Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
45. Hamil


"Kenapa sih nyuruh gue datang buru-buru?" gerutu Andre begitu sampai di apartemen Amira. Ia pun membanting punggung di sandaran sofa lalu menghisap vapornya.


Tapi bukannya menjawab Amira malah menangis terisak.


"Malah nangis lagi. Lu kenapa sih?" tanya Andre bingung.


"Gue takut.."


"Takut apa?"


"Gue gak tau mau cerita ke siapa, pikiran gue buntu gak bisa mikir!" jawab Amira sambil melemparkan benda berbentuk panjang ke meja depan Andre. Andre meraih testpack itu dan matanya membulat begitu melihat ada dua garis merah ditengahnya.


"Lu hamil?!" tanya Andre menatap Amira tajam, Amira mengangguk sambil terus meneteskan air mata. "Bilang ke gue, sama siapa lu hamil?!" lanjut Andre. Amira hanya terisak tak menjawab.


Prakk!!


Andre membanting testpack itu ke meja lalu mendekat mencengkeram kedua pundak Amira.


"Jawab Amira, lu punya mulut kan? Siapa yang bikin lu kaya gini? Gue akan datangi dia sekarang, dia harus tanggungjawab!" teriak Andre membuat Amira memejam erat sambil menggeleng.


"Gak mungkin!" sahut Amira. "Gue udah bilang ke dia tapi dia gak bisa nikahi gue..."


"Kenapa?"


"Ya karena dia udah punya istri, Andre!" jawab Amira bernada tinggi membuat Andre lemas lalu melepas cengkeramannya. Andre mendudukkan diri lagi ke sofa dan memijit keningnya.


"Ya terus...selama ini kalian ada hubungan apa? Gak mungkin kan kalo gak ada apa-apa?" cecar Andre bingung dan masih shock.


Amira menghapus air matanya dan tertunduk. "Memang gak ada, kita cuma sama-sama mencari kesenangan. Dia butuh gue, gue juga butuh dia untuk memenuhi semua yang gue mau.."


"Apa?!" Andre memastikan telinganya tak salah dengar. Amira mengangguk-angguk. "Kenapa lu ceroboh gini Amira?!"


"Gue juga gak ngira bakal kaya gini, waktu itu kita lagi sama-sama terpengaruh minuman. Dan kita melakukannya gak pakai..."


Brakk!!


Andre menggebrak meja hingga Amira terjingkat kaget. Jawaban Amira membuat kepala Andre makin pusing, ia tak menyangka selama ini Amira sejauh ini kelakuannya. Menjadi sugar baby pria yang sudah beristri. Hingga tak heran semua kemewahan selalu mudah ia dapat. Padahal orangtuanya pun orang kaya. Andre tak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya itu. Begitu murah dan gampangnya ia melakukan semua ini demi apa saja yang ia inginkan.


"Lu bener-bener bodoh ya! Gue akan bilang soal ini ke orang tua lu!"


"Jangan Andre...tolong jangan!" Amira langsung merobohkan diri memeluk lutut Andre. "Gue lebih baik mati daripada mereka tau hal ini, tolong jangan..." pinta Amira memelas masih dengan tangis hingga Andre tak tega mendengarnya memohon.


Andre mendongakkan kepala frustasi,  Sandy pun belum berhasil ia lumpuhkan sekarang Amira malah menambah masalah baru yang membuatnya makin pening. Tapi tiba-tiba terbesit pikiran licik di kepalanya.


"Gue ada ide agar anak lu memiliki ayah.." bisik Andre membuat Amira mendongakkan wajah sembabnya.


"Apa?"


Andre memberi isyarat agar Amira mendekat duduk di sebelahnya lalu Andre membisikkan sesuatu ke telinga Amira. Perlahan wajah Amira menyunggingkan senyum yang sama liciknya dengan pikiran Andre.


      🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


"Lu stand by disana pas udah gelap, gue udah cari tau beberapa hari ini dia pulang sekitar jam 7 atau 8 malam" bisik Andre pada Amira. Amira mengangguk-angguk.


"Lu yakin efeknya cepat?"


"Di jamin! Teman gue sendiri udah buktiin, begitu dia minum beberapa menit kemudian pasti gak akan tahan, dan pasti akan menumpahkannya pada orang di dekatnya" terang Andre yakin.


"Awas aja kalo sampai lu bohong" tunjuk Amira.


"Udah gak usah bawel, gue ni lagi coba bantuin lu!" sembur Andre.


"Gue udah suruh orang jadi OB palsu di kantornya. Dan gue minta dia berikan obat itu ke air yang biasa dia minum. Lu tenang aja, rasanya gak ada bedanya dengan air putih biasa" jelas Andre.


Amira memekik senang. "Jenius!" pujinya.


"Iyalah...emang elu"


"Jangan mulai lagi deh!" Amira menampol topi yang Andre pakai hingga membuat Andre terkekeh.


"Nanti begitu dia turun dan menuju mobilnya elu cepetan beraksi, pepetin terus aja. Selanjutnya lu yang atur mau enak-enak dimana terserah!"


"Yess...sure!" sambut Amira tak sabar.


     🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥


Sandy masih berkutat dengan laptopnya saat hari mulai gelap. Sampai akhir pekan nanti ia akan lembur terus di kantor demi mengejar pekerjaannya yang sempat terbengkalai. Ponselnya bergetar lalu digapainya dengan satu tangan yang masih berada di keyboard laptop. Chat dari Allea yang memberitahunya kalo ia akan mampir ke rumah mamanya dulu sepulang dari kampus. Allea memang sama sibuknya minggu ini selain kuliah yang mulai padat juga karena menyiapkan kegiatan hiking yang akan dilakukan sekitar sepuluh hari lagi.


Setelah membalasnya Sandy kembali menatap layar laptop. Lama kelamaan matanya lelah, ia pun beranjak ke keluar berniat menuju pantry. Karena ia tau jam segini semua OB sudah pulang.


"Lho, kamu belum pulang?" tanya Sandy sedikit kaget melihat masih ada satu OB di pantry.


"Be-belum pak. Baru selesai bersihkan ruang meeting" jawabnya agak tergagap terlihat sedikit takut.


"Owh...ya sudah. Saya bisa minta tolong sebelum kamu pulang nanti buatkan kopi dan antar ke ruangan saya?"


"Ya bisa pak, nanti saya antarkan"


"Makasih ya.." kata Sandy sambil celingukan melihat area baju OB di depannya mencari name tag karena ingin tau namanya. Tapi ia tak melihatnya.


'Ah..mungkin sudah dilepas', pikirnya karena ini memang sudah lewat jam kerja. Ia pun berjalan kembali ke ruangannya lalu duduk membolak-balikkan file yang ada di mejanya. Beberapa menit kemudian pesanan kopinya datang bersama segelas air mineral.


"Silakan pak"


"Lho tadi saya gak pesan air putih? Lagian disini udah ada galon" kata Sandy.


"Ini air mineral oksigen pak, lebih segar biar bapak lebih fresh lemburnya" jelas OB itu.


"Bisa aja kamu, tapi makasih ya. Kamu silakan kalo mau pulang gak papa"


"Baik pak, saya permisi"


"Eh tunggu, ini buat kamu.." Sandy menyisipkan selembar uang limapuluh ribu ke saku baju OB itu.


"Wah...makasih ya pak, saya permisi" ulang si OB dengan wajah rikuh.


Sandy hanya mengangguk mengiyakan.


Ditengah-tengah melanjutkan pekerjaannya sesekali Sandy menyesap kopinya yang menurutnya terlalu manis hingga rasa manisnya tertinggal di tenggorokannya. Akibatnya membuat Sandy mendehem-dehem sedikit terganggu.


"Gila ni kopi manis banget, gula satu toples dimasukin semua kali ya?" gumam Sandy lalu mendehem lagi.


Di minumnya air mineral pemberian OB tadi sampai hampir habis untuk menghilangkan rasa tak enak di tenggorokannya. Dan tanpa ia sadar juga, OB tadi diam-diam masih mengawasinya lewat pintu ruangan yang sedikit terbuka.


"Hahh..." Sandy menghela nafas lega merasakan nyaman lagi tenggorokannya lalu kembali tenggelam pada pekerjaannya.


Si OB tersenyum melihat Sandy meminum air pemberiannya yang telah ia campur obat perangsang dari Andre. Ia pun berjalan pergi sembari melaporkan pekerjaannya yang berhasil kepada Andre. Ia berhasil keluar dengan tenang melewati satpam yang tak menaruh curiga sama sekali.


'Sebentar lagi pasti efek obat itu akan bekerja...' batin OB itu. Meskipun sebenarnya ia tak tega karena ternyata orang yang ia kerjain itu baik. Tak seperti yang Andre ceritakan, OB itu menghela nafas sambil melihat uang yang Sandy beri. Ada sedikit penyesalan, dalam hati ia berjanji tak akan menerima pekerjaan macam ini lagi..meskipun semua sudah terlambat.