Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
83. Bukti Komplit dan Dilema


Nayla menutup mulut dengan kedua tangannya mendengar ucapan Andre. Andre memijit pelipisnya.


"Biar kamu tau sekalian, aku yang kasih Sandy jus ada racunnya tapi dia beruntung nyawanya gak lewat! Aku juga yang suruh orang masukin obat perangsang ke minuman Sandy, biar dia melampiaskannya dengan Amira! Dengan gitu, udah pasti Allea akan marah dan menceraikan Sandy! Tapi lagi-lagi aku juga gagal!" erang Andre. Nayla menggelengkan kepala tak percaya.


"Yang bikin aku paling nyesel, kejadian di parkiran supermarket, yang membuat Allea keguguran waktu itu...karena gak sengaja orang suruhan aku terlihat oleh Sandy!"


"Ternyata kamu benar-benar gila ya Dre! Kamu gak punya perasaan!" teriak Nayla.


"Ya! Ya memang aku gila! Aku gila karena Allea yang tetap gak mau buka hati biarpun Sandy udah aku bikin seolah menghamili Amira!"


"Apa kamu bilang?!" Nayla mencengkeram kerah baju Andre. "Jadi maksud kamu-"


"Sandy gak menghamili Amira, aku dan Amira yang menjebak Sandy di hotel waktu itu!" sela Andre yang pasrah dalam cengkeraman Nayla.


"Kamu memang-"


"Apa? Kamu mau apa? Mau pukul aku? Pukul! Hajar aku sekalian! Memang aku dibalik semua ini, puas kamu?!"


"Aargghh!" Buggg!!


Satu pukulan dari tangan Nayla mendarat di sudut bibir Andre hingga Andre ambruk disofa. Mungkin karena pengaruh alkohol yang sudah membuatnya kehilangan tenaga, Andre pun tak bisa langsung membangunkan tubuhnya.


"Pukul lagi! Pukul Nay...!!" erang Andre berusaha duduk lalu menarik tangan Nayla dan membawa ke wajahnya. Tapi Nayla bergeming, tubuhnya membatu seketika.


Sedetik kemudian Andre menunduk, menyangga keningnya dengan satu tangan kemudian terisak. Nayla seperti tersadar dari kemarahannya melihat Andre menangis terlebih ada darah mengalir di sudut bibir Andre. Sepertinya ia begitu sekuat tenaga melayangkan pukulannya tadi karena merasa tak terima Andre sudah merusak rumah tangga sahabatnya. Nayla menghela nafas sembari mendudukkan tubuhnya menghadap Andre. Ia menyesal jadi terbawa emosi, padahal seharusnya ia tenang agar Andre juga lebih mengalir mengatakan kebenaran yang ia belum tau.


"Maaf..." lirih Nayla merangkul bahu Andre.


"Gak papa, aku pantas koq" Andre masih terisak kecil. "Aku tau semua ini salah...gak seharusnya aku lakuin semua hal bodoh itu. Tapi aku juga gak bisa dengan mudah melihat Allea bersanding dengan Sandy. Kamu tau, setiap malam aku selalu terbayang apa yang Allea lakukan bersama Sandy, aku gak rela Nay!" lanjut Andre begitu terlihat sedih. Nayla hanya diam mendengarkan.


"Kamu tau, bagiku gak ada wanita seistimewa Allea! Gak ada yang seperti dia!" kata Andre menatap Nayla tajam membuat hati Nayla mencelus.


"Iya! Aku paham, aku tau!" jawab Nayla sarkas. Ada sedikit cemburu dengan perkataan Andre.


'Aku juga sadar diri!' batin Nayla getir.


"Tapi aku juga gak nyangka...mengejar Allea malah akan terasa sesakit ini.." isak Andre lalu melempar kaleng bir yang kosong ke tembok penuh emosi. Nayla pun sampai terjingkat.


"Makanya dong, udaaah...kamu lupaiiiin...jangan lagi kamu ikuti obsesi kamu, keinginan gila kamu iniii!" geram Nayla sambil meremas bahu Andre.


Matanya pun berkaca-kaca, antara jengkel, kasihan tapi juga sakit dihatinya.


"Alleaaa...maafin aku, aku memang brengsek! Aku memang bangsat! Gara-gara aku kamu kehilangan calon anak kamu!" erangย Andre memukuli wajah dan kepalanya.


"Andre cukup! Stop! Stop, ssstt...!" Nayla langsung meraih Andre ke pelukannya dan Andre pun makin terisak dipelukan Nayla. "Udah, jangan menyakiti diri kamu!" bisik Nayla ikut menitikkan air mata.


Sekian menit mereka tak berbicara apapun, mereka sama-sama menangis tapi dengan pikiran yang berbeda. Nayla mematikan rekaman ponselnya lalu membiarkan Andre meluapkan emosi dipelukannya sampai ia puas. Setelah merasa lebih tenang Andre merebahkan kepalanya dipangkuan Nayla sambil meremas rambutnya. Nayla mengatur nafasnya, antara tersipu dan iba pada lelaki yang kini terpuruk dipangkuannya itu.


"Dre.."


"Hmm.."


"Kamu istirahat ya, aku mau pulang" kata Nayla hendak membangunkan kepala Andre.


"Jangan pulang dulu!" Andre menahan kepalanya.


"Ini udah malam!"


"Baru jam 8 koq, nanti aku antar. Motor kamu kan ada diparkiran cafe tadi, kamu mau pulang naik apa?"


"Ojek ada, taksi online juga bisa.."


"Enggak, enggak...sebentar, jangan pulang dulu ya, ssshh..." cegah Andre lalu memijit keningnya.


"Kamu kenapa?"


"Kepalaku pusing banget, duhh.."


Nayla mendengus. "Mau aku ambilin bir lagi?" sindir Nayla sebel.


"Ya boleh Nay.." jawab Andre tanpa dosa.


"Hihh!" reflek Nayla mencubit keras pinggang Andre.


"Aduuhh...kamu nih, orang lagi pusing malah disiksa!" sungut Andre meringis memegang bekas cubitan Nayla.


"Ya habis sebel, udah tau pusing eh ditawari bir tetep aja gak nolak! Dasar! Kalo kamu ambil bir lagi, aku pulang!" omel Nayla mengancam.


"Iyaa...gak jadi! Salah nih, curhat sama preman.." gerundel Andre pelan.


"Ngomong apa?!"


"Apa sih? Aku ngomong, bantu jalan ke kamar biar aku tidurnya lebih nyaman!" kelit Andre menahan tawa.


Nayla menghela nafas lalu menuruti, memapah Andre ke kamar dan membantu melepas jaketnya. Andre menatap Nayla lekat saat Nayla melepas lengan jaketnya.


"Kenapa?" tanya Nayla heran.


"Gak papa.." jawab Andre memalingkan wajah tersipu lalu menjatuhkan diri ke ranjang, meringkuk disalah satu sisinya.


"Dre? Kamu gak lapar?" tanya Nayla.


Andre menggeleng. "Enggak. Kamu lapar?" Andre tanya balik ke Nayla.


"Enggak sih. Cuma..." Nayla menggantung kalimatnya.


Ia sebenarnya pengen pulang tapi entah kenapa ia juga tak tega meninggalkan Andre sendiri.


"Apa? Kamu pengen cemilan?"


Nayla masih berdiri mematung tak menjawab Andre. Ia bimbang antara ingin nekat pulang sendiri atau menunggu Andre mengantarnya nanti. Tapi ia takut malam semakin larut, ia tak berani pulang sendirian.


"Nay?" Nayla terperanjat oleh panggilan Andre yang kini menyandarkan setengah tubuhnya diranjang.


Andre menepuk tempat disisinya meminta Nayla mendekat. Nayla menurut, ia duduk disamping Andre.


"Nih, kamu pesan makanan aja pake ponsel aku" Andre menyodorkan ponselnya ke depan Nayla. "Terserah kamu mau apa, yang penting jangan pulang dulu ya. Aku mau tidur sebentar aja, nanti aku antar kamu pulang.."


Nayla ragu-ragu menerima ponsel Andre. Tapi Andre meletakkannya dipangkuan Nayla lalu menenggelamkan diri lagi dibalik selimut. Sesekali terdengar racauan kecil karena Andre merasakan kepalanya begitu berdenyut. Nayla menimang ponsel Andre, sebenarnya ia tak sebegitu menginginkan makanan. Tapi gimana nanti kalo Andre bangun dan lapar?


"Ah, pesan ajalah.." gumam Nayla lalu tangannya dengan lincah memencet aplikasi makanan online.


Setelah selesai dan tinggal menunggu makanan datang, Nayla meletakkan ponsel Andre di nakas. Tapi tiba-tiba hatinya tergelitik ingin membuka galeri foto Andre. Ia penasaran ingin tau apa saja isi foto koleksi Andre. Diraihnya kembali ponsel Andre sambil menoleh pada si empunya. Memastikan bahwa cowok itu benar-benar sudah pulas. Nayla tersenyum tipis mendengar dengkuran pelan Andre, lalu segera membuka galeri foto di ponsel itu.


Foto-foto terbaru adalah foto rumah dan bagian-bagian dalamnya. Lalu turun sedikit ada foto Andre bersama beberapa teman artisnya. Makin turun foto yang dilihatnya membuat ia ternga-nga. Ia melihat foto-foto Sandy dan Amira dikamar hotel dengan berbagai pose seperti yang pernah Allea tunjukkan. Nayla kaget setengah mati, ternyata Andre memang turut andil memfitnah Sandy. Nayla memandang Andre penuh amarah, ingin rasanya ia menjambak rambut dan mencakar-cakar muka Andre. Tapi sedetik kemudian ia berhasil menguasai emosinya lagi. Nayla mengatur nafas lalu merekam isi galeri Andre, untuk bukti bahwa memang dari ponsel Andre lah foto-foto vulgar itu berasal. Ia juga mengirimkan ke ponselnya foto-foto tak senonoh itu. Setelah selesai ia menyimpan ponselnya dan meletakkan kembali ponsel Andre di nakas. Allea pasti senang begitu tau ia sudah mendapatkan bukti lengkap, batinnya. Tapi ia juga dilema, antara ingin memberitahu Allea dan rasa tak teganya pada Andre. Nayla jadi resah memikirkannya, ia berniat pulang tanpa sepengetahuan Andre tapi sesaat kemudian bell apartemen berbunyi.


'Pasti makanan online..' gumam Nayla.


Ia segera membuka pintu dan menerimanya lalu kembali ke kamar Andre meletakkannya ke nakas. Pandangannya tertuju lagi pada Andre yang kini tidur terlentang dengan satu lengan menutup wajahnya. Nayla terhenyak saat melihat setitik air mata disudut mata Andre. Apa Andre begitu pusing merasakan kepalanya? Apa mungkin Andre benar menyesali perbuatannya? Dan sedalam itukah patah hatinya pada Allea kali ini? Beragam pertanyaan muncul di kepala Nayla. Rasa marah dihatinya yang tadi begitu meletup perlahan menyurut. Ia bingung harus bersikap bagaimana dengan keadaan saat ini. Di satu sisi ia sahabat Allea, ia merasa tak terima Allea diperlakukan begitu. Tapi disisi lain, ia juga sudah lama menyimpan rasa pada Andre. Ia tak tega melihat Andre terpuruk seperti sekarang. Nayla menghela nafas lalu membanting bokongnya di ranjang sebelah Andre. Merebahkan punggungnya pada sandaran ranjang sambil meluruskan kaki. Jam dinding kamar Andre sudah menunjukkan jam 9. Tangan Nayla terulur menyentuh pundak Andre lalu mengguncangnya pelan.


"Dre...bangun. Dre..?"


Andre bergeming membuat Nayla berdecak gelisah.


"Dre..aku pulang ya?"


Diguncangnya lagi bahu Andre tapi Andre hanya melenguh dan sedetik kemudian mengubah posisi memeluk pinggang Nayla. Mata Nayla membulat seketika dengan semburat merah di pipinya lalu dengan cepat dipindahkannya tangan Andre.


"Jangan pulang dulu.." lirih Andre mengeratkan tangannya agar Nayla tak bisa kabur.


"Tapi ini udah malam!"


"Sebentar lagi, please.."


Nayla mendengus kesal sambil melipat tangan di dada.


"Tapi aku gak enak sama tetangga disini"


Andre terkekeh tapi masih sambil memejam mendengar ucapan Nayla.


"Gak ada yang berani protes Nay, kamu tenang aja. Ini apartemen, bukan kosan"


Nayla mengulum senyum malu, ia tak ingat tengah berada di apartemen milik cowok rese pujaan hatinya.


"Terus aku suruh ngapain? Kalo gak ngapa-ngapain aku ngantuk!"


Hening. Tak ada jawaban, ternyata Andre sudah memejam lagi.


"Koq merem lagi sih, itu makanannya udah datang Dre. Di makan sana!"


Kali ini Nayla mengacak-acak rambut Andre tapi tetap tak ada pergerakan. Nayla makin sebel, ia meruncingkan bibirnya sambil menatap Andre yang seolah menyekap paksa dirinya. Ada rasa kesal tapi disisi lain hatinya senang berdua saja dengan Andre begini. Apalagi seolah Andre sangat membutuhkannya untuk ditemani. Nayla merasa berarti biarpun tak jarang mereka selalu adu mulut saat bertemu. Nayla mengusap lembut rambut belakang Andre beberapa kali hingga ke punggung. Ia mengulum senyum melihat Andre.


"Baru kali ini liat jagoan nangis.." gumam Nayla lalu tertawa kecil.


Sebentar kemudian Nayla menguap beberapa kali sampai akhirnya ia pun terlelap di samping Andre yang masih memeluk pinggangnya. Nayla pun pulas dengan memegang tangan Andre tanpa ada penolakan dari si empunya.


๐ŸŒน ๐ŸŒน ๐ŸŒน ๐ŸŒน ๐ŸŒน ๐ŸŒน ๐ŸŒน ๐ŸŒน


Suara ponsel yang berdering mengganggu mimpi indah Nayla. Dengan masih setengah memejam Nayla meraba ponselnya di saku celananya.


"Hallo..." sapa Nayla dengan suara parau khas bangun tidur.


๐Ÿ“ฑ:'Hallo Nay, kamu ni gimana sih? Aku tungguin semalaman gak kasih kabar apapun, aku khawatir! Gimana, ada hasil gak?'


Seketika mata Nayla melebar mendengar cerocosan Allea. Di lihatnya jam diponsel, sudah jam 7.30. Ia menepuk keningnya dan berjalan terseok menuju balkon. Meskipun dilihatnya Andre masih pulas dengan posisi memunggunginya sekarang.


"Sorry Al, aku lupa kasih kabar. Soalnya semalam rada drama gitu!"


๐Ÿ“ฑ: 'Drama gimana? Tapi kamu berhasil gak dapat bukti? Kamu baik-baik aja kan?'


"Ya kaya gitulah, gak bisa kalo ngomong ditelpon. Pokoknya nanti..."


"Nay! Nayla?!"


Disela-sela pembicaraan tak diduga Andre terbangun dan berseru memanggil Nayla.


๐Ÿ“ฑ:'Lho, koq ada suara Andre? Kamu masih di apartemen Andre? Kalian habis ngapain Nayla?' cecar Allea mulai parno.