Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
85. Masa Depan Suram


Mata Sandy beralih menatap layar ponselnya dengan sebal melihat Amira berusaha menelponnya berkali-kali. Setelah mengetahui faktanya ia makin merasa jijik pada perempuan itu. Ia benci hingga tak ingin bertemu bahkan berbicara padanya. Ia pun berusaha fokus lagi ke layar laptopnya. Tapi jika ia terus menghindarinya masalah ini gak akan cepat selesai. Dengan mendesah kesal akhirnya ia menjawab telpon Amira.


"Hallo?"


πŸ“±: 'Hallo, sayang...gimana? Kapan kita jadi menikah? Aku dengar papa kamu sudah membaik ya keadaannya?'


Sandy mengeraskan rahang mendengar suara manja Amira. Ia benar-benar muak.


"Kamu tenang aja, kamu tunggu, gak lama lagi aku bakal kasih kamu kejutan yang pastinya bikin kamu terkesan!" jawab Sandy datar berusaha tak terlihat marah.


πŸ“±: 'Soo sweet...tapi jangan lama-lama ya, aku udah gak sabar meresmikan hubungan kita! Baby kita juga udah gak sabar nih!' pekik Amira terdengar senang diseberang sana.


"Ya udah dulu ya, aku sibuk!"


Dengan geram Sandy mematikan telpon dan meletakkan kasar didekat laptopnya, ia memijit keningnya. Lalu ditekannya nomor ruangan Ananta untuk datang ke ruangannya membawa berkas yang ia minta.


"Pak, ini berkas-berkas yang bapak minta" kata Ananta begitu masuk setelah mengetuk pintu.


Sandy mengangguk menerimanya. "Ini sudah lengkap, Nan?"


"Iya pak"


"Kuasa hukum kita sudah paham kan?"


"Sudah pak, tinggal jalan kapan saja bapak mau. Hari ini pun bisa misal-"


"Jangan dulu Nan!" potong Sandy. "Saya pengen pakai copy surat ini untuk gertak mereka dulu. Kalo mereka tetap melawan, baru kita lanjut jalan.." lanjut Sandy diikuti anggukan paham Ananta.


Bersamaan dengan itu terdengar ketukan pintu yang membuat keduanya menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka itu. Dengan senyum cantiknya Allea melongokkan kepala kedalam.


"Eh, sayang.." sambut Sandy lalu segera membereskan berkasnya dan mengkode Ananta untuk menyudahi pembicaraan mereka.


Sandy langsung mendekat dan mencium pipi Allea begitu Allea masuk. Moodnya langsung sedikit membaik melihat Allea menghampirinya ke kantor.


"Kamu ini, ada Ananta juga!" bisik Allea malu sambil mencubit lengan Sandy.


"Biarin, orang kangen" jawab Sandy enteng.


Dengan tersipu Ananta pun mengangguk dan pamit kembali ke ruangannya. Allea tersenyum rikuh, ia mengangguk pula pada sekretaris suaminya itu. SandyΒ buru-buru menyimpan berkasnya ke laci mejanya.


"Kenapa sayang? Koq gak ngabari kalo mau kesini, emang gak ada kuliah lagi?"


"Gak ada sih, tadi cuma ketemu dosen aja buat persiapan memgajukan skripsi. Aku sebenarnya pengen ke rumah sakit tapi koq panas banget di luar.." kata Allea lalu berjalan ke sofa.


Sandy mengekor Allea yang menghenyakkan diri di sofa ruangan itu. Melingkarkan tangannya di pinggang Allea dan menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak istrinya.


"Kamu mau aku belikan mobil? Biar gak panas dan kena hujan kalo dijalan?" tawar Sandy.


Allea memutar bola matanya, sudah berkali-kali Sandy menawarinya untuk membelikan mobil. Tapi memang Allea yang tak pernah mau, karena menurutnya ribet apalagi jika terkena macet. Ia gak bisa leluasa dan mencari jalan tikus untuk alternatif.


"Gak ah, males kalo kena macet. Nanti bikin tambah repot!" jawab Allea sambil fokus ke ponselnya.


Sandy tersenyum geleng-geleng kepala mendengar jawaban Allea.


"Oke, gak papa kalo sekarang kamu masih menolak. Tapi besok kalo tiba waktunya, kamu gak boleh nolak aku belikan mobil!" ancam Sandy berseloroh.


"Hah? Memang kapan waktunya?"


"Ya kamu tunggu aja!" jawab Sandy lalu mengecup singkat bibir Allea. Allea pun meruncingkan bibirnya karena Sandy justru membuatnya penasaran.


'Tunggu aja sampai benih Sandy junior tumbuh di rahim kamu' batin Sandy tersenyum sendiri.


Coba aja misal wanita lain yang ditawari dibelikan mobil oleh suaminya, pasti kebanyakan akan menyambut dengan suka cita sejuta bahagia. Tapi tidak dengan istrinya yang istimewa ini, begitu sederhana dan selalu membuat orang kagum dengan pesonanya. Meskipun Allea tak melakukan hal yang menarik perhatian. Pantas aja Andre segitunya pengen merebut Allea darinya. Seketika wajah Sandy berubah masam, ia jadi teringat bukti yang ia dapat kemarin. Sekaligus ingin menanyakan kenapa Allea tak memberitahunya sampai saat ini. Sandy menegakkan duduknya lalu membelai rambut Allea.


"Mm...sayang, kita ke rumah sakitnya nanti malam aja ya. Lagian papa juga udah baikan, mungkin besok atau lusa udah bisa pulang" usul Sandy.


"Ya udah kalo gitu" Allea mengangguk setuju .


"Mm...sayang?"


"Iya, kenapa?"


"Tadi...Amira telpon aku lagi, dia masih ngotot aja minta aku cepat nikahin dia" Sandy mencoba memancing Allea.


Allea menurunkan ponselnya lalu menoleh dengan meruncingkan bibirnya.


"Terus kamu jawab gimana? Dasar cewek gak tau malu!" gerutu Allea.


Sandy menaikkan alisnya menahan senyum melihat Allea terpancing.


"Yaa...aku minta dia agar kasih waktu. Tapi, dia kaya agak maksa gitu, aku jadi bingung harus pakai alasan apa lagi?" jawab Sandy pura-pura memijit pelipisnya.


Allea diam sebentar seperti berpikir, sedetik kemudian ia menghela nafas.


"Besok kamu temui dia, bilang kalo kamu gak bisa dan gak akan nikahin dia. Pokoknya aku gak ijinin!"


"Ya tapi gimana, aku belum ada bukti yang valid buat bikin dia mengakui kalo itu bukan anakku?" Sandy melirik Allea sekilas lalu menggaruk alisnya.


"Mmm...sebenarnya..."


"Apa?" kejar Sandy karena Allea menggantung kalimatnya.


Allea tampak menunduk ragu. Sandy lalu memegang dagu Allea dan mengarahkan ke wajahnya. Sementara tangan yang lain menggenggam jemari Allea.


"Sayang, kalo ada yang mau kamu ceritakan aku siap dengarkan koq"


"Sebenarnya...aku, mmm...kamu lihat ini aja lah!" Allea mengulurkan ponselnya pada Sandy.


Sandy pun membuka-bukanya sekilas karena memang sebenarnya ia sudah melihat bahkan berkali-kali. Sejak diam-diam ia mengirimnya dari ponsel istrinya. Perlahan Allea mulai menceritakan awal ia mendapatkan bukti dari CCTV ruko Anthony. Lalu juga soal rencananya bersama Nayla hingga semua bukti lengkap sudah ia pegang saat ini.


"Kenapa kamu gak cerita ke aku?" tanya Sandy tanpa nada marah.


Sandy menghela nafas. "Jadi mesti dipancing gini baru mau cerita?" goda Sandy mencubit hidung Allea.


"Ya aku pikir, aku mau ketemu Andre dulu baru kasih tau kamu. Eh, malah si uler keket itu mepetin kamu melulu, gak tau diri! Kamu harus cepetan samperin dia dan tunjukin ini!" sungut Allea.


"Iyaa...besok aku mau samperin dia. Eh, tapi kamu mau ngapain ketemu Andre?"


"Ya aku pengen denger aja alasan dia, sekaligus kasih sedikit pelajaran!"


"Hah?! Kamu mau apain dia?"


"Ya gak tau deh nanti, yang penting ketemu dulu" Allea masih berwajah kesal.


"Jangan ngawur ah, aku takut dia apa-apain kamu lagi, sayang. Kaya waktu di apartemen dulu" Sandy mulai khawatir.


"Kata Nayla, dia udah menyesal. Sampai nangis-nangis gitu kan di depan Nayla. Kayanya gak mungkin bakal macem-macem lagi"


"Aku gak yakin ah, aku mau ikut kamu temui Andre pokoknya!"


"Gak usah, aku janji akan baik-baik aja. Kita juga ketemu di tempat umum koq" cegah Allea.


Sandy hanya melengos tak menjawab, dalam hati ia tetap berniat akan ikuti Allea diam-diam.


Β Β Β  πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ


Andre memaksa Nayla menemaninya saat Allea mengajak bertemu. Tapi NaylaΒ  menolak mentah-mentah karena ia tak ingin lagi ikut masuk lebih dalam pada masalah mereka. Lagian ia tak siap Andre membencinya jika sampai tau bahwa dialah yang memberikan bukti pengakuan Andre pada Allea. Dengan lesu Andre pun melangkah sendiri menuju tempat yang sudah mereka sepakati. Allea sengaja memilih bertemu di sebuah taman tak jauh dari pusat kota. Tempatnya sejuk biarpun siang hari karena banyak pepohonan dan tak begitu ramai. Tapi ditempat nyaman pun Andre tetap gelisah, tangannya berkeringat. Berkali-kali Andre tampak mengatur nafasnya menghalau gugup. Dalam hati ia mengutuki ulahnya sendiri, karena perbuatannya sekarang ia jadi merasa ketakutan untuk bertemu Allea setelah penyesalan itu muncul. Padahal dulu bertemu dengan Allea adalah saat yang begitu dinantikannya.


Andre duduk menunggu Allea di kursi semen yang melingkari pohon ketapang. Mobilnya pun terparkir tak jauh dari situ. Dua cup kopi latte sudah ia siapkan untuk teman saat mereka ngobrol nanti. Ia berharap Allea akan tetap hangat apapun yang mereka bahas nanti. Ya, Allea pasti begitu, pikir Andre lalu menyeruput kopinya masih sambil menerawang ke depan. Hingga ia sedikit terjingkat saat menyadari Allea sudah berdiri melipat tangan di dada.


"Eh, Al...kapan sampainya? Tiba-tiba muncul aja" sapa Andre berusaha tersenyum biarpun gugup.


"Baru aja koq" Allea tersenyum samar.


"Ini buat kamu" Andre menyerahkan satu kopi latte yang utuh pada Allea.


"Tengkyu"


Allea menerimanya lalu duduk disebelah Andre dengan gelas kopi diantara mereka.


"Kamu tau untuk apa aku ngajak ketemu?" tanya Allea setelah meneguk lattenya tanpa memandang Andre.


Jantung Andre auto berdegub lebih kencang mendengar pertanyaan Allea.


"Mmm...katanya kamu...ada yang mau diobrolin? Penting.." jawab Andre sedikit terbata sambil menggaruk kepala belakang yang tak gatal.


"Aku pengen tanya ke kamu" kata Allea menoleh dengan tatapan dingin.


"Tanya apa?"


"Tapi aku pengen kamu jawab jujur!"


Jantung Andre makin terasa melompat-lompat mendengar kata-kata Allea yang penuh penekanan itu. Fillingnya makin yakin kalo Allea akan membahas ulah busuknya.


"Gimana?" ulang Allea membuat buyar pikiran Andre. Andre mengangguk pasrah.


Allea lalu membuka ponselnya mencari vidio hasil CCTV dari ruko Anthony. Diputarnya didepan mata Andre sampai selesai.


"Apa benar itu kamu?" tanya Allea masih dingin tanpa senyum.


Andre terperangah tak bisa menjawab, ia meremas rambutnya. Ia hanya mendongakkan kepala frustasi.


"Kalo yang ini? Kamu ada hubungan apa dengan perempuan itu?" Allea memutar vidio dari Nayla saat Andre bertemu Amira di cafe beberapa saat lalu.


Andre terlihat makin gugup. "Itu, aku..."


"Yang ini juga.."Allea menyela lalu mendengarkan rekaman suara Andre yang mengakui perbuatannya, kiriman dari Nayla saat di apartemen Andre. "Kamu gak amnesia kan sama suara kamu sendiri?" tanya Allea menatap tajam Andre.


"Nayla..." bisik Andre kesal.


"Kamu gak perlu nyalahin Nayla, aku yang suruh Nayla! Gimana? Kamu masih mau cari alasan? Masih gak mau jujur kalo semua itu akal busuk kamu?!" Allea mulai emosi.


"Iya! Iya! Memang aku, aku dibalik itu semua Allea. Aku minta maaf.." Andre menunduk dalam.


"Kenapa? Kenapa kamu tega?!" Allea berdiri didepan Andre. "Jawab!" teriak Allea.


"Ya karena...mungkin mata aku terlalu ditutup obsesi keinginan buat memiliki kamu! Aku sadar ini salah, tapi...waktu itu aku juga gak bisa mengendalikan diriku sendiri, Allea...maaf"


Andre hendak meraih tangan Allea tapi dengan cepat Allea menepisnya.


"Obsesi kamu itu aku, tapi kenapa kamu juga ingin celakai kak Sandy? Dan secara gak langsung kamu juga membuat aku kehilangan calon bayi aku!" Allea mulai berkaca-kaca.


"Iya, itu hal yang paling aku sesali Al, aku minta maaf. Kamu mau kan maafin aku, kita mulai dari awal. Kita berteman lagi seperti dulu dan-"


Allea meraih kerah baju Andre. "Kamu pikir gampang minta maaf dan semua akan langsung kembali baik-baik aja gitu?! Nama baik suami aku gimana?Papa mertua aku bisa langsung sehat? Anak aku bisa balik lagi ke perut aku, gitu?! Uugh!" Allea spontan mengayunkan keras lututnya tepat di rudal milik Andre saking geramnya.


"Auwh...Allea, sakit!"


Andre jatuh terduduk dan meringis menahan ngilu di area kejantanannya. Tapi ia lebih sakit melihat air mata Allea akhirnya jatuh di pipi.


"Sakit, iya? Bangun kamu, bangun!" bentak Allea kembali mencengkeram kerah baju Andre membuat cowok itu mau tak mau berdiri sambil masih menahan sakit.


"Allea...aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku harus apa biar kamu maafin aku?"


"Andre...harusnya kamu bisa mikir dulu lebih jauh, sebelum melakukan semua hal bodoh itu! Biar gak sia-sia orang tua kamu sekolahin tinggi-tinggi tapi hasilnya malah punya anak berotak kriminal!" Bugg!


Allea melayangkan tinjunya ke perut Andre hingga Andre tersungkur pasrah dan terbatuk-batuk.


Allea mengambil tasnya dikursi semen lalu berlari sambil terisak meninggalkan Andre. Tak menggubris lagi saat Andre memanggil-manggilnya. Ia pun tak peduli jika pukulannya di rudal Andre akan membuat masa depan cowok itu suram. Malah Allea berharap akan benar-benar jadi begitu saking merasa sakit di hatinya.