
Keesokan harinya, Natasya Kembali dikunjungi oleh seseorang. Bukan kunjungan biasa, melainkan kunjungan dari pengacaranya, yang tak lain adalah dosen sekaligus ayah mertuanya sendiri. Mereka tidak lagi bertemu di ruangan yang terhalang kaca seperti kemarin, melainkan di sebuah ruangan khusus yang kedap suara. Mereka diawasi oleh petugas polisi dari luar ruangan yang terhalang oleh kaca.
“Bagaimana kabar kamu, Natasya?” tanya Hendry sambil tersenyum lembut.
Natasya tersenyum membalasnya, “baik, Ayah. Berada di sel ternyata tidak seburuk itu.”
Mereka berdua terkekeh pelan. Tentu saja Hendry tahu bahwa Natasya berbohong. Mata sembab gadis itu menunjukkan bahwa dirinya tidak merasa baik-baik saja semalam.
“Natasya,” panggil Hendry dengan nada serius, “sebagai seorang ayah, saya pasti merasa sedih karena harus melihat kamu dalam kondisi seperti ini. Tapi, sebagai seorang pengacara, saya tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, dan saya harus fokus untuk membebaskan kamu. Jadi, saya harap, kamu juga fokus untuk menyelesaikan kasus ini.”
Natasya mengangguk mantap, “tentu saja, Pak—”
“Pak?” sela Hendry, “kenapa kamu tidak lagi memanggil saya ‘ayah’?”
Natasya tertawa kecil, “bukankah Pak Hendry sendiri yang bilang kalau saya harus fokus untuk menyelesaikan kasus ini?”
“Itu artinya, saya harus menganggap Pak Hendry sebagai pengacara saya, bukan sebagai ayah saya. Kalau saya masih memanggil Pak Hendry dengan sebutan ‘ayah’, saya pasti akan terus merasa emosional, dan itu akan menghalangi rasionalitas saya,” ucap Natasya.
Hendry tersenyum puas mendengar penjelasan dari Natasya. Ia merasa bangga dengan sikap professional dari perempuan yang menjadi menantu, klien, serta mahasiswanya ini.
“Saya menantikan kerja kerasmu sebagai mahasiswa hukum dalam mengatasi kasus ini, Natasya,” kata Hendry dengan bangga, “jadi, apakah ada yang ingin kamu sampaikan sebelum saya mulai mengumpulkan bukti?”
“Tentu saja,” ucap Natasya yakin.
Perempuan itu tersenyum tenang, “Pak Hendry tidak perlu repot-repot untuk mencari bukti yang menguatkan saya…”
“…karena saya sudah mengumpulkan bukti… jauh sebelum semua ini terjadi.”
Senyum Hendry semakin lebar mendengarnya. Melihat salah satu mahasiswanya bisa menghadapi kasus dengan cerdas, menimbulkan kepuasan tersendiri dalam jiwa pengajarnya. Sebelumnya, ia cukup khawatir jika Natasya akan menghadapi kesulitan di persidangan. Namun, melihat kepercayaan diri perempuan itu, Hendry sangat yakin jika mereka akan memenangkan persidangan.
...----------------...
Hari ini, sidang kasus Natasya akan segera dilaksanakan. Natasya sedang memandang dirinya lewat pantulan kaca. Berbeda dengan hari pertama ia dibawa ke sini. Tatapan kosong dan sedihnya berubah menjadi tatapan percaya diri.
“Haah~ kayaknya aku bakal dapat lebih banyak ujian praktik daripada mahasiswa hukum yang lain,” gumam Natasya diakhiri dengan kekehan ringan.
Natasya tampak sangat tenang dan percaya diri, melupakan fakta bahwa seluruh anggota keluarganya terus menerus khawatir dan takut. Kecuali Hendry, tentu saja.
Tidak lama kemudian, seorang petugas menghampirinya untuk dibawa ke ruang sidang. Sepanjang perjalanan, Natasya terus merenungi apa yang sedang terjadi kepadanya. Jika dulu Natasya memasuki ruang sidang dengan penuh harapan atas surat permohonan adopsi Bhara. Maka sekarang, ia harus memasuki ruangan itu lagi dengan penuh keberanian atas tuduhan pidana yang ditujukan padanya.
‘Ternyata gini ya rasanya jadi seorang kriminal,’ batin Natasya.
Dalam hati, ia cukup kagum dengan baju khas tahanan berwarna oranye itu. Bukan berarti dirinya ingin menjadi narapidana sungguhan, hanya saja, semua ini adalah pengalaman yang baru untuknya.
...----------------...
Sementara itu, di ruang sidang sudah ada beberapa orang, termasuk seluruh anggota keluarga Adikusuma. Bhara juga ada di sana, dipangku oleh sang nenek. Sebenarnya, mereka tidak tega jika harus mengajak Bhara mengikuti sidang, tapi anak itu harus hadir karena dia adalah korban dari kasus ini.
Ngomong-ngomong, sebenarnya Bhara sempat akan dibawa paksa oleh kepolisian untuk diserahkan kepada ibu kandungnya. Namun, anak itu terus berontak dan tidak ingin dilepas dari Anjani. Kepolisian pun menyerah dan membiarkan Bhara untuk terus bersama dengan keluarga ‘penculik’nya.
Sejak saat itu, keluarga Adikusuma tahu jadi bahwa ada yang tidak beres dengan kasus ini, pasti ada manipulasi terhadap laporan Natasya. Padahal sudah jelas-jelas Bhara tetap memilih untuk bersama dengan keluarga Adikusuma. Anak itu juga terus mengatakan bahwa Natasya baik kepadanya, tapi pihak kepolisian tetap menahan Natasya sebagai penculik. Sangat tidak masuk akal.
Tidak lama kemudian, protokol sidang mengumumkan bahwa majelis hakim akan memasuki ruangan. Seperti prosedur sidang pada umumnya, semua orang diminta untuk berdiri hingga majelis hakim duduk di tempat mereka masing-masing.
Tok… Tok… Tok…
Setelah hakim mengetuk palu, Natasya dibawa masuk oleh seorang petugas pengadilan, dua orang polisi, beserta Hendry selaku pengacaranya.
“Mama!” seru Bhara di tengah keheningan saat melihat mamanya.
Natasya hanya tersenyum melihat Bhara. Ia sudah rindu sekali dan ingin berlari memeluk anaknya, tapi harus ia tahan dulu sekarang. Kemudian, Natasya diminta duduk di kursi pemeriksaan yang berada di tengah ruangan.
Sidang pun dimulai, jaksa penuntut umum berdiri untuk membacakan dakwaan. Natasya yang menyimak dakwaan itu berkali-keli mengernyit bingung dan berdecih karena banyak yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya di lapangan.
“…terdakwa Natasya Fernandez membawa pergi korban Bhara yang saat itu sedang menunggu ibu korban di kamar mandi. Hal itu menyebabkan korban Bhara terpisah dari ibu kandungnya…”
“…terdakwa Natasya mencuci otak korban agar membenci ibu kandungnya sendiri…”
“…terdakwa Natasya melakukan pelanggaran berat dengan mengadopsi korban secara hukum untuk menutupi kasus penculikan yang telah dilakukannya…”
Kurang lebih seperti itu isi tuntutan dakwaan oleh jaksa kepada Natasya. Semua pendukung Natasya, termasuk keluarga, sangat geram mendengar tuntutan fitnah itu.
‘Cih! Orang ini gak bisa kerja apa gimana sih? Licik banget,’ cibir Natasya dalam hati.
Setelah jaksa penuntut umum selesai membacakan dakwaan, hakim pun mulai berbicara.
“Saudara terdakwa Natasya Fernandez, apakah saudara sudah mengerti dengan dakwaan jaksa penuntut?”
“Saya mengerti, Yang Mulia,” jawab Natasya tenang.
Hakim pun mengangguk, “jadi, Saudara Natasya. Anda di sini atas penculikan terhadap seorang anak berusia tiga tahun yang Bernama Bhara. Benar?”
“Benar, Yang Mulia.”
“Baik, Saudara Natasya. Apakah ada pembelaan dari saudara mapun kuasa hukum dari saudara?” tanya hakim tersebut.
“Ada, Yang Mulia,” jawab Natasya.
Hakim pun mempersilahkan kepada Natasya untuk berbicara.
“Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa saya mengelak semua tuduhan yang disampaikan oleh jaksa penuntut umum--"
“Tunggu sebentar, Saudara,” sela hakim, “di sini saya ingin menekankan bahwa jika saudara terdakwa ingin menyatakan keberatan dengan dakwaan, maka harus menyertakan bukti pendukung. Apakah saudara ingin meminta kuasa hukum saudara untuk memberikan pengarahan kepada saudara agar tidak memberikan pernyataan tak berdasar?”
Alis Natasya terangkat sebelah, tapi kemudian ia berucap dengan tenang, “saya sangat paham dengan hal itu, Yang Mulia. Saya akan meminta pengacara saya untuk membantu saya ketika dibutuhkan nanti, tapi sekarang, izinkan saya untuk membela diri saya sendiri terlebih dahulu.”
“Saya berjanji tidak akan sembarangan dalam mengikuti sidang ataupun memberikan pernyataan tanpa bukti,” imbuh Natasya dengan penuh keyakinan.
Semua orang kagum dengan ucapan berani Natasya. Seluruh keluarga Adikusuma, khususnya Hendry, merasa bangga dengan Natasya. Hendry bangga karena Natasya bisa mengatasi kasusnya sendiri untuk saat ini. Meskipun begitu, Hendry tetap akan berada di belakang Natasya dan bersiap untuk maju jika Natasya membutuhkannya.
...----------------...
Natasya terlihat lemah lembut karena udah jadi ibu-ibu ya ges ya...
Tapi dia tetap mahasiswa muda yang pemberani dan... sedikit julid xixi