Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
74. Menjalankan Rencana


Kata-kata Mario begitu mengena di hati Allea. Sampai ia berjalan menuju parkiran rumah sakit pun pikirannya masih mencerna. Memang benar, dulu tujuan mereka saling berjanji menjadi suami istri bukan hanya untuk waktu sehari dua hari, atau hitungan bulan saja. Tapi ia pun ingin selamanya bersama Sandy dalam susah atau senang. Lantas mana bukti janji itu kalo baru ada satu masalah saja ia seolah sudah ingin menyerah?


Ia jadi ingat kejadian saat Sandy di beri obat perangsang oleh orang tak di kenal waktu itu. Seandainya ia sudah tak tahan harusnya bisa aja suaminya itu menyewa wanita untuk menuntaskan hasratnya. Tapi nyatanya Sandy memilih menghubunginya dan rela menahan gairah yang sudah meletup di ubun-ubun sampai istrinya tiba. Sebenarnya misal Sandy menyewa wanita pun ia juga tak akan tau. Tapi itu tak Sandy lakukan, Allea menghela nafas dalam. Apa ia salah sudah menuduh suaminya? Pikirannya pun mendadak jadi galau.


Ponselnya bergetar, ada chat masuk dari Sandy.


📱: Sayang udah makan? Aku kangen..


Baru saja dipikirkan langsung mengirim pesan, tanpa sadar Allea tersenyum tipis.


📱: 'Aku udah makan. Tadi kak Mario datang jenguk papa, dia titip salam buat kamu'. Balas Allea seperlunya.


📱: Iya sayang, nanti aku telpon dia. Kamu kangen aku gak sih?


Balas Sandy masih mengejar Allea meminta sedikit belas kasihan. Allea mengulum senyum, tapi sengaja tak ia balas hanya mengirim emoticon 'kiss' saja. Itu pun sudah membuat Sandy sedikit bahagia melihatnya. Allea lalu menyimpan ponselnya dan melajukan motor. Hari ini ia sedang ada janji dengan dua sahabatnya untuk fitnes. Ia ingin sedikit merelax pikiran dengan olah raga agar tak terlalu stress.


     🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺


Hari ini Sandy dan Ananta akan memulai rencana mereka. Tepat saat makan siang Sandy mengajak Amira bertemu, sudah bisa ia bayangkan gimana girangnya perempuan itu. Sandy menggiring Amira makan siang di tempat yang sudah mereka tentukan. Tempat yang tak terlalu ramai dan dekat dengan rumah sakit yang akan mereka gunakan.


"Makasih ya, udah ajak aku makan siang. Pasti anak kita seneng ketemu papanya" kata Amira bernada manja seperti biasa.


Sandy hanya tersenyum singkat, kata-kata Amira terdengar memuakkan baginya. Kalo tak ada tujuan lain ia tak akan sudi bertemu seperti ini. Di sana pun Sandy tak makan, hanya memesan makanan ringan dan soda saja.


"Mmm...jadi kapan kita bisa menikah? Kamu udah putuskan akan bagaimana soal Allea?"


"Belum"


"Koq belum sih? Keburu kandungan aku besar dong ini.." rengek Amira manja sambil mengelus memutar perutnya yang rata.


"Ehm..Amira, aku belum bisa putuskan karena papaku sedang sakit dan sekarang masih di ICU. Kamu sabar sebentar ya, tunggu sampai papa sembuh dulu.."


"Lho papa kamu sakit? Koq aku baru tau, sakit apa?" tanya Amira sok panik.


'Ini semua gara-gara kamu, brengsek!' umpat Sandy dalam hati.


Tapi ia sengaja tak memberitahu  Amira kalo semua itu karena ulahnya. Sandy tak mau Amira jadi besar kepala karena merasa berhasil.


"Papa jantungnya kumat, biasalah udah berumur" jawab Sandy.


"Owh..gitu. Habis ini kita mau kemana?"


"Gimana kalo kita periksa kandungan kamu?" tawar Sandy.


"Owh itu...gini sayang, aku kebetulan dua hari yang lalu udah priksa karena waktu itu perut aku kram. Jadi aku ke rumah sakit sekalian priksa, gitu.." jawab Amira beralasan.


"Sebentar.." Amira membuka tasnya mengambil sesuatu. "Ini hasilnya, kamu boleh baca"


Memang tak salah, batinnya.


Ya, karena Amira pun tanpa ia tau juga sudah menyiapkan kertas itu setelah bertemu Allea beberapa hari yang lalu. Ia tak benar-benar ingin mengajak Sandy periksa kandungan karena itu sama saja ia bunuh diri. Sandy bisa langsung meninggalkannya jika tau usia kandungan sebenarnya sudah akan memasuki 3 bulan. Sandy melipat kertas itu lagi lalu mengembalikannya pada Amira.


"Kalo gitu...gimana kalo kita cari cincin aja buat pernikahan kita nanti?"


Ide Amira langsung membuat Sandy melebarkan kelopak matanya. Amira memanggilnya 'sayang' aja udah membuat hatinya gerah, apalagi menurutinya membeli cincin! Bisa mendadak gila nanti, pikirnya menahan rasa jengah.


"No Amira, jangan. Aku punya ide lain.."


"Apa?"


"Kandungan kamu kan sempat kram, berarti kamu butuh relaxing. Aku ada surprise buat kamu nanti.."


"Oowwh...kamu sweet banget sih, perhatian gitu ke aku dan anak kita. Apa itu surprise-nya?"


"Hmm...sebentar ya aku ke toilet dulu. Nanti kamu juga tau" kata Sandy yang makin tak tahan dengan mulut manis Amira.


Amira mengangguk antusias lalu sibuk mengeluarkan peralatan make up-nya. Menambahkan bedak dan lipstik ke wajahnya sambil mematutkan wajah di cermin.


Sandy pun berlalu, ia keluar dari tempat itu tanpa Amira tau. Ia juga telah memberi kode ke Ananta agar segera bergerak sementara dirinya langsung melesat menuju rumah sakit. Ananta bersama dua wanita segera mendekati Amira, ia berkata pada Amira untuk ikut padanya ke tempat spa atas perintah Sandy. Mereka berhasil mengajak Amira meninggalkan tempat itu tanpa perlawanan. Bahkan Amira tak keberatan satu mobil dengan Ananta dan dua wanita terapis spa itu. Ia sangat senang dengan kejutan yang Sandy berikan tanpa ia tau apa maksud Sandy sebenarnya. Lalu Amira membuka ponsel untuk menghubungi Sandy, saat itulah tercium bau yang menyengat dihidungnya dan tiba-tiba membuatnya sangat mengantuk. Amira pun tak kuat lagi dan langsung bersandar memejamkan matanya diantara dua terapis spa arahan Ananta tadi. Ananta melirik dari spion dengan senyum puas. Mobilnya pun ia bawa ke arah rumah sakit tempat mereka akan bertemu Sandy nanti.


Sandy yang lebih dulu sampai rumah sakit langsung bertemu dokter yang sudah di atur oleh Ananta. Semua maksud dan tujuannya pun sudah dipahami oleh dokter yang ditunjuk. Dengan segera Sandy diambil darahnya untuk nanti akan dilalukan tes kecocokan dengan air ketuban Amira. Itu langkah kedua untuk mengetahui ayah biologis si bayi. Sedangkan langkah pertama tetap akan dilakukan USG 4D sebelum pengambilan air ketuban janin Amira. Agar umur janin tetap diketahui secara pasti. Jika dari sana sudah di dapat usia janin yang tak sesuai dengan kejadian itu maka sudah jelas. Tak perlu dilakukan langkah kedua, Sandy sudah pasti punya bukti kalo itu bukan anaknya.


Tapi tentu saja semua harus cepat dilakukan sebelum Amira sadar dari efek obat tidur ringannya. Untuk kemudian sesudahnya Amira akan dipindah ke ruang terapi spa ibu hamil di rumah sakit itu, seperti yang Sandy janjikan tadi. Sandy berharap semua berjalan lancar agar secepatnya ia dapat bukti bahwa janin Amira bukanlah benihnya. Ia sangat ingin bisa cepat kembali hidup berdua dengan tenang bersama Allea.


Setelah selesai diambil darahnya, dengan cepat Sandy berjalan keluar rumah sakit sambil menelpon Ananta.


"Gimana, Nan? Aman?"


📱: Aman pak. Target sudah masuk ruang USG.


"Okey, tolong usahakan bergerak cepat ya biar semua ada hasilnya.."


📱: Baik pak, saya sampaikan ke tim dokter.


"Terimakasih Nan, kalo gitu aku kembali ke kantor duluan ya. Kamu hati-hati.."


📱: Baik pak, bapak juga hati-hati.


Sandy menutup telpon dan kembali membelah jalanan menuju kantornya. Jam 3 sore ini ia ada tamu klien dari luar pulau yang perusahaannya sangat bonafit. Kalo mereka bisa menjalin kerja sama pasti papanya nanti akan bangga padanya. Karena yang ia dengar klien ini cukup susah untuk di taklukkan. Sebelum sampai kantor ia menyempatkan menghubungi kak Sherly menanyakan kondisi papanya yang ternyata masih sama seperti kemarin. Sandy menghela nafas panjang, penyesalan pun muncul lagi. Ia kembali menyalahkan dirinya atas kondisi papanya saat ini.


"Sandy akan tebus semuanya pah, bukan hanya bukti tapi juga akan Sandy kembalikan nama baik perusahaan papa.." gumamnya.


Ia bertekad mewujudkan janjinya memperbaiki semuanya, tak peduli tubuh dan pikirannya yang sebenarnya juga lelah.