Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
64 : Trauma


Keesokan paginya, Natasya terbangun dan menyadari bahwa dirinya masih ditahan di dalam sel dingin itu. Ia menghela napas panjang sambil menatap langit-langit ruangan. Bayangan tentang kejadian mengenaskan kemarin selalu terlintas di pikirannya.


“Haah~ bahkan saat aku baru saja membuka mata, kejadian itu terus menghantuiku,” gumam Natasya lelah.


Pupil mata perempuan itu tampak bergerak ke kanan dan ke kiri dengan gelisah, Natasya mulai tidak fokus karena pikiran-pikiran yang ramai menghantui kepalanya.


‘Apa aku telah menjadi seorang pembunuh?’


‘… apa kamu akan membunuhku, Natasya?’


‘Jangan mendekat!’


‘Hiks… Mama… Ayo kita pulang…’


‘Padahal aku mencintaimu, Natasya… Kenapa balasanmu sangat menyedihkan?’


‘Mama… Bhala takut…’


‘Kalau kamu menembakku, bukankah kamu akan menjadi pembunuh?’


‘Jangan samakan aku denganmu!’


‘DOR!!!’


“Tidak!!!”


Natasya langsung terbangun dan duduk sambil berusaha menetralkan nafasnya yang terengah-engah. Suara-suara di kepalanya semakin ramai saja.


“Nona Natasya, anda baik-baik saja?”


Natasya menoleh ke arah seorang petugas polisi yang tampak khawatir di depan selnya. Natasya pun langsung berdiri dan berjalan tergesa-gesa mendekati polisi itu.


“Pak polisi! Tolong saya!” seru Natasya dengan panik, “sepertinya saya sudah gila. Kenapa di kepala saya penuh dengan suara-suara mengerikan? Tidak! Ini tidak benar! Saya sudah tidak waras! Saya tidak mau—”


“Nona! Nona Natasya, tolong tenang!” ucap polisi itu dari luar sel.


Natasya pun kembali fokus. Walaupun ia masih terengah-engah karena serangan panik, ia tetap mencoba fokus kepada polisi di hadapannya itu.


“Saya datang untuk menjemput anda karena psikiater yang akan membantu anda sudah datang,” ucap polisi tersebut.


“Psikiater? Benar! Bantuan dari profesional yang saya butuhkan sekarang!” seru Natasya.


Polisi itu tersenyum lega sekaligus miris melihat Natasya yang menyadari kondisinya sendiri. Kemudian, polisi itu pun segera membuka kunci sel Natasya dan membawa perempuan itu ke sebuah ruangan.


Cklek


Pintu terbuka. Di dalam ruangan, Natasya bisa melihat seorang perempuan seusia ibu mertuanya yang mengenakan jas putih khas dokter. Wanita itu tersenyum lembut ketika Natasya berjalan menghampirinya.


Ngomong-ngomong, polisi yang tadi mengantar Natasya ke sini sudah pergi. Sekarang hanya ada Natasya dan seorang psikiater yang sedang duduk berhadapan.


“Selamat pagi, Nona Natasya,” sapa psikiater itu dengan hangat.


“Selamat pagi…,” jawab Natasya dengan ragu.


Psikiater tersebut langsung mengerti dengan keraguan Natasya, “oh, panggil saja Dokter Aina.”


Natasya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya paham.


“Jadi, Nona Natasya,” ucap Dokter Aina memulai sesi konseling, “bagaimana kondisi anda saat ini?”


Natasya terdiam sambil merenungkan kalimat apa yang bisa ia sampaikan kepada profesional penyakit mental di hadapannya ini.


“Eum… buruk?” jawab Natasya ragu.


“Menurut Nona Natasya, apa yang membuat kondisi anda buruk?” tanya Dokter Aina.


Natasya tersenyum pahit, “apakah menurut dokter, saya bisa baik-baik saja setelah membunuh seseorang? Itulah kenapa saya ada di sini.”


Dokter itu memberi jeda sebentar sebelum lanjut bertanya, “Nona Natasya ingat kan, kalau anda melakukannya untuk melindungi diri anda sendiri dan juga anak laki-laki anda? Sepertinya kita semua sudah paham kalau itu adalah insiden yang tidak disengaja.”


Natasya mengela napas lelah, “tapi tetap saja, nyawa seseorang lenyap di tangan saya.”


Natasya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan, “saya sudah mencobanya, tapi… memaafkan diri sendiri ternyata tidak semudah mengucapkannya. Sekalipun saya berniat memaafkan diri saya sendiri, rasa bersalah itu terus menghantui kepala saya.”


“Memang tidak mudah, tapi patut diusahakan,” ucap Dokter Aina, “anda sudah memilih jalan yang tepat untuk memulai berusaha menyembuhkan trauma anda sendiri.”


Natasya hanya tersenyum menanggapi perkataan psikiater itu. Dari luar, Natasya memang tampak tenang dan sadar untuk terus berusaha menyembuhkan mentalnya. Tapi kenyataannya, sejak ia bangun tadi, otaknya penuh dengan memori-memori pahit akan kejadian tragi situ.


“Nona Natasya,” panggil Dokter Aina, “boleh saya bertanya satu hal yang mungkin akan membantu anda untuk memaafkan diri anda sendiri?”


Natasya mengangguk, “tentu saja.”


“Apa motivasi terbesar anda untuk sembuh dari trauma ini?” tanya Dokter Aina.


Natasya mencerna pertanyaan itu. Jawaban awal Natasya adalah dirinya sendiri. Ia ingin sembuh dari trauma agar dirinya bisa tenang dan tidak dihantui dengan suara-suara mengerikan di kepalanya. Namun, ia baru saja menyadari bahwa ada motivasi yang lebih besar daripada dirinya sendiri.


“Bhara…”


...----------------...


“Hiks… Hiks…”


Suasana suram meliputi kediaman keluarga Adikusuma. Semua orang berkumpul di ruang keluarga sambil menatap sendu balita yang dipangku oleh sang papa.


“Bhara… makan dulu ya, Sayang,” pinta Anjani dengan lembut.


Anak laki-laki itu menggeleng lemah sambil mendusal di dada bidang Johnathan. Mereka semua bingung bagaimana menghibur Bhara. Sejak insiden kemarin, Bhara terus diam dan hanya menangis pelan, bahkan ia tidak mau makan.


“Bhara mau ketemu sama mama, ndak?” tanya Alan tiba-tiba.


Bhara pun berhenti sesenggukan dan menoleh. Kemudian, anak itu mengangguk samar.


“Kalau begitu, Bhara makan dulu ya?” bujuk Alan, “setelah itu, kita pergi ketemu sama mama. Oke?”


Anak itu mengangguk lagi. Anjani segera mengambil piring makan anak itu dari baby sitter di sana, lalu mulai menyuapi Bhara. Semua orang tersenyum saat melihat Bhara mau makan.


...----------------...


Hari sudah menjelang siang. Natasya baru saja menyelesaikan sesi konseling dengan psikiaternya. Perempuan cantik itu menatap dua butir obat penenang di tangannya. Ia tidak yakin kalau obat-obatan ini bisa membantu mengurangi kecemasannya.


“Haah…,” Natasya menghela napas panjang, lalu menelan dua pil tersebut.


“Semoga aku bisa menjadi lebih tenang,” gumam Natasya.


Natasya meminum obat-obatan itu, lalu duduk dan mencoba mengatur nafas. Kata psikiaternya tadi, mengambil nafas dalam-dalam bisa menenangkan pikirannya.


“Nona Natasya.”


Natasya membuka matanya dan menoleh ke arah petugas polisi yang baru saja memanggilnya dari luar sel.


“Iya? Ada apa?” tanya Natasya.


“Ada tamu yang sedang menunggu anda di depan,” ucap polisi itu.


“Banyak sekali tamuku,” kekeh Natasya, “siapa yang datang sekarang?”


Polisi itu tersenyum, “suami dan anak anda.”


Kekehan Natasya berganti dengan binar penuh harap. Natasya langsung berdiri dengan antusias, dirinya sangat merindukan Bhara.


Sepanjang perjalanan menuju ruang kunjung, ia terus berharap semoga anaknya baik-baik saja. Anak manisnya itu pasti juga sangat merindukan dirinya.


...----------------...


Ada yang masih nungguin book ini ga???


Author lama banget ngilangnya huhu... 😭😭 pengen cepet cepet selesaiin cerita ini biar gak punya tanggungan lagi, tapi malah makin hari makin sibuk.


Jangan lupa like dan komen yaa, biar author makin semangat nulis ♥♥😂