
Keluarga Adikusuma sedang berkumpul di ruang santai. Hendry dan Johnathan sedang menonton TV di sofa, sedangkan Anjani dan Alan menemani Bhara bermain di lantai.
Lalu, dimana Natasya? Mama muda kita yang satu itu sedang pergi ke klub menembak. Tidak, dia sudah tidak menjadi pelatih di sana, tapi tadi dia mendapatkan undangan dari salah satu muridnya untuk menonton pertandingan.
"Nenek, Bhala kapan boleh cekolah?" tanya Bhara tiba-tiba.
"Eh, kamu pengen sekolah, ya?" balas Anjani.
Bhara mengangguk antusias, "Bhala pengen belajal juga, kayak mama cama om Alan."
"Kalau mau belajar seperti om sama mama, kamu harus bisa baca tulis dulu. Emang kamu udah bisa? Belum, kan?" celetuk Alan.
"Makanya Bhala mau cekolah, memang itu kan tujuannya olang cekolah. Cekolah dulu, balu bica baca tulic. Bukan baca tulic dulu, balu cekolah. Gimana cih, Om Alan?!" dumal Bhara.
Alan langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat keponakannya yang sedang kesal. Yang lain juga ikut tertawa mendengar celotehan Bhara itu.
"Astaga! Cucu nenek pintar banget sih, lebih pintar dari om Alan," gemas Anjani.
Wajah cemberut Bhara kembali tersenyum lagi setelah mendengar pujian dari neneknya.
"Natasya kok belum pulang, ya? Ini udah larut malam," ucap Johnathan cemas.
"Iya ya, kenapa mama belum pulang?" kata Bhara yang juga ikut-ikutan papanya mencemaskan mamanya.
Tiba-tiba, terdengar suara derap langkah kaki yang mendekati mereka dengan terburu-buru. Mereka pun menoleh, ternyata itu adalah satpam yang berjaga di depan rumah Adikusuma.
"Tuan Johnathan!" panggil satpam itu dengan tidak santainya.
Johnathan langsung berdiri dari sofa. Jantung pria itu sudah berdebar-debar memikirkan apa yang akan disampaikan satpam itu. Melihat wajah panik dari si satpam, Johnathan yakin bahwa itu bukan kabar yang baik.
"Ada apa, Pak?" tanya Johnathan.
"Ada tamu yang mencari Anda, Tuan," ucap pak satpam masih dengan muka yang tidak santai.
Dahi Johnathan mengernyit bingung, "siapa?"
Satpam itu menunduk tidak berani menatap Johnathan, "lebih baik Anda melihat sendiri siapa orangnya, Tuan."
Johnathan yang sudah sangat penasaran langsung bergegas menuju ruang tamu. Hendry dan Anjani langsung mengikutinya. Begitu juga dengan Alan, lelaki itu segera menggendong Bhara dan menyusul keluarganya untuk pergi ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Johnathan bisa melihat ada seorang wanita yang sedang duduk di sofa dengan posisi membelakanginya. Ia melangkahkan kakinya pelan sambil mengira-ngira siapakah orang itu.
"Siapa dia, John?"
Suara Anjani yang baru saja menyusul Johnathan terdengar lumayan keras. Hal itu membuat si tamu langsung menoleh ke belakang.
Johnathan, Hendry, dan Anjani yang sudah berada di sana langsung membelalakkan mata. Mereka tidak bisa untuk tidak terkejut melihat sosok wanita yang bertamu di rumah mereka itu. Wanita yang pernah mereka cari-cari keberadaannya.
"Sabrina...," gumam Johnathan.
Ya, wanita itu adalah ibu kandung Bhara yang dulu pernah mereka cari untuk keperluan hak asuh anak itu. Dulu, dia hilang seperti ditelan bumi, dan tiba-tiba sekarang muncul begitu saja.
"Johnathan...," gumam Sabrina.
"Mau apa kamu kesini?!" bentak Anjani yang sudah sadar dari keterkejutannya.
Sabrina hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Anjani, tapi pandangannya berganti saat melihat sosok yang ia cari berdiri di belakang mereka.
"Bhara," panggil Sabrina dengan senyum lebarnya saat melihat Bhara.
Mereka semua menoleh dan melihat Bhara yang berada di gendongan Alan. Anak itu juga tampak terkejut, wajahnya terlihat sangat syok.
"Bhara..., akhirnya mama bisa ketemu sama kamu, Nak," ucap Sabrina lega.
Wanita itu ingin menghampiri Bhara, tapi segera dicegah oleh Johnathan.
Grep!
Sabrina menatap Johnathan dengan tatapan bingung karena tangannya dicekal oleh pria itu.
"Kenapa, John? Aku mau ketemu sama anakku," lirih Sabrina.
Johnathan menatap Sabrina geram, "kamu gak lihat, hah?! Bhara ketakutan lihat kamu."
"Bhara," panggil Sabrina dengan nada memohon, "ini mama, Sayang. Sini peluk mama, Nak."
"Hiks...," terdengar isakan Bhara.
Alan langsung memeluk anak itu agar tenang.
"Apa-apaan kamu, Sabrina?!" bentak Anjani, "kamu pasti sering melakukan kekerasan kepada Bhara, sampai dia takut sama kamu."
Sabrina menggeleng ribut, "nggak, Ibu--"
"Jangan panggil saya ibu!" teriak Anjani.
Memang dulu saat Johnathan masih pacaran dengan Sabrina, wanita itu sering memanggil Anjani dengan sebutan 'ibu'. Tapi sejak Sabrina selingkuh dan meninggalkan Johnathan beberapa tahun yang lalu, Anjani tidak sudi lagi berbaik hati kepada Sabrina.
"Aku gak pernah ngelakuin kekerasan dalam bentuk apapun ke Bhara," ucap Sabrina yang sudah menangis, "aku sayang banget sama Bhara."
"Bohong!" ucap Hendry tegas, "kalau kamu menyayangi Bhara, tidak mungkin anak itu takut sama kamu."
Sabrina menggelengkan kepalanya, "ini semua salah paham."
"Bhara, maafin mama ya, Sayang. Mama sayang sama kamu, Bhara," ucap Sabrina sambil menangis memohon kepada Bhara.
Bhara mendongak dan melihat ke arah Sabrina dengan mata yang sudah memerah. Sejak tadi, anak itu sama sekali tidak mengatakan apapun dan terus terisak pelan.
"Mama...," lirih Bhara.
Sabrina menyunggingkan senyumnya saat Bhara menggumamkan kata 'mama'. Wanita itu mengira bahwa Bhara sudah mau memanggil dirinya lagi dengan sebutan 'Mama'.
"Iya, Sayang. Ini mama," Sabrina berjalan mendekati Bhara sambil merentangkan tangannya, "ayo, ikut mama pulang, Nak."
"Mama...," lirih Bhara.
Langkah Sabrina terhenti dan dahinya mengernyit bingung saat wanita itu menyadari ada sesuatu yang aneh. Bhara tidak menatap dirinya, tapi pandangan anak itu mengarah ke belakangnya. Sabrina berbalik untuk mengikuti arah pandang Bhara.
Di sana, ada seorang perempuan yang tidak Sabrina kenal sedang berdiri sambil menatapnya datar.
"Mama," panggil Bhara.
Sabrina mengernyitkan dahinya bingung saat Bhara memanggil perempuan itu dengan sebutan 'mama."
"Siapa kamu?" tanya Sabrina.
Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan Sabrina yang menanyakan tentang identitasnya, tapi mengatakan hal lain dengan nada dingin dan tajam.
"Jangan sentuh anakku."
Dan perempuan itu adalah Natasya. Dia sudah berdiri di sana sejak tadi, ia sudah mengetahui bahwa wanita asing itu ternyata adalah mama kandung Bhara.
"Anakmu? Apa maksud kamu?! Bhara adalah anakku, bukan anakmu!" seru Sabrina tidak terima.
"Oh ya?" ucap Natasya santai, gadis itu tersenyum miring, "bukannya kamu udah dengar sendiri, Bhara baru aja panggil aku mama?"
Alis Sabrina menukik tajam, lalu menatap Johnathan marah, "John? Apa maksudnya ini?! Kamu udah nikah sama perempuan ini?!"
"Ya!" bukan Johnathan yang menjawab, melainkan Anjani, "kalau kamu sudah paham dengan situasinya, lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga."
"Nggak!" teriak Sabrina, "aku gak akan pergi sebelum Bhara mau ikut sama aku. Aku adalah mama kandungnya, aku yang melahirkannya!"
"Terus, kenapa?" ucap Natasya remeh, "melahirkan saja gak membuat kamu pantas untuk jadi mamanya."
Sabrina terdiam, ia hanya bisa menatap Natasya dengan mata yang berapi-api. Natasya mengatakan sesuatu yang tajam dengan nada tenang, hal itu justru membuat Sabrina merasa semakin kesal.
...----------------...
Haiiii, para pembaca baik hati...😊😊
Ibu kandung Bhara sudah muncul nih, kira-kira apa yang akan terjadi, ya?
...Tolong komentarnya dong guyss......
...Author mau berinteraksi sama kalian nihh T_T...
...Mohon sarannya juga ya kalau misal alurnya semakin aneh ♥♥...