Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
41. Tinggal Di Apartemen


Malam ini Andre ada janji bertemu dengan Amira di sebuah club. Begitu sampai dan masuk ia langsung mencari Amira yang ternyata sudah asik melantai berjoget bersama beberapa pria. Tampak perempuan itu memakai hanya memakai baju model tank top dan rok mini dan sudah setengah teler karena minuman alkohol. Andre langsung mendekat menarik tangan Amira menuju sofa club dimana tasnya berada.


"Kenapa sih Dre?" kata Amira menghenyakkan pantatnya di sofa.


"Gue mau bicara"


"Bicara apa? Gue lagi asik nih ngilangin stress mikirin Sandy.."


"Hei..ini juga masalah Sandy, dengerin daripada lu nangis nanti!"


"Sandy memang suka bikin gue nangis, lu tau...nomor gue aja udah dia blokir bersamaan dengan semua sosmed gue, dia juga melarang security kantor dan rumahnya buat ngijinin gue masuk. Kurang stress gimana gue?!" racau Amira.


"Berita terakhir, apa lu udah tau?"


Amira mengangkat bahunya sambil minum birnya.


"Sandy sudah menikah dengan Allea!"


"Uhuk..uhuk...jangan bercanda lu!" tunjuk Amira ke muka Andre. Andre menggeleng pelan.


"Bahkan mereka habis bulan madu ke Cappadocia!" tambah Andre.


Lalu Andre menunjukkan unggahan foto Allea dan Sandy ke depan Amira. Amira mengamati dan perlahan ia terisak.


"Enggak...gak mungkin! Sandiiii...kenapa sih kamu beneran pilih dia daripada aku, kamu bikin hati aku hancur tau gak...hiks...hiks.." Amira meraung emosi menangisi Sandy tak peduli orang disekitar melihatnya.


"Tuh kan, nangis kan lu! Sama, gue juga hancur liat Allea diam-diam menikah sama Sandy!" seru Andre memegangi bahu polos Amira.


"Aarghh!" Amira menepis kasar tangan Andre.


"Cantik...kamu ngapain nangis? Disini tempatnya senang-senang...ayo dong kita turun lagi.." tiba-tiba seorang pria paruh baya berpenampilan perlente mendekati Amira. Amira pun tak menolak, ia berdiri menghapus air matanya.


"Mau kemana kamu?" cegah Andre tapi Amira mengacungkan telunjuknya menyuruh Andre tak ikut campur.


"Kamu benar...disini senang-senang aja. Nangisnya tahan dulu buat nanti, hahaa..." jawab Amira lalu menyambut tangan pria itu.


Mereka yang sudah sama-sama teler itu pun berjoget membaur dengan yang lain.


"Dasar cewek murahan!" umpat Andre membanting tubuhnya ke sandaran sofa. "Jelas aja Sandy pilih Allea, Allea bukan cewek macam lu Amira.." gumam Andre lalu memesan minuman beralkohol juga dan meminumnya sampai puas.


"Awas lu Sandy, akan gue bikin lu menderita!" Andre mulai meracau terpengaruh alkohol.


Hingga ia tak menyadari Amira dibawa oleh pria tadi menuju sebuah kamar untuk bersenang-senang tanpa memakai pengaman.


          🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Sandy dengan segera mengurus perihal  apartemen yang akan mereka beli. Ia pun tak lupa meminta pihak keamanan menutup akses untuk Andre jika akan menuju ke ruangan mereka. Setelah beres dan terima kunci mereka pun menempatinya, Allea sangat senang hingga semangat menata setiap detail ruangan di apartemen mereka. Sandy pun menyerahkan semua pada Allea masalah dekorasi ruangannya.


Sudah hampir seminggu mereka tinggal di apartemen dan semua berjalan baik. Gangguan dari Andre yang Allea khawatirkan pun tak terjadi, hingga Sandy pun lega dan tak ragu meninggalkan Allea di apartemen sendiri jika masih ada pekerjaan. Entah kenapa, Andre pun tak pernah nampak pula di kampus. Allea sedikit heran tapi ia juga senang.


Pagi ini Allea sudah sibuk memasak untuk makan siang setelah selesai membuat roti bakar untuk sarapan.


"Masak apa sayang?" Sandy melingkarkan tangannya di pinggang Allea lalu menciumi tengkuk Allea yang cerah dan halus.


"Ini buat makan siang nanti, semur meatball dan kentang. Kamu sarapan dulu aja ya udah aku siapin di meja..kopinya juga udah" kata Allea tersenyum sambil sesekali bergidig geli.


"Boleh gak sarapannya ini aja, lagi yuk..sebentar aja?" bisik Sandy menggoda.


"Kamu ada kuliah?" tanya Sandy.


"Iya, sekalian mau breafing kegiatan mendaki minggu depan"


"Kamu mau mau ikut?"


"Iyalah, boleh?" tanya Allea sambil mematikan kompor.


"Yaah...boleh" jawab Sandy setengah hati.


"Yang ikhlas dong..boleh gak?" Allea membalikkan badan, tangan Sandy masih tetap melingkar di pinggangnya.


"Boleh, aku cuma khawatir kalo ada Andre"


"Hampir seminggu ini Andre gak keliatan di kampus koq" jelas Allea sambil merapikan dasi Sandy.


"Oh ya?" Allea mengangguk. "Ya udah kalo gitu, nanti misal dia ikut aku mau lapor ke pihak kampus dulu soal kelakuan dia kemarin. Biar dia diawasi" lanjut Sandy, Allea mengangguk lagi.


"Udah, sarapan dulu ya..nanti kesiangan"


"Iya.." jawab Sandy mencium kening Allea lalu beranjak ke meja makan mini mereka. "Aku sebenarnya pengen makan siang pake masakan kamu, tapi kayanya gak keburu nih kalo dibawa.." kata Sandy sambil menghabiskan roti bakar ditangannya.


"Nanti aku kirimin ke kantor kamu pake ojol ya, sebelum aku ke kampus"


"Aseeek...tengkyu my wife" sahut Sandy lalu mencium pipi Allea. "Kalo gitu aku berangkat ya, kamu hati-hati nanti" pamit Sandy setelah menghabiskan kopinya.


"Iya...kamu juga" jawab Allea mencium tangan Sandy lanjut kedua pipi bergantian lalu dengan jahilnya Sandy menahan tengkuk Allea dan ******* bibirnya beberapa detik sebelum akhirnya Allea menyudahinya.


"Udah ah, nanti kamu telat lho macet dijalan" ujar Allea membawakan tas Sandy dan mengiringinya berjalan menuju pintu.


"Love you" bisik Sandy mengusap pipi Allea.


"Love you too sayang" balas Allea lalu membukakan pintu untuk Sandy.


Siangnya Allea memesan ojol untuk mengirim makan siang Sandy. Setelah ojol berlalu ia bersiap akan menuju kampus dengan semangat karena Allea pikir saat ini ia telah aman dan terbebas dari Andre. Ya, Andre memang tak lagi mengusiknya, tapi kali ini Sandy sasarannya.


Tanpa sepengetahuannya Andre sedari tadi mengawasi dari jauh dan begitu ojol berlalu Andre juga langsung tancap gas mengejarnya. Andre memberhentikan ojol itu dan mengaku kalo ia adalah kakak dari Allea. Andre menyampaikan kalo kiriman makanan tadi ada yang tertinggal. Tanpa curiga ojol pun menerima bungkusan jus dalam cup dari Andre.


"Selamat menikmati minuman segar dariku San, semoga rasa segarnya terasa sampai neraka biar lu gak kepanasan disana.." gumam Andre lalu pergi.


       🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥


Beberapa menit kemudian Sandy menerima makanan yang dikirim Allea. Ia tersenyum senang melihat isi paper bag itu, kotak bekal dan jus buah yang ia pikir dari Allea. Sebelum meeting di mulai ia ingin sempatkan dulu menyantap masakan Allea. Ia pun mulai makan dengan lahap sampai semua yang ada di kotak bekal hampir tandas.


"Allea...aku memang beruntung jadi suami kamu" gumam Sandy tersenyum sambil mengusap foto Allea di meja kerjanya.


Sandy pun membuka cup jusnya dan meminumnya sedikit hingga kemudian suara ketukan pintu yang lumayan keras membuatnya terkejut. Belum sempat Sandy menyilakan masuk, pintu langsung terbuka dan tampaklah Amira. Perempuan itu langsung nyelonong masuk dan menghambur ingin memeluk Sandy.


"Amira! Gimana caranya kamu bisa masuk?" tanya Sandy menepis Amira.


"Sandy...please, ijinkan aku bicara sebentar aja.." kata Amira merengek manja.


"Memang apa yang mau kamu bicarakan?"


"Apa benar kamu sudah menikah dengan Allea?"