Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
52. Plaakkk...!!!


Setelah beres urusan mengirim Adin si OB suruhannya keluar kota, Andre langsung melakukan jadwal pemotretannya sore ini. Ia tak bisa mengimbangi antara kuliah dan karirnya. Hingga akhirnya menomorsatukan karir, kuliahnya pun terpaksa tersendat. Hari ini ia ada pemotretan untuk iklan sweater dari e-commerce belanja online ternama yang lumayan melelahkan. Bagaimana tidak, dari pagi menjelang siang pemotretan dimulai hingga selesai menjelang magrib.


Tepat pukul enam sore Andre melajukan mobilnya ke apartemen. Badannya lelah tapi pikirannya lebih penat. Mengingat kembali rencana liciknya memberikan obat perangsang untuk Sandy nyatanya malah berbuntut panjang. Ia harus mengamankan Adin ke kota dimana orang tuanya memiliki usaha bisnis, untuk sekaligus memberinya pekerjaan dan tempat tinggal sementara. Sampai dirasa aman dari kejaran Sandy yang sudah pasti mencarinya. Bukan hanya soal obat perangsang itu tapi juga karena Adinlah penyebab Allea keguguran.


Andre mengusap wajahnya kasar, terbayang kembali rekaman vidio CCTV yang telah ia minta pagi-pagi sekali, bahkan menunggu dari sebelum  jam kerja office. Dengan mengatasnamakan Sandy, pihak office supermarket kemarin dibuatnya percaya tanpa ia harus meninggalkan identitas. Karena memang jika dilihat dari CCTV wajah Sandy yang sedikit blur sekilas mirip dengan Andre. Pihak office pun tak curiga sama sekali. Tapi hati Andre justru hancur melihat Allea jatuh lalu mengeluarkan darah. Meskipun sedikit ada senyum licik karena Andre tau itu anak Sandy. Tapi tetap saja hatinya seperti tersayat melihat Allea harus masuk rumah sakit karena itu juga buah dari perbuatannya secara tak langsung.


Untuk menepikan penatnya sementara, Andre kembali melajukan mobilnya setelah mandi dan makan di apartemennya. Saat bingung tak tau ingin kemana, ada chat dari Amira yang mengajaknya ketemu di sebuah tempat hiburan malam. Andre menghela nafas lalu mengarahkan mobilnya menuju tempat yang dipilih Amira.


"Ngapain nyuruh gue kesini?" tanya Andre pada Amira begitu sampai di sebuah diskotik yang ramai pengunjung.


"Ngapain lu bilang? Lu gak mikirin gimana nasib gue? Rencana selanjutnya gimana? Gue gak mau gagal lagi! Liat ni, mau nunggu sampai lahir dulu apa gimana?" cecar Amira menunjuk perutnya yang masih rata.


"Sssttt...bawel! Lu kira gue gak pusing apa? Bikin rencana juga butuh pake otak dong Amira, jangan sampai gatot lagi!"


"Ya tapi gue gak bisa nunggu lama! Pokoknya secepatnya anak ini harus ada bapaknya, dan gue maunya Sandy! Bukan yang lain! Kalo gak..."


"Apa?" sahut Andre mengangkat dagunya.


"Gue mendingan mati!" sembur Amira di depan muka Andre lalu berbalik pergi menuju meja bartender memesan minuman tanpa alkohol.


Ia masih cukup waras dengan tetap menjaga janin diperutnya. Karena bermimpi suatu hari Sandy bersedia menikahinya biarpun jadi istri kedua sekalipun.


Brakkk!!


Andre memukul meja sekuatnya sampai tangannya terasa nyeri. Ternyata menemui Amira hanya akan menambah kepenatan di kepalanya. Belum habis rasa bersalahnya pada Allea, sekarang giliran Amira menambahinya bahkan dengan ancaman. Ia mengutuki dirinya yang dulu berjanji akan membantu Amira mencari jalan keluar dari masalah kebablasan hamilnya ini.


Andre mengkode pelayan meminta minuman beralkohol untuk sejenak agar lupa dengan semua masalahnya. Entah sudah berapa gelas ia tuang dari botol. Hingga kemudian botol kedua hampir habis Andre baru beranjak dengan sempoyongan keluar dari tempat itu menuju mobilnya. Dikemudikannya mobil dengan kecepatan tinggi, ia ingin cepat sampai ke apartemen sebelum alkohol menguasai penuh kesadarannya. Kepalanya pun sudah terasa berat dan berdenyut, hingga saat berbelok kawasan apartemen mobilnya hampir menyerempet motor matic di sebelah kirinya karena Andre tak menyalakan lampu sein dan asal belok saja.


"Hei!! Bisa nyetir gak sih?!" sembur cewek pemilik motor matic itu, yang ternyata Nayla.


Ia tak terima ada kendaraan lain yang membahayakannya, Nayla mengejar mobil itu sampai masuk apartemen.


Tapi kemudian Nayla memperlambat laju motornya seolah mengingat nomor mobil di depannya. Lalu ia celingukan melihat apartemen di sekelilingnya. Biarpun belum pernah diberitahu langsung, tapi ia pernah dengar kalo Andre tinggal di apartemen ini. Mendadak Nayla mengerem motornya karena mobil tadi kini juga berhenti, terparkir berjajar dengan mobil lain. Nayla tetap mengawasi dan sengaja tak melepas helmnya. Ia ingin tau siapa di dalam mobil itu. Apa benar itu Andre seperti tebakannya dalam hati?


Nayla menahan nafas melihat seorang cowok yang tak asing keluar dari mobil itu. Benar itu Andre, batin Nayla antara senang tapi jantungnya juga ingin melompat.


'Tapi kenapa Andre ugal-ugalan nyetirnya?' gumam Nayla.


Andre terlihat menyandarkan tubuhnya ke mobil sambil mengernyit memijit pelipisnya lalu berjalan sempoyongan hingga tak sadar kunci mobilnya jatuh saat akan memasukkannya ke saku.


"Kunci jatuh sampai gak tau, lagi kenapa dia?" bisik Nayla.


Ia memutuskan turun dari motornya dan segera memungut kunci Andre sebelum ada orang lain yang memungut dan berniat jahat. Nayla mengikuti Andre dari belakang sambil menimang kunci yang sepertinya jadi satu rangkaian dengan kunci apartemennya itu.


"Gimana mau masuk coba, kunci aja gak di pegang" omel Nayla.


Sampai di depan lift Andre seolah menyadari ia kehilangan kuncinya. Dirabanya semua saku yang ada di bajunya.


"Mana kunci tadi?" kata Andre sambil mengernyit menahan rasa pusing di kepalanya.


"Cari ini?" kata Nayla. Andre langsung menoleh mencari asal suara itu dan tersenyum.


"Jatuh dimana tadi?" tanya Andre menghampiri Nayla dengan langkah terhuyung hampir limbung.


"Eeh...kenapa sih? Mabuk ya kamu?"


Dengan cepat Nayla memegangi tubuh Andre lalu memapah menuju lift. Andre tak menolak bahkan menyandarkan kepalanya di kepala Nayla. Membuat Nayla deg-degan sekaligus tersipu.


"Kamu habis minum?" ulang Nayla saat sudah berada di dalam lift.


"Dikit" Andre cuma tersenyum sambil memencet tombol lantai lift dimana kamarnya berada.


Nayla geleng-geleng kepala lalu melipat tangan di dada.


Andre hanya mengangguk sambil memegangi keningnya yang makin terasa cenut-cenut. Nayla melihat Andre tak tega sebenarnya, sendirian di kota ini mengurus diri sendiri sambil berkarir dan kuliah meskipun tersendat. Gimana kalo dia sakit? Siapa yang merawat dan nemenin?


Ting..


Suara pintu lift menyadarkan lamunan Nayla, pintu pun terbuka. Andre langsung menegakkan tubuhnya yang tersandar dinding lift dan melangkah keluar.


"Tengkyu ya.." ucap Andre sekilas melihat ke arah Nayla.


"Hmm.." jawab Nayla singkat.


Nayla melihat Andre berjalan menjauh dengan sempoyongan yang makin membuat Nayla tak tega. Saat pintu lift akan menutup Nayla memekik melihat Andre terjatuh dengan posisi tiarap karena sudah tak bisa lagi menopang tubuhnya yang benar-benar teler. Di pencetnya kembali tombol lift agar terbuka lalu bergegas lari.


"Andre!!" teriak Nayla menghampiri. "Astaga Andre, bangun!"


Nayla menepuk-nepuk lengan Andre dengan panik. Andre tak menjawab hanya merintih memegangi kepalanya lalu mengulurkan tangan kanannya meminta Nayla membantunya berdiri.


"Ayo, aku antar sampai kamar kamu..masih kuat jalan kan?" tanya Nayla. Andre mengangguk pelan.


"Udah..kamu istirahat ya, aku mau pulang dulu" kata Nayla beranjak setelah membaringkan Andre di kamar tidurnya yang di dominasi hitam putih itu.


Nayla terkesiap karena Andre menahan tangannya hingga Nayla terduduk lagi di depan Andre.


"Kenapa?"


Andre membangunkan tubuhnya lalu bersandar.


"Makasih ya...kamu memang baik" kata Andre dengan suara berat.


"Iya, udah kamu tidur aja ya.."


'Kemana aja, baru sadar aku baik', batin Nayla.


"Aku memang gak salah menilai kamu.."


"Hah?" Nayla mengernyit antara bingung dan tersipu. Tangan Andre terulur membelai rambut hitam Nayla lalu berhenti di wajahnya.


"Ka-kamu mau apa?" tanya Nayla salah tingkah.


"Jangan tinggalin aku.." kata Andre memelas dan makin membuat jantung Nayla berdegub kencang. "Aku gak bisa jauh dari kamu.." lanjut Andre dengan tatapan sayu.


Perasaan Nayla mendadak tak karuan melihat Andre seperti ini di hadapannya. Apa Andre sudah membuka hati untuknya sekarang? Melihat wajah Andre yang menatapnya teduh membuat harapan di hati Nayla semakin besar. Apa benar sekarang lah saatnya Andre menginjinkannya mengisi hatinya?


"Dre, mmm...aku.."


"Jangan pergi..." bisik Andre menangkupi wajah Nayla membawanya lebih mendekat lalu sedetik kemudian menautkan bibirnya ke bibir Nayla yang mendadak mematung karena shock. Jantungnya pun sudah berlari tak karuan mendapat reaksi dari Andre yang sama sekali tak ia duga."Jangan pergi, please..." ulang Andre menjeda ciumannya sebelum menyatukan bibir mereka lagi. Kali ini Nayla sedikit membalas.


"Aku sayang banget sama kamu..." bisik Andre makin membuat hati Nayla berdesir dan mulai bermekaran bunga-bunga.


"Jangan pergi..Allea.." bisik Andre lagi.


Seketika mata Nayla membulat sempurna mendengarnya, ia mendorong Andre sekuat tenaga melepaskan ciumannya. Nayla mengayunkan tangannya dan..


Plaaakkk...


Tamparan keras dari tangan Nayla mampir dengan mulus ke pipi Andre. Saking kerasnya hingga membuat Andre tersungkur ke kasurnya lalu meringis sambil mengusap pipinya. Andre seperti tersadar lalu mengangkat kepalanya dan mengernyit, memastikan ia tak salah lihat..


"Nayla..." gumam Andre melebarkan mata. Ia melihat mata Nayla berkaca-kaca. Nayla lalu berlari keluar sambil mengusap kasar bibirnya dengan ujung lengan sweaternya.


"Nay! Nayla..tunggu! Nay...agghh!"


Andre kembali ambruk merasakan pusing kepalanya.