
Di ruang kelas kuliah yang masih berlangsung, ponsel Allea bergetar beberapa kali. Menggelitik tangan Allea untuk membuka chat itu. Perlahan ia meraih ponsel lalu mengintip isi chat tanpa membukanya.
📱: [Aku hamil anak Sandy..]
📱: [Sandy harus menikahi aku!]
📱: [Kamu tinggal pilih, mau di madu atau di cerai?]
Dari Amira. Bagai di sambar petir di siang bolong, Allea langsung spechless, sekuat tenaga ia tahan air mata yang ingin berdesakan keluar. Sekuatnya pula ia menggiring hatinya untuk tetap tenang dulu paling tidak sampai kuliahnya selesai. Tapi memang tak mudah, Allea jadi tidak fokus dan gelisah, rasanya ingin cepat-cepat keluar dari kampus ini. Tapi apa yang harus ia lakukan setelah ini?? Apa memang dia harus memilih seperti isi chat Amira? Apakah suaminya juga sudah tau hal ini? Berbagai pertanyaan muncul di kepala Allea hingga membuatnya berdenyut. Berulang kali Allea mengambil nafas dalam dan menghembuskannya untuk menenangkan diri, biarpun tetap tak bisa. Untung saja kuliah tinggal setengah jam lagi selesai. Ia berniat akan langsung ke kantor Sandy setelah itu.
Sementara ditempat lain, Sandy pun menerima kabar yang sama melalui telpon. Tapi lain dengan Allea, Sandy menanggapinya dengan lebih santai biarpun ada sedikit keraguan di hatinya soal anak di perut Amira itu. Hatinya yang awalnya yakin tak meniduri Amira jadi gamang sekarang. Reaksi Sandy yang acuh membuat Amira naik darah. Amira mengancam akan menyebarkan berita kehamilannya itu ke seluruh kantornya. Itu yang lebih membuatnya takut, pasti semua akan kacau kalo sampai satu perusahaan tau hal itu. Dan Allea...apa Amira sudah memberitahu hal ini ke Allea juga? Bagaimana kalo Allea tau? Batin Sandy gelisah, padahal bukti yang Allea minta kemarin pun belum ia sanggupi, sekarang sudah muncul masalah baru lagi. Sandy mengusap wajahnya frustasi, merasakan ujian pernikahan mereka yang datang silih berganti. Padahal pernikahan mereka masih seumur jagung.
Tok..tok...tok..
Sandy terjingkat mendengar suara pintu ruangannya di ketuk.
"Masuk!"
Lalu muncullah Allea dengan wajah merah menahan amarah. Sandy langsung menghampiri mengulurkan tangannya tapi Allea menolak. Ia sudah bisa menebak, pasti Allea juga sudah tau soal ini.
"Sayang.."
"Langsung saja, aku gak mau basa-basi. Tadi aku terima kabar itu, jadi gimana?"
"Gimana apanya sayang?"
"Pernikahan kita mau bagaimana selanjutnya?!" teriak Allea mulai emosi.
"Gak ada yang perlu di rubah dari pernikahan kita! Tolong kamu jangan mudah percaya dengan omongan dia?"
"Dia hamil anak kamu! Itu buah dari foto kalian di hotel kemarin!"
"Enggak, Allea please..tolong kamu ngerti, dengar dulu..."
"Aku memang gak ngerti, aku gak ngerti apa yang sebenarnya kalian lakukan di belakang aku!"
"Allea! Aku bertemu dia pun hanya kebetulan-"
"Kebetulan yang membuahkan hasil begitu?!" potong Allea sudah berurai air mata. Sandy menghela nafas kasar melihat Allea yang tak mau mendengarnya dulu.
"Atau jangan-jangan kamu sengaja berbuat itu karena sangat ingin punya anak?!" tuduh Allea.
"Allea, please! Kalo aku mau sudah dari dulu aku lakukan!" erang Sandy mendengar perkataan Allea yang membuat sakit kuping dan hatinya.
"Nikahi dia, kalo kamu memang laki-laki!" kata Allea menatap Sandy tajam dengan air mata yang makin deras.
"Gak akan!" sahut Sandy.
"Dia akan memberi kamu anak seperti yang kamu inginkan! Kamu sudah berhasil!"
Sandy mendekat lalu menangkupi wajah Allea, menghapus air matanya.
"Allea...kata-kata kamu menyakiti aku..!" kata Sandy dengan suara bergetar.
"Aku memang ingin punya anak, tapi hanya dari rahim kamu Allea, bukan orang lain! Itu bukan anakku..!" kata Sandy penuh penekanan.
"Dari mana kamu tau?" Allea menepis tangan Sandy. "Bukannya waktu itu kamu sedang mabuk? Jadi bukan gak mungkin kamu melakukannya dengan cewek murahan itu!"
"Akan aku buktikan kalo itu bukan anakku dan aku gak pernah menyentuh dia-"
"Bukti bagaimana lagi? Aku capek nunggu.." Allea terisak, ia menghapus air matanya dan beranjak.
"Kamu mau kemana? Jangan pergi sayang.."
Tok...tok...tok..
"Pak, maaf wanita ini memaksa ingin masuk. Kami sudah larang karena dia tapi.." Sandy mengangkat tangan sebelum security selesai bicara.
Terlihat Amira dengan gusar melepaskan tangannya dari cengkeraman security lainnya.
"Biarkan dia masuk tapi tolong tunggu di luar pak, jangan pergi dulu" titah Sandy.
Dua security pun mengangguk, Amira langsung bergegas masuk. Ia memandang Allea dengan senyum mencemooh penuh kemenangan. Sedang Allea tetap melangkah menuju pintu.
"Sayang.." Sandy meraih tangannya.
"Selesaikan urusan kalian berdua! Aku tunggu keputusan kamu sampai besok!" kata Allea pada Sandy.
Allea menarik tangannya lalu berjalan meninggalkan ruangan tak peduli Sandy memanggil-manggilnya. Tapi Allea tetap memasang senyum pada dua security di luar dan mengangguk.
Sandy menghela nafas kasar lalu menatap Amira tajam.
"Cepat katakan, mau apa kamu kesini?"
"Kamu relax dong..aku cuma mau kasih tau kamu ini.." Amira mengeluarkan sesuatu dari tas brandednya. Hasil tes kehamilan. Ia mengulurkannya pada Sandy.
"Apa ini?"
"Ini bukti kalo aku hamil anak kamu" jawab Amira tersenyum centil.
Sandy membacanya dengan teliti lalu *******-***** kertas itu dan melemparnya ke sembarang tempat. Amira tersenyum simpul sambil memainkan rambutnya.
"Di rusak aja gak papa. Kalo kamu gak percaya aku ada teman dokter. Misal kamu mau buktiin langsung, kita bisa pergi kesana. Sekalian priksa anak kita.."
"Cukup Amira! Kamu yakin banget ya kalo itu anak aku?"
"Anak siapa lagi? Cuma kamu yang tidur dengan aku dan melakukan semuanya!"
"Aku gak percaya!"
"Terserah! Pokoknya mau gak mau secepatnya kamu harus nikahin aku! Atau-"
"Atau apa?" sahut Sandy cepat.
"Aku akan buktiin ancaman aku tadi, kamu tinggal pilih!" jawab Amira lalu keluar meninggalkan Sandy.
"Brengsek!!" umpat Sandy pada pintu ruangannya karena Amira telah menghilang dikawal dua security tadi.
"Aarghh!!" teriak Sandy meluapkan penat di hati dan kepalanya.
🖤 🖤 🖤 🖤 🖤 🖤 🖤
Allea melajukan motornya, ia bingung harus kemana. Ia butuh teman cerita tapi tak tau kemana. Saat di lampu merah ia mengirim chat ke Arga. Ia sedikit lega saat Arga membalas dan memberitahunya tengah sendiri di rumah. Allea pun bergegas menuju rumahnya, ia mengetuk pintu dengan keras begitu sampai.
Ceklek..
"Hai..." sapa Arga nyengir.
"Mas..." Allea langsung menghambur memeluk kakaknya sambil menumpahkan kembali air matanya.
"Eh..ada apa ini? Allea..?" Allea tak menjawab malah makin menangis dan mengeratkan pelukannya.
"Allea jawab dong, kenapa?"
"Mas..aku pengen cerai!" isak Allea.
"Hah?!" Arga kaget setengah mati mendengarnya.