Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
72. Merahasiakan Penyakit


"Papa?!" Sandy menjatuhkan sendoknya.


"Papa gak nyangka...begini ternyata kelakuan kamu?!" kata pak Roby dengan wajah penuh amarah.


"Pah, p-papa dapat semua ini dari mana?" tanya Sandy panik.


"Dari orang yang sudah kamu hamili! Kamu gak ingat kalo kamu sudah beristri, hah?!"


"Pah, aku bisa jelasin semuanya! Ini aku di jebak pah, itu bukan anak aku, papa harus percaya!" kata Sandy berapi-api.


"Owh...jadi begini kamu sekarang, udah dapat enak dari orang lain, tapi begitu dia hamil kamu mau lari?!" geram pak Roby.


"Papaaa...tolong dong!"


"Pantesan aja papa lihat akhir-akhir ini Allea jarang terlihat menyusul kamu kesini dan ke rumah! Ternyata sedang marah dengan perilaku suaminya!" bentak pak Roby.


"Pah..coba papa ingat, apa pernah dulu aku seperti ini sama perempuan? Apa pernah aku gonta-ganti wanita? Kalo aku mau sudah dari jaman kuliah aku lakukan pah!" cerocos Sandy ikut tersulut emosi.


"Ya! Memang dulu kamu gak pernah karena posisi kamu belum seperti sekarang!"


"Aaarghh..! Aku saat ini sedang butuh dukungan pah, buat membuktikan semua ini gak benar, tapi kenapa papa dan Allea malah tak memihakku?!" geram Sandy frustasi.


Pak Roby pun perlahan mendekat pada Sandy masih dengan tatapan tajam.


"Nikahi perempuan itu, buktikan kalo kamu bisa tanggungjawab bukan hanya bisa meniduri!" kata pak Roby menunjuk wajah Sandy.


Sandy menggeleng pelan. "Gak akan pah.."


"Jangan bikin papa makin malu, satu perusahaan sudah tau hal ini. Nikahi dia secara siri secepatnya! Tapi buat papa, cuma Allea anak menantu perempuan satu-satunya!" kata pak Roby lalu berbalik berniat pergi.


"Aku gak akan nikahi perempuan itu pah! Sampai kapan pun karena itu bukan anak aku!" teriak Sandy dengan nafas naik turun emosi. Pak Roby menoleh dan menunjuk Sandy.


"Kamu...! Aaghh...!"


Tiba-tiba pak Roby memegangi dadanya sambil merintih kesakitan. Raganya pun tak kuat lagi menyangga tubuhnya.


"Papah!" Sandy berlari mendekat.


Ia segera duduk menopang kepala hingga setengah badan papanya yang sudah ambruk di lantai


"Pah, bangun pah! Papah! Kita ke rumah sakit sekarang pah!"


      🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂


Dengan panik Sandy mengikuti beberapa perawat yang mendorong papanya menuju IGD. Ia membawa papanya ke rumah sakit ditemani Ananta. Mereka pun diminta menunggu di luar saat pak Roby ditangani.


"Semua ini karena Amira sialan itu! Brengsek! Jadi kacau sekarang!" Sandy mengumpat pelan.


Ia lalu mondar-mandir di depan ruang IGD sambil menempelkan handphone ditelinga. Setelah Sherly ia kabari, ia lanjut menelpon Allea yang tak juga menjawab panggilannya. Tak kunjung mendapat respon dari istrinya, Sandy pun meremas ponsel dan menghentakkannya kesal.


"Aagh! Allea kemana sih..!"


Ia pun mengirim pesan chat yang juga tak kunjung mendapat balasan. Kedua mertuanya pun ia beri tahu perihal papanya itu. Entah kenapa orang yang ia butuhkan disampingnya justru tak ada di saat seperti ini, ia merasa sendiri. Seketika ia jadi teringat mendiang mamanya yang dulu selalu ada saat ia membutuhkannya. Sandy mendudukkan dirinya dikursi lalu membenamkan kedua tangan di rambutnya.


Dari jauh Ananta yang melihat pemandangan itu pun merasa tak tega. Tapi ia juga tak berani untuk mendekat. Ananta baru mengetahui hari ini alasan ia diberi tugas soal tes DNA untuk janin yang Sandy minta beberapa hari yang lalu. Ia sendiri pun tak yakin atasannya itu melakukan hal tak pantas seperti berita yang tengah tersebar. Ananta bisa menilai bagaimana Sandy, biarpun mereka belum lama saling mengenal.


"Keluarga bapak Roby?"


Suara suster yang keluar dari ruang IGD memecah suasana. Sandy pun buru-buru mengusap air matanya lalu berdiri.


"Ya, saya"


"Dokter ingin bicara pak"


Sandy pun mengangguk lalu berjalan menuju ruang dokter.


"Perlu saya temani pak?" tanya Ananta.


"Gak perlu, kamu disini saja siapa tau kakak atau istriku datang. Tolong beri tau kalo aku ada di dalam" jawab Sandy di susul anggukan Ananta.


Sandy pun masuk dan berbicara dengan dokter yang menangani papanya. Dokter mengatakan kalo pak Roby terkena serangan jantung. Bahkan riwayat penyakitnya pun sebenarnya sudah lama tapi beliau menutupinya. Kondisinya sekarang kurang begitu baik hingga harus dipindahkan ke ICU sampai kembali stabil. Sandy lemas seketika mendengarnya, ia sama sekali tak menyangka papanya merahasiakan penyakit berbahaya selama ini. Meskipun beliau tak pernah mengeluh apa pun tentang kesehatannya dan selalu terlihat sehat di depan semuanya.


Sandy keluar dari ruang dokter dengan langkah lesu lalu di sambut Sherly yang langsung memeluknya. Mata Sandy pun melihat Allea yang juga sudah datang dan menggendong Dio. Allea dan Sherly memang datang hampir bersamaan.


"Papa kenapa San? Kenapa? Apa kata dokter?" cecar Sherly berlinang air mata.


"Papa kena serangan jantung kak, sebentar lagi mau dipindahkan ke ruang ICU.."


Sherly terdengar terisak, Dio pun mulai ikut rewel melihat mamanya menangis. Ia mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh Sherly. Allea pun memberikan Dio pada Sherly sebelum Dio lebih rewel lagi.


"Gimana ceritanya papa bisa sampai ada disini?" tanya Allea sambil menuntun Sandy duduk.


"Papa tadi udah tau soal foto itu juga kehamilan Amira. Tadi aku sempat adu mulut sama papa karena papa maksa aku buat nikahin Amira, tapi jelas aja aku gak mau! Itu bukan anak aku!"


Allea terdengar menghela nafas lelah. Sherly menutup mulutnya mendengar penjelasan Sandy. Karena pertengkarannya dengan Sandy papanya masuk rumah sakit. Dan akarnya adalah foto dan hasil tes itu, yang semuanya masih belum jelas kebenarannya tapi terlanjur tersebar di perusahaan.


"Harusnya kamu lebih bisa menahan diri...sekarang lihat, papa jadi kaya gini?" kata Allea pelan.


"Ya aku juga gak ngira bakal kaya gini sayang..aku bahkan gak tau kalo papa punya sakit jantung!"


"Pak..?" Ananta mendekat. Sandy pun menolehinya. "Ada meeting penting yang harus di hadiri"


Sandy menghela nafas kasar. "Memang gak bisa ditunda dulu? Atau kamu aja yang handle Nan"


"Maaf pak, meeting ini sudah dua kali di jadwal ulang. Takutnya nanti klien kita berpikir kita kurang profesional pak" jawab Ananta.


Sandy tampak berdecak lalu memijit keningnya, jelas ia bingung menghadapi situasi saat itu. Ia ingin tetap menunggui papanya tapi juga tak ingin kehilangan kepercayaan klien pentingnya itu.


"Udah..kamu berangkat aja. Papa biar aku sama kak Sherly yang jaga, nanti pasti mama juga kesini" kata Allea.


Sandy pun mengangguk, ia menatap Allea sejenak tapi Allea cuek. Dengan langkah berat ia meninggalkan rumah sakit bersama Ananta. Berharap mendapat sedikit suntikan semangat berupa pelukan atau kecupan kecil dari Allea tapi ternyata harapannya pun meleset. Allea masih dingin padanya, biarpun tetap perhatian pada papanya.


'Aku janji pah, akan cari bukti itu secepatnya dan bikin perempuan itu menyesal!' batin Sandy mengepalkan tangan hingga menyembulkan ototnya.