Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
32. Lampu Hijau


Hari ini menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Sandy, hari kelulusan kuliahnya. Ya, hari ini Sandy wisuda dan acaranya akan diselenggarakan di ballroom hotel bintang lima. Tentu saja ia mau Allea mendampinginya selain papanya. Allea juga dengan senang hati menyediakan waktu untuk Sandy. Bahkan kemarin Sandy pun membelikannya dress cantik warna pink pastel untuk dipakai Allea di acara wisuda hari ini. Rencana mereka akan langsung bertemu disana jam 9 pagi.


Allea sengaja minta Arga mengantarkannya ke hotel tempat Sandy akan wisuda. Mumpung pagi ini Arga sekalian ada acara searah dengan tujuan Allea. Pagi ini jalan sudah lumayan padat meskipun tak terlalu macet. Tujuan Allea sudah dekat, ia pun menatap dirinya di cermin yang ada di mobil.


"Udah cantik belum mas?" tanya Allea pada Arga.


"Mm...cantik gak ya?" goda Arga.


"Tinggal bilang cantik aja susah banget sih.." rengek Allea meruncingkan bibirnya membuat Arga terkekeh.


"Sini tambahin lima puluh ribu ntar baru mas bilang cantik" goda Arga lagi.


"Iih...nyebelin deh!" spontan Allea memukul pundak Arga.


"Aduh! Galak banget nih...iya iyaa...cantik, cantik banget!" kata Arga mencubit pipi adiknya, Allea pun menepis tangan Arga. "Udah sampai nih, buruan turun...ntar Sandy kelamaan nungguin" lanjut Arga menepikan mobil di depan teras hotel.


Allea tersenyum. "Siap ,tengkyu. Oiya mas, nanti gak usah di jemput..aku pulang sendiri aja" pesan Allea setelah turun.


"Okey...take care" sahut Arga.


"You too bro" balas Allea.


Allea bergegas jalan melewati lobi lalu masuk ballroom hotel, ternyata sudah banyak orang disana. Allea celingukan mencari keberadaan Sandy sambil mencoba menelponnya. Tak lama kemudian dari jauh Sandy melambaikan tangannya lalu berjalan mendekat. Allea tersenyum balas melambai.


"Aku belum telat kan sayang?" tanya Allea.


Tapi Sandy tak menjawab, ia malah melongo menatap Allea dari atas sampai bawah. Allea yang diperhatikan seperti itu jadi salah tingkah, ia merasa ada yang salah dengan dandanannya.


"Kenapa sayang? Ada yang aneh ya?" Sandy menggeleng.


"Dandanan aku kaya ibu-ibu?" Sandy menggeleng lagi. "Terus kenapa? Jangan bikin takut dong.." bisik Allea mengguncang tangan Sandy.


"Cantik...kamu cantik banget" kata Sandy. Dilihatnya lagi Allea dari atas sampai bawah, dress pink pastel berpayet dengan lengan sampai bawah siku dipadu heel hitam dan tas kecil senada. Rambut tergerai yang ditata sedikit curly, make up yang natural lalu di lehernya dipermanis kalung berliontin 'Queen'.


"Kak...ngeliatinnya jangan gitu dong" kata Allea malu. Sandy pun tersadar lalu tersenyum.


"Habis kamu beda banget, cantik. Kita masuk yuk, papa udah di dalam" ajak Sandy merangkul pundak  Allea.


Allea menatap Sandy sekilas lalu tersenyum. Hari ini Sandy juga terlihat beda, lebih tampan dari biasanya. Mungkin karena setelan jas yang ia pakai atau entah apa, Sandy tampak lebih berkharisma.


Sebelum sampai dikursi mereka berpapasan dengan Mario dan teman sewisuda lainnya. Mereka pun kagum melihat Allea hari ini yang tampak cantik girly.


"Udah jangan pada ngeliatin lama-lama..ini udah punya orang. Mendingan fotoin kita aja nih, tolong ya.." ujar Sandy memberikan ponselnya pada Mario masih melongo melihat Allea.


"Jangan gitu dong, malu.." bisik Allea.


"Gak papa sayang, tadi kan kita belum foto berdua. Lagian mata mereka pada pecicilan liatin kamu, aku gak suka!" jawab Sandy berbisik juga. "Ayo buruan Mario!" seru Sandy.


Mario terkekeh malu kemudian menuruti permintaan Sandy untuk memotretnya bersama Allea. Tak lupa mereka pun berfoto juga sebelum resmi memakai toga. Allea ganti mengambil foto mereka beberapa kali. Setelah di rasa cukup mereka pun mengambil tempat karena acara akan segera di mulai.


Allea cukup grogi harus duduk selama dua jam begini di samping pak Roby. Ini pertama kalinya ia menjadi pendamping acara wisuda bersama papanya Sandy. Tapi ternyata pak Roby cukup humble dan bisa mencairkan suasana. Hingga mereka mengobrol dengan akrab layaknya anak dan ayah di sela-sela acara. Pak Roby pun sempat meminta nomor ponsel Allea, itu suatu hal yang tak biasa baginya. Karena hanya orang yang bisa mengambil hatinya saja biasanya akan ia mintai nomor kontak.


"Itu kak Sandy om.." kata Allea saat Sandy maju untuk menerima toga. Pak Roby mengangguk tersenyum.


"Jangan lupa ambil gambarnya ya nak, nanti kirimin juga ke papa" kata pak Roby. Allea mengangguk canggung.


Papa? Kenapa pak Roby menyebut papa untuk dirinya? Apa berarti tandanya..? Allea mengulum senyum tersipu lalu fokus lagi merekam Sandy yang tengah berjalan menuju rektor yang akan mengalungkannya piagam. Seakan tau Allea memperhatikannya, Sandy menoleh dan mengedipkan sebelah mata. Allea tersenyum melambai sebentar lalu lanjut mengambil foto Sandy.


Selesai acara wisuda dan foto sana-sini, pak Roby berencana mengajak mereka makan siang bersama. Baru setelah itu ia kembali ke kantor dan Sandy yang akan mengantar Allea pulang.


"Kita makan di restoran milik relasi papa aja ya, pak Geri namanya nanti papa kenalin" kata pak Roby sembari mereka berjalan keluar hotel.


"Jauh gak pah dari sini?" tanya Sandy setelah mobil mulai jalan.


"Gak terlalu jauh, paling lima belas menit aja" jawab pak Roby yang duduk di depan samping sopir.


"Nanti aku antar pulang setelah antar papa ke kantor, gak papa kan sayang?" tanya Sandy.


"Gak papa, hari ini aku gak ada kuliah koq" jawab Allea.


"Oh ya, setelah ini rencana hubungan kalian ke depan apa?" tanya pak Roby tiba-tiba. Bernada hangat tapi serius, membuat Sandy dan Allea saling pandang.


"Maksud papa gimana?"


"Yaa...kan kamu sekarang udah lulus, kerja juga sudah sambil jalan. Papa sih pengennya kalian jangan cuma sekedar pacaran.." kata pak Roby.


"Oo...Iya sih pah, aku juga pengennya ada ikatan lebih dari yang sekarang.." jawab Sandy melirik Allea. Allea tersenyum malu. "Kamu juga pengen gitu gak sayang?" lanjut Sandy berbisik membuat wajah Allea memerah.


"Allea siap gak kalo papa dan Sandy ke rumah kamu buat melamar?" tanya pak Roby.


"Mm...Allea sih siap aja om" jawab Allea menahan rasa grogi sekaligus jantungnya serasa mau copot karena dua lelaki di dekatnya itu mengajukan pertanyaan serius.


"Kalo siap jangan panggil 'om' dong...panggil aja papa, ya?" kata pak Roby menolehi Allea. Allea pun ganti menoleh ke arah Sandy seolah mengadu lalu mengangguk mengiyakan.  


Mereka pun sampai di restoran yang di tuju. Tampak saat turun pak Geri sudah menyambut mereka di depan. Pak Roby pun mengenalkan Sandy dan Allea. Samar Allea mendengar pak Roby berbisik pada pak Geri menyebutnya 'calon mantu'. Allea jadi menoleh kearah lain menyembunyikan wajahnya yang tersipu.


"Mari masuk, tempat sudah aku sediakan di dalam" kata pak Geri.


"Lho bukannya ada yang outdoor mejanya Ger, enak yang outdoor kayanya?" kata pak Roby sembari mereka berjalan menuju meja.


"Iya benar. Tapi yang outdoor sedang full booking tiga hari ke depan untuk pemotretan iklan Rob, dari tadi pagi sudah ramai kru" jelas pak Geri.


"Oh ya? Wah, panen kamu" seloroh pan Roby lalu mereka tertawa.


"Bisa aja Rob. Kamu kalo pengen liat boleh, sambil nunggu makanan datang nanti.." tawar pak Geri.


"Oke...gampang, nanti aku kesana"


"Kalo gitu aku tinggal dulu ke dalam ya Rob. Sandy..Allea..kalian enjoy ya" pak Geri pun pamit masuk ke office restonya.


Setelah pak Geri berlalu mereka mulai melihat-lihat menu dan memesan. Allea pun pamit ke toilet, sementara pak Roby ingin berkeliling melihat acara pemotretan di taman outdoor resto itu. Letak toilet tak jauh dari sana tapi Allea tak tau kalo ternyata Andre yang pemotretan disana untuk iklan sepatu.


Andre sedang ngobrol sembari diarahkan oleh sutradara saat pak Roby mendekat karena tak asing dengan sang sutradara.


"Lho...Dani?!" panggil pak Roby.


"Lah...Roby!" sambut si sutradara.


Lalu mereka pun berpelukan sambil tertawa. Dua orang yang sudah berumur itu ternyata teman semasa SMA dan gak disangka bisa kebetulan bertemu disini. Andre pun hanya memandang heran sekaligus lucu melihat sutradaranya bereuni dengan teman SMAnya. Pak Dani pun mengenalkan Andre sebagai modelnya pada pak Roby tanpa ia tau bahwa pak Roby adalah papanya Sandy. Andre menyalami sebentar lalu pamit menepi ke tempat make up tak jauh dari mereka.


"Sukses kamu sekarang Dan, salut aku" ucap pak Roby mengacungkan jempolnya.


"Kamu dong yang sukses, aku mah masih sekedar kuli aja" canda pak Dani. Mereka tertawa.


"Kamu masih aja kaya dulu ya, suka merendah" ucap pak Roby. Mereka tertawa lagi.


"Kamu sama siapa kesini Rob?"


"Aku ceritanya tadi pagi habis menghadiri wisuda anakku, terus ini mampir kesini. Kebetulan yang punya resto ini relasi aku, Dan" jelas pak Roby panjang.


"Oh ya? Wah..udah sarjana anakmu, anak yang ke berapa?"


"Yang kedua, Sandy. Anak cowok satu-satunya.." lalu pak Roby melihat Allea keluar toilet, dipanggilnya Allea agar mendekat. Allea pun menuruti.


"Lho ini siapa?" Pak Dani tampak heran melihat Allea. "Bukan istri kamu kan?" goda pak Dani.


"Hush...sembarangan aja kamu!" Pak Roby terkekeh, Allea pun menahan tawa. "Ini Allea..calon mantuku" lanjut pak Roby membuat Allea makin kaget disebut begitu untuk kedua kalinya. Allea menyalami sambil menyebutkan namanya.


"Oo...cantik ya, pintar Sandy pilih calon istri" puji pak Dani membuat Allea tersipu.


"Iya dong, lihat dong siapa bapaknya Dan.." jawab pak Roby disusul tawa mereka.


"Jangan lupa undangannya besok ya Rob...kalo kamu mantu" kata pak Dani.


"Siap...nanti aku kabari pokoknya"


Pak Roby kini terang-terangan menyebutnya 'calon mantu', seolah sudah jelas memberi lampu hijau untuk hubungannya dengan Sandy agar selangkah lebih maju. Hati cewek mana yang gak bahagia mendapat restu seperti ini dari orangtua pacar, pikir Allea.


Sementara Andre spontan menoleh ketika nama Allea terdengar. Dari tempatnya duduk ia memicingkan mata seolah meyakinkan dirinya kalo yang ia lihat adalah Allea yang dikenalnya. Andre pun berjalan mendekat.


"Allea?"


"Lho...Andre? Kamu ngapain disini?" kata Allea sedikit kaget melihat Andre.


"Aku kan pemotretan disini Al.."


"Kalian saling kenal ya?" kata pak Dani dan pak Roby hampir bersamaan.


"Iya pak, kita memang kenal...kan kita.."


"Kita satu kampus" sela Allea sebelum Andre menambahkan kalimat yang ngawur.


"Oo gitu, koq kebetulan ya.." kata pak Dani.


"Iya..banyak yang kebetulan ternyata disini" imbuh pak Roby. "Tadi kita ketemu gak sengaja, sekarang calon mantuku juga gak sengaja bertemu temannya yang ternyata model iklan kamu" lanjutnya lalu mereka tertawa.


'Calon mantu?' batin Andre.


Andre lalu melihat pak Roby, ia menerka-nerka apakah ini papa Sandy?


"Kamu dari mana Al?"


"Aku tadi habis ke acara wisuda kak Sandy dan beliau ini papanya" bisik Allea menjawab pertanyaan di kepala Andre.


Andre pun manggut-manggut tapi hatinya menjadi gelisah dan campur aduk rasanya. Begitu mendengar pak Roby menyebut Allea calon mantu, pasti cepat atau lambat pak Roby ingin Sandy menikahi Allea. Dan kalo ia masih aja jalan ditempat seperti ini, bisa-bisa cuma akan gigit jari melihat Allea diikat dengan sah oleh Sandy. Andre mengusap wajahnya kasar..