
Dari pagi Allea sibuk di dapur, ia mau menepati janjinya masak makanan untuk Sandy. Menu hari ini ia membuat tumis buncis mix baso dan lauk ayam goreng plus sambal terasi. Mumpung hari ini kuliah off, Allea akan mengirim makan siang ke rumah Sandy. Ia sudah memberi tau Sandy dan pastinya Sandy dengan semangat menunggu makanan dari Allea datang. Mereka akan makan siang bersama nanti, sekalian menemani Sandy menyusun skripsi bab terakhirnya. Sebelum jam 1 Allea selesai masak, ia pun lanjut menyiapkan apa yang akan ia kirim. Selesai mandi Andre menelpon.
'Ngapain Andre,' gumam Allea.
"Ya Dre, kenapa?" tanya Allea begitu menjawab telpon.
"Kamu hari ini off kuliah kan?"
"Iya, gimana?"
"Ada pameran kuliner di mall ,nonton yuk sekalian lunch? Banyak jajanan lho.." ajak Andre.
"Aduh, maaf gak bisa Dre..aku udah ada janji sama cara kak Sandy.." tolak Allea halus.
Terdengar Andre menghela nafas kecewa. "Bukannya dia sibuk ya?" tanya Andre.
"Iyaa...tapi dia di rumah koq, aku udah janji mau masakin dia makan siang, kamu ajak Nayla aja coba...dia pasti mau, ya?"
Terdengar Andre menggerutu hingga membuat Allea mengernyit.
"Ya udah kalo gitu! Sorry udah ganggu!" kata Andre lalu memutus telpon sepihak.
"Koq sewot sih? Aneh.." gumam Allea angkat bahu.
Di rumah Sandy ,ia sengaja gak makan siang masakan bi Yanti dan menunggu makanan Allea datang. Skripsi yang ia susun sudah hampir rampung, tinggal ia baca ulang saja barangkali ada yang perlu direvisi. Sedang asyik membaca ulang file dilaptop tiba-tiba pak Aris satpam rumah masuk dan menyampaikan ada kiriman makanan untuk Sandy. Ia pun meminta pak Aris meletakkan dimeja depannya. Setelah ia mengucap terimakasih pak Aris pun berlalu. Sandy heran kenapa Allea tidak jadi datang dan hanya makanannya saja yang ia kirimkan. Sandy pun mengambil ponsel dan berniat menelpon Allea tanpa membuka dulu makanan itu.
Tapi sebentar kemudian terdengar suara motor berhenti lalu suara Allea menyapa pak Aris. Sandy berjalan cepat menuju pintu, terlihat Allea datang membawa rantang makanan. Sandy melongo bingung, buru-buru diajaknya Allea masuk.
"Kenapa sih?" tanya Allea begitu mereka duduk.
"Ini tadi ada yang kirim makanan, kirain kamu yang ngirim.."
"Hah??" Allea ikut bingung.
"Iya...aku pikir ini dari kamu, tapi koq kamu datang bawa makanan juga..aku jadi bingung kan!" Sandy menggaruk kasar kepalanya.
"Emang gak ada nama pengirimnya?" tanya Allea.
Sandy buru-buru membuka bungkusan itu tapi gak ada note atau apapun.
"Gak ada apa-apa" jawab Sandy.
Allea ikut memeriksa bahkan membuka dusnya yang berisi setengah ekor ayam bakar kalasan lengkap dengan nasi, sambel dan lalapannya. Tampilan dan aromanya pun menggoda perut. Allea menutupnya kembali.
"Tadi siapa yang nerima?"
"Pak Aris..sebentar.." jawab Sandy lalu menelpon pak Aris memintanya masuk. Sebentar kemudian pak Aris datang.
"Pak..tadi ini kiriman dari siapa ya? Ojek online bukan?" tanya Sandy.
"Iya mas dari ojol, tadi katanya dari mba Amira, gitu.." jawab pak Aris.
"Haduuuhhh...." Sandy langsung memegang keningnya lalu mendudukkan diri ke sofa. Allea mengulum senyum melihat reaksi Sandy.
'Lagi-lagi cewek itu bertingkah,' batin Allea.
"Ya udah pak, makasih ya.." kata Allea menyilakan pak Aris kembali keluar. Pak Aris pun mengangguk sambil pamit keluar.
"Eeh...pak, ini bungkusannya buat bapak aja, dimakan ya...bapak belum makan kan? Bawa pak!" kejar Sandy membuat pak Aris putar balik.
"Beneran mas? Wahh...makasih ya mas!" sambut pak Aris senang lalu menerima bungkusan ayam bakar yang diangsurkan Sandy.
"Koq bisa sih, Amira juga ngirimin makanan? Bisa barengan gini.." tanya Allea setelah pak Aris keluar.
"Dimakan juga gak apa-apa koq..." jawab Allea. Sandy mendengus tertawa.
"Aku kan udah ada yang masakin siang ini, ngapain makan dari kiriman gak jelas.." jawab Sandy sambil menutup file-filenya dilaptop.
"Hih...belagu banget siiih.." goda Allea.
"Biarin aja..makan yuk?" ajak Sandy. Allea mengangguk. "Aku tu udah gak sabar dari tadi nungguin masakan kamu.." kata Sandy sambil menggandeng Allea ke meja makan.
Mereka pun bersiap makan setelah Allea menyiapkannya dibantu bi Yanti. Baru mau suapan pertama ponsel Sandy yang ada di saku berbunyi. Amira menelpon, Sandy pun meletakkannya lagi lalu menyuap makanannya. Ia tak ingin menjawabnya.
"Angkat" kata Allea pada Sandy. Sandy menggeleng sambil terus makan."Kak, angkat!" kata Allea lebih jelas lagi.
"Enggak, udah biarin aja!" jawab Sandy sambil terus menyuap makanannya.
"Aku pengen tau dia mau ngomong apa.." tawar Allea.
"Paling juga bahas makanan tadi, udah lah gak usah!"
"Ntar kalo kamu gak angkat...dikirain lagi asik makan ayam bakar dari dia.." goda Allea.
Sandy menghela nafas kasar lalu menyambar ponselnya. Allea mengulum senyum melihat Sandy terhasut perkataannya.
"Hallo" Sandy mengaktifkan loudspeaker.
"Hai San...udah terima belum? Tadi aku kirim makan siang buat kamu.." kata Amira bernada manja.
"Iya ,udah sampai koq, makasih ya..lain kali gak usah repot-repot!" kata Sandy datar.
"Gak...gak repot koq, eh gimana enak gak? Kalo enak besok aku kirimin lagi deh"
"Ntar aku tanya ke satpam dulu enak apa gak, soalnya tadi pak Aris satpam rumah yang makan" jawab Sandy sambil terus makan.
"Hah?! Koq di kasihin satpam sih, itu aku kirim tu buat kamu!" suara Amira mulai meninggi.
"Kalo udah jadi milik aku berarti kan bebas mau aku kasihin ke siapa aja!" jawab Sandy meletakkan sendoknya.
"Sandy! Kamu koq gitu banget sih..?" rengek Amira manja.
"Gitu gimana, lagian harusnya kamu gak perlu kirimin apa-apa ke aku..apalagi makanan!" jawab Sandy tegas, rahangnua mulai mengeras. Allea mengusap lengannya memberi isyarat agar tak emosi.
"Emang kenapa sih?! Dulu aja kamu paling suka kalo aku kirim makanan, apalagi kalo kita makan sama-sam..."
"Amira cukup ya! Jangan bahas lagi hal yang udah basi, kita udah selesai!" potong Sandy. "Kamu tau darimana aku dirumah?" tanya Sandy menyelidik. Membuat Allea ikut bertanya-tanya.
"Kamu gak perlu tau! Cepet banget ternyata ya kamu move on dari aku?!"
"Oh jelas! Aku gak mau buang-buang waktu buat hal yang gak penting!"
"Aku gak penting kata kamu?!" teriak Amira. Sandy mengiyakan dengan cepat.
Sepi beberapa detik lalu terdengar Amira merengek manja dan menghela nafas."Terus apa hal yang penting buat kamu?" tanya Amira mulai memelankan suaranya.
"Ada! Aku udah ada seseorang yang jadi hal penting buat aku, yang pastinya bisa nerima aku tanpa melihat model mobil apa yang aku punya!" jawab Sandy panjang. Jelas Amira tertampar. Sandy menggenggam tangan Allea erat seakan takut Allea akan lari pulang meninggalkannya.
"San...maafin aku, dulu aku.."
"Udah ya, aku minta tolong jangan bahas lagi hal yang dulu!" sela Sandy tegas. Amira terdengar menghela nafas kesal.
"Siapa sih cewek kamu? Aku jadi makin pengen tau!" tanya Amira meskipun secara tidak langsung ia sudah melihat foto Allea. Tapi sikap Sandy yang jelas memuji Allea membuat Amira merasa cemburu.