
'Ya jelas gak diijininlah Alleaa...pake nanya lagi!' rutuknya dalam hati. Jelas aja suaminya tak akan rela ia datang kesana, pikirnya.
"Gak boleh ya? Gak papa sih kl gak dibolehin ntar biar aku kirim kado aja" secepatnya Allea meralat.
"Boleh koq"
"Eh? Boleh?!" ulang Allea memastikan pendengarannya tak salah. Sandy mengangguk.
"Tapi koq..tadi kamu liat ke aku seolah gak ngijinin gitu?" lanjut Allea. Sandy kembali duduk dikursi sebelah Allea.
"Bukan gitu sayang. Tadi aku cuma kaya...yah, semacam takjub ajalah. Aku tadi juga sempat berpikir, misal wanita lain yang diposisi kamu, apa dia juga akan bersikap seperti kamu gini?" Sandy menggenggam tangan Allea.
"Seperti gini gimana maksudnya?" Allea tak paham.
"Yaa...kan kita juga pasti gak lupa kaya apa Amira dulu ke kita. Tapi sikap kamu ke dia tetep manis kaya gini seolah udah lupa yang dia lakukan dulu, eh ini bukannya aku ngajak kamu jadi pendendam ya, bukan lho!" jelas Sandy mengeratkan genggaman tangannya.
Allea tertawa. "Iya aku paham. Tapi kan kamu juga tau, Amira sekarang bukan Amira yang dulu lagi. Dia udah tepati janjinya gak mengusik keluarga kita, dan aku lihat sikap dia lebih dewasa sekarang. Seenggaknya aku cuma kasih dia kesempatan, dia kan udah berusaha berubah. Jadi yaa ini hal biasa, bukan hal yang 'wahh' menurut aku.." terang Allea membuat Sandy tersenyum lembut.
"Memang gak salah ya aku keputusan aku dulu nikahin kamu cepet-cepet!"
"Iih...koq jadi gombal sih!"
"Beneran sayaaang.."
"Udah ah, balik ke topik! Jadinya gimana nih, aku beneran dibolehin gak nengok babynya Amira?" rengek Allea.
"Iya boleh, sayang. Memang kapan mau kesana? Terus sama siapa aja?"
"Mm...paling besok aja, bertiga sama mereka. Kan besok kuliah pagi selesai jam setengah sebelasan. Habis itu kita langsung kesana aja motoran.."
"No! Gak ada pake motor!" sahut Sandy membuat Allea memajukan bibirnya.
"Aku bonceng aja koq!" tawar Allea.
"Enggak sayang, pokoknya semua berangkat pake mobil. Besok aku minta tolong sopir kantor anterin kalian mulai berangkat kuliah sampai selesai urusan nengok baby.."
"Tapi.."
"Maaf, gak bisa ditawar nyonyaa!" sela Sandy lalu mengecup bibir Allea.
"Curang!"
"Koq curang sih? Kesana itu jauh lho, berangkat aja 45 menit kalo gak macet. Ini kan demi keselamatan dan kenyamanan kamu, juga teman-teman kamu. Dan buat dia terutama!" kata Sandy mengelus perut Allea.
Allea diam karena merasa perkataan suaminya ada benarnya.
"Udah ya aku berangkat, nanti siang berangkat kuliah aku antar" pamit Sandy meneguk tehnya lalu berdiri.
Allea ikut berdiri mencium tangan Sandy lalu lanjut cium pipi dan kening.
"Memangnya kamu gak sibuk?" tanya Allea mengantar Sandy keluar sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"Gak...malah sekalian jalan meeting diluar"
"Ya udah, hati-hati ya. Makasih papa..udah diijinin pergi besok. Love you!" kata Allea bersemangat.
"Iya sayang, love you too"
Allea lalu menundukkan kepala Sandy, mencium kening, hidung lalu turun ke bibir dan ********** nakal. Sandy yang sedikit kaget pun tak bisa menolak rejeki. Ciuman dari Allea adalah suntikan semangat dan energi baginya.
"Nakal.." bisik Sandy saat Allea melepas ciumannya. "Nanti kalo ada yang bangun gimana? Bisa-bisa gak jadi kerja!"
"Maaf papa.." Allea terkikik menyadari perbuatannya bisa membuat suaminya 'terpanggil'. Allea pun membiarkan Sandy pergi.
❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
Sandy tersenyum melihat foto yang Allea kirim ke chatnya. Allea tampak sedang menggendong bayi Amira.
[Udah cocok belum gendong baby?] tanya Allea pada chatnya ke Sandy.
Belum sempat Sandy mengirim balasan Allea sudah menelpon dengan video call. Sandy ragu-ragu menjawabnya karena ia malas misal nanti terlihat Amira disana. Tapi ia juga tak mau mengecewakan istrinya. Akhirnya ia memilih menjawab, tak peduli misal ada Amira. Tampak Allea masih memangku bayi Amira, Sandy tersenyum.
"Haii...namaku Zeefana. Lucu ya...lagi bobo nih" kata Allea pelan. Sandy tersenyum lagi, tak ia pungkiri bayi itu memang lucu dan menggemaskan.
"Udah cocok kamu Al jadi mahmud!" celetuk Nayla terdengar di sebelah Allea. Allea pun tersipu sementara Rania terlihat mengambil foto Allea yang tengah menggendong bayi.
"Kasian nih sayang, mommynya lagi pergi" kata Allea.
"Oh ya? Kemana?"
"Gak tau, katanya tadi ada perlu sebentar. Gak lama setelah kita datang tadi dia kaya terima chat gitu, terus pamit. Katanya sih gak jauh, mana omanya juga baru keluar belanja lagi" jelas Allea.
"Waduh..gimana tuh Amira. Kalo bayinya nangis gimana dong nanti?"
"Iya nih, harusnya salah satu dulu kalo mau pergi. Tapi kata suster sih ada asi pumping, itu lagi disiapin. Kacian kamu.." jawab Allea lalu mencium lembut pipi mungil bayi itu. Ia sedikit kecewa dengan sikap Amira pada bayinya.
"Oo gitu" kata Sandy datar.
"He'em, kalo gitu udah dulu ya sayang. Ini babynya mau aku taruh box aja, biar nyaman bobonya.."
"Ya deh, hati-hati ya.." Sandy pun mengakhiri panggilan.
Meskipun terlihat biasa saja tapi Sandy sedikit mencemaskan bayi Amira. Ada rasa khawatir entah kenapa, mungkin karena melihat bayi Amira tadi masih terlalu kecil tapi sudah ditinggal pergi dengan mudahnya oleh sang ibu. Biarpun ada suster yang menjaga tapi menurutnya tak seharusnya Amira bisa seenaknya gitu. Apa sebelum-sebelumnya Amira juga sering pergi keluar rumah? Apa Amira bertemu dengan lelaki yang ia lihat saat sedang berlibur dengan Allea dulu? Apa mungkin mereka diam-diam masih ada hubungan?
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Sandy. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Masuk!"
"Siang pak dirut!" ledek Mario tersenyum melongokkan kepalanya dari balik pintu sebelum akhirnya masuk.
"Eh...elu. Tumben"
Mario pun duduk dengan cengengesan di depan Sandy membuat Sandy mengerutkan kening.
"Kesambet lu? Mlengeh mulu dari tadi.." celetuk Sandy.
"Iya, kesambet senyuman!"
"Hah?"
"Eh lu tau gak yang pesen jersey dari CV. Mutiara ternyata ownernya cakep banget, gila! Duuhh...meleyot deh gue.." kata Mario berapi-api lalu menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.
"Tiara ya? Lah bukannya dia udah beberapa kali pesen di kita? Emang lu belum pernah ketemu?"
"Belumlah. Emang lu udah pernah?"
"Udah, dulu ketemuan bareng sama Allea.."
"Cakep kan? Cakep lah masa enggak!"
"Yaa..cakep dikit sih, masih banyakan Allea!" jawab Sandy nyengir.
"Huu...ya iyalah, bini sendiri pasti lebih cakep! Lha gue baru tadi ketemu di rumah produksi, kaget gue. Udah cantik, ramah, gak sombong lagi, beuhh..! Ternyata gak cuma di telpon aja tapi realnya juga memang begini!" kata Mario mengacungkan dua jempolnya.
Sandy tersenyum melihat Mario bertingkah tak biasa. Sepertinya sahabatnya ini sedang jatuh cinta.
"Gue pengen ngajak dia jalan nih, San. Tapi alasannya apa ya?"
"Jadi lu kesini ini cuma mau nanyain ini?"
"Iya, nengokin bayinya Amira.." jawab Sandy singkat sambil memasukan map laporan ke laci mejanya.
"Sama siapa Allea? Koq lu gak nemenin?"
"Sama Nayla dan Rania. Gak papa, udah dianter supir tadi. Lagian gue sejam lagi ada meeting"
"Eh, gue denger Allea hamil? Emang bener San?" tanya Mario menyelidik.
Sandy tersenyum simpul. "Tau dari siapa lu?"
"Ya ada lah. Bener gak?" kejar Mario.
"Iyaa, bener"
"Waduuhh...finaly tokcer juga! Congreeett broo! Udah berapa bulan emang? "
"Udah masuk tiga bulan. Eh, tapi lu jangan ngember dulu!"
"Enggaaak, tenang aja!"
"Awas ya kalo sampai bocor ke grup alumni kampus!" ancam Sandy.
"Emang kenapa sih? Kan kabar bagus!"
"Iya, tapi gue gak mau show off dulu. Ntar juga pada tau sendiri" jawab Sandy.
"Iya siap. Oiya, Allea ngidam apa btw?" tanya Mario kepo.
"Gak ngidam. Allea emang bumil paling enak pokoknya!" jelas Sandy tanpa ingin Mario tahu bahwa dialah yang ngidam semenjak Allea hamil.
"Masa sih gak ada ngidam?"
"Iya, paling cuma pengen apa gitu, itu pun gampang nyarinya. Pokoknya gak nyusahin deh!" kata Sandy berkata semeyakinkan mungkin tapi malah membuat Mario curiga.
"Masa sih?"
"Gak percaya ya udah!"
Klunting. Ponsel Mario berbunyi tanda chat masuk yang seketika membuat wajahnya cerah.
"Yess!!"
"Kenapa lu?"
"Tiara chat gue, katanya habis ini pengen ketemu, ngomongin order tambahan jersey! Akhirnya pucuk di cintaaa...yess!" kata Mario mengepalkan tangannya ke udara.
"Jangan langsung seneng, liat aja dulu nanti dia datang sama siapa?" kata Sandy menggodai.
"Ya pasti sendiri lah, orang mau ngobrolin kerjaan!"
"Makan siang kan diluar jam kerja, emang dia bilang kalo mau datang sendiri?"
"Yaa...gak sih. Tapi gue yakin koq!"
"Hati-hati...jangan terlalu yakin. Siapa tau nanti dia sekalian mau ngenalin calonnya" bisik Sandy membuat hati Mario sedikit mencelus.
"Lu nih, bisa gak sih ngasih sedikit aja suntikan semangat gitu kek. Malah bikin ciut aja!" sungut Mario.
Sandy terkekeh geli melihat raut wajah Mario yang berubah khawatir.
"Seneng ya lu bisa ngerjain gue? Puas bikin gue galau? Huu...!" kata Mario sambil mengambil parfum dari ranselnya lalu menyemprotkan ke beberapa titik bajunya.
Sandy yang tadinya terkekeh puas seketika merasa pusing mencium bau parfum sahabatnya. Ia pun mengernyitkan hidungnya.
"Genit banget sih lu, mau ketemu gitu aja pake parfum. Kaya cewek lu!" omel Sandy.
"Yaa...namanya juga usaha, dukung dong! Lu mau juga, nih.." jawab Mario lalu memberikan satu semprotan parfum ke lengan jas Sandy.
"Eeh...jangan! Gak enak banget sih parfum lu, ugh!" Sandy langsung menutup hidung merasa makin eneg mencium bau parfum Mario yang wangi menyengat.
"Eh, enak aja! Ini tuh parfum mahal tau, oleh-oleh dari Paris!"
"Ya udah sana lu berangkat!" usir Sandy sambil melepas jasnya yang terkena parfum Mario.
"Yee...emang kenapa sih? Ini gue nunggu dia otw dulu baru gue juga otw, biar bareng gitu!"
'Duh, jangan sampai gue mual-mual di depan Mario! Bisa gede kepala dia, kalo tau sumpah serapahnya dulu sekarang terjadi!' batin Sandy memijit keningnya.
Sebenarnya parfum Mario dari dulu sama dan wanginya maskulin. Tapi entah kenapa hidungnya sekarang aneh, rasa mual yang ia tahan pun malah semakin datang. Sekuat tenaga ia menahan rasa ingin muntahnya tapi seolah bau wangi parfum Mario semakin mendominasi ruangan. Beberapa kali ia coba mengatur nafas sampai ia tak sadar kalo Mario memperhatikannya dan makin curiga. Hingga Sandy pun akhirnya tak bisa mentoleransi lagi. Ia pun membekap mulutnya dan buru-buru lari ke wastafel toilet ruangannya. Seketika semua yang ada diperutnya pun keluar. Mario yang kaget spontan menyusul Sandy ke toilet.
"San, kenapa lu? Sakit?! Koq tau-tau begini sih? Kenapa?!" Mario mengguncang pundak Sandy.
Sandy belum bisa menjawab, perutnya masih terasa berputar-putar.
"Waah...jangan-jangan ngidam ya lu? Habis nyium parfum tadi kan lu jadi kaya gini? Iya kan? Ngaku?!" cecar Mario tak ada rasa kasihan melihat Sandy mual.
Sandy hanya menggeleng masih tak mau mengakui. Mario pun dengan jahilnya mengeluarkan ponsel lalu mulai merekam dengan gaya flog.
"Gaes, liat nih...masih inget kan temen kita yang ini? Inget doong, masa enggak? Dulu segala jenis gunung bisa aja dia taklukin, tapi giliran istri hamil eh dia yang teler. Waahh...ini kan namanya nyusahin istri ye kan gaes? Eh, tapi ini bukan semua salah dia sih, lebih tepatnya ini kaya kutukan gue gitu ke dia, hahaaa...mujarab juga mantra gue. Gimana menurut kalian, gaes? Komen dibawah ya..gue tungg-"
"Matiin, sialan!" kata Sandy setelah membersihkan mulutnya.
Satu percikan air pun Sandy lempar ke arah Mario tapi dengan sigap Mario menghindar. Melihat wajah tengil Mario, Sandy pun membalas dengan tatapan membunuh.
"Aduuh...gak bisa dong pak dirut, udah ke save nih! Sini dulu deh...sini..."
"Stop! Mundur lu!" kata Sandy sedikit membentak saat Mario mendekat akan merangkulnya. Hidungnya belum netral dan seolah terus mencium parfum Mario yang menusuk. Kalo Mario mendekat, bisa pingsan dia.
"Oke...oke, gue gak mendekat. Dan gue akan hapus vidio tadi asal.."
"Apa buruan?"
"Asaaall...setelah gue kirim ke grup alumni dong, gimana?"
"Awas aja ya lu kalo berani!" tunjuk Sandy membuat Mario terbahak.
"Eh, tapi emang bener ya ini lu yang ngidam gitu pas Allea hamil?" tanya Mario sembari mengekori Sandy yang keluar dari toilet.
"Kepo banget kenapa sih?" sahut Sandy sebel lalu menjatuhkan badannya ke sofa ruangan. Kepalanya masih berdenyut terbayang wangi parfum tadi.
"Kalo gak ngaku gue mau umumin nih ke staf karyawan lu di luar sana, setuju?" ancam Mario membuat Sandy tersentak bangun.
"Gak usah macem-macem deh, sana mendingan lu cepetan pergi keburu Tiara duluan datang!" jawab Sandy sambil menjejalkan lima lembar uang seratus ribuan ke saku kemeja Mario.
"Owh...pak dirut mau coba nyogok saya nih? Maaf pak, gak mempan!"
"Enggaaak...itu cuma uang buat traktir Tiara nanti. Apa mau uang bensin sekalian? Nih, sana cepet pergi!" Sandy terang-terangan mengusir setelah menambahkan tiga lembar lagi uang seratus ribuan. Mario melirik lembaran uang di sakunya lalu mengulum senyum.
"Untung gue ni rasa solidaritasnya tinggi sama teman. Ya udah kalo gitu gue pergi, biar lu gak makin pusing!"
Sandy mencibir lalu mengibaskan tangannya. Mario pun terkekeh lalu terpaksa meninggalkan ruangan Sandy walaupun sebenarnya ia masih ingin mengerjai sahabatnya yang tengah ngidam itu. Tanpa Sandy tau bahwa dari pak Roby lah Mario tau Allea hamil dan ia yang menganggung ngidamnya. Mario tau saat ia berpapasan di lobi tadi dan mereka ngobrol sebentar.
"Hhh....sialan tu orang!" kata Sandy menghembuskan nafas sambil mengumpati Mario yang sudah tak terlihat lagi. "Mana mau meeting lagi malah jas bau busuk! Masa meeting gak pake jas, huuffh.." gerutunya.
Tak berapa lama ia beranjak dari sofa menuju balkon ruangannya. Ia menghubungi Ananta yang tengah ada di luar kantor, meminta tolong dicarikan jas baru untuk meeting nanti. Setelah beres urusan jas ia menghirup udara segar sebentar di balkon untuk menghilangkan aroma parfum yang menempel di hidungnya. Sebentar kemudian Allea mengirim chat, mengabari Sandy kalo ia sudah on the way pulang ke apartemen. Sandy tersenyum membalas chat istrinya lalu masuk ruangan lagi menyiapkan berkas meeting.
Samar-samar ia menyimak berita di tv ruangannya, ada kecelakaan sebuah mobil masuk jurang dengan dua korban di dalamnya tapi belum di ketahui nasibnya. Sandy melihat sebentar ke arah tv, tampak mobil itu tengah di ambil dengan alat berat dengan kondisi yang parah dan sudah tak terbentuk. Sandy mengernyit melihatnya, ia seperti pernah melihat warna mobil itu. Tapi karena konsentrasinya terbagi, otaknya tak berhasil mengingat. Ia hanya angkat bahu lalu keluar ruangan membawa file ke ruang meeting.