
Sandy melajukan mobilnya seperti orang kesetanan menuju apartemen. Gak ada lagi yang ia pikirkan kecuali secepatnya ingin bertemu Allea setelah ia menerima chat berisi foto-foto vulgarnya dengan Amira. Saat ini pasti Allea sangat terpukul melihat foto itu. Sandy mengutuki Amira yang sengaja mengirimkan pula foto itu ke Allea. Ia tak ingin papanya juga tau hal ini, bisa-bisa ia ditendang dan tidak lagi di akui anak. Hanya karena ia meladeni Amira beberapa menit di cafe waktu itu, sekarang malah berbuntut panjang. Bahkan bisa saja merusak rumah tangganya.
"Aargghhh...! Shi***!" Bug, bug, bug!! Sandy memukul setirnya beberapa kali.
Ia marah, kesal bercampur takut. Marah dan kesal karena kebodohannya dan semua yang sudah terjadi. Ia pun takut Allea pergi meninggalkannya, apa jadinya hidupnya nanti kalo Allea pergi meninggalkannya. Sandy menggeleng kuat tak mau membayangkan. Secepatnya ia berlari menuju unit apartemen mereka setelah memarkirkan mobilnya.
Sandy pun langsung masuk karena pintu ternyata tak dikunci. Ia mencari Allea ke semua ruangan dan menemukannya tengah berdiri di balkon. Melihat jauh ke depan sambil menghapus sisa-sisa air matanya biarpun masih ada isakan kecil. Sandy langsung memeluk Allea dari belakang, melesakkan wajahnya di leher Allea sambil sesekali menciumnya. Allea berusaha berontak tapi malah Sandy makin mengeratkan pelukannya.
"Jadi itu yang namanya bualan?" tanya Allea dingin, air matanya pun kembali berdesakan. "Bualan dari orang gak penting yang nyatanya kamu tidurin?"
"Gak sayang, dengerin aku dulu!"
"Dengerin apa lagi? Apa lagi yang belum aku tau?!" Allea mulai terisak.
"Itu semua gak seperti kelihatannya sayang..!"
"Owh terus? Ada lagi adegan kaya gitu yang belum aku lihat?!" erang Allea disela tangisnya.
"Allea...please, percaya sama aku! Ayo kita masuk dulu, kita bicara di dalam baik-baik.." ajak Sandy masih menahan Allea yang tetap berusaha melepas pelukannya.
"Enggak! Aku mau ke rumah mama menenangkan pikiran!"
"Aku gak ijinkan kamu pergi!"
"Aku tetap mau pergi, dari pada disini stress terus-terusan kepikiran perbuatan kamu sama perempuan itu!" teriak Allea masih menangis terisak.
"Jadi kamu lebih percaya sama foto itu? Kamu gak percaya sama suami kamu, hemm?"
"Foto itu sudah menjelaskan! Apalagi yang bisa aku percaya dari kamu?!" geram Allea yang akhirnya bisa lepas dari pelukan Sandy dan berjalan masuk.
"Kenapa kamu gak mau dengarkan aku dulu Allea?" kejar Sandy mengikuti Allea masuk.
"Aku gak mau dengar apapun, udah cukup aku liat fakta yang ada di depan mata!" kata Allea membuka lemari baju mereka.
Tapi secepatnya Sandy menutupnya kembali dan mengangkat tubuh Allea ke ranjang, Sandy tak peduli Allea memberontak.
"Dari pada kamu nekat pergi lebih baik aku tiduri kamu!" kata Sandy gemas lalu menindih tubuh Allea dan mengunci kedua tangannya.
"Enggak! Sana kamu minta jatah mantan aja sama Amira lagi!"
Jawaban Allea makin membuat Sandy gemas, semakin terlihat marah Allea makin terlihat cantik baginya dan membuatnya bergairah.
"Aku gak mau orang lain, aku cuma mau kamu dan milik kamu! Tolong dong kamu dengar aku dulu sayang..!"
Allea pun tak lagi berontak malah menangis makin terisak. Melihat itu Sandy pun melepaskan tangan Allea dan menjatuhkan diri di sampingnya. Gairahnya pun seketika surut melihat Allea menangis nelangsa, Sandy lalu melingkarkan tangannya memeluk Allea. Membiarkan Allea menangis hingga hatinya lega. Dibawanya wajah Allea ke pelukannya lalu mulai menceritakan awal mula bertemu Amira di cafe hotel hingga ia tak sadarkan diri. Bahkan ia tak tau bagaimana bisa berada di tanah penuh ilalang itu bersama mobilnya.
"Aku bisa pastikan, aku gak melakukan hal bejat seperti di foto itu.."
"Ya karena memang aku yakin aku gak melakukannya sayang!"
"Aku mau bukti!"
"Aku pasti cari bukti buat kamu, aku akan cek cctv hotel dan menanyakan pada orang-orang yang malam itu ada disana. Tolong kamu kasih aku waktu ya?"
Allea diam tak menjawab, ia hanya mendongak menatap suaminya dengan mata sembab.
"Aku juga akan bikin Amira jujur kalo semua ini cuma rekayasa dia, aku janji!"
"Aku tunggu bukti, bukan janji!" kata Allea dingin dengan masih terisak kecil.
"Iya sayang, makanya kamu jangan pergi..ya?" bujuk Sandy. Allea pun masih diam tak menjawab.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
"Apa maksud kamu kirim foto itu ke Allea?! Mau cari sensasi, hah? Pengen pansos biar karir kamu makin naik, gitu?!"
Dengan marah Sandy langsung mencecar Amira saat mereka berjanji ketemu di salah satu cafe. Amira pun mendengus tertawa sambil mengibaskan tangan.
"Aku cuma pengen dia tau kalo suaminya ini ternyata masih bucin dan belum bisa move on dari orang yang dulu sangat dia puja dan-"
Brakk!! "Jangan asal bicara kamu!" potong Sandy menggebrak meja hingga membuat Amira terjingkat. Beberapa orang pun menoleh ke arah mereka.
"Hei...kalem dong. Emang kamu bener gak ingat kejadian malam itu? Aku yang berniat nolongin kamu dan ninggalin kamu di kamar hotel tapi malah kamu yang narik tangan aku dan...membuat semuanya terjadi! Kamu gak ingat?" cerocos Amira setengah berbisik mengingat mereka ada ditempat umum.
"Apa semua itu bukan bukti kalo kamu belum bisa lupain aku? Lagian siapa juga yang pansos, karir aku udah bagus jadi aku gak perlu buat sensasi apapun!" sombong Amira sambil merapikan rambutnya.
Sandy mendengarkan Amira mengoceh dan menatapnya tajam sambil melipat tangan di dada.
"Kamu yakin kemarin gak ada niat busuk buat menjebak aku? Buat apa juga kamu ambil foto-foto kaya gitu?" tanya Sandy dingin.
Amira terperangah tapi secepatnya ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Buat apa aku menjebak kamu? Aku ambil foto itu sebagai bukti kalo kamu yang udah ambil kesucian aku!" dalih Amira.
"Gak usah sok suci kamu!" sahut Sandy.
"Kamu pikir aku cewek macam apa?! Kamu tunggu aja, kalo sampai aku hamil..siap-siap nikahin aku!"
"Aku gak ngelakuin apapun! Sampai kapan pun aku gak akan nikahin kamu! Dan aku akan selidiki semua ini, kalo aku tau semua ini cuma rekayasa...aku akan tuntut kamu!" tunjuk Sandy ke wajah Amira lalu beranjak pergi dengan hati yang dongkol bercampur marah. Kalo aja Amira seorang cowok, pasti sudah habis ia hajar sampai tak berdaya.
Sandy pun menghubungi Ananta, meminta info perkembangan baru untuk kasus fotonya. Setelah berjanji pada Allea kemarin, Sandy lalu bergerak cepat meminta Ananta mencarikan orang untuk menyelidiki kasus foto beserta akar-akarnya. Sandy kali ini akan membuktikan pada Allea kalo ia tak mengkhianatinya, ia akan mencari bukti bukan hanya sekedar berjanji.