
Sementara Allea sedang berada di kampus dan tengah mengikuti rapat mapala merasakan ponsel ditasnya bergetar berkali-kali walaupun ia abaikan. Ia pun mengintipnya penasaran, ternyata Sandy.
"Hallo...?" Allea berlari keluar aula kampus menjawab telpon suaminya.
"Sayang...kamu...dimana?"
"Aku di kampus, kenapa sayang?"
"Kamu..baik-baik..aja kan?"
"Iya, aku baik-baik aja. Kenapa? Suara kamu koq kaya nahan sakit gitu sih?" tanya Allea mengernyit.
"Perutku...sakit banget ini, aku pengen pulang...kamu, udah mau pulang belum?"
"Ya ampun sayang...ya udah, kamu pulang ya, kalo gak kuat nyetir minta tolong sopir kantor. Ini aku juga pulang sekarang!" kata Allea khawatir.
Mereka pun mengakhiri panggilan, Allea masuk lagi ke aula dan meminta ijin pulang duluan. Di pacunya motor matic miliknya dengan kecepatan lebih dari biasanya. Pikirannya tak tenang memikirkan Sandy, dari suaranya tadi terdengar sangat kesakitan. Sebenarnya apa yang membuatnya sampai sakit perut begitu? Allea tak henti berpikir sampai akhirnya ia sampai di apartemen.
Terlihat ia sampai duluan, pasti mobil Sandy terkena macet, pikir Allea. Ia pun naik langsung ke ruangannya dan berganti pakaian di kamar mandi. Selagi ia berganti baju terdengar bunyi bel berulang kali seolah tak sabar ingin dibukakan pintu. Allea segera berlari menuju pintu dan ketika di buka Sandy terjatuh di depannya.
"Astaga, kak! Ya ampun, ayo bangun sayang, kita ke kamar ya.." Allea memapah suaminya yang tampak kesakitan.
"Aghh....aduhh...sakit banget perut aku" rintih Sandy memegangi perutnya. Allea memintanya duduk bersandar di ranjang mereka.
"Kamu keringat dingin gini sayang, sampai basah ini baju kamu" kata Allea lalu beranjak mengambil baju Sandy dan membantunya mengganti baju.
"Kamu tadi makan apa aja?" tanya Allea setelah Sandy berbaring lagi.
"Aku gak makan apa-apa...selain makanan dan jus dari kamu" jawab Sandy lirih masih merasai sakitnya.
"Jus?!" sahut Allea kaget, Sandy mengangguk. "Tapi aku tadi gak kirim minuman apapun kak, aku cuma kirim makanan aja!"
"Ya terus itu..dari siapa?"
"Aku juga bingung koq tau-tau ada jus. Terus jusnya kamu minum?"
"Iya tapi baru sedikit"
"Ya ampun kak...kamu minum sedikit aja sakitnya sampai kaya gini. Gimana kalo kamu habisin coba..?" kata Allea memegang kepalanya dengan kedua tangan. Pikirannya sudah membayangkan hal yang buruk.
"Siapa yang sengaja bikin aku kaya gini?" tanya Sandy bingung.
"Kita ke dokter ya, kemungkinan kamu keracunan ini"
"Gak usah sayang, paling ini cuma obat pencuci perut aja. Nanti juga sembuh.." tolak Sandy memijit keningnya. Kepalanya masih berdenyut.
"Kalo obat pencuci perut pasti kamu akan buang air terus menerus. Tapi ini kan enggak? Yang kamu rasain gimana selain sakit perut?"
"Pusing kepalaku" jawab Sandy.
"Tuh kan" Allea gelisah.
lalu mengambil ponselnya di nakas. "Sebentar, aku tanya dokter yang biasa mama panggil ke rumah. Bisa gak beliau kesini.."
"Gak usah sayang.." cegah Sandy.
"Gak papa, biar kita tau kamu kenapa.."
"Aku buat tidur aja...nanti juga sembuh"
"Gak ada salahnya kan kita tanya dokter, biar kamu juga dikasih obat" tawar Allea, Sandy cuma bercedak.
Allea menelpon dokter keluarganya tapi tak kunjung ada jawaban. Ia beralih menelpon kliniknya tapi juga hasilnya sama.
"Koq gak ada respon ya..?" gumam Allea.
Sandy terlihat masih berkeringat dingin dan mengeluh sakit perut juga kepalanya. Allea beranjak ke dapur membuka kulkas dan mengambil segelas susu plain.
"Biarpun telat, siapa tau racunnya sedikit netral" katanya pelan lalu membawa gelas susunya ke kamar.
"Sayang, coba kamu minum susu ini. Semoga sakit perutnya bisa sedikit hilang nanti, yuk bangun dulu.."
Sandy pun menuruti. "Ini bukan vanila kan?" selidik Sandy sebelum meneguk susunya. Allea tersenyum.
"Bukan, itu plain. Masa aku mau nambah bikin kamu keracunan sih?" canda Allea.
Sandy tersenyum tipis lalu menghabiskan susunya dan berbaring lagi. Setengah jam kemudian tidak banyak perubahan, Sandy masih merasa kesakitan biarpun sudah tak berkeringat dingin. Allea khawatir dengan keadaan Sandy yang nampak belum membaik. Sambil duduk bersandar di samping Sandy, Allea mengusap-usap lengan dan punggung Sandy bergantian agar merasa nyaman. Perlahan mata Sandy meredup lalu terdengar dengkuran halus. Dengan hati-hati Allea memindahkan tangan Sandy yang memeluk pinggangnya lalu berjalan pelan menuju balkon. Allea menghubungi papa Roby.
"Hallo pah, lagi sibuk gak? Maaf Allea ganggu sebentar.."
"Gak papa Allea. Gimana?"
"Lho Sandy apa masih sakit?" tanya pak Roby langsung tau.
"Iya pah, ini gak mau di bawa ke dokter soalnya" Allea mengadu pada mertuanya.
Terdengar pak Roby menghela nafas. "Ya begitulah Sandy, kalo jelas-jelas gak keliatan ada luka ya gak mau ke dokter.."
"Iya pah, itu tadi Allea sudah coba hubungi dokter keluarga mama. Tapi gak bisa, mungkin sedang sibuk atau gimana kurang tau. Allea bingung harus nanya ke siapa, makanya nanya ke papa" jelas Allea. Terdengar pak Roby tertawa.
"Papa ada dokter yang biasa dipakai untuk keluarga besar, namanya dokter Ferdy. Nanti papa kirim nomornya buat kamu simpan sekalian papa telepon kan biar dia meluncur ke apartemen kalian, gimana?"
"Ya pah boleh, makasih ya pah"
"Iya, kamu tunggu dokter Ferdy datang ya"
"Oke pah. Emm...sekalian Allea mau cerita pah, tadi siang kan Allea cuma kirim makanan ke kak Sandy. Tapi ada yang aneh.."
"Aneh gimana?"
"Pas sampai kantor masa ada jusnya. Nah, itu jus kata kak Sandy sempat di minum sedikit. Allea curiga pah, jus itu yang bikin kak Sandy sakit perut begini. Tapi kira-kira siapa ya..??"
"Oo...jadi gitu. Ada yang mau mencelakai Sandy ternyata.."kata pak Roby sedikit kaget.
"Iya sepertinya begitu pah. Allea pengen ke kantor, cari jus yang tadi udah diminum kak Sandy buat di cek lab. Tapi mungkin nanti aja setelah dokter datang"
"Allea...soal jus biar papa aja yang suruh orang cari bekasnya dan cek lab nanti, kamu urus Sandy aja ya"
"Bener gak papa pah?"
"Iya...udah tenang aja. Nanti papa kabari hasilnya"
"Makasih pah"
Setelah menutup panggilan papa Roby Allea ganti menghubungi pihak ojol yang mengantarkan makanan Sandy tadi siang. Ia menanyakan perihal jus yang bisa ada di paper bag.nya lalu menanyakan apakah ada foto orang yang memberikannya. Tapi sayangnya pihak driver tak mengambil foto bahkan ciri-cirinya pun sulit dikenali karena memakai topi dan masker. Allea menghela nafas putus asa, ia pun kembali ke kamar dan terkejut mendapati Sandy tidak ada di tempat tidur. Allea celingukan ke semua tempat lalu lega saat terdengar gemericik air dari kamar mandi.
"Sayang, masih sakit perut? Masih pusing?" tanya Allea begitu Sandy keluar kamar mandi.
Sandy mengangguk. "Kamu dari mana?"
"Aku barusan telepon papa Roby, tadi papa bantu cariin dokter, sebentar lagi ada dokter yang mau kesini priksa kamu.." kata Allea memapah Sandy ke ranjang.
"Kan aku tadi bilang gak usah Allea..gak perlu"
"Gak perlu gimana, kamu sakit sampai sekarang belum baikan gini. Aku kan khawatir.." Mereka mulai berdebat.
"Ya kan juga pake proses sembuhnya, gak langsung hilang kaya sulap gitu sayang.."
"Aku gak bisa nunggu!" sahut Allea. "Aku gak bisa liat kamu nahan sakit kaya gini terus!" lanjut Allea.
"Ya buktinya ini aku gak papa kan?" jawab Sandy.
"Kalo masih terasa sakit itu artinya masih kenapa-napa, kalo di diemin bisa bahaya. Kamu koq keras kepala gini sih?" dengan rasa sebel Allea lalu meninggalkan Sandy menuju balkon lagi.
Sementara Sandy hanya menghela nafas duduk di tepi ranjang lalu menunduk menyangga kepala dengan kedua tangannya. Allea terlalu khawatir berlebihan menurutnya. Tapi mungkin ada benarnya, sakit perut yang ia rasakan masih intens dan belum berkurang sama sekali. Dan mungkin saja perasaan Allea lebih sensitif melihatnya sakit seperti ini. Pasti Allea bingung harus gimana dan tidak tega melihatnya kesakitan. Tapi di sisi lain juga Allea gak mau membuat keluarganya sendiri khawatir, makanya ia hanya menghubungi papa Roby. Sandy menghela nafas lagi lalu beranjak berjalan tertatih menyusul Allea ke balkon. Tampak Allea berdiri melamun membelakanginya melihat jauh ke depan.
"Maafin aku ya.." kata Sandy memeluknya dari belakang. "Aku gak tau diri banget, udah bikin istri khawatir..aku gak ngertiin perasaan kamu" lanjut Sandy meletakkan dagunya di pundak Allea menghirup wangi segar parfumnya.
"Aku tuh cuma gak mau kamu kenapa-kenapa..aku gak siap kalo terjadi apa-apa sama kamu yang lebih dari ini.." kata Allea pelan lalu membalikkan tubuhnya. Sandy hanya diam mendengarkan.
"Kita kan gak tau jus tadi dikasih racun apa? Kenapa kamu gak paham, kamu gak ngerti gimana takutnya aku?!" tambah Allea kali ini sambil menitikkan air mata lalu buru-buru menghapusnya.
"Iyaa...jangan nangis dong sayang, aku minta maaf" Sandy mengajak Allea duduk dikursi yang ada di balkon.
"Tapi kalo kamu memang gak mau aku panggil dokter gak papa, biar aku cancel aja.."kata Allea merogoh ponselnya di saku lalu Sandy mencegahnya.
"Jangan. Aku mau koq.."
"Serius? Gak terpaksa?" tanya Allea masih sedikit sewot.
"Enggak sayang, serius. Lagian gak enak juga ngerasain sakit terus, tiduran terus malah tambah pusing" jawab Sandy. Allea tersenyum tipis.
Lalu terdengar bell di pintu apartemen mereka.
"Itu pasti dokternya, kita masuk yuk.." ajar Allea akan memapah Sandy.
"Cium dulu.." tawar Sandy memelas.
"Gak ah...beracun" ledek Allea membuat Sandy tersenyum gemas lalu mengecup bibir Allea. Allea pura-pura merengut sambil memapah Sandy mengajaknya masuk.