Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
59. Terjebak


"Apa?! Tadi kamu ketemu Andre di kampus?" tanya Sandy sedikit kaget saat sore itu Allea menyusulnua ke kantor dan menceritakan.


"He-em.." Allea mengangguk.


"Kamu gak di apa-apain kan sayang? Dia gak macem-macem lagi kan ke kamu?" cecar Sandy.


Di periksanya tangan, wajah sampai leher Allea seolah teringat lagi apa yang Andre lakukan pada Allea dulu. Allea mendengus tersenyum lalu menurunkan tangan Sandy diwajahnya.


"Enggaak...dia gak ngapa-ngapain koq. Aku baik-baik aja sayang.." jawab Allea melegakan Sandy.


"Syukurlah kalo gitu. Kamu hati-hati ya, usahakan jangan sendiri kalo pas dikampus"


"Iya, jangan khawatir. Tadi dia bilang pas acara hiking nanti gak akan ikut. Katanya biar aku percaya dan ngerasa aman gitu" jelas Allea sambil angkat bahu.


"Oke kalo gitu, besok pas acara hiking aku antar berangkatnya. Aku pengen buktiin sendiri! Kalo dia sampai ikut, mendingan kamu yang gak usah ikut!"


Allea meruncingkan bibirnya bersiap ada kemungkinan kecewa tak ikut mendaki jika ada Andre. Padahal kegiatan itu sudah lama ia tunggu-tunggu.


"Satu lagi!" Sandy mengangkat telunjuknya.


"Apa lagi siih...?" rengek Allea.


Sandy nyengir, diraihnya tangan Allea.


"Sebelum berangkat besok, testpack dulu ya. Aku gak mau kecolongan dan kehilangan lagi. Siapa tau udah positif kan?" Sandy memelankan suaranya dengan wajah penuh harapan.


Allea pun tersenyum haru hingga tak tahan langsung menghambur memeluk suaminya.


"Tapi kalo negatif gimana?" lirih Allea dipelukan Sandy.


"Ya udah gak papa, berarti belum rejeki kita. Mungkin belum waktunya kita ditunjuk jadi orang tua" jawab Sandy menentramkan hati Allea.


Allea pun tersenyum, ada rasa tenang dihatinya sekaligus salut pada suaminya. Karena biarpun ia tau Sandy sangat menginginkan anak tapi suaminya ini juga tak menekannya. Sandy memang sangat mengharap tapi tetap mengalir saja dan tak mau membebani pikiran Allea.


"Oke kalo gitu, besok sehari sebelum hiking paginya aku test deh. Kalo positif aku rela koq gak ikut" kata Allea.


"Nah..gitu dong"


"Tapi kalo negatif-?"


"Aku siap gempur lagi tiap malam!" sambar Sandy berapi-api sambil mengepalkan tangan ke atas.


"Astagaaa...!" keluh Allea menepuk keras keningnya sambil menahan senyum merasakan suaminya yang malah berpikir mesum.


"Kenapa? Emang gak boleh?" tanya Sandy sok polos. Allea memutar bola matanya.


"Bukan itu! Sebenarnya aku pengen kamu bisa ikut. Kamu kan alumni mapala kampus. Pasti disambut baik sama semua misal kamu ikut hiking.."


Sandy terlihat berpikir. "Nanti aku tanya Ananta dulu ya sayang, tanggal itu ada acara apa gak. Kalo gak ada ya aku usahain, tapi kalo ada..terpaksa aku gak bisa nemenin, ya?"


"Iyaa suamiku yang mesum!" jawab Allea membuat Sandy terkekeh lalu dengan gemas mencuri cium pipi Allea.


      🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺


Hasil testpack Allea negatif dan mereka pun menerima dengan hati lapang. Oleh karena itu Sandy mengijinkan Allea pergi mengikuti kegiatan hiking. Allea telah selesai mengecek kembali barang bawaannya  sebelum berangkat sore ini. Berhubung malam nanti Sandy ada acara bertemu dengan beberapa klien jadi ia pun tak bisa ikut serta. Tapi ia tetap akan mengantar Allea sekaligus memastikan ada tidaknya Andre di kegiatan itu. Sandy harus memastikan Allea aman sebelum ia sendiri akan sibuk malam ini.


Setelah sampai dikampus Sandy ikut masuk dan mengecek daftar peserta yang fix akan ikut pendakian. Allea sampai menahan geram karena begitu semua tau Sandy alumni mapala kampus, para junior cewek makin dengan terang-terangan mengagumi bahkan ada yang minta ijin ingin berfoto segala. Tapi untungnya Sandy bisa menolak secara halus karena melihat wajah Allea yang berubah jadi jutek seolah siap menerkamnya.


"Sayang! Udah sana kamu pulang aja, kan udah jelas gak ada Andre?"


"Kenapa? Aku pengen tunggu mobil jalan dulu, koq di usir sih..?" jawab Sandy yang sebenarnya tau maksud Allea.


"Oowh, jadi seneng nih disini digilai sama junior cewek?" sewot Allea.


Sandy terkekeh. "Iya, soalnya kan kalo di apartemen cuma satu yang tergila-gila" jawab Sandy menggodai istrinya.


Allea langsung mencubit perut Sandy yang malah makin membuat Sandy tertawa.


"Bercanda. Iya deh aku pulang, kamu hati-hati ya. Kalo masih dapat sinyal kabari terus. Habis dari sini aku mau langsung persiapan buat acara nanti malam.." bisik Sandy sambil mengelus rambut Allea dan mengusap pipinya.


"Siap nyonya sayang!"


Sandy pun pergi setelah dengan cuek memeluk dan mencium Allea tak peduli ada beberapa orang yang melihat. Para junior cewek pun menatap Allea iri sambil menahan patah hati melihat perlakuan Sandy pada Allea.


Sedangkan Sandy dengan lega melangkah keluar kampus sambil menyunggingkan senyum tipis. Ia lega Andre tak termasuk dalam daftar peserta hiking hari ini. Ya, Andre memang sengaja tak ikut tapi Andre ada tak jauh dari kampus, ia melihat Sandy melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Andre pun tersenyum licik lalu menghubungi seseorang di ponsel.


"Siapkan rencana selanjutnya!" katanya sembari tetap mengawasi mobil kampus yang akan membawa mapala ke lokasi pendakian.


     🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃


Malamnya, Sandy melajukan mobilnya lagi ke hotel tempat acara meet n' great bersama semua klien perusahaan. Di lobi, Ananta yang sudah datang lebih dulu menyambutnya lalu mereka berjalan bersama menuju ballroom.


"Apa kamu tau nanti Mr.Adyaksa datang dengan siapa?" tanya Sandy pada Ananta sambil melangkah.


"Sepertinya cuma dengan asisten dan sekretarisnya saja pak "


"Pastikan gak ada orang lain selain yang berkepentingan di acara ini ya!" pesan Sandy lalu melambai ke arah pak Roby yang ternyata sudah ada di ruangan itu.


"Baik pak, selama acara berjalan saya bisa pastikan aman. Tapi maaf, nanti selepas acara dan sudah free itu diluar kewenangan saya" jawab Ananta. Sandy mengangguk paham.


Acara meet n' great memang berjalan dengan lancar tanpa ada campur tangan orang luar. Setelah acara gala diner Sandy berniat akan segera meninggalkan hotel dan kembali ke apartemen.


Pak Roby pun pamit pulang lebih dulu karena ada janji bertemu dengan teman lamanya setelah dari hotel.


Sandy bersiap keluar hotel bersama Ananta setelah berpamitan dengan klien lain yang masih ditempat. Sambil jalan ia mengirim pesan chat pada Allea, memberitahu kalo ia sudah akan meninggalkan hotel. Centang satu...pesan Allea belum terkirim. Pasti Allea masih dalam perjalanan mendaki, pikirnya.


"Pak Sandy!" seseorang memanggilnya.


Sandy menoleh mencari asal suara yang ternyata dari caffe disebelah loby hotel. Mr. Adyaksa melambai meminta Sandy mendekat, ia tengah bersama asisten dan seorang temannya. Lalu seorang wanita yang ternyata lagi-lagi Amira. Sandy pun menyilakan Ananta untuk lebih dulu pulang.


"Ada apa, sir?"


Mr. Adyaksa pun menyilakan duduk dan Sandy pun dengan terpaksa menurutinya.


"Kenalkan...ini pak William, teman saya. Pengusaha dari kota saya juga, beliau ingin kenal dengan anda" jelas Mr. Adyaksa.


Sandy pun berjabat tangan lalu mereka saling bertukar cerita mengenai perusahaan masing-masing. Pak William sebenarnya cukup humble dan terlihat baik. Ia juga menjamu Sandy dengan minuman dengan kadar alkohol rendah. Hingga tak terasa ditengah obrolan mereka Sandy sudah minum tiga gelas minuman. Ia pun masih bisa menguasai diri cuma yang membuat Sandy tak betah adalah cara Amira menatapnya. Amira yang berdandan sexy seolah menggodanya dengan tak henti menebar senyum manja.


Sandy pun berusaha cuek dan tak peduli. Beberapa menit kemudian Pak William, Mr. Adyaksa dan asistennya pamit pulang duluan tapi tidak dengan Amira. Ia menolak ajakan pulang dan berdalih ingin berbicara penting dengan Sandy. Sandy menghela nafas menahan kesal.


"Apa yang mau kamu omongin?" tanya Sandy sedikit ketus.


"Emangnya kamu gak bisa ya, ngomong ke aku tuh lebih manis dikit gitu?"


"Aku gak ada waktu buat basa-basi Amira, jadi tolong jangan berbelit-belit!


"San, please...aku cuma pengen kita-"


Sandy mengacungkan telunjuknya saat jemari Amira mulai mendekat ke tangannya.


"Tolong jaga sikap kamu!"


Amira meruncingkan bibirnya kesal, sebelum ia menjawab ponsel Sandy berbunyi. Ananta menelpon. Sandy pun berdiri sedikit menjauh dari Amira. Ia tak tau apa yang Amira lakukan pada minumannya selama ia membelakanginya.


"Sorry, aku harus buru-buru pulang!"


"San..aku kan belum jadi ngomong, please duduk dulu sebentar dong.." semerta-merta Allea berdiri dan kembali mendudukkan Sandy di kursi. Dengan cepat Sandy menepis tangan Amira.


"Amira..tolong ngerti dong, aku ini sudah menikah. Kalo ada yang lihat aku disini sama kamu, gak pantas dong!"


Amira menghela nafas kasar, Sandy lalu menghabiskan minumannya berniat pulang. Ia pun beranjak dari kursinya setelah menyimpan ponsel di tas. Tapi entah kenapa pandangannya berputar-putar, kepalanya terasa pusing dan berat. Sandy akhirnya kembali duduk dan menopang kepala dengan kedua tangan.


"Sandy? You okey?" tanya Amira sambil mengkibas-kibaskan tangannya didepan wajah Sandy.


Sandy pun menggeleng sambil memijit pelipisnya. Pandangannya mulai kabur, beberapa detik kemudian tubuhnya ambruk sambil setengah duduk. Masih terdengar samar-samar suara Amira memanggil-manggilnya tapi entah kenapa mata dan kepalanya begitu berat hingga semua gelap bercampur sepi...