Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
36. Dikira Cupu Ternyata Borju


"Siapa sayang?" tanya Sandy ikut kaget.


"Gak tau ini" bisik Allea. "Hallo? Ini siapa?" tanya Allea.


"Putra"


"Lah...koq nomornya ini?"


"Iya..ini nomor aku yang satunya. Aku datang berempat ini sama anak-anak tapi sama penjaga di depan gak boleh masuk. Mereka gak percaya kalo kita temen kamu" cerocos Putra.


Allea terkekeh. "Ya iyalah, kan harus ada bukti undangan digital. Ya udah sebentar ya biar kak Sandy keluar" kata Allea lalu mengakhiri panggilan.


"Siapa?"


"Putra, dia di depan sama anak-anak tapi kan gak punya undangan digital. Jadi sama satpam gak dibolehin masuk" jelas Allea.


Sandy tertawa. "Ya udah, aku jemput ke depan dulu kalo gitu" katanya. Allea pun mengangguki.


Selang berapa menit teman-teman mereka sudah masuk menghamburi pelukan dan ucapan selamat. Mereka pun ngobrol kesana kemari. Allea bersama Nayla dan Rania menyisih tempat dari para cowok lalu tenggelam dalam obrolan seru. Nayla pun tak lupa bercerita soal Andre yang kebingungan mencarinya.


"Iya...aku sengaja blokir nomor dia sementara, makanya dia bingung. Kita juga sengaja gak update sosmed dulu.." jelas Allea.


"Oowh...tapi sampai kapan nih kucing-kucingan?" tanya Nayla.


"Yaa...nantilah, pasti kita akan kasih tau koq" jawab Allea tertawa kecil.


Menjelang magrib mereka sudah pulang meninggalkan villa Allea dan Sandy. Orang tua serta saudara mereka pun sudah berpamitan pula hendak kembali pulang ke rumah. Tinggallah mereka berdua malam itu di villa.


"Eeh...Allea, kamu ngapain manjat-manjat disitu?" tegur Sandy yang keluar dari kamar kaget melihat Allea memanjat sandaran sofa menghadap jendela sambil meraih tirai.


"Ini...gordennya ada yang nyangkut deh pengaitnya, makanya susah ditutup.." jawab Allea sambil terus berjinjit berusaha membetulkan pengait tirai.


"Ya kamu kan bisa minta tolong aku sayang.." kata Sandy mendekat.


"Gak apa, tanggung ini dikit lagi bisa"


Sebenarnya bukan masalah bisa apa tidak, tapi posisi Allea yang meraih pengait gorden membuat bajunya terangkat. Memperlihatkan perut mulus Allea yang rata, belum lagi Allea yang hanya memakai celana pendek setengah paha. Membuat Sandy susah payah menahan diri dan menelan salivanya.


"Sini...sini"


Sandy mengulurkan tangannya dengan sekali tarik pengait gorden pun sudah bisa tertutup. Lalu ia merengkuh Allea untuk duduk di pangkuannya, melingkarkan tangannya dipinggang Allea. Sandy menatap Allea lekat.


"Kenapa?" Allea mengernyit heran.


"Kamu tadi benerin gorden atau lagi godain suami kamu sih?"


Allea tertawa. "Koq godain? Aku tadi beneran pengen betulin pengait gorden sayang.." jawab Allea mengalungkan tangannya ke leher Sandy.


"Bohong?"


"Enggak. Serius! Tapi kalo kamu merasa digoda yaa...salah sendiri dong" kata Allea manja.


"Gak bisa, kamu harus tanggung jawab pokoknya" kata Sandy menggesekkan hidungnya ke pipi Allea lalu ke leher hingga Allea menegang menahan geli. Aroma parfum Allea yang wangi segar makin membuatnya semakin 'on'.


Allea tergelak lalu menangkupkan kedua tangannya di wajah Sandy. "Tanggung jawab apa sayang?" tanya Allea pura-pura polos padahal ia tau ada yang mengeras dipangkuan Sandy.


"Sini aku tunjukin ke kamu kaya apa tanggung jawabnya"


Sandy langsung membopong Allea menuju kamar dan menguncinya rapat. Mereka pun menghabiskan malam bersama untuk pertama kalinya sebagai suami istri.


       ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️ ❤️


Sepasang pengantin baru itu kini sudah ada dibalik selimut setelah melakukan aktivitas malam pertama mereka. Allea membelai rambut suaminya yang masih menenggelamkan wajahnya dileher Allea sambil memeluknya.


"Sayang..?"


"Hmm.." jawab Sandy yang masih memejamkan mata.


"Kita ada yang mau di beli gak buat berangkat honeymoon besok?" tanya Allea.


"Memang yang pengen dibawa apa lagi?"


"Mm...apa ya, coba sebentar aku cek.." Allea berniat bangun memeriksa isi koper mereka, tapi.. "Aduh.." pekik Allea merasakan perih di bagian intinya.


"Gak papa koq" jawab Allea tersipu.


"Sakit ya?" tanya Sandy sedikit khawatir disusul anggukan Allea. Padahal Sandy sudah melakukannya dengan lembut dan hati-hati. Tapi memang karena baru pertama kali bagi keduanya maka wajar aja jika berefek sakit untuk Allea.


"Udah gak usah kemana-mana dulu ya, besok pagi aja kita cek apa yang mau di beli. Pesawat kita kan berangkat sore" kata Sandy sambil mengangkat tubuh Allea agar mendapat posisi duduk dengan nyaman.


"Tapi aku pengen beli makan. Kamu juga belum makan kan?"


"Iya..kita pesan makanannya delivery aja"


"Hmm...ya udah. Tapi sebenarnya aku pengen jalan-jalan disekitar villa, kayanya ramai dan banyak street food" kata Allea sedikit kecewa.


"Ya terus gimana dong, emang kamu bisa jalan? Aku gak mau lho kalo dipaksain, nanti kalo sakit malah gak jadi bulan madu gimana?" jawab Sandy lalu mencium kening Allea.


"Iya juga sih, sayang kalo gak jadi ke Turki" kata Allea.


"Ya udah kalo gitu kita mandi dulu aja, habis itu kita jalan cari makan ke depan. Tapi yang dekat aja jangan jauh-jauh, gimana?" Allea mengangguk setuju dengan wajah bahagia.


Lalu Sandy menggendong Allea menuju kamar mandi. Mereka mandi berendam air hangat bersama hingga terasa kembali fresh tubuh mereka.


       🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺


Setelah tadi pagi membeli keperluan tambahan mereka untuk dibawa bulan madu, kini mereka sudah berada di dalam pesawat yang sudah siap take off beberapa menit lagi. Pesawat akan terbang pukul 17.00 dan diperkirakan akan landing pukul 05.00 esok. Mereka terlihat sangat bersemangat dan ingin segera sampai ke Turki. Selesai memberi kabar orang tuanya bahwa mereka akan berangkat Allea menyimpan ponselnya lalu menoleh ke Sandy yang sedang asik mengamati ponselnya. Ada sedikit senyum di wajahnya yang membuat Allea mengernyit penasaran.


"Kenapa sayang?"


"Hmm...gak papa. Aku cuma kepikiran pulang dari honeymoon nanti pengen beli apartemen buat kita berdua"


"Beli apartemen? Apa gak sewa dulu aja, beli kan harganya mahal. Emang uangnya udah ada?" tanya Allea.


Sandy tersenyum lalu mengisyaratkan Allea lebih mendekat untuk melihat ke layar ponselnya. Allea mendekat menempelkan pipinya di lengan Sandy.


"Hahh..." Allea memekik pelan sambil menutup mulutnya.


Sandy ternyata sedang membuka phone bankingnya dan Allea sangat terkejut melihat isi rekening suaminya yang ada sebelas angka itu.


"Ini...koq banyak banget uang kamu? Kan kamu kerja juga baru berapa bulan.." kata Allea heran. Sandy tertawa kecil.


"Iya benar. Tapi kan dari dulu papa tu selalu kasih uang bulanan buat anak-anaknya terutama yang masih sekolah. Ya jadi ini...hasilnya dari dulu" jelas Sandy.


"Ya emang gak kamu pakai? Koq masih banyak banget gitu?" tanya Allea heran.


"Ya dipake, dulu buat beli mobil bekas yang selama ini aku pake. Karena aku pikir butuh waktu itu. Tapi aku pakainya kalo pas emang benar-benar gak ada uang aja. Uang jajan selama ini aku dapat dari hasil join bisnis jersey kecil-kecilan sama Putra dan Mario. Aku jarang banget pake uang dari papa, jadi ya masih lumayan sisanya. Gimana setuju gak kalo kita beli apartemen?"


Allea manggut-manggut kecil, menambah rasa kagum pada lelaki yang baru sehari menjadi suaminya itu. Jadi selama ini Sandy memang hanya bergaya sederhana, ia sama sekali tak pernah menunjukkan kemewahan pada siapa pun. Mobil aja beli bekas padahal kalo ia mau bisa aja beli mobil sport baru atau bergaya borju layaknya pacar Amira saat itu. Pantas aja Amira waktu itu memandang Sandy sebelah mata karena ia pikir Sandy tak berkelas. Mungkin Amira pikir Sandy cuma mahasiswa cupu yang berbisnis jersey dan hasilnya cuma bisa buat uang jajan sebulan.


Tentu saja sangat jomplang dengannya sebagai gadis sosialita. Andai Amira tau seperti apa Sandy sebenarnya, mungkin ia akan pingsan kegirangan kalo melihat isi rekening Sandy yang fantastis. Dan sekarang Amira mulai mengejar Sandy lagi karena mungkin ia mulai tau Sandy akan menggantikan papanya memimpin perusahaan.


"Sayang...koq malah melamun?" Sandy menepuk pelan pipi Allea yang masih menyandar di lengannya.


Lamunan Allea pun buyar lalu seketika.


"Eh...apa?"


"Tuh kan. Tadi aku tanya soal beli apartemen, kamu setuju gak?" ulang Sandy.


"Oo...aku ngikut kamu ajalah, gimana baiknya. Aku tinggal dimana aja gak masalah, yang penting sama-sama kamu" jawab Allea memeluk erat lengan Sandy.


Sandy pun cuma tersenyum lalu mencium pucuk kepala Allea. Ia jadi berpikir apa jadinya jika dulu ia benar-benar menjadikan Amira pacar? Mungkin mendengar ia menawarinya membeli apartemen seperti ini sudah pasti membuat Amira akan bersemangat meminta dan memilih yang paling mahal. Tapi Allea lain, sudah ditawarkan pun tak menuntut yang macam-macam. Bahkan tinggal dekat dengannya pun sudah cukup buat Allea.


Sandy merasakan makin bahagia di hatinya, melihat sikap Allea yang jarang sekali meminta sesuatu berlebihan seperti ini malah membuatnya gemas. Ia malah makin ingin memberi lebih dan lebih lagi untuk perempuan di sampingnya ini. Perempuan yang benar-benar mencintainya dari hati. Diam-diam Sandy merasa bersyukur dulu Amira menolaknya. Karena kalo tidak, bagaimana hidupnya saat ini? Dan mungkin saat ini Allea juga sudah dimiliki Andre.


'Gak akan!' batin Sandy tiba-tiba tersadar dari pikirannya yang terlampau jauh.


Allea cuma miliknya dan akan tetap miliknya sampai kapanpun, pikirnya. Lalu dipeluknya erat Allea dari samping dan mendaratkan ciumannya cukup lama di kening Allea.


"Kenapa?" tanya Allea heran melihat kelakuan Sandy.


Sandy tak menjawab hanya menggeleng sambil tersenyum. Lalu Allea meraba kening dan leher Sandy.


"Jangan-jangan ada yang konsleting nih?" seloroh Allea membuat Sandy lebih melebarkan senyumnya dan menenggelamkan Allea di dadanya.