tidak waras?!”


“Tuan, anda bisa mendapat masalah jika mengganggu proses penangkapan ini,” geram sang polisi.


“Bagai—”


“Gak apa-apa, Kak John,” Natasya memotong ucapan Johnathan, dan berucap tenang, “mereka bawa surat perintah penangkapan, mau gak mau, aku harus ikut dengan mereka.”


Tidak hanya Johnathan, bahkan Hendry dan Anjani juga terkejut dengan keputusan Natasya.


“Tapi kamu gak bersalah, Natasya,” kata Johnathan.


“Justru karena aku gak bersalah, aku gak perlu takut kalau mau dibawa ke kantor polisi. Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar gak bersalah,” ucap Natasya masih dengan nada santai, “lagipula, akan jadi masalah kalau aku gak bersedia menaati surat perintah penangkapan.”


Mereka semua tidak bisa berkata-kata lagi, ucapan Natasya itu benar. Hendry juga paham kalau menolak surat perintah penangkapan justru akan memperberat hukuman. Mereka hanya bisa menyaksikan saat Natasya dengan sukarela menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol.


Sebelum pergi, Natasya menyempatkan diri untuk menatap sang suami, lalu tersenyum lembut, “kakak gak perlu khawatir. Aku baik-baik aja, dan aku pasti akan segera pulang.”


Johnathan mengangguk, lalu mengusap pipi Natasya penuh kasih sayang, “aku janji, aku akan membawa kamu pulang secepatnya dan berkumpul lagi bersama anak kita.”


Natasya mengangguk sambal tersenyum lembut menikmati usapan halus tangan Johnathan di pipinya.


“Natasya,” panggil Hendry, “saya akan menjadi pengacara kamu dan membebaskan kamu dari tuduhan ini.”


Natasya mengangguk. Setelah itu, ia pun dibawa oleh kedua polisi itu untuk masuk mobil dan dibawa pergi ke kantor polisi.


...----------------...


Di sisi lain, seorang pria tua sedang menikmati secangkir kopi hangat sambal menatap ke arah luar jendela ruang kerjanya.


“Haah~ semuanya sudah beres, tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan. Kamu akan semakin dekat dengan tujuanmu…,” ucap pria itu.


Kemudian, ia berbalik untuk melihat seorang wanita yang sedang duduk di sofa, “…Sabrina.”


Sabrina yang sedang duduk di sofa juga memandang pria tersebut dengan senyum puasnya, “terima kasih, Ayah. Setelah ini, aku bisa kembali dengan Johnathan.”


Ya, pria itu adalah ayah Sabrina. Seorang anggota DPR yang memiliki banyak koneksi dan kekuasaan, tentu saja dibarengi dengan sifat licik.


Nyatanya, Sabrina melaporkan Natasya atas penculikan Bhara juga dengan bantuan ayahnya. Sang ayah menyuap kepala kepolisian agar menurunkan surat penangkapan untuk Natasya, dan memastikan agar Natasya dinyatakan bersalah bagaimanapun caranya.


Dan tujuan mereka melakukan itu agar Sabrina bisa Kembali Bersama dengan Johnathan. Dengan begitu, otomatis Sabrina akan menjadi menantu konglomerat dan itu akan menguntungkan sang ayah agar bisa meningkatkan kekuasaannya di bidang politik.


...----------------...


Hah? Kok jadi Natasya yang ditangkap?! Duh... 😭😭


...Guyss... Cerita ini makin lama makin seru gak? Atau malah membosankan? Plis, tolong kasih masukan dan saran yaa... Author juga butuh feedback, biar tahu kekurangan novel ini apa 😊😊...