Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
76. Gempuran Cobaan Bersamaan


"Nan?! Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Nan? Ananta?! Hallo?!" Ananta yang tak menyahuti teriakan Sandy membuatnya khawatir.


Sementara Allea yang akhirnya menyusul Sandy ke rumah sakit karena telah meresapi nasehat mamanya, buru-buru mendekat karena di lihatnya Sandy menelpon dengan sedikit berteriak.


"Sstt...kenapa teriak-teriak sih? Nanti ganggu pasien disini!" tegur Allea pelan.


Sandy menoleh seketika ada rasa lebih tenang melihat Allea datang.


"Kenapa?" ulang Allea seraya meletakkan tas bawaannya.


"Ini sayang...Ananta menelpon tapi terdengar seperti kesakitan gitu, pasti terjadi sesuatu ini!" jelas Sandy berdecak cemas.


"Memang dia lagi dimana?"


"Dia di jalan, tapi gak tau sampai mana. Tadi aku minta dia menepi untuk kirim foto bukti yang udah kita dapat, tapi malah begini padahal tinggal sedikit lagi, hhh...!"


Sandy mengacak rambutnya frustasi, ia berdiri menyandarkan tubuhnya sambil mendongak mencoba berpikir jernih.


"Tenang dulu.." Allea mendekat mengusap kedua pundak Sandy. "Orang kantor bagian IT ada gak yang bisa dihubungi? Coba minta tolong lacak nomor Ananta, biar tau posisi dia sekarang"


Sandy langsung menatap Allea lekat. "Cerdas! Cup.." tanpa permisi Sandy langsung meraih kepala Allea dan mengecup keningnya.


Allea pun langsung meruncingkan bibirnya membuat Sandy mengulum senyum lalu sedikit menepi untuk menghubungi bagian IT perusahaan dan menceritakan permasalahannya. Allea pun menggeser posisinya melihat kondisi mertuanya dari luar lewat sebuah kaca yang besar. Allea tak tega melihat begitu banyak alat yang masih menempel di tubuh mertuanya. Sudah hampir seminggu ini kondisi pak Roby belum ada kemajuan. Tiba-tiba Allea memicingkan mata memastikan penglihatannya tak salah. Pak Roby terlihat bernafas seperti tersengal.


"Kak! Sini sebentar!" Allea melambai tanpa memalingkan muka dari ruang ICU. Sandy yang baru saja menutup telpon segera mendekat.


"Kenapa?"


"Itu papa koq nafasnya tersengal gitu?"


"Astaga, papa! Dokter..dok..tolong papa saya dok!"


Spontan Sandy langsung memanggil dokter yang kebetulan melintas. Dengan segera dokter menuju ruang ICU diikuti Sandy dan dua suster.


"Maaf, biar diperiksa dokter dulu. Silakan tunggu di luar" kata suster menahan Sandy yang ingin ikut masuk.


"Tapi...papa saya sus.."


"Kak, sayang...kita tunggu dulu disini. Biar dokter yang tangani.." kata Allea membawa Sandy menjauh.


Mereka pun hanya bisa melihat dari kaca saat pak Roby di periksa. Dengan penuh kecemasan mereka menunggu sambil terus merapalkan doa. Tangan Sandy begitu erat menggenggam tangan Allea.


"Pah, jangan pergi pah, aku belum siap.." lirih Sandy dengan mata berkaca sambil tak lepas melihat ke arah ruang ICU.


Allea meletakkan wajahnya dipundak Sandy sambil mengusap lengannya memberi kekuatan, ia pun sedih melihatnya. Belum juga selesai urusan Ananta, sekarang papanya tau-tau makin drop begini. Kalo tadi ia tak menyusulnya kesini pasti saat ini suaminya tengah sendiri. Tak lama kemudian dokter pun keluar.


"Bagaimana kondisi papa saya dok?" tanya Sandy langsung.


"Maaf sebelumnya saya harus katakan ini, anda harus siap misal ada kemungkinan terburuk pada kondisi pak Roby.."


"Hah..?"


"Apa..?" bersamaan Sandy dan Allea tertegun.


"Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk papa saya!" kata Allea.


"Pasti, kami akan berusaha semaksimal mungkin, permisi " kata dokter mengangguk lalu masuk lagi ke ruang ICU kembali menangani pak Roby.


Sandy kembali berdiri menatap ke jendela kaca kamar ICU lagi. Tempat dimana sekarang papanya sedang ditangani dengan alat kejut jantung. Allea menoleh ke Sandy yang kali ini berwajah cemas dan kalut. Ia sendiri pun tak kalah khawatir.


"Sabar ya sayang, kita berdoa aja. Papa pasti kuat, kamu juga harus kuat!" kata Allea mengelus punggung suaminya.


Sandy mengangguk berusaha meyakinkan hatinya bahwa papanya akan bisa melewati semua ini. Tangannya merangkul pundak Allea agar lebih mendekat padanya. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi dari orang IT kantornya yang mengabarkan berhasil menemukan Ananta dengan mobil bagian belakang penyok parah dan Ananta yang tak sadarkan diri. Sekarang mereka dalam perjalanan mencari rumah sakit dan Sandy mengarahkan ke rumah sakit yang sama dengan dimana papanya di rawat saat ini. Agar nanti ia mudah jika ingin melihat keduanya.


Sandy menghela nafas panjang lalu memijit pelipisnya.


"Hhh....kenapa semua jadi begini..?"


"Ananta benar kecelakaan?" tanya Allea. Sandy mengangguk-angguk membuat Allea membungkam mulutnya kaget.


"Padahal selangkah lagi kita bisa lihat hasil tes itu, sekarang malah muncul masalah baru.." jawab Sandy kembali menghela nafas lagi untuk mengurai stress-nya. Allea menuntun Sandy duduk.


Baru kali ini Allea melihat suaminya begitu frustasi digempur beberapa cobaan pada saat bersamaan. Terlebih salah satunya Sandy sedang mengupayakan bukti yang ia minta. Apa pantas ia masih meneruskan bersikap dingin pada suaminya? Apa ia akan tega membiarkannya melewati semua ini sendiri? Allea memejam sambil menggeleng pelan. Tidak! Allea berniat mengalahkan egonya, mulai malam ini ia akan dampingi Sandy. Ia akan ikut berusaha menemukan bukti itu, bagaimana pun caranya. Allea gak akan membiarkan Sandy bersusah payah sendiri lagi, sementara ia hanya diam menunggu. Terlebih sejauh ini Sandy kelihatan begitu bersungguh-sungguh ingin membuktikan anak itu bukan benihnya. Matanya pun tak terlihat menyembunyikan kebohongan.


'Astaga...kenapa aku begitu bodoh hingga baru menyadari saat ini?!' Rutuknya dalam hati.


"Sayang.." panggilan Sandy menyadarkan pikirannya.


"Hmm..? Kamu butuh apa?" tanya Allea menoleh.


"Tolong peluk aku.."


Tanpa berpikir panjang Allea mengulurkan kedua tangannya memeluk Sandy erat. Mengusap kepala hingga punggung suaminya, memberinya kekuatan sekaligus sedikit meringankan beban di kepalanya.


"Kalo kamu penat, kamu boleh menangis koq.." kata Allea pelan seakan tau yang Sandy rasakan.


Benar saja, tak lama Sandy pun terisak dipelukan Allea selama beberapa saat. Menumpahkan semua emosi yang mengganjal dihati dan kepalanya hingga sedikit lega. Perasaannya begitu nyaman mendapatkan kembali pelukan yang ia rindukan.


"Aku janji, aku akan dukung kamu cari bukti sampai dapat. Aku juga akan temani kamu sampai papa sembuh.." ucap Allea membuat Sandy melepas pelukannya.


"Serius? Aku gak salah dengar kan?" tanya Sandy memastikan.


Allea menggeleng lalu mengusap sisa air mata di wajah Sandy juga keringat di dahinya. Sandy tersenyum haru lalu memeluk Allea lagi.


"Makasih ya istriku. Aku sayang kamu, cuma kamu.." bisik Sandy dengan suara tercekat penuh haru.


"Ehm...permisi, maaf.."


Suara dokter yang tiba-tiba membuat mereka langsung melonggarkan pelukan.


"Ya dok, bagaimana papa saya?" tanya Sandy.


Dokter menatap Sandy lekat lalu melepas kacamatanya sebelum menjawab.