
Natasya kembali berangkat ke kampus bersama Alan. Sudah terhitung satu minggu, mereka selalu berangkat bersama. Hal itu tentu saja tak luput dari perhatian seluruh mahasiswa di sana, yang sejak awal mencurigai Alan dan Natasya memiliki hubungan lebih dari sahabat.
Apakah Alan dan Natasya tidak pernah mendengar desas desus tentang mereka? Tentu saja pernah. Mereka tahu kalau dirumorkan sedang pacaran, tapi mereka tidak peduli. Toh, semua orang hanya salah paham, pasti nanti rumor itu akan menghilang dengan sendirinya. Namun, yang namanya salah paham, biasanya akan membawa masalah, bukan?
"Libur akhir semester nanti kamu mau pergi liburan kemana?" tanya Alan kepada Natasya.
Sekarang, mereka berdua sedang berjalan bersama menuju kelas.
"Aku gak tahu, Al. Belum sampai mikirin liburan," jawab Natasya.
"Kalau aku boleh usul, kamu ajak Bhara ke Sea World Ancol aja. Dia pasti senang banget kalau diajak ke sana. Dia juga bisa belajar tentang jenis-jenis ikan," kata Alan.
Natasya manggut-manggut, "boleh juga. Nanti aku bilang dulu ke Kak Johnathan."
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kelas yang masih agak jauh. Kampus ini sangat luas, jarak antara area parkir dan kelas-kelas lumayan jauh.
"Oh iya, kamu kal--"
Srett!
Buagh!!
"Aaaa!!"
Natasya berteriak terkejut ketika tiba-tiba saja tubuh Alan ditarik ke belakang. Tidak hanya itu, sebuah tinjuan melayang ke wajah tampan sahabatnya hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.
"Alan!" seru Natasya.
Seluruh perhatian mengarah kepada mereka. Natasya berlutut untuk memeriksa keadaan sahabatnya.
"Astaga! Alan, hidung kamu berdarah!"
Alan mengusap pelan hidungnya menggunakan ibu jari. Ia meringis saat melihat bercak merah menempel di jarinya. Kemudian, Alan mendongak dan menatap nyalang orang yang beru saja meninjunya. Dia adalah orang yang selalu mengganggu Natasya, siapa lagi kalau bukan Haikal.
Alan segera berdiri dan mencengkeram kerah kemeja laki-laki brengsek itu.
"Kamu tuh punya masalah apa sih sebenarnya?!" geram Alan.
Haikal balik menatap tajam Alan tanpa peduli dengan kerahnya yang sedang ditarik.
"Kamu orang yang munafik ternyata," ucap Haikal.
Alan semakin mengeraskan rahangnya dan mengeratkan cengkeramannya.
"Pura-pura jadi sahabat Natasya, padahal itu cuma kedok biar kamu bisa deketin dia. Pantas aja kamu selalu marah kalau aku deketin Natasya. Cih! Ternyata kamu emang pengen menyimpan gadis ini buat dirimu sendiri."
Alan menampilkan raut wajah penuh amarah, dan hal itu membuat Haikal tersenyum remeh, "kenapa, Alan? Jujur aja, kamu juga mengakui kan kalau Natasya terlalu indah untuk dilewatkan?"
"Kurang ajar!" desis Alan.
Buagh!
Alan melayangkan sebuah pukulan pada rahang Haikal. Kini, giliran laki-laki brengsek itu yang jatuh ke lantai.
"Alan, udah cukup," lirih Natasya sambil berusaha memegangi lengan Alan.
"Laki-laki ini udah kurang ajar, Sya! Gak tahu malu! Dia sangat terobsesi banget sama kamu! Bahkan dia gak pantas disebut laki-laki!" ucap Alan dengan suara meninggi karena marah.
Haikal berusaha untuk berdiri sambil memegangi rahangnya yang terasa sangat nyeri akibat pukulan Alan.
"Aku cuma mencintai Natasya," ucap Haikal, lalu tersenyum remeh kepada Alan, "apa bedanya sama kamu yang juga diam-diam kencan sama dia?"
"Gak usah bandingin aku sama brengsek kayak kamu!" bentak Alan.
Alan sudah ingin melayangkan pukulan pada Haikal dan menghajarnya lagi, tapi suara seseorang membuat gerakannya terhenti.
"Ada apa ini?!"
Mereka semua menoleh ke arah Hendry yang datang dengan raut wajah marah karena melihat keributan tersebut.
"Kenapa kalian bertengkar di area kampus?!" bentak Hendry kepada Alan dan Haikal yang sedang menunduk, "kalian ini mahasiswa atau preman?!"
Alan, Haikal, dan Natasya yang berada di tempat kejadian hanya bisa menunduk, tidak berani menatap dosen yang sangat dihormati itu. Sedangkan para mahasiswa semakin ramai mengerumuni mereka untuk melihat keributan yang terjadi.
Mereka bertiga hanya menunduk tidak berani menjawab. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Hendry pun menoleh ke arah kerumunan mahasiswa.
"Ada yang bisa menjelaskan kepada saya tentang apa yang terjadi?" tanya Hendry.
Tak lama kemudian, salah satu mahasiswa mengangkat tangannya.
"P-Pak Hendry," ucap mahasiswa itu dengan ragu, "Kak Haikal dan Alan... Mereka bertengkar karena memperebutkan Natasya."
"Memperebutkan Natasya? Apa maksudnya?" ucap Hendry bingung, lalu kembali menatap ketiga mahasiswa di depannya.
'Astaga! Memperebutkan aku katanya? Duh, bikin malu aja...,' batin Natasya. Gadis itu memejamkan matanya erat, ingin kabur saja rasanya dari sini.
Alan mendongak memberanikan diri untuk menatap ayahnya, "ini semua salah paham, Ayah."
Kemudian, bungsu Adikusuma itu melirik sinis ke arah Haikal, "laki-laki yang terobsesi sama Natasya ini ngira kalau aku pacaran sama Natasya."
Hendry mengernyitkan dahinya, dosen itu sedang memikirkan penjelasan dari mahasiswa sekaligus anak bungsunya itu. Beberapa detik kemudian, ia pun paham dengan apa yang terjadi.
Hendry menghela napas lelah, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Astaga... Ternyata, rumor itu banyak dibicarakan, ya?" gumam Hendry.
Faktanya, rumor kencan Alan dan Natasya tidak hanya merebak di kalangan mahasiswa. Beberapa dosen pun pernah membicarakan mereka. Bukan sesuatu yang spesial, tapi kalian tahu sendiri kan... Orang yang hobi berghibah bisa membicarakan apa saja.
"Baiklah, mari kita luruskan saja kesalahpahaman ini," kata Hendry.
Natasya dan Haikal mendongak. Semua orang menanti apa yang akan dikatakan oleh dosen mereka yang satu ini.
"Untuk semuanya, tolong dengarkan ucapan saya baik-baik," ucap Hendry kepada seluruh mahasiswa di sana, "hentikan rumor tidak berdasar ini yang sudah mengganggu ketenangan Alan dan Natasya."
Hendry mengatakan hal itu dengan tegas. Bagaimanapun juga, ia harus melindungi keluarganya. Kemudian, pria paruh baya itu kembali berucap.
"Di sini, saya akan mengumumkan bahwa..."
"... Natasya adalah menantu saya."
Sontak hal itu mengundang bisik-bisik kebingungan dari para mahasiswa. Mereka terkejut dengan pernyataan yang dibuat oleh dosen mereka, bahkan Haikal sudah membelalakkan matanya karena syok.
"Natasya sudah menikah dengan anak saya. Bukan dengan Alan, tapi dengan anak sulung keluarga Adikusuma."
...----------------...
"Astaga! Aku beneran malu banget, Al!"
Alan hanya bisa mendengus kesal. Sudah ratusan kali sahabatnya ini mengeluh seperti itu. Kini, mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.
"Udahlah, Sya. Yang penting mereka gak bakal salah paham lagi sama kita," ucap Alan mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Tapi, mereka pasti bakal terus ghibahin aku gara-gara udah nikah sama kakak kamu," lirih Natasya.
"Gak ada yang berani ngelakuin itu," kata Alan, "aku bakal hajar siapa aja yang berani ngomongin kamu."
Natasya langsung menoleh dan mencubit kecil lengan Alan.
"Aww! Kenapa dicubit sih?!" teriak Alan kesakitan.
"Kenapa kamu jadi suka main kekerasan gini sih?" cibir Natasya dengan wajah cemberut.
"Aku kan cuma pengen ngelindungi kakak iparku," balas Alan acuh.
Natasya mendengus kesal, "huh! Terserah kamu aja lah! Aku pengen cepat-cepat pulang dan ketemu anakku."
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan Natasya yang masih murung dan Alan yang tidak terlalu ambil pusing.
...----------------...
...Terima kasih Alan, karena sudah menjadi adik ipar yang baik untuk Natasya xixi:)...
...Jangan lupa like, komen, dan vote yaa 😊♥...