
Allea membuka matanya perlahan, ia tersenyum melihat Sandy yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Tangannya pun melingkar dipinggang Allea dengan posesif. Tidur mereka sangat nyenyak dan nyaman semalaman biarpun tak terjadi apa-apa. Disinilah mereka sekarang, di suatu resort mewah di puncak yang berudara dingin. Tepatnya di pinggir kota, dengan kamar yang hangat dan view pemandangan indah. Sandy benar-benar menepati janjinya mengajak Allea berlibur ke tempat yang belum pernah ia datangi. Sekaligus merayakan kehamilan Allea selain acara ulang tahun Sandy.
Rencananya siang ini mereka akan jalan-jalan menikmati udara sejuk dan pemandangan puncak, tentu saja dengan armada yang sudah disiapkan pihak resort agar Allea tidak kelelahan. Sandy jadi sangat protektif pada istrinya karena ia tak ingin kehilangan calon anak mereka untuk kedua kalinya. Selanjutnya, nanti malam keluarga akan datang menyusul mereka untuk acara diner bersama. Allea tak sabar memulai hari ini dan menghabiskan waktu bersama suaminya. Hatinya begitu bahagia diperlakukan selalu manis seperti ini oleh suaminya.
Ia menatap Sandy cukup lama lalu membelai rambut suaminya, perlahan Allea mendekat lalu mencium kening Sandy. Allea tersenyum, ia berniat sengaja mengusik tidur suaminya dengan menautkan hidungnya ke hidung Sandy lalu menggesekkannya. Benar saja, Sandy mulai melenguh terusik tapi kemudian bibirnya tersenyum biarpun matanya masih terpejam.
"Hei..papa, bangun..bangun.." bisik Allea. Hidungnya beralih ke pipi lalu turun ke leher Sandy membuatnya mengerang kecil.
"Bangun..." lanjut Allea masih coba mengusik Sandy.
Sandy akhirnya mengerjap dan membuka matanya, terlihat ia masih mengantuk. Tapi melihat wajah ceria istrinya, senyumnya pun terukir.
"Apa sayang? Kamu koq udah bangun sih?" Sandy kembali memeluk Allea dan memejam.
Tapi Allea malah sengaja kembali menggodai dengan menciumi telinga wajah suaminya hingga membuat Sandy tak tahan karena Allea membangunkan sesuatu. Diraihnya tengkuk Allea lalu memagut bibirnya tanpa ampun. Ciuman panas pun akhirnya terjadi dan sebenarnya itulah yang Allea inginkan. Entah mengapa sejak tau hamil, ia makin menyukai bercumbu dengan suaminya. Sandy makin intens menjelajah bibir Allea saat tau Allea menyambutnya. Mereka saling bertukar saliva dengan penuh gairah hingga Sandy sudah menindih tubuh Allea, tangannya pun mulai bergerilya merusak piyama Allea yang membungkus rapi dua mahkota indah milik istrinya. Beberapa detik ditengah mereka berciuman Sandy seperti tersadar, ia memekik sambil melepas ciumannya lalu dengan cepat menjatuhkan diri ke samping istrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Allea kaget sekaligus heran.
"Kamu perutnya gak papa kan, sayang? Maaf..Aku lupa kalo kamu hamil, duh!" kata Sandy mengusap lembut perut Allea, ia sedikit khawatir.
Allea tersenyum. "Aku gak papa sayang, babynya juga baik-baik aja"
"Bener?" selidik Sandy.
"Iya. Boleh koq kalo mau ditengokin " goda Allea.
"Gak ah sayang, aku belum berani. Besok aja ya setelah kita periksa yang kedua. Aku pengen tanya dulu biar dapat jawaban pasti" kata Sandy merapikan lagi piyama Allea yang berantakan karena ulahnya.
"Katanya gak masalah koq selama kita hati-hati melakukannya" hibur Allea menenangkan Sandy.
"Tunggu habis ke dokter lagi aja ya sayang, aq bisa tahan dulu koq demi anak kita" tolak Sandy halus lalu mencium perut Allea.
Allea tertawa kecil. "Ya udah terserah kamu aja, lelaki hebatku!" kata Allea mengacak rambut Sandy seraya mencium keningnya. Sandy tersenyum, ada rasa bangga dihati ia dapat mengalahkan hasratnya.
"Kita mandi aja yuk terus sarapan lanjut jalan-jalan, gimana?" tawar Sandy.
Allea mengangguk penuh semangat lalu Sandy beranjak ke kamar mandi lebih dulu. Ia tau Sandy sudah memuncak tadi tapi ia kagum suaminya bisa menahan diri sebelum memastikan bayi mereka akan baik-baik saja. Allea pun beranjak menuju balkon, menikmati udara pagi dan hamparan pemandangan kota yang terlihat dari balkon kamar. Ia menghirup udara segar dalam-dalam lalu menghembuskannya. Rasanya senang dan nyaman sekali.
"Kamu senang juga kan sayang? Papa pintar ya pilih tempat yang bagus.." bisik Allea tersenyum mengelus perutnya yang masih rata.
Tak lama terdengar pintu di ketuk, Allea segera berjalan membukakan pintu. Ternyata dari pelayanan resort.
"Selamat pagi, silakan breakfastnya bu. Sesuai request semalam, ingin sarapan di kamar ya?" sapa pelayan ramah. Troli makanan pun didorong masuk.
"Owh, iya betul. Letakkan disini saja, nanti biar saya yang bawa ke balkon"
"Baik. Jika menginginkan menu tambahan bisa telpon saja dan kami akan bawakan segera. Selamat menikmati sarapannya..permisi"
Oke, terimakasih mbak.."
Allea menutup pintu kembali setelah pelayan pergi. Ia lalu mendorong troli menuju balkon sambil tersenyum melihat menu sarapan yang menggugah selera di hadapannya. Persis seperti yang mereka mau ,roti isi daging, sandwich telur, croissan, buah potong dan orange jus, lengkap dengan teh jahe juga untuk Sandy yang biasanya morning sickness. Baru saja Allea selesai menata sarapan mereka di balkon sudah terdengar suaminya mual-mual. Allea menepuk pelan keningnya, ia tak tega kalo sudah mendengar Sandy mual seperti itu. Padahal ia yang hamil, tapi malah suaminya lah yang harus menanggungnya setiap pagi.
"Sayang...mual lagi ya?" Allea mendekat saat Sandy keluar dari kamar mandi.
Sandy mengangguk sambil tersenyum tipis, ia masih memegang perutnya.
"Maaf ya.." Allea lalu memeluk Sandy. "Aku yang hamil tapi kamu yang harus morning sickness" sungut Allea merasa bersalah.
"Eeh..ngomong apa sih? Koq bilang maaf..?"
"Ya habis aku gak tega lihat kamu kaya gini setiap pagi. Aku jadi merasa bersa-"
"Allea.."potong Sandy menempelkan telunjuknya di bibir Allea. "Stop. Jangan bilang gitu ya mommy cantik. Aku gak masalah menggantikan kamu morning sickness, justru aku menikmati. Ini kan perjalanan calon anak kita, dia pengen papanya yang rasain ngidam..ya udah gak papa!" jelas Sandy membuat Allea makin menenggelamkan wajahnya di dada Sandy.
"Jadi please, kamu jangan merasa gimana-gimana. Aku sama sekali gak keberatan, kita jalani aja ya. Lagian ini kan cuma beberapa bulan dan gak seharian juga aku mualnya, cuma pagi aja.." lanjut Sandy.
"Bener, kamu gak merasa terganggu?" tanya Allea.
"Enggaklah sayang. Demi anak kita, aku akan nikmati prosesnya. Lagian kan dulu aku pernah bilang pengen ikut ngidam, berarti ya udah gak ada yang perlu di sesali kan? Aku sama sekali gak terganggu, okey? "
Allea melingkarkan tangannya di leher suaminya. "Makasih ya sayang, aku beruntung punya suami sebaik kamu"
"Aku yang beruntung dong, bumil cantikku!" jawab Sandy menautkan hidungnya ke hidung Allea lalu mengecup bibirnya, mereka pun tertawa. "Sarapan dulu yuk? Pesanan kita lengkap kan?" tanya Sandy.
Allea mengangguk. "Kamu minum teh jahenya dulu ya.."
Mereka pun menikmati sarapan ditemani matahari yang mulai menyapukan sinar hangatnya. Sandy senang melihat Allea menikmati sarapan dengan lahapnya. Ia bersyukur Allea tak mengalami morning sickness, jadi calon anak mereka bisa dengan mudah mendapat banyak nutrisi. Ia jadi merasa makin rela menggantikan morning sickness istrinya. Untungnya pagi ini perutnya pun tak begitu mual, jadi makanan pun lumayan bisa ia nikmati.
Pemandangan di bawah terlihat mulai ramai, banyak orang beraktifitas seperti joging, bersepeda atau sekedar jalan-jalan pagi. Mata Sandy mengekori sepasang anak muda yang sedang bersepeda. Ia jadi rindu, ia ingat dulu seminggu sekali pasti mengajak Allea goes bareng dan memesan bubur kacang hijau saat mereka beristirahat. Sekarang keinginan itu harus ia tahan dulu karena tak mungkin mengajak Allea bersepeda dengan kondisi hamil. Jelas ia tak ingin terjadi sesuatu lagi pada calon anak mereka. Sandy menyesap teh jahenya lagi, sedang asyik memperhatikan dua anak muda tadi tiba-tiba Allea menepuk pundaknya.
"Sayang! Lihat deh sebelah sana!" seru Allea memalingkan wajah Sandy ke arah lain.
"Mana? Ada siapa sih?"
"Itu! Itu bukannya Amira ya? Coba lihat deh!"
Sandy memicingkan matanya dan benar, ada sosok Amira tengah berjalan dengan seorang pria paruh baya yang terlihat perlente. Amira memakai coat, syal dan topi kupluk di kepalanya. Perutnya pun sudah terlihat membesar tapi agak tersamarkan oleh coat panjangnya
"Oh iya, dia ada disini juga?"
"Iya, tapi dia sama siapa ya itu?" tanya Allea terbersit sedikit rasa khawatir.
Sandy angkat bahu. "Gak tau sayang. Udahlah, itu kan bukan urusan kita lagi. Amira itu juga udah dewasa, kamu gak perlu khawatir" jawab Sandy seolah tau apa yang dipikirkan istrinya.
"Sayang, lihat deh! Itu koq...kayanya mereka berantem ya?"
Sandy memutar mata dengan malas lalu melihat kemana istrinya menunjuk. Benar, Amira seperti sedang adu argument dengan pria itu.
"Oh iya.."
"Koq cuma 'oh iya' sih?" protes Allea.
"Ya terus aku harus apa dong sayang?"
"Ya aku kasihan aja. Emang kita gak mau berbuat sesuatu?"
Sandy tertawa. "Gak sayang, itu bukan ranah kita untuk ikut campur. Dia pasti bisa selesaikan urusannya sendiri.."
Allea berdecak, ia kurang setuju dengan jawaban suaminya. Sandy menggeser kursinya lebih mendekat ke Allea lalu membelai rambut halusnya.
"Sayang, tolong jangan paksa aku masuk lagi ke dalam semua yang berhubungan dengan Amira ya? Kamu masih ingat kan gimana dia membuat kita hampir terpisah?"
"Jangan ngajari anak kita jadi pendendam dong.." sahut Allea lalu mengelus perutnya.
Sandy tertawa melihatnya, tangan satunya terulur ikut mengelus perut istrinya. "Bukan gitu sayang. Justru ini papanya lagi ngajari anak kita buat waspada dan belajar dari yang sudah-sudah. Jangan sampai masuk ke lubang yang sama!"
Allea mencibir. "Lubang mana lagi itu? Bikin curiga deh!" celetuk Allea membuat Sandy terkekeh gemas.
Ia pun mengacak rambut Allea lalu membawa ke pelukannya meskipun Allea berusaha menepis.
"Udah ah, aku mau gantian mandi. Nanti kita kesiangan lagi jalan-jalannya, panas!" kata Allea sedikit sewot.
"Iya sayang, kamu mandi aja. Hati-hati.." jawab Sandy mengelus singkat perut Allea.
Selepas Allea menghilang masuk ke kamar mandi, Sandy menengok sebentar ke arah Amira berada. Tapi mereka sudah masuk ke mobil dan pergi bersama. Sandy mencebikkan bibir sambil angkat bahu, dalam hati ia tak kan mau lagi berurusan dengan Amira sedikit pun. Biarpun Allea sedikit ngambek, ia lebih memilih begitu daripada harus berhubungan lagi dengan perempuan itu. Sandy pantang balik kanan terlebih sudah pernah diberi kenangan pahit.
Mereka pun akhirnya menikmati long weekend dengan keceriaan seperti yang mereka inginkan. Malamnya pun acara berkumpul dengan keluarga besar sekaligus syukuran kecil karena kehamilan Allea juga berjalan lancar. Acara diner outdoor di depan resort dengan barbeque pun berlangsung hangat di dukung cuaca yang cerah. Sandy begitu lega melihat Allea ceria malam ini, untungnya istrinya itu tak ngambek lama-lama. Sandy perlahan mendekati Allea yang tengah bersama Stevie mengambilkan daging steak untuk adik iparnya.
"Sayang.."
Allea menoleh tersenyum. "Kamu mau steak juga?" Sandy menggeleng.
"Tengkyu steaknya kak Allea, aku ke meja lagi ya.." pamit Stevie sambil ngeloyor pergi seolah tau memberikan Sandy dan Allea ruang. Allea mengangguk balas melambai.
"Aku udah kenyang. Kamu masih mau makan?" jawab Sandy.
"Allea mengangguk. "Iya, aku pengen steak juga, gak papa kan?"
"Gak papa dong, bumil tuh bebas mau makan apapun!" jawab Sandy mengambil alih steak ditangan Allea sambil menuntunnya ke meja makan mereka.
"Nanti kalo aku gendut, gak papa?" rengek Allea manja.
"Gak papa sayaang..."
Allea tersenyum lalu mulai melahap makanannya dengan semangat. Sesekali ia menyuapi Sandy.
"Oh ya sayang, aku ada sesuatu buat kamu"
"Apa?"
"Surprise" bisik Sandy.
Allea memutar bola matanya. "Surprise apa lagi sayang? Aku jadi khawatir kalo kamu terus manjain aku gini"
"Khawatir kenapa?"
"Ya khawatir nanti aku jadi manja, makin tergantung sama kamu, gak mandiri lagi!"
Sandy terkekeh. "Justru itu yang aku mau. Aku mau bikin kamu makin nempel tiap hari, biar gak lari!"
Allea meletakkan alat makannya. "Aku mau lari gimana lagi? Orang udah kamu ikat sampai ke akar-akar hati koq!" jawaban Allea bernada pura-pura sewot tapi membuat Sandy tersenyum gemas hingga mencubit dagu Allea.
Sandy mengeluarkan dua helai kertas kecil lalu mengulurkannya di hadapan Allea. Tertulis pilihan hadiah disana tapi Allea tak bisa melihat, ia hanya disuruh mengambil salah satunya. Allea mengernyit.
"Koq aku mendadak jadi ngerasa kaya istrinya artis-artis ya? Suami mereka juga begini kalo kasih hadiah" Sandy mengulum senyum. "Kamu nyontek dari yang mana?" selidik Allea.
"Buruan nyonyaku sayang, aku nyuruh cepet pilih bukan interogasi!" sahut Sandy membuat Allea tersenyum menyeringai.
Tangannya lalu mendekat ke dua helai kertas itu dan ia mengambil salah satunya.
"Yess! Pass banget!" sorak Sandy tersenyum.
Allea buru-buru membalik kertas itu dan membacanya tapi ia malah justru terkaget menutup mulutnya yang ternga-nga.
"Enggak! Aku gak mau..." rengek Allea.
"Ya gak bisa dong, kan udah dipilih. Lagian kan hadiah itu gak boleh ditolak, harus diterima pokoknya!" jawab Sandy dengan senyum nakal. Ia tau istrinya akan begini, Allea memang beda dari wanita pada umumnya.
"Kamu ini, sengaja ya mau bikin aku gak mandiri?"
"Iya memang, bumilku memang harus extra dijaga, gak boleh terlalu mandiri. Makasih ya udah milih hadiah yang tepat!" jawab Sandy tengil menaik turunkan alisnya.
"Ya udah, habisin makannya. Aku mau telpon Ananta dulu, dia akan urus semuanya. Biar hadiah kamu bisa datang besok!" sambung Sandy mengelus rambut Allea sekilas lalu berdiri sambil mulai membuka ponselnya.
Allea tak menjawab hanya memasang muka bete lalu kembali melahap steaknya.