Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
40. Habis Kesabaran


Pada saat yang sama Andre juga tengah berada di mobilnya dan di tempat yang sama pula. Ia berniat akan ke kantor management iklannya siang itu. Perlahan mata Andre membulat sempurna melihat seorang cewek melongokkan kepala keluar mobilnya sesaat untuk membeli minuman lalu menutupnya kembali.


'Allea?!' batinnya masih memastikan matanya tak salah melihat.


"Allea..? Itu benar Allea!" gumam Andre yang berada sebelah kiri dua mobil dibelakang mobil Sandy. Jantung Andre berdegub tak karuan melihat sosok yang beberapa hari ini ia rindukan.


"Sandy mau bawa kamu kemana Al?" Andre berbicara sendiri sambil terus mengikuti kemana mobil Sandy melaju.


Wajahnya kini tersirat emosi terlebih saat pagi tadi ia melihat unggahan Sandy yang membuatnya menyimpan beribu tanya. Apa yang terjadi pada Sandy dan Allea? Apa benar mereka sudah menikah seperti desas-desus yang ia dengar?


Mobil Andre sempat tertinggal jauh dibelakang Allea tapi matanya yang fokus tajam berhasil mengikuti kemana mobil Sandy membawa Allea.


Hingga ia heran karena Sandy berbelok ke sebuah apartemen. Andre pun menunggu sampai mereka masuk dulu lalu perlahan mengendap mengikuti mereka. Di tutupnya kepala dengan jaket hodie yang ia pakai, ia terus mengamati kemana Allea melangkah bersama Sandy.


Hingga akhirnya mereka bertemu dengan salah seorang pengelola apartemen di salah satu kamar. Mereka tampak berbicara bertiga lalu di persilakan masuk. Jantung Andre berpacu cepat menghubungkan sejumlah kejadian.


'Kalo benar Allea menikah dengan Sandy, apa mungkin mereka mencari apartemen untuk tempat tinggal?' batin Andre.


Lamunan Andre buyar saat melihat Allea keluar sambil berbicara di ponsel.


"Iya mas Arga, ini udah ketemu sama pengelolanya koq. Oke tengkyu...bye"


"Allea.." panggil Andre.


Allea spontan menoleh kaget terlebih melihat Andre dengan wajah emosi.


"Kamu...ngapain disini?" tanya Allea gugup. Allea mundur perlahan saat Andre terus berjalan mendekat.


"Harusnya aku yang tanya, kamu mau apa dengan Sandy disini?"


"Aku ada keperluan disini.." jawab Allea tak mau berkata jujur. Allea tak bisa menghindar lagi karena posisinya sudah bersandar di dinding.


"Allea...tolong jawab, apa benar kemarin kamu cuti untuk menikah dengan Sandy?" tanya Andre menatap Allea tajam.


Tubuh Allea menegang ada rasa takut melihat Andre saat ini yang diselimuti emosi dan begitu dekat dihadapannya.


"Allea! Jawab!" bentak Andre membuat Allea kaget dan reflek menyilangkan kedua tangannya di depan wajah.


Andre melihat gelang pemberian Sandy yang melingkar di tangan Allea.


"Oke...diamnya kamu aku anggap berarti semuanya benar. Kamu beneran tega ya menyakiti hatiku Allea.."


"Tega apa? Kamu yang harusnya sadar.." jawab Allea memberanikan diri. "Rasa cinta itu gak bisa dipaksakan, seberapa kuat kamu berusaha memang sudah gak ada lagi rasa aku buat kamu.."


"Aarghh!" teriak Andre sambil menarik paksa gelang Allea hingga putus dari tangannya lalu membuangnya ke sembarang tempat. Allea memekik kaget sekaligus merasakan sakit di tangannya karena tarikan Andre.


"Andre! Gelang aku.." kata Allea.


"Kenapa? Kamu sayang banget ya sama gelang murahan gitu, tapi cincin berlian aku malah kamu tolak, kenapa Allea...kenapa?"


"Cara kamu yang murahan! Ini yang bikin aku ilfil sama kamu!" jawab Allea marah sambil mendorong pundak Andre. Allea bermaksud mengambil gelang yang dilempar Andre tapi Andre kembali menghalanginya.


"Gak usah diambil, biar aja nasibnya sama kaya gelang kamu yang dulu. Berapa kali pun Sandy menggantinya juga akan aku musnahkan!"


"Owh..jadi kamu yang ambil gelang aku dulu?" tanya Allea tak menyangka.


"Bukan cuma aku ambil tapi aku buang jauh! Biar rasa cinta kamu ke Sandy juga akan hilang gak ada bekas!" bisik Andre membuat Allea ngeri.


Allea pun berusaha mendorong Andre mundur tapi tentu saja ia kalah tenaga, Andre bahkan tak bergeser sedikit pun. Malah pandangan Andre beralih ke leher Allea yang melingkar kalung berliontin berlian pemberian Sandy.


"Kamu tadi bilang udah ilfil ke aku kan?" tanya Andre pelan lalu menyentuh kalung dileher Allea.


"Mau apa kamu?! Lepasin!"


"Kalo aku hancurkan kalung ini juga, kamu tambah ilfil gak?"


"Andre jangan, please!" Andre tak memperdulikan teriakan Allea. "Andre jangan!" Allea berusaha mempertahankan kalung dilehernya yang sudah dicengkeram Andre.


"Aku bisa belikan kamu yang lebih dari ini!"


"Aku gak butuh apapun dari kamu! Aaawh!" teriak Allea merasakan sakit dilehernya. Lalu...


BUGH!!


Tiba-tiba Sandy datang dan langsung melayangkan pukulan di wajah Andre hingga tersungkur. Ia emosi melihat Andre berlaku kasar pada Allea.


"Kurang ajar lu! Berani ya menyakiti perempuan terlebih istriku!" tunjuk Sandy ke muka Andre.


Andre pun bangkit. "Istri...hah!" Andre tersenyum menyeringai. "Bangga lu sekarang udah beneran bisa miliki Allea? Brengsek!"


Bug!!


Bug!!


Andre balas memukul wajah Sandy beberapa kali tapi dengan cepat Sandy balas menendang perut Andre hingga terjengkang. Allea tak bisa berkata-kata selain menutup mulut dengan kedua tangannya. Sandy membangunkan Andre dengan mencengkeram jaketnya.


"Lu yang brengsek, selama ini gue udah sabar ya menghadapi kelakuan lu yang memuakkan! Tapi sekarang kesabaran gue sudah habis terlebih melihat lu kasar sama Allea!"


Sandy meninju wajah dan perut Andre lagi.


"Cukup! Kak, stop! Udah!" teriak Allea.


Sandy lalu melepaskan Andre yang langsung tersungkur memegangi perutnya. Bersamaan dengan itu pengelola dan dua security datang ikut melerai.


"Tolong bawa orang ini pergi pak, dia sudah berlaku kasar pada istri saya. Bapak bisa lihat CCTV kalo ingin bukti" kata Sandy masih dengan nafas memburu antara emosi dan terkuras sebagian tenaga untuk menghajar Andre.


Andre pun pasrah dibawa pergi oleh security sambil meringis menahan rasa sakit di badannya.


"Lu liat aja, sekarang lu boleh tepuk tangan. Tapi gue akan ganti buktiin kebrengsekan lu San" kata Andre sembari menoleh lalu ditarik pergi oleh security.


"Silakan! Gue tunggu!" jawab Sandy.


"Udah sayang..jangan dengarkan Andre, nanti kamu emosi lagi" bisik Allea mengusap-usap lengan Sandy.


"Kamu gak papa? Ada yang sakit gak? Leher kamu merah ini, ck.."


Sandy memegang wajah Allea dan berhenti di leher melihat bekas cengkeraman Andre disana. Di usapnya pelan dengan jarinya. "Sakit?" tanya Sandy khawatir.


"Gak papa sayang, nanti juga baikan. Ini tadi gelangnya di rusak lagi sama Andre" Allea menunjukkan pergelangan tangannya yang sedikit tergores.


"Lagi?! Dan tangan kamu sampai luka kaya gini, tu orang benar-benar psyco ya!"


"Tadi dia ngaku sendiri kalo dia dulu yang buang gelang Liontin dari kamu" jelas Allea.


Sandy meraih tangan Allea yang tergores lalu melihatnya lebih dekat.


"Ini tangan aku gak papa koq, cuma luka gores dikit" jawab Allea.


Sandy menghela nafas kasar. "Kurang ajar tu anak! Kelakuannya kaya bocah!"


"Ssstt...iya, udah ya. Sabar sayang.." kata Allea menenangkan sambil mendekap Sandy.


       🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥


Allea pun mengajak Sandy pulang ke rumah papa Roby, karena disana hanya ada bi Yanti. Kalo ia pulang ke rumah mama Tiara pasti akan ada banyak pertanyaan dan kehebohan melihat Sandy datang dengan luka lebam juga sudut bibir berdarah begini. Di perjalanan pulang, mereka saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing.


Baru kali ini Allea melihat Sandy marah sampai memukul seperti tadi. Ia shock tapi itu semua juga Sandy lakukan untuk melindunginya dari Andre yang akan berbuat kasar padanya. Wajarlah...selama ini Sandy mencoba diam dan mengalah dengan menahan diri saat Andre berulah. Tapi mungkin sekarang Sandy sudah teramat muak terlebih melihat Andre kasar terhadapnya.


"Sayang..." Allea terperanjat kaget saat Sandy memanggilnya. "Udah sampai, ayo turun" ajak Sandy melepaskan sheatbelt Allea.


"Owh...iya, langsung ke kamar ya biar aku obati luka kamu" kata Allea.


Sandy tak menjawab tapi menurutinya, ia langsung masuk menuju kamarnya. Sedangkan Allea ke dapur dulu mengambil minuman dari kulkas untuk Sandy. Saat ia masuk kamar Sandy terlihat sudah berganti baju santai dan duduk bersandar di ranjang sembari memainkan ponsel. Allea segera mengambil beberapa obat luka yang ia perlukan.


"Maaf ya, tadi aku udah bikin kamu takut" kata Sandy di sela-sela Allea mengobati luka lebamnya.


"Gak papa koq...aku tau, kamu kaya gitu buat melindungi aku" jawab Allea. "Aku cuman kaget aja liat kamu marah sampai berantem kaya tadi" lanjut Allea.


"Maaf aku gak bisa jaga emosi aku. Kamu juga tau kan, selama ini aku udah mencoba diam dan mengalah ke dia, aghh..." kata Sandy lalu merintih saat merasakan perih Allea mengobati sudut bibirnya.


"Bentar-bentar...tahan ya, dikit lagi sayang.." Allea menahan tengkuk Sandy lalu kembali mengobati lukanya. Sandy meringis memegang erat tangan Allea.


"Udah" kata Allea mencium kening Sandy lalu memindahkan obatnya ke nakas. "Aku cuma takut aja sewaktu-waktu Andre datangi aku pas kamu gak ada" lanjut Allea duduk di sebelah Sandy.


Sandy merangkul Allea membawa kepala Allea bersandar di dadanya.


"Andre gak akan berani datangin kamu. Jangan takut ya..." jawab Sandy lalu mencium pucuk kepala Allea. Allea mengangguk meskipun tetap ada was-was di hatinya.


"Oiya, tadi soal apartemen gimana? Jadi beli?" tanya Allea.


"Belum aku putusin. Kamu mau yang mana sayang?"


"Sebenarnya aku suka yang terakhir, tapi Andre kan tadi disana. Aku khawatir dia tau kamar kita terus tiba-tiba datang pas kamu kerja, gimana?"


"Sistem keamanan disana bagus koq, kalo kamu suka nanti aku minta security menutup akses buat Andre. Tadi kan sudah ada yang melihat mukanya. Gimana, mau jadi diambil?"


"Ya udah kalo gitu" kata Allea mengangguk.


"Besok aku urus semuanya, biar kita bisa secepatnya pindah"


"Makasih ya sayang" Allea mendekap erat Sandy sambil tersenyum mendongakkan kepala.


Sandy balas tersenyum lalu menautkan bibirnya pelan ke bibir Allea.


"Kalo buat cium tetep jago aja ya, gak ngeluh sakit, hmm?" kata Allea pura-pura sewot.


"Lhoo ini kan obatnya, gimana sih? Emang gak pengen aku cepet sembuh?" jawab Sandy.


"Paling bisa ya ngeles" Allea langsung mencubit perut Sandy gemas.


"Tangan kamu jangan lupa diobati juga ya.." kata Sandy merapikan rambut Allea.


"Iya..udah gak papa koq" jawab Allea kembali memeluk suaminya dengan sayang.