
"APA, KALIAN KISSING??!!" teriak Allea kaget lalu menutup mulutnya mendengar cerita Nayla.
"Ssstt...!!" buru-buru Nayla menaruh telunjuk ditengah-tengah hidungnya lalu celingak-celinguk mencari keberadaan Sandy. Allea nyengir.
"Kak Sandy lagi mandi, tenang aja!" kata Allea membuat Nayla menghela nafas lega.
"Eh, kak Sandy mandi? Rambut kamu juga basah nih, kalian habis ngapain hayoo..?" tanya Nayla menunjuk wajah Allea.
"Alah...gak usah mengalihkan topik!" Allea menampik tangan Nayla lalu mengulum senyum.
Nayla cuma cengar-cengir seolah bisa menebak. Untung aja Nayla tiba saat mereka sudah selesai bersenang-senang. Ya, sore itu memang akhirnya Nayla terniat sekali datang ke apartemen Allea. Karena hati dan pikirannya sudah tak tahan menyimpan sendiri kejadian malam itu saat di apartemen Andre. Mereka pun asik ngobrol di ruang tamu sambil ditemani cemilan.
"Kamu serius?" bisik Allea kembali ke topik Andre.
"Iyalah, masa aku ngarang cerita. Tapi ya...mungkin salah aku juga sih, gak mikir panjang.."
"Terus gimana? Dia minta maaf gak ke kamu atau ada ngomong apa gitu?"
"Gak tau, soalnya sejak itu aku langsung blokir nomor dia. Di kampus juga gak pernah ketemu.."
"Kamu sih, makanya lain kali jangan mau di rayu sama orang mabuk. Nolongin boleh, tapi jangan pake hati!" kata Allea menasehati.
"Gimana mau pake hati, orang hati aku aja udah dibawa sama dia..." jawab Nayla lalu dengan cepat membungkam mulutnya yang kelepasan ngomong soal perasaannya di depan Allea.
"Rebut lagi hati kamu, jangan mau dibawa sama orang kaya Andre! Awas aja ya kalo ada lagi kejadian kaya gini!" ancam Allea.
"Iyaa...emang kamu benci banget ya sama Andre?"
Allea menghela nafas sembari membanting punggungnya ke sandaran sofa. Lalu ia menceritakan kejadian beberapa bulan lalu saat ia diikuti Andre sampai ke apartemen. Sekaligus menceritakan sikap Andre padanya hingga membuat Sandy berkelahi dengan Andre. Nayla ternga-nga tak menyangka.
"Makanya...kamu hati-hati! Aku khawatir kalo dia apa-apain kamu juga, Andre tu udah mirip kaya orang sakit Nay.." kata Allea sambil menunjuk pelipisnya.
Nayla diam, hanya mendengarkan apa kata Allea. Meskipun ada benarnya, entah kenapa hatinya masih tak rela Andre dikatakan seperti itu.
Malahan jauh dihati kecil Nayla terselip rasa kasihan pada Andre. Pasti hatinya sudah tak lagi ada bentuknya sejak ditinggal Allea menikah. Dan soal ciuman itu yang ia sesalkan hanya saat Andre menyebut nama Allea, bukan namanya. Itu yang membuat Nayla kecewa..
❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
Nayla menutup mulutnya yang ternga-nga saat membuka lokernya. Ada dua batang coklat yang diikat dengan pita merah, ditengahnya ada note kata 'Maaf..'. Saat Nayla membalik note kecil itu ada nama Andre disana. Padahal tiap loker itu terkunci dengan pin, dari mana Andre tau pin lokernya? Apa Rania? Atau Allea? Ah..gak mungkin kalo Allea, pikirnya.
Nayla menimang coklat itu sebentar lalu memasukkannya ke tas setelah memastikan tak ada orang yang melihat. Dengan cepat ia menyelinap ke salah satu bilik toilet cewek dan melihat ponselnya. Ia menahan nafas lalu menghembuskannya sebelum memutuskan membuka blokiran kontak Andre untuk menghubunginya perihal coklat di lokernya itu.
Belum juga ia menelpon, puluhan chat dari Andre sudah berjejal masuk dari beberapa hari lalu. Yang intinya meminta maaf atas apa yang ia lakukan saat ia mabuk kemarin. Andre tak bermaksud kurang ajar padanya. Nayla memeriksa chat demi chat dari Andre yang isinya seolah mengemis maaf darinya. Hingga chat terakhir pagi tadi, Andre memberitahu soal coklat di lokernya dan ingin bertemu setelah selesai kuliah nanti. Hati Nayla kembali meleleh, ternyata Andre tak sepenuhnya buruk seperti penilaian Allea, pikirnya sambil tersenyum memeluk ponsel.
"Kalo aku keliatan senang, nanti dikirain murahan. Aku harus pura-pura masih marah nanti waktu bertemu Andre. Jual mahal dikit kan boleh.." gumam Nayla.
Ia pun keluar toilet sambil membalas chat dari Andre. Ia menyanggupi siang nanti bertemu berdua di suatu cafe, jujur hatinya jadi tak karuan dan deg-degan.
🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺
Andre dan Nayla sekarang tengah duduk berhadapan di cafe yang telah dipilih. Dan Andre pun juga sudah memesankan minuman kesukaan Nayla, strawberry fload.
"Buruan mau ngomong apa?" tanya Nayla berlagak ketus.
"Kamu...masih marah?" tanya Andre hati-hati.
"Menurut kamu?"
Andre menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
"Mmm, aku...beneran minta maaf Nay. Aku gak ada maksud.."
"Siapa aja yang udah kamu gituin pas mabuk?" sela Nayla.
Andre menggeleng cepat. "Gak ada Nay, sumpah! Baru kamu..." suara Andre memelan.
"Baru aku, tapi dipikiran kamu Allea gitu? Owh...apes banget ya aku!" Nayla membuang muka tapi dalam hati ada rasa senang mendengar Andre tak sembarangan mendaratkan ciumannya.
"Jangan ngomong gitu dong..aku kan lagi terpengaruh alkohol waktu itu" jelas Andre setengah berbisik. Nayla membuang nafas kasar.
"Terus solusinya apa biar kamu maafin aku?"
"Solusinya ya kamu move on dong! Buka mata kamu, pikiran kamu, Allea itu udah milik orang!" jawab Nayla.
"Ya tapi gak segampang itu.."
"Ya udah terserah kalo gitu, aku gak mau debat. Terus aja kamu kaya gini, biar makin menyiksa batin kamu sendiri!"
Nayla membanting coklat dari Andre dihadapannya lalu beranjak pergi.
"Nay! Wait...Nay!" teriak Andre tapi Nayla tak menggubris dan terus berjalan keluar cafe.
"Aargh!" Andre meninju meja lalu memijit keningnya frustasi.
Nayla pergi meninggalkannya bahkan kata maafnya pun tak diterima. Padahal sebenarnya Andre sangat butuh teman ngobrol cukup untuk sekedar di dengar. Ia ingin sedikit mengurai rasa penatnya yang makin hari makin terasa berat di kepalanya . Tapi ternyata Nayla yang dulu sangat peduli padanya, bahkan saat ia tak menghiraukannya, kini berbalik pergi seolah sudah tak peduli lagi..