
Sebulan kemudian..
Amira sudah tinggal di rumah pemberian pak Roby sejak dua minggu lalu. Ia disana tak sendiri, pak Roby ternyata mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk memudahkan semua kebutuhan Amira bahkan untuk keperluan periksa kandungan sampai melahirkannya pun sudah pak Roby siapkan. Semua itu kian membuat Amira merasa tak enak dan malu saja pada keluarga Sandy. Ia makin menyesal sudah menorehkan kelakuan buruk pada mereka. Dalam hati ia membulatkan tekad akan memperbaiki semuanya dan tidak akan mengusik keluarga pak Roby lagi.
Ia sangat bersyukur masih ada yang sudi mengasihi dia dan bayinya. Bukan hanya itu yang membuatnya makin bahagia tapi juga karena akhirnya kedua orang tua yang semula mengacuhkannya kini mulai membuka hati untuknya. Bahkan mamanya berjanji akan menemaninya tinggal di rumah itu saat kehamilannya sudah masuk trimester akhir sampai ia melahirkan nanti. Mama papanya pun secara khusus menyempatkan waktu bertemu keluarga Sandy untuk berterima kasih dan meminta maaf atas kelakuan putri semata wayangnya yang sudah membuat huru-hara. Mereka pun awalnya ingin mengganti uang pembelian rumah yang Amira tempati, tapi dengan halus dan sopan pak Roby menolaknya. Semua pun lega akhirnya masalah itu sudah berujung pada jalan tengah yang disepakati bersama.
Beberapa hari setelah itu, Sandy dan Allea menghadiri sidang putusan terakhir kasus Andre. Allea sedikit mengerucutkan bibirnya karena mereka terlambat datang. Sedangkan Sandy malah tersenyum jahil, ia tau Allea pasti sebel. Gimana enggak? Keterlambatan mereka ini karena ulahnya, Sandy mendadak sangat bergairah saat melihat Allea berganti baju. Jika Sandy sudah begitu, Allea paling susah untuk menolaknya. Karena begitulah kelakuan sang Dirut muda itu, akhir-akhir ini kalo sudah terlanjur ingin ya harus. Karena misal Allea jual mahal juga pasti akan dipepet terus sampai dapat. Kalo terpaksa di pending pasti jadinya ia akan uring-uringan sepanjang hari. Karena harus memberi suaminya bonus satu ronde itulah, mereka jadi terlambat. Mau tak mau harus mengulang mandi dan bersiap lagi.
Mereka pun duduk di kursi yang sudah di sediakan begitu masuk ruang sidang. Ternyata selain orang tua Andre, disana ada juga Nayla yang sudah lebih dulu datang. Ia tersenyum canggung, Allea balas tersenyum hangat. Ia maklum dan mengerti sekali perasaan Nayla pada Andre. Akhir-akhir ini pun mereka terlihat dekat, pasti Nayla datang juga karena tetap ingin mensupport Andre. Dalam hati Allea kagum pada Nayla, biarpun Andre sudah melakukan kesalahan sampai menjadi tahanan begini tapi Nayla tak lantas berpaling dan meninggalkan Andre. Walaupun Nayla sendiri juga tak tau apakah perasaannya akan bersambut.
Akhirnya sidang pun diputuskan setelah beberapa saat berjalan , Andre mendapat hukuman 8 tahun penjara atas kasus percobaan pembunuhan pada Sandy juga atas perbuatan tidak menyenangkan. Allea menggenggam tangan Sandy begitu erat saat melihat Andre yang shock dan terlihat sangat down. Sandy balas menggenggam, menenangkan Allea sambil merengkuh pundak istrinya dengan satu tangannya yang lain. Ia tau, Allea pasti tak tega sebenarnya melihat Andre seperti itu. Terlebih sesaat sebelum akan di bawa menuju tahanan lagi, Andre dengan mata berkaca-kaca kembali meminta maaf pada mereka berdua. Tentu saja air mata Allea akhirnya jatuh.
"Gue maafin elu. Semoga dengan begini lu bisa lebih dewasa dalam bertindak dan bijak memilih solusi jika ada masalah. Ingat, jangan terlalu terobsesi dan memaksakan apa yang elu mau, apa lagi kalo itu jelas udah milik orang lain!" kata Sandy pelan tapi begitu menohok. Andre mengangguk lemah.
"Dan gue harap, ini pengalaman pertama dan terakhir lu tinggal di dalam bui. Berkelakuanlah yang baik biar lu dapat remisi dan lebih cepat bebas" lanjut Sandy.
Kali ini membuat Andre tersenyum kecut dan gondok, karena hukuman pun baru di putuskan tapi Sandy sudah membicarakan kebebasan. Setelah berbicara seperlunya Sandy memberikan Allea kesempatan berbicara dengan Andre. Sandy paham, dulu Allea dan Andre itu soulmate biarpun Andre lah yang belum move on sepenuhnya sampai sekarang.
Allea pun tau diri, ia tak berlama-lama berbicara dengan Andre. Selain tak tega ia juga menjaga perasaan suaminya. Allea juga sedikit tak nyaman karena Andre terus menatapnya dengan tatapan tak biasa. Dengan segera Allea pun berpamitan pada Andre dan Nayla.
"Nay...kamu tolong temani Andre ya!" bisik Allea.
Nayla hanya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya, Allea tau Nayla pun sebenarnya susah payah menahan tangisnya di depan Andre. Allea lalu berjalan keluar ruangan, ia sempat menoleh sebentar ke belakang dan melihat Andre tengah memeluk Nayla, terlihat mereka menitikkan air mata. Allea mengulum senyum, antara senang dan sedih melihat pemandangan itu. Ia menghapus air matanya dan menghambur juga ke pelukan Sandy. Membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Membuat Sandy yang sedang berdiri dengan memainkan ponsel dan memasukkan satu tangan ke saku celananya menjadi tergeragap kaget.
"Eh, sayang..udah?" Sandy menyimpan ponsel lalu balas memeluk Allea sambil mengusap punggungnya naik turun, Allea hanya mengangguk. "Sekarang pengen kemana?" lanjut Sandy mengecup pucuk kepala Allea.
"Pulang..." lirih Allea.
"Lho..jangan langsung pulang dong, kita jalan-jalan dulu yuk?" tawar Sandy karena tau suasana hati istrinya sedang tak baik.
Allea langsung mengangguk setuju lalu mengusap sisa air matanya.
"Udah ya, jangan sedih. Ini mungkin juga kemauan Andre, dia udah menyadari kesalahannya dan pengen memperbaiki diri disini. Kamu juga pengen kan dia berubah?" kata Sandy menenangkan Allea. Merapikan rambutnya ke belakang telinga. Allea pun mengangguk lagi.
"Kita cari gelato yuk, mau?"
"Enggak.."
"Lho koq tumben?" Sandy heran istrinya menolak.
"Gak nolak maksudnya" sungut Allea.
"Huu...nakal kamu ya!" Sandy terkekeh sambil menarik hidung Allea.
Allea menenggelamkan wajahnya yang tersenyum di dada suaminya. Mereka pun berjalan menuju mobil dengan Allea yang masih bergelayut manja di lengan Sandy.
🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃
Setelah membuat sarapan Allea ikut bersiap akan berangkat kuliah. Ia sengaja berangkat lebih pagi karena ingin mampir sebentar ke rumah produksi jersey, ia janji bertemu Mario disana. Mereka akan membicarakan pesanan dari toko Anthony yang lumayan banyak. Sejak bekerja sama beberapa bulan ini, toko Anthony sering memberinya orderan. Bahkan pernah Anthony memesan jersey untuk di kirim keluar negeri, pesanan itu akan dipakai oleh para supporter salah satu club bola disana. Waktu itu Allea menawarkan desainnya sendiri dan mereka suka. Allea tentu saja sangat senang produknya bisa sampai ke negeri orang, terlebih hasil desainnya.
"Sayang...sarapan yuk?!" teriak Allea karena Sandy tak kunjung keluar kamar.
Sambil menunggu ia menata menu sarapannya di meja makan minimalis mereka. Pagi ini Allea membuat roti bakar isi coklat yang lezat kesukaan mereka dan sandwich isi telur mata sapi mix daging ham. Tak lupa juga susu vanila dan plain favorite Sandy. Aroma coklat yang menggoda pun menyebar di semua ruangan itu. Allea lalu duduk menunggu Sandy sambil mulai makan sandwichnya, yang ia tunggu pun tak lama kemudian muncul. Allea mengernyit melihat suaminya seperti ragu berjalan menuju meja makan dan terlihat sedikit lesu.
"Kak...sini. Kamu mau sarapan apa sayang?" tanya Allea mengulurkan tangannya.
"Aku gak sarapan aja ya, buru-buru ini sayang.." jawab Sandy beralasan.
"Lho kenapa?"
"Mau ada meeting pagi dan aku belum pelajari materinya"
Allea menghela nafas lalu mengambilkan sepotong roti bakar untuk Sandy.
"Makan sedikit ya sayang, mau meeting harus sarapan" kata Allea tersenyum manis membuat Sandy tak kuasa menolak.
Sandy lalu meneguk susunya hingga setengah gelas. Ia mengernyit sambil mengamati gelasnya, benar..segelas susu plain. Tidak tertukar dengan yang vanila milik Allea. Tapi kenapa rasa susu itu aneh, membuat perutnya sedikit mual. Ia pun menjejalkan roti bakar ke mulutnya berharap rasa tak enak di perutnya hilang. Satu gigitan berhasil ia telan lalu ia menggigit lagi dan lagi hingga berhasil menelan suapan terakhir. Allea tersenyum melihat Sandy makan yang ia pikir sangat lahab. Padahal sebenarnya setengah mati suaminya mengkondisikan mulut dan perutnya agar tak menolak.
Dengan segera Sandy meraih air putih di sebelah gelas susu lalu meneguknya hingga habis. Sialnya perutnya malah makin memberontak hingga ia tak kuat lagi menahannya. Dengan cepat Sandy berlari ke wastafel dapur dan mengeluarkan lagi apa yang sudah di makannya. Senyum Allea seketika sirna, dengan panik ia pun buru-buru mendekat ke Sandy yang masih membenamkan wajahnya ke wastafel.
"Sayang...kamu kenapa? Masuk angin?"
Sandy membersihkan mulutnya lalu berdiri, menyangga dengan kedua tangan di sisi wastafel. Nafasnya sedikit tersengal, kepalanya pun masih tertunduk lemas.
"Kamu sakit ya?" ulang Allea mengusap-usap punggung Sandy.
"Gak tau sayang, perut rasanya gak enak dari tadi..."
"Kamu telat makan kali kemarin, jadi masuk angin kaya gini.."
"Mungkin juga sih, kemarin aku makan siang jam 3 sore kalo gak salah.." jawab Sandy membuat Allea menghela nafas mendengarnya.
"Maaf ya, sarapannya jadi aku muntahin.." sesal Sandy sambil memijit keningnya.
"Gak papa. Lain kali jangan telat makan dong dan harusnya tadi bilang kalo perut kamu gak enak, kan aku bisa buatin teh jahe biar perut kamu enakan. Bukannya maksa kamu sarapan" Allea pun menyesal.
"Ya udah gak papa sayang"
"Sekarang pengen makan apa? Kamu gak mau ijin kerja aja?" Allea menuntun Sandy menuju meja makan lagi.
"Gak usah sayang, aku gak papa. Makannya nanti aja aku pesen kalo perut udah enakan. Aku berangkat aja ya" jawab Sandy
"Bener?" Sandy mengangguki istrinya. "Ya udah, kalo masih gak enak badan pulang ya, jangan dipaksa!" kata Allea sambil merapikan rambut dan kerah baju Sandy
"Iya nyonyaku" goda Sandy lalu mencium semua bagian wajah Allea.
Allea balas mencium lalu berjinjit memeluk suaminya, Sandy menenggelamkan wajahnya di leher Allea. Menghirup aroma tubuh Allea membuatnya merasa sedikit lebih baik.
"Udah ya, ntar gak jadi kerja kalo kelamaan begini" kata Allea melepas pelukannya. Sandy nyengir mendengar Allea sudah hafal kelakuannya.
"Ya udah, berangkat dulu ya.." kata Sandy menyempatkan meraih gelas susu yang masih penuh lalu meneguknya setengah. Setelah itu berjalan keluar apartemen.
"Hati-hati ya sayang!" seru Allea di balas lambaian dan ciuman jauh dari suaminya.
Allea tersenyum lalu menutup pintu, ia pun ingin bergegas berangkat pula. Tapi ia tertegun saat pandangannya melihat gelas susu vanilanya tinggal setengah. Ia baru sadar yang Sandy minum sebelum berangkat tadi adalah gelas susu vanila miliknya.
"Lahh...tumben. Sejak kapan ya kak Sandy mau minum susu vanila, padahal dari dulu anti banget? Aneh deh.." gumam Allea bingung.
Allea pun angkat bahu tak mengerti dengan nafsu makan suaminya yang tak biasa hari ini, ia lalu menghabiskan sisa susu vanila di gelas dan membawanya ke tempat cuci piring.