
"Mas..aku pengen cerai!" isak Allea.
"Hah?!" Arga kaget setengah mati mendengarnya.
Allea mengangguk-angguk sambil terus terisak.
"Cerai gimana maksud kamu? Kamu lagi kenapa sama Sandy?! Ada apa dengan kalian?!" cecar Arga.
"Aku gak mau...dia tega..." lirih Allea terguncang.
Perlahan pelukan Allea pun mengendor, tubuhnya lemas dan mata Allea setengah memejam.
"Allea? Allea?!"
Arga menggoyang tubuh Allea yang tak lagi bergerak. Arga berdecak, antara khawatir bercampur panik ia membopong Allea ke kamarnya. Allea memejam tapi masih terlihat isakan kecilnya. Buru-buru Arga mengambil air putih hangat dan membawanya lagi ke kamar Allea.
"Allea...bangun, Allea?! Kamu jangan bikin mas takut dong..Allea?" Arga menepuk-nepuk pelan pipi Allea agar Allea sadar. "Allea?! Bangun sayang..!" ulang Arga.
Perlahan Allea melenguh lalu membuka matanya, ia kembali terisak.
"Mas.." Allea kembali memeluk Arga.
Arga mengusap-usap punggung adiknya lalu memberikan Allea minum. Allea meneguknya sampai habis dan kembali menenggelamkan kepalanya di pelukan kakaknya.
"Kamu ini lagi kenapa sih? Datang-datang nangis ngomong pengen cerai. Jangan sembarangan kalo ngomong..menikah itu bukan mainan. Beda sama orang yang masih pacaran.." kata Arga menasehati.
"Ya aku tau mas.."
"Kalo tau ya jangan gini dong, masalah apa pun bicarakan dulu baik-baik berdua sama Sandy. Pakai kepala dingin...jangan saling ngeluarin otot!"
Allea melirik ke arah kakaknya sambil masih menekuk muka.
"Mas gak tau sih.."
"Ya iya memang, orang kamu belum cerita. Sebenarnya masalah kalian itu apa?"
Lalu perlahan Allea bercerita dari awal muncul masalah hingga puncaknya siang ini. Arga tampak mendengar sambil mengerutkan kening.
"Kalo kaya gini apa aku gak pantas marah?" tanya Allea sedikit protes.
Arga menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Di genggamnya tangan Allea.
"Sebaiknya kamu jangan gampang percaya dulu.."
"Hah? Maksudnya? Semua ini masih kurang meyakinkan, gitu?"
"Iyalah...jaman sekarang, semua serba bisa direkayasa. Kalo bisa kamu pastikan sendiri, cewek itu benar hamil apa gak?"
"Kalo misal benar dia hamil?"
"Pastiin lagi, apa benar itu anak Sandy?"
"Ck...mas, orang udah jelas mereka begituan di hotel koq!"
"Jelas gimana? Emang kamu lihat sendiri? Enggak kan! Kamu cuma percaya karena lihat foto!"
"Mas belain dia karena sesama cowok, gitu?" tuduh Allea.
"Ya tapi masalahnya waktu itu dia lagi gak sadar mas, lagi mabuk berat!"
"Allea...kamu juga harus berpikir jernih dong menghadapi masalah. Jangan sampai kamu termakan hasutan orang yang pengen rusak rumah tangga kamu!"
Allea terlihat menghela nafas lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya.
"Kalo mas gak salah, si cewek ini dari sebelum kalian nikah udah sering muncul dan mengganggu kan?" Allea mengangguki pertanyaan Arga. "Makanyaa...wajar kalo dia kaya gini.."
"Wajar gimana?" kejar Allea.
"Ya dia pasti cari cara lah apa pun jalannya biar bisa kembali ke Sandy" jawab Arga.
"Aku cuma takut kalo dia benar hamil anak kak Sandy.." kata Allea pelan.
"Coba tanya ke hati kecil kamu, sekaligus kamu cari bukti..apa benar itu anak Sandy atau bukan?"
Allea diam tampak berpikir, lalu sedetik kemudian ponselnya berbunyi. Sandy menelpon, Allea hanya menatap layarnya saja lalu meletakkannya kembali.
"Kenapa gak diangkat?" tanya Arga.
"Aku masih belum pengen bicara mas. Aku pengen sendiri dulu.." jawab Allea lalu merebahkan diri lagi ke tempat tidur dan memunggungi Arga.
Arga hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Ia pun tak ingin memaksa, memang mungkin Allea butuh waktu untuk sendiri sejenak. Baru kali ini ia melihat adik semata wayangnya menangis sampai pingsan seperti tadi. Pasti Allea sangat terguncang menghadapi badai pernikahannya yang masih seumur jagung ini. Apa lagi mereka masih sama-sama muda.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Mas keluar ya, kalo butuh apa-apa panggil aja" kata Arga mengelus rambut Allea.
Allea pun mengangguk. "Makasih ya mas" ucapnya tanpa menoleh.
Arga pun keluar dari kamar Allea, lalu diam-diam memberitahu Sandy keberadaan Allea di rumah. Biar bagaimana pun Sandy berhak tau karena Allea masih tanggungjawabnya. Ia pun meminta agar Sandy jangan buru-buru datang menjemput dulu. Arga meminta Sandy memberi waktu untuk Allea menenangkan diri.
Di mobil, Sandy menghela nafas kecewa membaca chat dari Arga. Sandy sebenarnya malu, pasti kakak iparnya itu sudah tau masalah mereka. Lebih tepatnya masalah memalukan yang berasal darinya. Terpaksa ia menahan diri dulu dari keinginannya untuk menjemput Allea. Sandy membelokkan mobilnya ke arah rumahnya, ia ingat kak Sherly masih ada disini. Ia ingin berbagi beban pikirannya dengan sang kakak yang memang cukup dekat dengannya.
Begitu masuk rumah ia langsung di sambut oleh sang keponakan yang menanyakan kenapa Allea tak ikut bersamanya. Hati Sandy terasa teriris, sepertinya baru kemarin mereka bercanda penuh tawa bertiga. Tapi hari ini wajah dan hatinya sudah berganti mendung. Sambil menggendong Dio, Sandy mencari Sherly di teras belakang rumah. Sherly pun kaget melihatnya datang sendiri dan juga menanyakan Allea. Sandy tak menjawab, hanya menggeleng singkat. Melihat raut wajah adiknya, Sherly tau kalo ada yang tak beres.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Sherly.
Sandy pun menurunkan Dio lalu membanting punggungnya ke sofa empuk itu. Ia mendongak menatap langit-langit. Sherly pun menggeser duduknya lebih dekat pada Sandy.
"Allea marah kak.."
"Kenapa?" tanya Sherly.
Lalu Sandy pun bercerita dengan suara pelan tentang masalah mereka. Sherly yang tak menyangka mendengarnya langsung membungkam mulutnya kaget.
"Kamu nih ceroboh ya? Jelas aja Allea marah!"
"Terus aku harus gimana kak?" keluh Sandy menyandarkan kepalanya ke pundak Sherly. "Aku gak mau kehilangan Allea! Aku juga gak sudi nikahi perempuan itu! Itu bukan anak aku, hati kecilku bilang begitu" lanjut Sandy, suaranya mulai bergetar.
"Kalo gitu kamu harus bisa cari bukti, kalo dia bukan hamil anak kamu.."
"Siapa yang hamil?"
Mereka berdua spontan kaget dan menoleh. Pak Roby sudah berdiri di ambang pintu teras, di belakang mereka.
"Papa?!" kata mereka hampir bersamaan.