Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
69. Membujuk Istri


"Tadi papa dengar ada yang hamil, siapa?"


Mereka pun saling pandang dan bingung mencari jawaban.


"Koq malah pada bengong sih? Siapa yang hamil?" ulang pak Roby.


"Ehm...itu lho pah, teman kuliah Sandy istrinya hamil" jawab Sandy sekenanya sambil memalingkan wajah dari papanya.


"Iya pah..Sandy kepengen ni pah katanya " kata Sherly menambahkan sambil cengar-cengir. Sandy langsung balas melirik sambil menyenggol lengan kakaknya.


"Makanya kencengin usahanya dong, papa juga nunggu dapat cucu dari kamu nih.."


Sandy hanya mendengus pelan mendengar pak Roby menggodanya.


"Iya pah, sabar. Allea kan belum boleh hamil dulu, habis keguguran waktu itu.." jawab Sandy pelan.


Dalam hatinya terasa sesak, mengingat Allea belum diperbolehkan hamil tapi sekarang ia malah tengah di tuduh menghamili perempuan lain. Gimana kalo sampai papanya tau hal ini? Sandy menghela nafas lalu beranjak menuju kamarnya, meninggalkan kakak dan papanya. Belum juga puas curhat dengan Sherly malah papanya muncul dan membuat hatinya makin gundah karena papanya menagih cucu darinya.


Di kamar ia merebahkan tubuhnya yang penat, hari ini jadi hari yang berat untuknya. Kepalanya sampai berdenyut memikirkan solusi agar semua masalah yang ada saat ini segera berujung. Ia harus menemukan cara untuk membuktikan kalo Amira tidak hamil anaknya. Agar pernikahannya dengan Allea tak berantakan, ia sama sekali gak siap kalo hal itu terjadi. Sandy memijit pangkal hidungnya lalu meraih ponsel, menghubungi Ananta. Sekretarisnya itu sudah mirip sahabat baginya sejak ia mulai bekerja di perusahaan papanya.


📱: Hallo pak? Ada yang bisa saya bantu?


"Nan..cb tolong kamu carikan info, bagaimana cara membuktikan anak dalam kandungan itu sedarah dengan kita!"


📱: Biasanya dengan tes DNA pak, itu pun kalo si bayi sudah lahir..


"Ckk...itu terlalu lama! Bisa gila dong nunggu berbulan-bulan! Maksud aku bisa gak di tes sebelum bayinya ini lahir, Nan?!" Sandy terdengar uring-uringan dengan suara tertahan. Tentu saja ia takut ada orang di luar yang mendengarnya, terlebih papanya.


📱: Owh..begitu. Coba nanti saya carikan info dulu ya pak.


"Segera ya Nan, aku tunggu!"


📱: Kalo sudah dapat saya langsung hubungi bapak. Mmm...memang buat siapa pak kalo boleh tau?


Tanya Ananta karena perintah Sandy begitu menggelitik jiwa keponya.


"Untuk sekarang kamu cukup carikan info saja dulu!" jawab Sandy lalu menutup telpon sepihak.


Pertanyaan Ananta membuat Sandy galau, ia bingung harus bercerita atau menunggu waktu. Sementara kepalanya sudah terasa ingin meledak saja.


"Ssshh...Allea.." desis Sandy sembari berguling memegang kepala dengan kedua tangannya.


Di raih kembali ponselnya untuk menghubungi Allea. Ini sudah menjelang malam, pasti Allea sudah lebih tenang, pikirnya. Sekali panggilan, dua kali, hingga tiga kali tak diangkat oleh Allea. Sandy lalu mengirim chat.


📱: [ Sayang, kamu di rumah mama ya? Aku jemput sekarang ya, kita ngobrol sambil diner di luar yuk..]


📱: [ Gak perlu, aku mau nginap disini. Kamu selesaikan aja urusan kamu sama perempuan itu!] ,balas Allea.


📱: [Allea...ayo dong, aku gak bisa begini terus...]


Allea tak membalas chat Sandy yang terakhir hingga Sandy ketiduran karena lelah dan lama menunggu balasan dari Allea. Saat Sherly mengetuk pintu untuk memanggilnya makan pun Sandy tak mendengarnya. Akhirnya Sandy terjaga saat sudah hampir jam sebelas malam. Ia tersentak bangun dan menyadari masih ada dirumah papanya tanpa Allea. Dengan cepat ia bangun dan mengirim pesan ke Allea kalo ia akan menjemputnya. Allea tak membalas. Pasti Allea sudah tidur, pikir Sandy yang tetap melajukan mobilnya menuju rumah mama Tiara. Ia harus berusaha membujuk Allea agar mau diajak bicara dan pulang ke apartemen mereka. Entah kenapa, tak biasa berjauhan seperti ini membuat hati Sandy tak tenang. Allea seolah sudah menjadi candu baginya biarpun mereka tak melakukan hubungan intim.


Sampai disana benar saja, rumah Allea sudah sepi dan terlihat gelap bagian dalamnya. Hanya lampu teras saja yang menyala. Sandy menelpon Allea beberapa kali tapi tak di angkat. Lalu ia mengirim chat, memberitahu Allea kalo ia ada di luar. Setengah jam menunggu sampai mengantuk Allea belum juga keluar. Kalo ia menekan bel takut nanti mengganggu mertua dan kakak iparnya. Sandy menghela nafas lalu duduk di kursi teras.


Langit yang sudah mendung sejak sore pun akhirnya menurunkan hujan cukup deras disertai petir sesekali. Membuat Allea yang tengah pulas terkaget bangun. Ia melihat jam di ponsel lalu membelalakkan mata saat membaca chat dari suaminya. Buru-buru ia keluar kamar dan membuka pintu. Terlihatlah Sandy yang tidur di kursi teras sambil melipat tangan kedinginan. Meskipun Allea sedang marah padanya tapi melihat pemandangan itu hatinya sedih dan iba. Sandy terlihat lusuh dengan masih memakai baju kerjanya tadi siang. Lelah dan penat pun tergambar jelas di wajah tampannya. Allea mendekat, perlahan mengusap tangan Sandy yang dingin.


Merasakan sesuatu yang hangat menyentuhnya Sandy pun terjaga, ia meyakinkan matanya kalo tak salah lihat.


"Allea?! Sayang!" Sandy langsung berdiri membawa Allea ke pelukannya.


"Kamu ngapain sih kesini hujan-hujan gini?" tanya Allea berusaha keluar dari pelukan Sandy.


"Ya aku mau jemput istriku pulang dong" jawab Sandy.


"Tidur di luar lagi, kalo masuk angin gimana?"


"Ya habis kamu dari tadi gak angkat telpon sih, aku gak enak kalo pencet bel. Takut ganggu yang lain sayang.." jawab Sandy.


Dalam hati ia senang, biarpun marah Allea tetap mengkhawatirkannya. Tiba-tiba terdengar bunyi kemrucuk dari perut Sandy. Allea mengernyit lalu melirik, Sandy pun cuma tersenyum kecut sambil mengusap-usap perutnya yang protes tak tau tempat itu.


"Hehe...belum. Orang tadi gak lapar" jawab Sandy.


Allea memutar bola matanya sambil berdecak. Ia pun menarik Sandy masuk, menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya.


"Kamu mandi dulu ya biar seger" Sandy pun tersenyum menuruti. Ia mendekat ingin mencium pipi Allea tapi Allea langsung mengangkat sikunya menjauh. Sandy hanya mendengus tersenyum. Selesai mandi Sandy menyusul Allea lagi ke meja makan. Allea melirik suaminya yang sudah terlihat fresh dan wangi sabun mandi memakai kaos oblong hitam dan celana pendek abu.


"Makan dulu ya, bisa kena maag nanti kalo telat makan.."


Allea mengambilkannya makan tanpa bertanya dulu dan membuatkannya teh jahe biarpun Sandy tak meminta. Sandy mengulum senyum, hatinya bahagia bercampur haru. Istrinya yang tadi siang marah besar dan ngambek padanya seharian ini masih mau melayaninya. Bahkan menungguinya makan hingga selesai biarpun sambil menahan kantuk. Lalu pria bodoh mana yang gak akan memperjuangkan wanita seperti Allea? Pantas saja Andre sampai gila karena terobsesi, batin Sandy makin tak ingin kehilangan.


Di tatapnya Allea yang memejam sambil meletakkan kepalanya di meja makan beralas kedua tangannya. Perlahan Sandy mengelus rambut Allea membuat Allea membuka matanya lagi.


"Udah makannya?" tanya Allea menegakkan badannya lalu menggeliat.


"Udah sayang, makasih ya udah ditemenin" jawab Sandy lalu meneguk teh jahenya beberapa kali.


"Ya udah, habis ini kamu pulang aja ke tempat Amira" kata Allea sewot.


Sandy langsung terbatuk-batuk, kali ini Allea tak mengusap punggungnya seperti biasa. Malah menguap sambil menutup mulutnya.


"Kamu ngomong apaan sih? Aku tuh kesini pengen jemput kamu sayang"


"Dia lebih butuh kamu!"


"Tapi dia bukan istriku, kamu yang istriku. Dan cuma kamu sampai kapan pun!"


"Tapi dia sedang hamil anak kamu!"


"Alleaa...tolong dong kamu jangan buru-buru percaya hal yang belum jelas. Aku pengen kita bicara dengan kepala dingin, please!" kata Sandy masih berusaha membujuk Allea.


Allea menghela nafas kasar lalu beranjak.


"Kamu mau kemana?" tanya Sandy menahan tangan Allea.


"Tidur, aku ngantuk!"


"Aku ikut kamu ya. Besok pagi baru kita pulang"


"Enggak! Sana kamu balik ke tempat Amira!"


"Ya gak mau lah!"


"Pergi!"


"Aku di usir nih? Tega?"


Dan percekcokan mereka pun akhirnya membangunkan seisi rumah. Mama papa Allea pun memergoki perdebatan mereka. Arga yang juga terbangun melongokkan kepala lalu masuk lagi begitu tau ada Sandy di luar. Tapi tidak dengan orang tua mereka.


"Allea...Sandy? Ada apa malam-malam begini ribut-ribut?" tanya mama Tiara mendekati mereka.


"Kalian ini ada masalah apa sih?" tanya papa Raffanda di belakang mama Tiara.


Allea pun kembali duduk dan tertunduk. Begitu pun Sandy yang tak berani menjawab, hanya memandang ke depan sambil mengatupkan kedua tangan diatas meja.


"Ada yang bisa jelaskan ke mama papa?" tanya mama Tiara.


Sandy dan Allea saling pandang tapi mereka seolah enggan bicara. Terlebih Sandy yang kemudian terlihat memijit pelipisnya.


"Sudah mah, besok saja kita bicarakan lagi, sudah malam. Biarkan mereka istirahat dulu" kata papa Raffanda yang melihat wajah lelah menantunya.


"Besok mama papa tunggu di ruang tengah ya" kata mama Tiara diikuti anggukan keduanya.


Allea pun bergegas berdiri lalu berjalan ngeloyor ke kamar.


"Allea! Sandy jangan ditinggalin dong!" mama Tiara mengingatkan.


Dengan cemberut Allea berbalik lalu menarik tangan Sandy. Sandy mengulum senyum dalam hati ia berterimakasih pada mama mertuanya. Dengan senyum tipis Sandy berjalan merangkul Allea menuju kamar mereka. Setidaknya malam ini ia selamat tapi besok harus menyiapkan hati dan mental untuk berbicara jujur tentang masalahnya pada mertuanya.