
"Iya ini aku, mmm...mobil aku mogok gak tau kenapa? Kamu bisa tolong liatin gak, soalnya aku gak ngerti mesin...aduh, mana aku buru-buru lagi.." kata Amira terlihat panik.
"Koq bisa sih, emang tadi gak di cek dulu? Aku juga lagi buru-buru ini.." kata Sandy lalu menuju mobil Amira mengecek kap mesinnya. Amira mengekorinya.
"Gimana San? Apanya yang rusak?"
"Ini kayanya mesinnya ada yang gak beres, harus dibawa ke bengkel.."
"Aduuuh..." gerutu Amira.
"Ya udah kamu telpon aja bengkelnya biar ntar dibawa.."
"Lha terus aku gimana dong berangkatnya? Aku ada pemotretan di Garden Caffe! Atau..aku nebeng kamu aja boleh ya..please.." pinta Amira sambil bergelayut manja di lengan Sandy. Spontan Sandy menepis menjauhkan Amira darinya.
"Gak bisa...gak bisa! Aku juga buru-buru, lagian kita beda arah koq!" tolak Sandy.
"Sandy ih...masa gak mau nolongin sih, paling gak kamu temenin aku dong sampai montir bengkelnya datang!"
"Gak bisa Amiraa, tolong dong ngertiin..jangan maksa!"
"Ya terus gimana, aku udah mau telat nih...please ya?" Rengek Amira lagi kembali menggelayut.
"Amira! Dengerin aku!" Sandy menepis paksa Amira lalu memegang kedua lengannya. Sampai ia tak sadar lipstik Amira menempel diblazernya. "Kamu kalo memang telat order ojol aja atau kalo gak taksi online, sorry...aku beneran gak bisa antar kamu! Lagian kemana cowok kamu ,emang dia gak tau kamu lagi kesusahan gini?!" lanjut Sandy lalu beranjak menuju mobilnya.
"Aku udah putus sama dia!" seru Amira tapi tak membuat langkah Sandy berhenti. Ia hanya geleng-geleng kepala sambil masuk mobilnya.
"Aku udah pesenin taksi onlinenya, ke Garden Caffe kan? Nanti kamu tinggal naik aja, aku duluan..!" kata Sandy saat melintas didepan Amira.
Ia masih sedikit berbaik hati setidaknya sekali ini saja. Dari spion Sandy melihat Amira menghentakkan kakinya kesal. Ia tak peduli dan tak ingin memperpanjang urusan dengan cewek itu lagi.
"Gak tau malu banget! Ngapain coba dia sekarang kaya gini?!" gumam Sandy meremas stir mobilnya emosi.
Gimana bisa dulu dia suka sama cewek seperti Amira, kemana otaknya waktu itu yang cuma terpesona kecantikan wajahnya saja. Setelah itu Amira memandangnya sebelah mata lalu membuangnya demi lelaki lain ,batin Sandy berkecamuk.
"SHITT!!" Sandy menggebrak stang bundarnya ,dadanya naik turun menahan emosi. Kecepatan mobilnya merangkak naik. Lalu beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi. Allea menelpon. Sandy mengatur nafas lalu menekan tombol 'answer'.
"Sayang...sampai mana? Macet gak?" suara Allea yang hangat terdengar di telinganya perlahan menyurutkan emosi di dadanya. Sandy menghela nafas lalu menstabilkan kecepatan mobilnya.
"Hmm...gak koq, kenapa? Kamu mau nitip sesuatu?" tanya Sandy.
"Enggak sih, cuma pengen tau aja kamu jadi nyusul gak..gitu"
"Jadi sayang, ni aku udah dijalan, tunggu ya...mungkin paling telat 45 menit aku sampai sana" jawab Sandy sambil melihat jam tangannya saat ini sudah jam 2 siang.
"Iyaa...gak usah ngebut hati-hati ya, love you" kata Allea membuat hati Sandy yang memanas perlahan sejuk.
"Love you too sayang.." balas Sandy tersenyum tipis lalu mengakhiri panggilan.
❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
"Love you too Allea.."
Allea tergeragap kaget mendengar suara Andre dari belakangnya. Allea menelpon Sandy saat selesai mandi dan mengganti bajunya di toilet. Baju mereka basah karena main di air terjun tadi. Toilet cewek ini memang bersebelahan dengan toilet cowok, hanya dipisah dinding. Mungkin tadi Andre mendengarnya waktu menelpon karena posisi Allea bersandar membelakangi toilet cowok.
"Andre...ngagetin aja sih, nguping ya kamu? Atau ngintip?!" cecar Allea. Andre mengangkat kedua tangannya.
"No, aku gak ngintip cuman nguping orang pacaran aja" jawab Andre cengengesan.
"Koq rese sih? Aku cuma pengen tau kamu sama Sandy udah ngapain aja?" goda Andre dengan pandangan nakal.
Andre tiba-tiba mendekati Allea dan mengunci dengan kedua tangannya di dinding.
"Nanya apa sih kamu? Ya gak ngapa-ngapainlah orang dia gak ada disini!" Allea langsung memeluk tas ranselnya.
"Masa sih gak ngapa-ngapain?" Andre makin mendekat ke wajah Allea. "Allea..kamu wangi banget" bisik Andre. Lalu '
BUG!
"Minggir gak kamu!" Allea melayangkan tinjunya ke perut Andre.
"Awwhh...Allea, tega banget sih kamu..!" Andre tersungkur memegangi perutnya.
"Ya lagian kamu mau apa coba tadi kaya gitu?!" bentak Allea berkacak pinggang.
"Aku cuma bercanda Al, aduh.." jawab Andre meringis. Biarpun tak sepenuh tenaga tapi tinju Allea lumayan terasa.
"Bercanda kamu norak!" kata Allea menunjuk Andre.
"Ada apa nih? Kenapa?" Nayla tiba-tiba keluar dari salah satu toilet cewek mendengar keributan itu. "Kamu apain Andre, Al?" Nayla membantu Andre berdiri.
"Orang dia yang mulai, tanya aja" jawab Allea santai sambil angkat bahu.
"Dre...you okey?" tanya Nayla. Andre mengangguk sambil masih meringis memegang perutnya.
"Gak apa-apa Nay, kalo kenapa-napa aku tau koq rumah Allea.." kata Andre masih bisa berseloroh. Nayla nyengir sedangkan Allea masih pasang muka sebel.
"Oh ya Al, kak Sandy jadi nyusul kesini?" tanya Nayla.
"Jadi Nay, ini udah otw"
"Udah mau pulang baru nyusul, gak effort banget!" celetuk Andre. Allea tak menanggapi.
"Gak effort gimana maksudnya, orang naik mobil aja bisa sejam lebih lho!" Nayla membela.
"Kalo tau lama ya jangan pake mobil lah!" sahut Andre.
"Terus biar effort dia mesti jalan kaki gitu?" timpal Allea menepuk keningnya. Nayla membungkam mulut menahan tawa mendengar kata-kata Allea.
Ponsel Andre berbunyi lalu ia mengisyaratkan Nayla melepas pegangannya. Nayla pun menurut lalu mengajak Allea berjalan menuju ke tempat rest area. Samar-samar Allea mendengar Andre mengumpat lalu berbicara bisik-bisik. Allea mengernyit, ada perasaan aneh dihatinya. Ia terus berjalan menjauh hingga tak sadar gelang liontinnya terjatuh. Beberapa menit kemudian Andre memungutnya. Ia mengamatinya sebentar, ia tau itu milik Allea pemberian Sandy. Andre tersenyum sinis lalu melemparkannya sejauh mungkin. Cinta Allea buat kamu perlahan juga akan hilang seperti liontin itu San, gumam Andre tersenyum licik.
Tak lama kemudian Sandy tiba dan menyusul di rest area. Mereka mengobrol beberapa saat dengan pengelola lalu berpamitan. Allea pulang bersama Sandy seperti rencana semula. Sandy terlihat membawa ransel Allea dan meletakkannya dikursi belakang.
"Hati-hati ya kalian" kata Nayla sebelum Allea masuk mobil.
"Iya Nay, tengkyu...kamu juga hati-hati ya duduk sebelahan sama buaya" kata Allea menyindir Andre disebelah Nayla. Nayla terkekeh sementara Andre tetap cool melipat tangannya di dada.
Sandy dan Allea pun berlalu mendahului mobil mapala. Diperjalanan Sandy bercerita kalo minggu depan itu sidang terakhirnya. Kalo ia lulus maka bisa ikut wisuda bulan depan. Allea senang sekali mendengarnya. Biarpun seminggu ini Sandy akan menjadi lebih sibuk.
"Biarpun sibuk tetap jaga kesehatan kamu ya sayang, aku gak mau kalo sampai ngedrop" pesan Allea.
"Iya sayang, tenang aja.." jawab Sandy meraih tangan Allea dan dikecupnya beberapa kali. Ditempelkan ke wajahnya lalu dibawa ke pangkuannya. Sandy mengernyit melihat tangan Allea.
"Lho tumben gelang liontinnya gak dipake?" tanya Sandy. Allea melongo spontan menarik tangan kanannya dan melihat gelang liontinnya memang tak ada ditangannya..