
Sementara sampai di kantor, Sandy langsung berjalan akan menuju lift. Sebelum sampai di lift ia melewati ruangan karyawan, ia melihat beberapa karyawan tengah mengobrol santai sambil bercanda. Sepertinya salah satu dari mereka sedang ada yang membagikan oleh-oleh. Entah kenapa hatinya begitu tergelitik ingin mendekat terlebih mencium aroma buah yang menggugah selera.
"Pagi semua. Lagi pada ngobrolin apa nih?" sapa Sandy.
"Eh..pagi pak. Ini pak, Arini baru bagi-bagi sesuatu nih pak" jawab Nadia salah satu karyawannya.
"Oh ya? Acara apa memangnya, Rin?"
"Ehm..gak ada pak. Cuma kemarin weekend kan saya mudik ke Bogor, nah ini oleh-oleh dari sana.." jawab Arini.
"Oowh..." Sandy membulatkan bibir sambil menyapukan pandangan pada setumpuk makanan di meja Arini.
Ada roti Unyil, lapis Bogor Sangkuriang, manisan dan asinan Bogor juga ada. Tanpa sadar Sandy menelan saliva melihat asinan bogor yang menggugah selera baginya. Arini menahan senyumnya menyadari hal itu lalu mengulurkan satu bungkus plastik oleh-oleh pada bos tampannya itu.
"Ini buat bapak, biarpun sedikit tapi lumayan nanti buat oleh-oleh bu Allea pas pulang" kata Arini.
"Wah...makasih ya Rin, nanti saya sampaikan istri. Dia pasti senang!" kata Sandy, Arini pun mengangguk senang mendengarnya.
"Sama-sama pak"
"Kalo gitu, saya permisi ya. Sebentar lagi jam kerja sudah mulai, selamat kerja ya semua.."
"Ya pak, terimakasih.." sahut para karyawan sebelum Sandy berlalu.
Sandy masuk ke ruangannya lalu membuka bungkusan plastik oleh-oleh itu. Ujung bibirnya tertarik ke atas membuat senyum tampannya terulas. Ia menertawai dirinya teringat ucapannya tadi kalo oleh-oleh itu akan ia berikan untuk Allea. Padahal dirinya lah yang paling ngiler terlebih melihat asinan Bogor itu. Entah kenapa mulutnya tumben sekali begitu ingin menyantapnya, padahal sebelumnya ia gak terlalu menyukai makanan itu. Ia pun bingung sendiri dengan selera makannya beberapa hari ini.
Sementara di tempat lain, Allea sudah selesai membicarakan urusan orderan jersey bersama Mario. Jam sudah memasuki waktunya makan siang, mereka pun mampir ke restoran dekat rumah produksi untuk makan. Allea memesan menu dengan lauk lengkap tak lupa makanan penutup dan orange jus.
"Busyet! Segini ini habis, Al?" ucap Mario heran.
Allea terkikik malu. "Laper kak! Yuk ah makan!" jawab Allea tak sabar.
Mereka pun mulai makan sambil sesekali mengobrol. Ponsel Allea berbunyi, ada chat masuk dari Anthony. Allea tersenyum.
"Kak, ini Anthony bilang kalo pesanan jersey udah siap, boleh gak dia ambil langsung ke rumah produksi?"
"Sebenarnya gak papa, tapi gak enak Al. Masa dia ambil sendiri, kamu bilang aja, lebih baik kita antar sebagai bagian dari service kita ke customer, gitu"
"Iya juga sih kak. Lagian kan kita biasanya cek dulu sebelum customer ambil. Takutnya nanti belum di cek dia udah ambil lagi" kata Allea, Mario mengangguk setuju.
Allea pun membalas chat Anthony lalu belum sampai meletakkan ponselnya tapi sudah berdering lagi. Kali ini Sandy yang chat.
📱: 'Lagi dimana sayang? Udah makan?'
[Ini lagi lunch sama kak Mario. Kamu udah makan? Perutnya masih gak enak?]
📱: 'Oo...lunch dimana sayang? Perut udah enakan koq. Aku juga udah makan barusan, makan asinan Bogor pake lontong. Enak deh sayang..'
[Aku makan di resto dekat rumah produksi, enak nih menunya. Kapan-kapan kamu cobain juga besok sama aku. Tumben sayang, makan asinan Bogor?]
📱: 'Iya, tadi dapat oleh-oleh dari karyawan, pas banget lagi pengen. Ada kuenya juga nih, nanti aku bawa pulang'
Allea tak menjawab lagi hanya mengirim emoticon senyum dan kiss.
"Tumben" celetuk Allea membuat Mario menoleh.
"Apanya yang tumben?"
"Ini kak, si pak suami. Gak biasanya doyan asinan, ini sekarang malah makan siang asinan bogor pake lontong"
"Oh ya?" Mario menaikkan alisnya heran.
"Iya. Yang lebih aneh tu tadi pagi, katanya perut dia gak enak sampai mual-mual gitu habis minum susu plain. Eh gak taunya sebelum keluar apartemen minum susu vanila punya aku. Tapi malah gak papa, aku jadi penasaran, dia tadi sadar apa gak minum itu susu? Aku taunya juga pas dia udah pergi"
"Iya ya, aneh sih. Aku tau persis, Sandy itu paling gak suka vanila dari dulu, Al"
"Makanya itu kan kak!"
"Ada yang gak beres ini, Al."
"Hah?!"
"Iya! Kamu inget-inget coba, dia sempat kebentur apa gimana gitu mungkin, kepala dia?"
Pertanyaan Mario membuat Allea terbahak. Ia pikir Mario akan berbicara serius, Allea menggelengkan kepala ternyata dirinya yang terlalu serius menanggapi Mario.
🌷 🌷 🌷 🌷 🌷 🌷 🌷 🌷 🌷
Allea kembali heran melihat pagi ini Sandy tak menyentuh sarapan. Suaminya terlihat terburu-buru, Sandy mengambil teh yang ada di meja makan lalu membawanya ke ruang tamu sambil meneguknya. Ia memang sengaja menghindari meja makan karena perutnya kembali tak enak pagi ini.
"Sayang, aku berangkat ya!"
"Lah...gak sarapan dulu?" Allea bergegas menyusulnya ke ruang tamu.
"Nanti aja ya aku sarapan disana. Udah mepet nih jamnya, hari ini ada kunjungan dari beberapa kolega luar kota"
"Oo..gitu. Ya udah, hati-hati ya" kata Allea lalu mencium tangan Sandy dan mencium kedua pipi suaminya.
Sandy meraih Allea ke pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leher Allea dan menciumi aroma tubuh Allea yang segar. Allea menggeliat lalu mendorong Sandy mundur.
"Geliii.." rengek Allea manja.
"Biarin, aku suka. Aku suka bau tubuh kamu" jawab Sandy masih tak mau melepas pelukannya.
"Kenapa?"
"Ya suka aja. Gak tau kenapa kalo perut lagi gak enak terus peluk kamu gini, jadi obat ampuh"
"Lho emang perutnya gak beres lagi? Koq gak bilang?"
Sandy terhenyak, sebenarnya ia gak ingin cerita tapi malah kelepasan. Sekarang Allea jadi tau kalo ia kembali merasa tak nyaman di perutnya. Bahkan sampai ia tak berani menyentuh sarapan, takut perutnya akan menolak lagi seperti kemarin.
"Cuma dikit koq.." elak Sandy.
"Kamu yakin gak perlu ke dokter? Aku gak tenang lho kalo kaya gini.." kata Allea membelai rambut suaminya, ia sedikit khawatir.
"Enggak..aku baik-baik aja koq. Kemarin juga siangnya udah langsung baikan, kamu jangan khawatir ya"
"Janji ya kamu gak kenapa-napa?" Sandy mengangguk tersenyum, Allea lalu mencium kening suaminya. "Itu bonusnya. Ya udah, kamu berangkat aja kalo gitu.."
"Bonusnya dikit banget sih!" protes Sandy lalu membawa Allea mendekat dan mengulum bibirnya.
Allea ingin beringsut mundur tapi Sandy menahan tengkuknya, jadilah ciuman mereka sedikit lebih lama.
"Sayang..kamu ni ah! Katanya buru-buru?" Allea ganti protes saat Sandy akhirnya melepas ciumannya.
"Oiya, hehe..habis kamu sih kasih bonus pelit banget" jawab Sandy nyengir menambah kadar ketampanannya.
Allea memanyunkan bibirnya manja lalu memeluk Sandy sebentar.
"Eh iya sayang, nanti sebelum ke kampus aku mampir dulu ke rumah mama ya? Boleh kan?" kata Allea tiba-tiba teringat.
"Iya sayang, boleh dong. Nanti hati-hati ya" jawab Sandy lalu mencuri pipi Allea sebelum akhirnya suaminya menghilang dibalik pintu. Setelah itu ia pun masuk dan menuju kamar bersiap juga akan ke rumah sang mama. Ia gak sabar ketemu mama Tiara, kangen karena sudah hampir seminggu tak mampir kesana. Begitu selesai bersiap, Allea pun meninggalkan apartemennya menuju rumah orang tuanya. Untung pagi ini jalanan ramai lancar, tak terjebak macet sedikitpun. Jadi ia sampai lebih cepat.
Saat masuk dan memarkir motornya dipekarangan rumah, ia melihat mamanya tengah mengurus tanaman di halaman rumah.
"Eeh...nyonya kecil datang!" goda mama Tiara.
Allea terkekeh, mereka lalu berpelukan dan saling mencium pipi melepas kangen.
"Biasalah, ngurus tanaman. Kamu gak kuliah?"
"Nanti siang mah. Mama masak apa?"
"Hari ini bi Ina yang masak, garang asem. Lauknya perkedel sama tempe goreng"
"Wah...mau dong mah, kayanya enak nih!" kata Allea bersemangat.
"Pasti belum sarapan nih?" tanya mama Tiara menyelidik.
"Udah dong mah. Tapi denger menunya tadi menggoda banget, jadi gak tahan nih pengen makan!" kata Allea bersemangat sambil menggandeng tangan mama Tiara masuk.
Mata Allea berbinar penuh selera melihat menu dibalik tudung saji meja makan. Tanpa di komando pun ia bergegas mengambil nasi lengkap dengan lauk pauknya hingga hampir penuh di piring. Mama Tiara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat Allea yang begitu berselera.
"Hmm...rasanya beneran gini mah!" Allea mengangkat dua jempolnya ke depan mamanya.
"Suka?" Allea mengangguk.
"Kalo gitu, nanti mama kirimin ke apartemen, kan Sandy juga bisa ngicip"
"Gak usah mah"
"Gak papa, banyak koq"
"Ya udah, aku ngikut aja deh. Mama udah sarapan?"
"Udah tadi bareng papa sama mas Arga" Allea mengangguk-angguk lagi. "Mama perhatiin kamu lebih chuby sekarang?"
"Oh ya?" sontak Allea memegang kedua pipinya.
"Iya, pasti Sandy manjain kamu terus ya dengan makanan enak?" selidik mama Tiara.
Allea terkekeh di sela suapan terakhirnya.
"Dia itu hampir gak pernah ngelarang mah aku jajan atau makan apa pun. Selama itu bersih dan gak aneh-aneh. Dia kan maunya memang badan aku agak gemukan mah. Katanya aku terlalu kurus.." jawab Allea angkat bahu.
"Hmm...pantesan. Tapi ada benarnya sih. Memang kemarin kamu kelihatan kurang berisi"
"Kalo gitu otw berhasil nih nambah BB?" seloroh Allea.
Mereka tertawa, Allea beranjak membawa piring kotornya ke dapur yang tak jauh dari meja makan. Saat Allea mengambil minum di kulkas, ponsel di sakunya berdering. Rania.
"Hallo, Ran?"
📱: 'Hallo Al, kamu udah tau belum?'
"Ya belum lah, kamu aja belum cerita?" sahut Allea, terdengar Rania tertawa.
📱: 'Ini lho..katanya dosen kita pak Roni hari ini gak bisa datang, jadi kuliah hari ini ditiadakan ..'
"Oh ya? Emang ada apa gak bisa datang?"
📱: 'Katanya mendadak ada undangan seminar gitu'
"Ooo...ya udah deh kalo gitu. Kamu udah di kampus ini?"
📱: 'Iya udah, tadi sengaja mau ke perpus dulu jadi agak pagi datangnya. Malah dapat info kuliah ditiadakan..'
"O gitu. Eh iya, Nayla udah kamu kabari belum Ran?"
📱: 'Kamu belum tau juga?'
"Apaan lagi?" Allea menggaruk kepalanya yang tak gatal.
📱: 'Nayla itu rencana memang hari ini bolos. Katanya mau nengokin Andre di sel, Andre lagi sakit..gitu tadi dia bilang' suara Rania terdengar lebih pelan.
"Koq dia gak cerita ya ke aku?" Allea terdengar kecewa.
📱: 'Gak tau juga Al, mungkin dia masih gak enak sama kamu'
"Gak enak kenapa coba. Aku tau mereka itu akhir-akhir ini dekat, aku senang koq liatnya. Jadi sebenarnya Nayla gak perlu ngumpet-ngumpet atau ngerasa gak enak gini.." kata Allea.
Ia bingung dengan sikap Nayla yang seolah menyembunyikan hal itu darinya. Padahal ia jelas sudah memberi ijin misal Nayla ingin menjalin hubungan dengan Andre.
📱: 'Iya, tapi kan Nayla memang gitu. Anaknya gak enakan, coba aja lain waktu kamu ajak ngobrol, Al..' saran Rania masih memelankan suaranya.
"Iya deh kapan-kapan aku ajak ngobrol soal ini. Kamu lagi dimana sih, koq makin bisik-bisik aja suaranya? Masih di perpus?"
📱: Udah gak. Aku lagi masuk di minimarket dekat kampus ini
"Oo...mau cari apa, Ran?"
📱: 'Pembalut! Lagi 'dapet' nih, udah dulu ya..aku udah di kasir nih. Bye..' Rania mematikan telpon.
Mendengar kata 'pembalut' Allea tertegun, ponselnya ia turunkan perlahan dari telinga sembari mengingat-ingat. Sedetik kemudian ia membuka kalender di ponselnya lalu jarinya menghitung.
"Kenapa sayang?"
Suara mama Tiara membuyarkan pikiran Allea yang sedang mengingat tanggal terakhir datang bulannya.
"Ini mah, tadi Rania ngomong lagi beli pembalut, aku jadi ingat bulan ini haid aku ternyata udah telat.."
"Oh ya? Udah telat berapa hari?"
"Kalo sampai besok itu udah telat 2 minggu berarti mah!"
"Ya ampun Alleaa...koq bisa sih kamu gak perhatiin tanggal datang bulan?"
"Ya karena memang kadang telat 2 sampai 3 hari mah, jadi aku lupa kalo udah selama ini lewatnya. Aduh...aku beli testpack dulu kali ya mah, ke apotik depan"
"Eh, gak usah. Mama ada koq, sebentar mama ambilin.."
Mama Tiara lalu bergegas masuk ke kamar meninggalkan Allea yang melongo heran mendengar mamanya masih menyimpan testpack.
"Mama emang ada rencana mau hamil juga?" selidik Allea begitu mamanya tiba di dekatnya mengulurkan beberapa buah alat test kehamilan.
"Hush...kamu nih, ngawur! Mama tuh pantesnya punya cucu, bukan anak!"
"Ya terus, kenapa beli testpack? Mana banyak lagi.."
"Ini kemarin dapat dari PKK, untuk yang lagi program kehamilan atau pun enggak semua dapat. Kebetulan kan, ini semua buat kamu aja"
"Ini aku coba sekarang mah?"
"Harusnya paling bagus itu pagi waktu bangun tidur. Tapi gak papa sih, kamu coba satu dulu sekarang. Terus besok pagi di ulang lagi buat pembanding aja, hasilnya sama atau gak..gitu" saran mama Tiara.
Allea manggut-manggut lalu berjalan ke toilet sambil membaca petunjuk pemakaian di kemasan testpacknya. Mama Tiara menunggu sambil gelisah di luar toilet. Sampai lebih dari lima menit Allea tak kunjung keluar juga. Ia pun tak sabar karena penasaran.
"Al...sayang, koq lama?" Mama Tiara akhirnya mengetuk pintu toilet. "Kamu gak papa kan? Mama pengen liat hasilnya nih!"
Ceklek...
Pintu akhirnya terbuka. Dengan wajah bingung Allea keluar dari toilet.
"Mah, ini gimana koq begini hasilnya?" katanya sambil menunjukkan testpack di depan mama Tiara. Mama Tiara pun mengernyit.