Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
79. Satu Bukti Dan Satu Tagihan Dinas


Melihat Allea makin menangis, orang itu pun berjalan mendekat.


"Allea...kamu ngapain nangis disini?"


Allea tersentak lalu buru-buru menghapus air matanya melihat sosok tak asing di depannya. Sosok yang sebelum menikah pernah tak sengaja bertemu, saat ia tengah bersama Sandy dulu. Teman sekelasnya saat SMA.


"Anthony..?"


"Kamu kenapa? Siang-siang nangis sendirian disini, ayo ikut aku!"


"Kemana?"


Anthony tak menjawab dan langsung menarik tangan Allea. Mereka pun berboncengan menaiki motor Allea menyebrang jalan dan berhenti tepat di ruko depan hotel. Anthony mengajak Allea duduk di sebuah meja dengan dua kursi kayu yang berjajar. Ditengah meja ada payung besar dari jerami yang menjulur ke atas membuat tempat itu teduh. Anthony masuk sebentar ke ruko yang masih setengah terbuka itu untuk mengambil minuman dan kembali lagi. Di lihatnya pandangan Allea menerawang lurus ke depan, ke hotel yang tadi ia datangi. Anthony tak tega melihatnya, Allea...wanita yang dulu pernah ia kagumi sekarang terlihat sesedih itu. Sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikirannya? Apa yang menyakiti hatinya? Berbagai pertanyaan muncul dikepala Anthony.


"Minum dulu Al.."


"Eh...ya. Makasih" suara Anthony membuyarkan lamunan Allea.


"Kamu sebenarnya kenapa? Kalo kamu gak keberatan cerita aja, biar kamu plong. Siapa tau aku bisa bantu?" tawar Anthony tersenyum. Allea pun menyunggingkan senyum tipis.


"Aku dengar katanya kamu sudah maried. Bener?" tanya Anthony disusul anggukan Allea. "Selamat ya..biarpun telat banget!"


"Gak papa, makasih ya. Oh ya, koq kamu bisa ada ditempat ini, Ant?"


"Ruko ini baru dua bulan aku beli, rencana mau aku pakai buat buka toko alat olahraga dan aksesorisnya, gitu"


"Oowh...keren ya. Ide dari mana?" tanya Allea.


"Yaa...spekulasi sendiri aja sih, hotel di depan itu kan sering buat nginap pemain bola beserta supporternya. Stadionnya juga gak jauh dari sini, jadi aku pikir berani coba. Asal maju dulu ajalah" jawab Anthony lalu terkekeh.


Allea tertawa kecil. "Kapan mulai buka?"


"Rencana minggu depan, semua udah matang sih cuma tinggal nunggu ada beberapa barang yang masih on the way. Nanti kalo udah buka, mampir ya?"


Allea tersenyum mengangguk lalu menoleh ke arah ruko Anthony, ia melihat ada CCTV disana.


"Ehm...Ant, CCTV di luar ini nyala gak?"


"CCTV semua udah nyala Al, sehari setelah aku beli ruko ini. Sengaja sih, soalnya di dalam udah penuh barang-barang jualan. Di atas buat tempat tinggal aku juga misal pengen nginap disini. Yah..buat antisipasi aja" jelas Anthony.


"Dari dua bulan lalu ya berarti?" Anthony mengangguki Allea. "Ant, aku boleh lihat CCTV yang mengarah ke depan gak?"


Anthony mengerutkan dahi. "Memang sebenarnya ada apa sih Al?"


Allea menghela nafas. "Rumah tangga aku sedang dapat ujian. Ada orang ketiga yang menginginkan suami aku, Ant"


"Hah?!" Anthony kaget tak menyangka.


Allea pun menceritakan secara singkat masalah rumah tangganya. Ia juga mengutarakan tujuannya mencari bukti CCTV itu. Beruntung Anthony sangat mengerti, ia pun dengan senang hati mengijinkan Allea melihat CCTV yang mengarah ke hotel dari rukonya. Mereka pun sekarang sudah duduk menghadap ke laptop milik Anthony untuk memantau CCTV. Pada tanggal itu memang terlihat Sandy di bawa keluar dari parkiran hotel. Tapi kurang begitu jelas, dua orang laki-laki berbadan kekar ikut masuk lalu melajukan mobilnya. Sementara satu orang lagi kembali masuk ke hotel.


"Al..benar itu rekaman yang kamu cari?" tanya Anthony.


"Iya Ant, tapi maaf..ini kurang jelas. Mmm...ada CCTV dari sisi yang lebih jelas gak?" tanya Allea sedikit rikuh.


"Ehm...sebentar Al!" Anthony lalu mengutak-atik keyboard laptop. "Ini Al, coba kamu lihat. Aku baru ingat kalo di atas juga ada CCTV, nah ini rekaman dari sisi lebih tinggi, siapa tau lebih jelas-"


Sontak Allea langsung menggeser posisi lebih mendekat ke Anthony, hingga membuat Anthony menahan nafas. Entah kenapa berdekatan dengan Allea begini membuat jantungnya berlompatan.


'Anthony come on! Allea ini udah menikah, please cukup fokus aja bantu dia!' batin Anthony menyadarkan pikirannya agar tetap waras.


Sementara Allea yang tak menyadari apa yang Anthony rasakan tetap fokus melihat laptop. Dari sisi atas ruko memang terlihat lebih jelas. Matanya memicing saat melihat salah satu orang yang kembali masuk ke hotel.


'Itu kan..??' batin Allea penuh tanya.


"Ant, aku minta copy rekaman yang ini ya?" pinta Allea.


"Okey, mau ke USB atau ke ponsel?"


"Ponsel aku aja" jawab Allea mantap.


Anthony mengangguk lalu melakukan apa yang Allea pinta. Tak butuh waktu lama, akhirnya rekaman itu sudah tersimpan di ponsel Allea. Allea memekik senang dan reflek memeluk Anthony sekilas.


'Aduuh, jantungku!' batin Anthony khawatir Allea mendengar degub jantungnya yang berlarian.


"Makasih banget ya Ant, kalo tadi gak ketemu kamu pasti aku gak dapat rekaman ini. Tengkyu ya!" kata Allea setelah melepaskan tangannya.


"Anything Allea..santai aja. Kalo kamu masih pengen rekaman yang lain, hubungi aku kapan aja. Aku bakal bantu, demi keutuhan rumah tangga kamu lagi.." ucap Anthony tulus.


Allea pun tersenyum, ada sedikit kelegaan dihatinya saat ini. Ia pun pamit karena sudah menjelang sore. Anthony mengantar Allea sampai depan ruko dan menunggu sampai Allea melajukan motornya menjauh.


"Fiuhhh...Allea, istri orang!" gumam Anthony menghela nafas lalu tersenyum sambil geleng-geleng kepala menertawai dirinya.


🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺


Setelah membaca chat sekilas dari Nayla dan Sandy, Allea mengurungkan niatnya bertolak ke rumah sakit. Ia ingin ke apartemen dulu melihat Sandy yang katanya kurang enak badan. Sampai di unit mereka Allea bergegas masuk dan menuju dapur meletakkan makanan yang tadi sempat ia beli. Ia heran, tak ada suara atau pun terlihat suaminya. Padahal ia sempat memanggilnya beberapa kali tapi tak ada jawaban. Allea menghela nafas saat masuk kamar, terlihat Sandy tidur di sofa dengan posisi yang kurang nyaman. Allea berjalan mendekat dan duduk di tepi sofa. Sandy terlihat pulas hingga Allea merasa tak tega akan membangunkannya.


"Sayang.." Allea terhenyak saat menyentuh tangan suaminya yang terasa sedikit panas.


Lalu di sentuhnya dahi dan lehernya yang juga terasa lebih panas.


"Koq demam?" gumam Allea. "Sayang...kamu sakit ya?" bisik Allea di dekat wajah Sandy berharap suaminya mendengar. Sandy melenguh tapi tak membuka mata.


"Mah, bukan aku mah.." Sandy meracau pelan. "Aku gak mau nikahi dia pah.." racaunya lagi.


"Ssstt...sayang, bangun!" bisik Allea menggenggam tangan Sandy, di usapnya dahi dan kepala Sandy agar terbangun. Tapi Sandy tak membuka mata, hanya membalas genggaman Allea.


Allea kasihan melihat suaminya, saking berat Sandy memikirkan semuanya sampai sakit begini. Mungkin ada keinginan di hatinya bertemu sang mama untuk sekedar menceritakan bebannya, sampai mengigau seperti ini. Allea jadi makin merasa salah dengan sikapnya yang kekanakan beberapa hari lalu. Dalam hati ia membulatkan tekadnya, tak akan lagi membiarkan suaminya berjuang sendiri mengatasi masalah Amira ini. Ia akan ikut mencari jalan keluar dan apa pun yang suaminya butuhkan. Allea menghela nafas, lalu kembali membangunkan Sandy.


"Sayang...bangun, makan dulu yuk? Kak.." Allea mengguncang pelan pundak Sandy.


Perlahan Sandy membuka mata dan seperti memastikan penglihatannya.


"Iya. Kamu sakit ya? Ayo bangun, makan dulu terus minum obat"


"Aku gak papa koq, cuma pusing" kata Sandy beranjak bangun lalu duduk bersandar. Sandy mengernyit sambil memijit pelipisnya.


"Makan ya, mau makan disini apa diluar?"


"Disini aja sayang.."


"Ya udah aku ambilin dulu ya.."


Allea pun beranjak ke dapur sembari membawa ponsel, memberi kabar pada kak Sherly soal kondisi Sandy yang kurang sehat. Sherly pun mengerti, malam ini Nando suaminya yang akan  gantian menjaga papanya. Setelah itu Allea pun menyiapkan makanan di kamar dan mereka makan malam bersama.


"Ini masakan siapa sayang?"


"Aku tadi beli, belum sempat belanja jadi gak bisa masak. Tapi enak kan sop buntutnya? Ini langganan mama, enak sih menurut aku.." kata Allea nyengir.


"Iya, enak koq. Makasih ya sayang.."


Allea mengangguk tersenyum tipis. "Hmm...habis ini minum obat ya, sama vitamin. Pasti belakangan ini kamu makannya juga gak bener deh, jadi sakit kaya gini.." kata Allea sembari membawa piring kotor mereka keluar kamar.


Sandy mengulum senyum lalu berjalan menuju ranjang, merebahkan tubuhnya dan memejam dengan setengah bersandar pada bantal. Kepalanya masih terasa berdenyut dan tubuhnya sedikit terasa dingin. Tapi ia senang mendengar Allea bawel seperti tadi, itu tandanya Allea sudah memberinya perhatian lagi. Bukan dingin dan acuh seperti beberapa hari kemarin.


"Minum obatnya dulu ya.."


Allea tiba-tiba sudah berdiri di dekat ranjang membawa obat dan segelas air. Sandy pun membuka mata lalu duduk ditepi ranjang.


"Aku gak sakit koq, paling buat tidur lagi aja nanti juga sembuh.."


"Ini kamu demam lho! Nih..jangan bandel, aku maksa nih!" Allea mengulurkan obat dihadapan Sandy.


Lalu dengan patuh suaminya itu menurut saja menelan obat dan vitamin yang ia berikan. Allea pun tersenyum lega, saat menaruh kembali gelas di nakas ponsel Allea berbunyi. Nayla.


"Hallo? Maaf, belum sempat buka chat"


"......"


"Aku di apartemen. Kapan?"


"......"


"Ya udah sekarang aja ya, bye.."


Allea menutup telpon dan meletakkan ponselnya kembali.


"Siapa sayang?"


"Nayla, dia ngajak ketemu. Ada yang mau diomongin katanya" jawab Nayla.


"Jangan pergi" kata Sandy sambil memeluk pinggang Allea dan menenggelamkan wajahnya diperut Allea yang rata.


"Enggak...Nayla yang mau kesini koq, udah kamu istirahat ya" jawab Allea balas memeluk kepala suaminya.


"Ah bohong, nanti aku tidur kamu pergi sama Nayla"


"Enggak suamiku yang manja!"


"Biarin, aku udah lama gak kamu manjain. Aku kangen.." kata Sandy mendudukkan Allea dipangkuannya.


"Kamu gak kangen 'dinas malam' sama suami kamu?" bisik Sandy.


"Ini kan masih sore, baru juga lepas magrib" goda Allea mengerling.


"Dinas sore juga gak masalah" dengan cepat Sandy menjatuhkan tubuh Allea di ranjang lalu menindihnya.


"Ka-kamu mau ngapain?" tanya Allea terbata sekaligus tersipu.


"Kamu hutang banyak jam dinas sama aku, sekarang aku mau tagih semuanya langsung!" jawab Sandy sambil sesekali mencuri kecup bibir Allea.


"Tapi kamu lagi sakit kak.." Allea menahan dada Sandy agar tak makin mendekat.


"Ini obatnya sayang, aku sakit karena kurang kasih sayang kamu! Aku pengen kamu, please.." Sandy memelas dengan nafas mulai memburu.


"Tapi Nayla mau datang sebentar lagi. Nanti malam aja ya, atau besok nunggu kamu fit dulu"


"Kamu mau bikin aku tambah pusing, hmm? Kamu tega?" rajuk Sandy mulai menciumi wajah dan leher Allea.


"Kak, tunggu.."


Allea sedikit menghindar biarpun sebenarnya ia juga tak berniat menolak. Ia tak mengira Sandy akan menagih jatah 'dinas'nya yang beberapa kali terlewat. Allea hanya khawatir jika tiba-tiba Nayla datang. Tapi Sandy sudah terlanjur memuncak karena Allea sudah merasakan sesuatu yang mengeras diperutnya. Suaminya bahkan sudah melepaskan kancing kemeja Allea hingga sebatas perut.


"Kalo Nayla datang gimana?" tanya Allea dengan nafas menderu.


"Suruh dia tunggu kita selesai..." jawab Sandy sekenanya lalu memagut bibir Allea dengan intens agar Allea tak bicara apapun lagi.


Mereka pun akhirnya saling memagut, bertukar saliva dan membelit lidah. Seolah melepaskan hasrat yang lama tertahan, entah kenapa saat itu keduanya merasa seperti menjadi pengantin baru lagi. Padahal baru sekitar seminggu mereka tak beraktifitas seperti ini. Apa lagi Sandy yang seakan ingin menelan Allea seutuhnya. Biarpun badannya sedang kurang sehat tapi semangatnya begitu menyala saat tau Allea memberikan dirinya. Dengan cepat ia buka semua kancing baju Allea beserta baju bawahannya dan menikmati semua yang ada disana tanpa terlewat sedikitpun. Tak lama kemudian kamar mereka sudah dipenuhi suara lengkuhan dan erangan dari keduanya. Untung saja unit apartemen disana kedap suara, karena jika tidak pasti sudah terdengar sampai keluar.


Terlebih saat Sandy dengan semangat menyatukan dirinya pada Allea. Hentakannya membuat Allea mengeluarkan suara berisik tapi malah menjadikan Sandy makin tertantang. Sandy sampai memejam sambil menggeleng singkat saat menikmati gerakan yang ia buat. Irama yang telah lama ia rindukan setelah beberapa hari Allea menghukumnya.


"I love you..." bisik Sandy ditelinga Allea disela gerakannya.


Allea tak menjawab hanya meraih wajah Sandy lalu memagut bibir suaminya dengan lembut. Bibir Allea pun beralih ke wajah lalu ke telinga dan ke leher membuat Sandy mengerang. Dengan cepat Sandy membalikkan tubuh Allea dan kembali menghujamnya tanpa jeda, tak peduli Allea berteriak minta ampun.


Ting tung!!


Sedetik kemudian suara bell berbunyi.


"Nayla.." bisik Allea tersengal pelan.


"Argh, shitt!!"